Mengenal Sejarah Besar Membangun Peradaban Gemilang

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI – Said Hamid, Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI sekaligus Ketua Tim Pengembangan Kurikulum 2013, mengaku sulit memahami jika pelajaran Sejarah di SMA hanya menjadi pilihan. Baginya pelajaran Sejarah merupakan kesempatan bagi siswa mengenal bangsanya. (17/9/2020)

Sementara Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, Satriwan Salim mempertanyakan sikap Kemendikbud yang dinilai tertutup dalam menyampaikan draf struktur kurikulum baru. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih juga menyayangkan isu pelajaran sejarah menguat di publik sebelum pihaknya menerima informasi terkait hal itu.

Bantahan muncul dari Mendikbud, Nadiem Makarrim. Menurutnya, penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai 2022. Tahun ini pihaknya akan melakukan berbagai macam prototyping di Sekolah Penggerak yang terpilih dan bukan dalam skala nasional. Tidak ada penghapusan mata pelajaran sejarah. (kompas.com, 21/09/2020)

Harus Terus Dikawal

Bagi rezim radikal-sekuler, sudut pandang maslahat-materialisme merupakan harga mati. Bantahan saja, bukan jaminan tidak akan ada penghapusan mata pelajaran Sejarah dalam kurikulum 2022.

Maka, kebijakan perubahan kurikulum pendidikan harus terus dikawal. Pelajaran Sejarah dan pelajaran Agama bagai dua sisi mata uang. Memutilasi salah satu darinya berbahaya bagi negara dan generasi.

Penulisan sejarah sangat mungkin sarat kepentingan rezim pada masanya. Rekonstruksi sejarah demi kemajuan memang diperlukan. Namun, upaya rekonstruksi sejarah harus bebas kepentingan komprador agar tidak kontraproduktif dimanfaatkan untuk menenggak kekuasaan. Rekonstruksi sejarah hanya demi mengungkap realitas, bukan mengaburkan apalagi mengubur kebenaran.

Bahaya Toleransi terhadap Komunisme

Bukan analisis liar. Kekhawatiran terhadap perubahan kurikulum pelajaran Sejarah patut diapresiasi. Sejak reformasi 98 upaya rekonsiliasi G30S/PKI terus digulirkan. Atas nama HAM, keluarga dan pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) merasa dirugikan oleh Orde Baru. Mereka menyebut diri sebagai “korban”.

Baca juga:  Khilafah dan Kurikulum Pendidikan di Masa Pandemi

Maka generasi wajib tahu sejarahnya agar mampu waspada terhadap kebangkitan komunisme. Minimal generasi Muslim tidak boleh memiliki pandangan yang toleran, inklusif terhadap paham komunis meski tidak sampai kadar pembenaran. Komunisme jelas bertentangan dengan akidah umat Islam. Ketidaktahuan generasi bisa menjadi celah upaya rekrutmen kader komunisme.

Bukankah ngototnya sejumlah pihak mengesahkan RUU HIP dengan revisi adalah sinyal kuat upaya membangkitkan komunisme di Indonesia? Bahaya laten komunisme benar adanya. Oleh sebab itu, pelajaran sejarah yang benar sangat penting diberikan generasi tua kepada generasi muda.

Perang pemikiran (ghazwu at-tsaqofiy) pun sama bahayanya dengan perang militer. Sejarah dunia mencatat, penjajahan fisik diawali dengan penjajahan pemikiran oleh negara penjajah. Di era keterbukaan informasi dan teknologi, berbagai ide kufur mudah menginfiltrasi benak siapa pun, terutama generasi krisis akidah dan krisis identitas.

Catatan Hitam Kaum Khilafahfobia

Overheating film JKdN dan masifnya narasi “radikal radikul” menjelaskan kepada umat, penjajah masih menanamkan antek-anteknya di negeri Muslim yang telah “merdeka” selama 75 tahun. Para pengidap khilafahfobia sadar atau tidak telah terjangkit penyakit warisan kolonial. Padahal, tidak akan takut Khilafah seseorang yang modal literasinya cukup.

Surat kabar Algemeen Handelsblad pada 16/2/1910 menyatakan,

“Para penceramah menjelaskan bahwa bagi orang-orang Mohammedan hanya aturan Khalifah—Sultan Turki—yang merupakan aturan yang sah. Mereka melihat bahwa semua aturan lainnya tidak sah, termasuk aturan kita di Indonesia. Karena itu, ajaran tentang Khilafah adalah elemen yang sangat berbahaya.”

Bagi Nusantara, sejarah Khilafah memberikan informasi penting bagaimana negara adidaya menjaga kedaulatan negeri Muslim dari kaum imperialis.

Baca juga:  Nyasar Nyisir Jejak Sejarah, Urgennya Mitigasi Serangan terhadap Ide Khilafah

Uskup Jorge de Lemos, sekretaris Raja Muda Portugis di Goa, pada 1585 melaporkan kepada Lisbon bahwa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khilafah Utsmaniyah untuk mendapatkan bantuan militer guna melancarkan serangan baru terhadap Portugis.

Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Alauddin Riayat Syah (1588-1604) juga dilaporkan telah melanjutkan hubungan politik dengan Turki. Dikatakan, Khilafah Utsmaniyah bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki.

Jika benar porsi pelajaran sejarah umum dikurangi, maka guru akan kehilangan waktu untuk menjelaskan akar sejarah (Islam) di Nusantara. Ini menguntungkan kaum khilafahfobia membuka jalan lebar bagi penjajahan.

Jasa Khilafah bagi Perdamaian dan Kemanusiaan

Pengakuan Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia terkait musibah kelaparan (The Great Famine) yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia di Irlandia pada 1847. Mary berkata,

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

Menurut Karen Amstrong kaum Yahudi turut menikmati zaman keemasan di Andalusia. Dia mengatakan, “Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus.”

T.W. Arnold seorang orientalis dan sejarahwan Kristen ikut memuji kerukunan beragama dalam negara Khilafah, dalam bukunya The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith,

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani–telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Dengan demikian apa motif pihak yang menyerang sejarah Khilafah secara membabi-buta, jika bukan lantaran dendam dan kebencian? Apa dosa (sejarah) Khilafah sehingga terus dikriminalkan?

Baca juga:  Menghapus Khilafah dari Dunia Pendidikan, Menabuh Genderang Perang dengan Ulama Ahlusunah Waljamaah

Mengulang Peradaban Agung

Tarikh Islam adalah sarana untuk mengenal jatuh bangun peradaban Islam. Dan neraca peradaban Islam terus berayun. Ada masa kepemimpinan yang lemah menerapkan syariat, maka melemahlah kedudukan Khilafah. Ada masa keemasan di bawah pemimpin-pemimpin mulia, teguh lagi kuat menerapkan syariat, maka Khilafah menjadi mercusuar peradaban dunia.

Buku Story of Civilization mengungkap, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Montgomery Watt seorang orientalis dan sejarawan Britania Raya menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi “dinamonya”, Barat bukanlah apa-apa.”

Hal yang sama pernah dikatakan oleh Barack Obama. Dia mengatakan, “Peradaban berutang besar pada Islam.”

Wahasil, optimis Indonesia menjadi negara maju kelima pada 2045 bukan utopia. Indonesia butuh model negara ideal Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Mengenal sejarah besar untuk membangun peradaban yang gemilang. Membangkitkan memori kolektif generasi muslim untuk mewujudkan Khilafah yang menerapkan syariat kafah, baldatan thoyyibatan warabban ghafuuran. Saatnya Indonesia maju! [MNews/Gz]

One thought on “Mengenal Sejarah Besar Membangun Peradaban Gemilang

  • 26 September 2020 pada 22:05
    Permalink

    Mengapa toleransi ini berbahaya terhadap komunis mohon penjelasannya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *