Menag RI di Antara Seperempat Juta Positif Covid-19

Oleh: Ummu Yazid

MuslimahNews.com, OPINI – Menteri Agama Fachrul Razi terkonfirmasi positif Covid-19. Menurut Staf Khusus Menteri Agama, Kevin Haikal, Menag melakukan tes swab pada 17/9/2020 dan hasilnya positif (kompas.com, 21/09/2020).

Perlu diketahui, klaster baru Covid-19 sejak Agustus 2020 lalu memang bermunculan di sejumlah perkantoran. Tak terkecuali kantor-kantor BUMN dan kementerian. Pak Menag adalah menteri dan pejabat kesekian yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Dikutip dari tirto.id (17/09/2020), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat, terdapat 27 klaster penyebaran Virus Corona atau Covid-19 di kantor kementerian. Seluruhnya 629 kasus. Tertinggi ada di kantor Menteri Terawan Agus Putranto yaitu Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Bukan hanya tertinggi, melainkan memiliki kasus terbanyak melampaui seluruh klaster yang dihimpun Dinkes DKI Jakarta, di atas klaster perusahaan swasta, badan atau lembaga, hingga asrama dan sekolah. Selain kantor kementerian, Covid-19 turut menjangkiti para kepala daerah di Indonesia.

Mencermati semua ini, wabah Covid-19 jelas kian tak ramah. Jangkauan penularan Covid-19 terbukti meluas dan bisa menjangkiti siapa pun. Yang berbahaya, sebagian besar dari mereka adalah orang tanpa gejala.

Lihatlah, lebih dari 100 orang dokter dan perawat gugur dan merupakan angka kematian tenaga kesehatan tertinggi di dunia. Per 22/9/2020, 803 apoteker juga terkonfirmasi positif Covid-19. Dan tak lupa, angka keseluruhan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sudah mencapai lebih dari seperempat juta (250 ribu).

Baca juga:  “Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

Alarm Keras bagi Indonesia

Tentu saja dalam hal ini harus menjadi alarm keras akan karut-marutnya penanganan Covid-19 di Indonesia sejauh ini. Apa kita mau menyusul Brazil, India, dan Meksiko terkait buruknya sistem penanganan Covid-19 di negeri mereka? Tentu tidak bukan?

Persoalan Covid-19 yang kian parah justru bermula dari sikap penguasa Indonesia yang tidak serius menangani pandemi. Akibatnya, setelah berbulan-bulan, tak tampak signifikansi dari awal hingga terhitung tujuh bulan pandemi berlangsung.

Pemerintah masih saja angkuh menyatakan lemahnya sistem kapitalisme yang diembannya selama ini, termasuk dalam penanganan pandemi. Karena toh ketika negara-negara di seluruh dunia tetap bertahan dengan sistem sekuler tersebut, tiada satu pun yang aman dalam penanganan Covid-19.

Dan terbukti, keegoisan rezim yang enggan lockdown sejak awal pandemi muncul di Wuhan, membuat negara ini begitu cepat mencapai angka seperempat juta hanya dalam waktu tujuh bulan.

Angka positif Covid-19 yang terkonfirmasi kian cepat meningkat. Mulai dari rata 1.000-an per hari, hingga mencapai 4.000-an per hari. Namun lockdown tak juga ditegakkan. Yang ada, pemerintah terlalu sibuk mengganti definisi istilah-istilah seputar Covid-19 yang makin membingungkan.

Jelaslah, semua itu akibat tidak mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Saw., yaitu agar rakyat sehat tidak memasuki dan diharuskan meninggalkan area yang terkena wabah.

Baca juga:  “Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

Lockdown dalam Islam dilakukan hanya untuk area yang terkena wabah, yakni dilakukan secara lokal. Daerah lain yang masyarakatnya sehat dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga tidak sampai memukul perekonomian.

Di samping itu, lockdown yang dilaksanakan efektif mengatasi penyebaran penyakit. Inilah langkah strategis penanganan wabah secara sistemis.

Tapi lihat saja saat ini, yang terjadi semakin tidak terkendali. Ancaman kelaparan, pengangguran, dan kemiskinan makin meluas.

Ajang Muhasabah

Sungguh, Islam dengan kesempurnaan aturan yang berasal dari Rab Sang Pencipta, membawa solusi tuntas. Islam menjamin pemenuhan pangan, sandang, papan dengan memastikan setiap individu berada dalam tanggung jawab penafkahan yang jelas di tengah pandemi.

Karena negeri ini adalah negeri Muslim terbesar di dunia, maka bukanlah sesuatu yang aneh ketika mengadopsi dan menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan.

Selaku masyarakat, sudah menjadi kebutuhan pokok untuk terus menegakkan muhasabah secara kontinyu kepada penguasa tentang strategi lockdown yang sahih. Ekonomi dan kesehatan bisa diupayakan, tapi nyawa manusia tidak bisa didaur ulang. Angka positif Covid-19 seperempat juta harusnya membuat negeri ini semakin mawas diri.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٤) وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)

Baca juga:  “Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.[24] Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.[25]” (TQS Al-Anfal [08]: 24-25).

Dan bagi para pejabat yang bersangkutan, semoga momentum isolasi selama terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut dapat menjadi masa muhasabah diri yang efektif. Taubatan nasuha, menyadari seutuhnya bahwa Allah SWT sajalah yang menggenggam hidup dan mati. [MNews/Gz]

3 thoughts on “Menag RI di Antara Seperempat Juta Positif Covid-19

  • 26 September 2020 pada 07:03
    Permalink

    Masya Allah, islam memang aturan yang paling sempurna..

    Balas
  • 24 September 2020 pada 19:58
    Permalink

    Innalilahi… Semoga bisa mengambil hikmah dan segera bertaubat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *