Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Di tengah Corona Wave yang belum mereda, keberadaan Korean Wave (hallyu) di tanah air semakin menggila. Bahayanya tak kalah dahsyat dengan virus mematikan.

Jika Covid-19 menyerang raga, hallyu menyerang kesehatan jiwa. Mereka yang terpapar akan menjadi sakit dan menularkan, lalu mati tenggelam di bawah hantaman budaya liberal.

Hallyu atau Korean Wave adalah sebutan bagi kebudayaan atau pop culture yang berasal dari Republik Korea Selatan. Orang-orang diperkenalkan tentang kebudayaan Korsel melalui musik, film, drama, makanan, fesyen, juga trennya. Tak terkecuali di Indonesia, generasi bahkan para orang tua ikut “mabuk” terbawa demam K-Wave.

Pro-kontra terhadap keberadaan hallyu pun tak terhindarkan. Pasalnya, etos kerja yang tinggi ikut menjadi branding yang disajikan, tersisip bersama dengan budaya permisif.

Sebut saja kerja keras, pantang menyerah, kreatif, dan inovatif, menjadi sebagian persuasi yang ditawarkan Negeri Ginseng atas kebudayaannya.

Wakil Presiden Makruf Amin, di acara peringatan 100 tahun hubungan bilateral Indonesia-Korsel, sampai mengapresiasi dan mengaminkan branding mereka. Bahwa budaya Korsel melalui K-Pop dan drakor dapat menjadi inspirasi anak muda Indonesia.

Ajakan Kiai mantan Ketua MUI tersebut seolah sedang menyarankan anak muda untuk berkiblat pada K-Wave. Karena jika kita berbicara K-Wave, bukan hanya berbicara etos kerja semata, melainkan sepaket dengan budaya permisif dan liberal yang menjadi ruh industri mereka. Bahkan etos kerja yang dibanggakannya pun patut dipertanyakan landasan dan kesesuaiannya dengan fitrah manusia.

K-Wave Rusak dan Merusak

Korsel seperti sedang memaknai ulang adagium “Timur lebih sopan dari Barat”. Padahal, industri hiburan Korsel tak kalah “panasnya” dengan Industri Barat. Budaya “terbuka” yang dipertontonkan telah menjadikan syahwat sebagai segala-galanya dan moral tak ada artinya.

Girl band dan boy band dari negeri itu memang tak pernah tanggung dalam fesyen dan koreonya. Minimnya pakaian dan gerakan mereka yang vulgar adalah tuntutan profesionalitas dalam industri yang mendewakan syahwat. Performa K-Pop yang “sempurna” ini diharapkan menjadi wasilah lahirnya para fandom fanatik.

Baca juga:  K-Pop dan Drakor, Inspirasi Fatamorgana

Bagaimana tidak, para fandom fanatik seperti “sakau”, rela menunggu berhari-hari hanya untuk melihat sang idola lewat, mengeluarkan ratusan juta untuk membeli album hanya demi tanda tangannya, hingga menyakiti diri sendiri kala idolanya meninggal. Mirisnya, para fandom ini hampir seratus persen adalah muda-mudi.

Film dan drama tak kalah dahsyatnya. Kehidupan materialistis yang disodorkan drakor, sukses membius penontonnya untuk berhalusinasi. Tak jarang para penikmat hallyu bermutasi menuju Korean Style yang hedonis dan materialistis.

Sehingga jangan salah, etos kerja yang tinggi jika landasannya adalah materi, akan menyebabkan malapetaka besar.

Tingginya angka kasus bunuh diri di Korsel buktinya, sebagian besar diakibatkan depresi. Tekanan kerja, tekanan belajar, hingga tekanan kehidupan rumah tangga, semua itu menjadikan mereka ingin mengakhiri hidupnya.

Begitu juga kehidupan laki-laki dan perempuan yang begitu bebas di sana. Pacaran dan seks bebas adalah hal yang dibanggakan. Pemerintahannya sendiri bahkan melegalkan seks bebas “meski” dibatasi minimal usia 16 tahun. Artinya, jika pelaku di atas 16 tahun tidak dipandang tindakan asusila.

Budaya mabuk miras juga hal yang dipopulerkan K-Wave. Mabuk dianggap solusi jitu mengatasi kesedihan dan cara asyik bersenang-senang. Tercatat, Korsel adalah salah satu negara dengan konsumsi alkohol tertinggi di dunia.

Sayangnya, alih-alih memfilter, pemerintah malah membuka kran selebar-lebarnya bagi invasi budaya dari Timur ini lewat industri film dan musik, merajai Indonesia dan menghancurkan aset bangsa yang begitu berharga

Atas nama diplomasi hubungan baik bilateral dua negara, pemerintah rela mengorbankan moral anak bangsa.

Baca juga:  Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

K-Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Dr. Adian Husaini peneliti INSIST menjelaskan, salah satu misi hegemoni Barat terutama Amerika ialah mengekspor modernitas dan memprogandakan konsumerisme. Sehingga, dapat disimpulkan tujuan hegemoni Barat terhadap bangsa lain adalah untuk melanggengkan dominasi peradabannya.

Bantuan utang AS pada Korsel dahulu tampaknya tak sia-sia, kini Korsel menjelma menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat. Lihat saja industri kosmetik, hiburan, hingga pariwisata di Korsel telah menjadi industri yang diperhitungkan dunia.

Tentu AS tak cuma-cuma menggelontorkan dana, terbukti kini setiap kebijakan Korsel di bawah bayang-bayang tuannya, AS. Bukan hanya kebijakan, ideologi dan kebudayaan barat pun telah berhasil terserap utuh dalam kehidupan masyarakat Korsel.

Maka, pantaslah jika Korsel disebut “role model” budaya liberal dari Timur dan bukti keberhasilan Barat menancapkan hegemoninya di Asia.

Support System Langgengkan K-Wave

Ahmad Dhani dalam menanggapi pernyataan Ma’ruf Amin mengenai K-Pop menyampaikan, pemerintah Korsel menyiapkan dana besar dan serius dalam memajukan industri musik Korsel, sehingga industrinya bisa maju.

Support system pemerintahan Korsel dalam menciptakan demam K-Wave bisa berlangsung lama dan mewabah pada tingkat yang sangat parah. Hal demikian dibutuhkan sejumlah Industri untuk terus bergerak dan tumbuh.

Misalnya, mengapa fenomena fandom seperti terus dilestarikan? Karena industri hiburan butuh konsumen loyal untuk membeli merchandise yang sudah disiapkan. Fandom dibutuhkan untuk memopulerkan sang idola yang rupawan. Mengapa harus rupawan? Karena ada industri kosmetik dan kecantikan yang membutuhkan endorse produknya.

Dunia fesyen tak kalah sibuknya, busana sang idola menjadi barang yang dicari masyarakat. Industri pariwisata pun ambil bagian, kuliner ala Korsel dan tempat-tempat indah yang dijajaki pemain drakor menjadi persuasi tersendiri bagi industri pariwisata.

Baca juga:  Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

Produksi drakor yang masif turut membuat budaya liberal dan permisif makin tertancap kuat dalam benak masyarakat Indonesia.

Alhasil, preferensi umat muslim tak beda dengan orang-orang kafir. Hingga akhirnya kaum muslim lebih menyenangi sesuatu yang berasal dari budaya Korsel daripada budaya agamanya sendiri. Cara makan, berbusana, hingga cara pandang tentang kehidupan pun mengikuti orang-orang kafir.

Inilah yang dinamakan hegemoni Barat. Ideologi ini menjadikan dunia di bawah bayang-bayang korporasi.

Bagaimana agar Umat Muslim Mampu Menghadang K-Wave?

Pertama, harus dipahami bahwa budaya K-Wave tak beda dengan budaya Barat. Keduanya lahir dari ideologi yang sama, kapitalisme sekuler. Hanya berbeda casing-nya saja.

Kedua, invasi budaya K-Wave merupakan serangan sistemis dari segala sektor. Oleh karena itu, butuh lebih dari sekadar benteng keimanan individu, yaitu benteng pertahanan negara yang dengan segenap kekuatannya mampu menjadi perisai umat dari segala macam marabahaya.

Negara akan mengatur konten apa saja yang boleh masuk dan diakses kaum muslim, terutama generasi. Hanya konten baik dan berkualitas yang akan sampai ke umat. Selain melindungi umat dari gempuran budaya kufur, Negara pun bertugas menjaga jawil iman (kondisi keimanan) masyarakatnya.

Ketiga, standar baik dan buruk tidak ditentukan manusia. Akal yang lemah akan menghantarkan standar nilai yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, wajib menyandarkan standar baik dan buruk pada Sang Pemilik manusia. Allah SWT telah menurunkan Alquran dan mengutus Rasulullah Saw. agar umat manusia bisa menjalankan kehidupan sesuai fitrah.

Tak ada bentuk pemerintahan lain selain sistem pemerintahan Khilafah yang menjadikan standar baik dan buruk hanyalah dari Allah SWT. Dengan penerapan syariat kafah, negara akan mampu menghalau K-Wave, bahkan menciptakan “Islam Wave” di tengah kehidupan umat manusia. [MNews/Gz]

One thought on “Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

  • 26 September 2020 pada 18:04
    Permalink

    Kita sebagai anak muda harus pintar pintar dalam memilih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *