Terlepas dari Jemaah Dakwah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Dakwah merupakan tugas mulia, penentu status diri di hadapan-Nya, juga penentu kehidupan umat. Futur dakwah bisa kapan saja terjadi, sebab kesibukan rumah tangga dan nafkah. Saat godaan datang semua pun hengkang. Terlepasnya diri dari jemaah dakwah jauh lebih mudah, semudah terlepasnya dari simpul-simpul keislaman.

Nabi Saw. bersabda, “Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu. Maka setiap satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan pada simpul yang berikutnya. Simpul yang pertama kali terurai adalah kekuasaan (pemerintahan) sedang yang paling akhir terurai adalah salat.” (HR Ahmad, Ibnu majah, al-hakim)

Kita memang bukan malaikat, bisa keliru dan salah, tapi hidup dalam berjemaah lebih mudah karena bisa saling mengingatkan. Jangan sampai kita terjerembab dalam perangkap zona nyaman duniawi dan sulit lepas. Akhirnya dakwah tercecer, di sisa waktu atau sekadar menunaikan kewajiban karena malu pada teman.

Melakukan interaksi dakwah seadaanya, tak ada kemauan untuk menambah tsaqafah, korbanan harta secukupnya, kontribusi dalam dakwah pun sangat minim. Masihkah bisa berkata kalau kita pejuang Islam?

Mungkin kita pernah merasa jenuh ikuti kajian, hingga membenarkan rasa bosan dengan mencari pembenaran tak mengikutinya. Meriang sedikit minta izin dengan alasan tak enak badan. Si kecil rewel jadi alasan ada urusan keluarga mendesak. Astaghfirullah…

Baca juga:  “Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

Seribu alasan bagi kita untuk jadi budak nafsu kemalasan. Apalagi mengkaji Islam di tengah pandemi, via zoom tanpa harus keluar rumah. Tapi bilang gak ada kuota, adab majelis diabaikan, hingga akhirnya tak mendapatkan apa-apa dari kajian.

Padahal, kajian pilar dari aktivitas dakwah. Kajian adalah kesempatan memberikan pemahaman dari kitab pembinaan kepada para mad’u. Mungkinkah melakukan perubahan di tengah masyarakat tanpa mengurai konsep perubahan tersebut?

Duhai jiwa yang malas, inginkah mendengar bagaimana para salafusshalih yang telah menegakkan peradaban Islam begitu merindu pada kajian bersama guru-guru mereka? Ibnu Jandal al-Qurthuby saja berjuang untuk hadir di majelis ilmu Ibnu Mujahid, mendatanginya sebelum fajar agar bisa duduk dekat dengan sang guru. Tapi nyatanya tak bisa, karena majelis telah penuh dengan sesak.

Ia sampai mengorbankan diri masuk ke terowongan yang terhubung dengan majelis beliau, sampai harus merelakan kulit terkelupas dan robek bajunya karena masuk dan keluar dari terowongan tersebut.

Imam Abu Hatim Ar-razi, demi menuntut ilmu di Basrah, ia menjual pakaian-pakaiannya untuk bertahan di sana. Masih bilang kita orang yang paling miskin harta hingga tak bisa ikuti majelis ilmu?

Kita yang terus berupaya berjuang untuk kemuliaan Islam. Masihkah kita ragukan janji Allah bahwa ia akan angkat derajat orang-orang yang berilmu?

Baca juga:  Editorial: Jurus Mabuk Menjegal Dakwah Khilafah

Allah SWT telah mengabarkan pada kita,

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majeli,” maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)

Semua makhluk di langit, di bumi, bahkan ikan-ikan di dasar samudra, mereka memanjatkan doa kepada orang yang berilmu. Para malaikat pun mengembangkan sayapnya bagi para pencari ilmu.

Mari sejenak kita renungkan bahwa panggung demi panggung dakwah yang telah dibangun semua adalah karunia Allah yang dilimpahkan melalui perjuangan teman-teman dalam jemaah. Ada jasa guru-guru kita, ada jasa kitab-kitab yang telah dikaji bertahun-tahun.

Saatnya kita merendahkan hati, menyemai lagi keikhlasan bersama teman-teman dalam jemaah. Jika ada hati yang terluka karena lisan saudarinya, bisa jadi bukan karena disengaja maka maafkanlah. Karena rumah kita adalah jemaah dakwah.

Jangan biarkan setan mengadu domba kita. Saksikanlah musuh-musuh Islam telah nyata siap memerangi pejuang-pejuang-Nya di mana pun berada.

Kemarin ulama dipersekusi bahkan dilukai saat menjalankan amanah dakwah. Aktivis dakwah juga tak luput dari proses pemenjaraan karena tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Tapi jangan membuat kita gentar. Tetap kuatkan tekad, rapatkan barisan untuk memenangkan agama Allah SWT. [MNews/Rnd]

3 thoughts on “Terlepas dari Jemaah Dakwah

  • 26 September 2020 pada 08:10
    Permalink

    MasyaAllah kita harus semangat dalam berdakwah insyaallah

    Balas
  • 26 September 2020 pada 07:38
    Permalink

    Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majeli,” maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)

    Balas
  • 25 September 2020 pada 18:15
    Permalink

    Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *