Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 1)

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FIKIH – Pernikahan, secara syar’i adalah ibadah. Secara ma’nawi, pernikahan merupakan penyatuan dua potensi fitrah yang berbeda untuk diikat dan dihimpun dalam kebersamaan. Sebagai wujud kecintaan dan pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pernikahan adalah sebuah amanah langsung dari Allah SWT dan Rasul-Nya dan setiap amanah menuntut tanggung jawab. Betapa luar biasa akad nikah ini, sekalipun dengan ucapan yang sederhana.

Dengan adanya akad nikah, perbuatan yang semula diharamkan menjadi halal, perbuatan yang semula bernilai maksiyat, berubah menjadi ibadah.

Dalam kaitan nikah ini Allah SWT berfirman,

وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“…. Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang kuat.” (QS An-Nisa’: 21)

Mitsaqan Ghalizha

Pernikahan adalah sebuah perjanjian teguh (mitsaqan ghalizha). Jelaslah bahwa pernikahan ini bukan suatu senda gurau karena sejajar dengan perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil. Sejajar pula dengan perjanjian Allah dengan para Nabi yang mulia.

Dalam perjalanannya Bani Israil gagal menunaikan amanah karena adanya ketidakjujuran dan khianat terhadap amanat. Sedangkan para Nabi berhasil dengan izin Allah karena dilandasi sifat kejujuran (shiddiq) dan berlaku benar dalam menunaikan amanah.

Dengan demikian pernikahan itu bisa gagal ataupun berhasil sangat bergantung pada sifat yang melandasi ikatan dan bangunan keluarga berdua.

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan amat besar, sehingga ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.

Anas bin Malik ra berkata,

Telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.’” (HR Thabrani dan Hakim).

Islam sebagai diin yang sempurna telah mengatur masalah pernikahan dengan sangat rinci. Dari mulai memilih pasangan, khitbah, akad nikah maupun setelah akad nikah, kewajiban suami istri, termasuk walimatul ‘ursy.

Apa yang dimaksud dengan walimatul ‘ursy dan bagaimana Islam mengatur masalah ini?

Baca juga:  Hakikat Kehidupan Suami-Istri

Arti Walimatul ‘Ursy

Kata walimah (الوليمة) diambil dari kata asal walmun (الولم) yang berarti perhimpunan. Karena pasangan suami istri (pada ketika itu) berkumpul sebagaimana yang dikatakan oleh imam az-Zuhri dan selainnya.

Bentuk kata kerjanya adalah awlama (أولم) yang bermakna setiap makanan yang dihidangkan untuk menggambarkan kegembiraan (ketika pernikahan).

Walimatul ‘ursy (ووليمة العرس) adalah sebagai tanda pengumuman (majlis) untuk pernikahan yang menghalalkan hubungan suami istri dan perpindahan status kepemilikan. (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, 3/153-154)

Menurut Imam Ibnu Qudamah dan Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, “Al-Walimah merujuk kepada istilah untuk makanan yang biasa disajikan (dihidangkan) pada upacara (majlis) perkawinan secara khusus.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 15/486 – Maktabah Syamilah).

Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-Arba’ah, 3/182 – Maktabah at-Tauqifiyyah, Cairo).

Kalangan mazhab Ahmad dan selainnya menyatakan, bahwa walimah merujuk kepada segala bentuk makanan yang dihidangkan untuk merayakan kegembiraan yang berlangsung. (Ibnu Qudamah, al-Mughni).

Jamuan untuk Merayakan Pernikahan

Jadi, walimatul ‘ursy adalah jamuan makan yang diadakan untuk merayakan pernikahan pasangan pengantin. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Anas radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau berkata, “Ketika tiba waktu pagi hari setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadi seorang pengantin dengannya (Zainab bin Jahsy), beliau mengundang masyarakat, lalu mereka dijamu dengan makanan dan setelah itu mereka pun keluar.” (HR Bukhari).

Sabda Nabi Saw. kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika baru saja menikah, “Laksanakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR al-Bukhari).

Baca juga:  Mencegah Stres pada Istri

Anas ra. berkata, “Ketika Rasulullah Saw. menikahi seorang perempuan, beliau meminta aku supaya mengundang beberapa orang (lelaki) untuk makan.” (HR Bukhari).

Menghilangkan Syubhat

Walimatul ‘ursy ini juga merupakan salah satu uslub mengumumkan pernikahan kepada khalayak. Agar tidak menimbulkan syubhat (kecurigaan) dari masyarakat yang mengira orang yang sudah melakukan akad nikah tersebut melakukan perbuatan yang tidak dibolehkan syara’.

Pernikahan merupakan perbuatan yang haq untuk diumumkan dan layak diketahui masyarakat. Juga dapat menjadi perangsang bagi orang-orang yang lebih suka membujang agar segera menikah.

Dalil tentang keharusan untuk menghilangkan yang syubhat adalah penjelasan Rasulullah Saw. terhadap orang-orang yang mencurigainya tatkala beliau bersama istrinya Shafiyyah bint Huyay.

Diriwayatkan dari ’Ali bin Abi al-Husayn (ia menuturkan),

Bahwa Shafiyyah binti Huyay, salah seorang istri Nabi Saw., telah memberitahu kepadanya, sementara Rasulullah Saw sedang melakukan iktikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Shafiyyah lantas bercakap-cakap dengan Nabi Saw. beberapa saat pada waktu Isya. Setelah itu, Shafiyyah berdiri untuk kembali, maka Rasulullah pun berdiri dan mengantarnya.

Hingga saat sampai di pintu masjid dekat tempat tinggal Ummu Salamah, istri Nabi Saw., ada orang dari kalangan Anshar melewati mereka. Kedua orang itu pun mengucapkan salam kepada Nabi Saw.. Mereka kemudian bergegas pergi.

Rasulullah Saw. berseru kepada keduanya, “Pelan-pelan saja sesungguhnya ini adalah Shafiyyan binti Huyay.” Kedua orang itu pun berkata, “Mahasuci Allah! Duhai Rasulullah.”

Apa yang dikatakan oleh Nabi saw telah membuat keduanya merasa berdosa. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya setan menggoda anak Adam melalui peredaran darahnya. Dan aku khawatir, setan akan menyelusupkan prasangka buruk ke dalam hati kalian berdua.” (Muttafaq ’alayhi)

Baca juga:  Bagaimana Feminisme Mengembangkan Penghinaan-nya terhadap Pernikahan, Peran Keibuan, dan Keluarga Tradisional

Dari Aisyah ra., bahwa Nabi Saw. bersabda,

Umumkan (syiarkan) nikah ini dan adakanlah di masjid-masjid, dan pukullah untuknya rebana-rebana. (HR. Ahmad dan Tirmidzi, hadis Hasan)

Tergantung Kemampuan

Mengumumkan (menyiarkan) pernikahan boleh dilaksanakan dengan cara apa pun tergantung kemampuan masing-masing. Karena hal ini berkaitan dengan masalah teknis (uslub). Yang pasti tujuannya adalah memberi tahu kepada orang di sekitar kita, tetangga, kerabat, kenalan, dll., mengenai telah berlangsungnya pernikahan.

Jika belum mampu menyelenggarakan undangan makan (walimah), menyiarkan akad bisa dilakukan dengan cara bersilaturahmi ke kerabat atau kenalan sambil memperkenalkan pasangan. Mencetak kartu dan mengirimkannya atau dengan cara lainnya.

Hanya saja, yang dicontohkan Rasulullah Saw. adalah mengumumkan akad dengan cara mengundang orang-orang serta menyediakan hidangan untuk para undangan. Yakni dengan cara mengadakan walimatul-‘ursy.

Walimah tidak dimaksudkan untuk berpesta pora dan bermegah-megahan. Yang ingin dicapai dari walimah tersebut adalah mengumumkan pernikahan. Sebagai wujud syukur mempelai dan keluarga karena telah menyempurnakan separuh agama, terlebih lagi jika mendapatkan istri salihah.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Tabrani dan Hakim, “Barang siapa yang diberi rezeki oleh Allah seorang istri yang salihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh lainnya.

Memohon Doa

Selain itu walimah juga bertujuan untuk memohon doa dari para undangan. Agar pernikahan tersebut mendapat keberkahan dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.

Walimah juga dapat dianggap sebagai wasilah untuk mensyiarkan hukum-hukum Allah. Sebagai satu rangkaian yang menyertai pernikahan dan mempunyai tujuan yang mulia. Yaitu beribadah kepada Allah SWT dan mengharapkan rida-Nya. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

7 thoughts on “Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 1)

  • 26 September 2020 pada 22:27
    Permalink

    Alhamdulilah, penjelasan nya mencerahkan.. terimakasih muslimah news.com

    Balas
  • 26 September 2020 pada 00:33
    Permalink

    Indahnya pernikahan dalam islam, ikatannya pun krn aqidah bukan krn asas manfaat duniawi. Masya Allah

    Balas
  • 25 September 2020 pada 21:56
    Permalink

    Ma syaa Allah… 💕💕💕

    Balas
  • 25 September 2020 pada 18:08
    Permalink

    Terimakasih atas ilmunya

    Balas
  • 25 September 2020 pada 09:22
    Permalink

    Maa syaa Allah..Alhamdulillah semakin memahami konsep pernikahan syar’i.

    Balas
  • 25 September 2020 pada 08:47
    Permalink

    Keluarga muslimadl institusi kecil yg masih bertahan dalam menerapkan secuil syariah Allah,.pd sistim kapitalis ini .institusi ini dihancurkan sistim melalui seremonial ursy yg sesuai idiologi mrk..mk ulasan diatas pemahaman bhw islam semua aspek kehidupan jk dibangun berdasar aqidah mk akan menjadi berkah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *