Pemuda Kering Jiwa, Korban Sistem Tak Ramah Ajaran Islam

MuslimahNews.com, NASIONAL – “Insiden penusukan terhadap ulama yang memberikan pengajaran tentang Alquran bukanlah hal biasa. Ini luar biasa! Terlebih di masjid, di depan anak-anak yang sedang semangat belajar Alquran untuk menjadi generasi terbaik bersama orang tuanya.”

Demikian disampaikan Ustazah Ratu Erma dalam Diskusi OnlineAwas, Keluarga Muslim Hadapi Sistem Tak Ramah Ajaran Islam”, Ahad (20/9/2020) di kanal YouTube Muslimah Media Center, dengan Ustazah Iffah Ainur Rochmah sebagai pemandu diskusi.

Ustazah Ratu Erma tampak geram terhadap perbuatan keji pelaku. Menurutnya, peristiwa ini akan menjadi kenangan buruk dan menimbulkan traumatis.

“Akan tersimpan sepenggal sejarah di dalam memori yang akan terbawa sampai dewasa, bahwa ada seorang ulama yang dikenal, diperlakukan dengan keji. Tentu ini tidak akan baik dampaknya,” urainya.

Sebagai orang tua, Ustazah Erma bertanya-tanya, “Kok, bisa ulama dicederai?” tanya retorik.

Sebagaimana diketahui, beredar informasi motif pelaku melakukan penusukan adalah akibat merasa jengah mendengar nasihat Syekh yang suaranya sampai ke rumahnya.

“Ini miris sekali, ada muslim merasa terganggu dengan nasihat agama dari ulama. Kok, bisa ada seorang pemuda muslim yang membenci ulama, bukan melindunginya?” tanya Ustazah Erma lagi. Tetapi menurutnya inilah fakta yang harus dihadapi.

Baca juga:  Rezim Menabuh Genderang Perang pada Umat Islam

Pemuda Muslim Itu Harta Karun

Jika melihat melalui cara pandang Islam, seorang pemuda muslim itu harta karun, harta berharga umat, energi mesin penggerak kebangkitan umat. Ustazah Erma menegaskan justru harapan perbaikan itu ada di tangan mereka.

Pemuda muslim yang beridentitas Islam harusnya berpikir Islam sebagai perkara mulia. Hal ini harus ditanamkan di benak generasi muda, bersama bahu-membahu dengan ulama, sekaligus melindunginya.

“Dan sebagai seorang muslim, kita pun diamanahkan untuk memperjuangkan Islam. Alhamdulillah, peradaban Islam itu mulai tampak cikal bakalnya seperti adanya penghafal Alquran di tangan pemuda,” tegasnya.

Ustazah Ratu Erma mengingatkan, di masa jahiliah saat Rasulullah berdakwah, yang berdiri paling depan melindungi beliau adalah para pemuda. Mereka pasang badan menjaga Rasulullah, mengabaikan bahaya yang akan menimpa dirinya sendiri. Kondisi ini jauh berbeda dengan insiden tersebut.

“Padahal, Islam bisa berkembang ke berbagai penjuru setelah tegaknya daulah di Madinah hingga sampai ke Indonesia, tak lepas dari peran pemuda muslim,” tuturnya.

Semestinya, pemuda itu memiliki potensi besar yang bisa diberikan untuk perbaikan Islam. Sejarah juga menunjukkan bagaimana kebaikan para pemuda muslim yang dididik dengan ajaran Islam.

Mirisnya, lanjut Ustazah Erma, peradaban sekuler liberal hari ini -dengan dominasi kapitalis dan nilai-nilai keyakinannya- justru memberi beban pada pemuda. Pada pemuda diberi segudang masalah: sulit ekonomi, menganggur, tidak tentu arah, pergaulan yang goncang, narkoba, seks bebas, dan sebagainya.

Baca juga:  Rezim Menabuh Genderang Perang pada Umat Islam

“Di satu sisi mereka dijauhkan dari hidup yang benar, di sisi lain dihadapkan pada gambaran-gambaran yang tidak benar. Akhirnya lebih banyak kekeringan jiwa di sana,” jelasnya prihatin.

Maka Ustazah Erma mengatakan, pelaku insiden penusukan tadi sebenarnya adalah korban sistem, nilai, dan pendidikan. Meski tidak menyalahkan keluarga, Ustazah Erma mempertanyakan mengapa keluarga ini tidak bisa mendidik anak-anak muslimnya dengan baik, bahkan berani melakukan penusukan kepada ulama.

“Ini menunjukkan dampak yang tidak baik bagi anak-anak dan masyarakat. Pertanyaannya, mengapa bisa ada pemuda muslim yang seperti itu?” tanyanya lugas. [MNews/Ruh-Gz]

2 thoughts on “Pemuda Kering Jiwa, Korban Sistem Tak Ramah Ajaran Islam

  • 23 September 2020 pada 15:35
    Permalink

    Hanya dalam sistem Islam ulama di lindungi dan di hormati

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *