Khaulah binti Malik bin Tsa’labah ra., Fasih Bicara dan Indah Bahasanya

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Khaulah binti Malik bin Tsa’labah ra. adalah seorang perempuan yang fasih bicara dan indah bahasanya.

Khaulah selalu dekat dengan Allah, imannya senantiasa kukuh dan kuat di keadaan segenting apa pun. Hal ini berdampak besar dalam keteguhannya berhukum kepada aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia selalu bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang sesuatu ataupun perbuatan yang tidak diketahuinya. Ia tidak segan-segan mengingatkan siapa pun, termasuk amirul mukminin, jika menurut pemahamannya hal itu tidak sesuai dengan Islam.

Di masa Rasulullah Saw., Khaulah pernah mengadukan kepada Rasulullah Saw. masalah perlakuan suaminya yang menzihar dirinya.

Hal ini bukanlah karena benci kepada suaminya, tetapi ia ingin mengetahui kejelasan hukum tentang persoalan yang dihadapinya. Ia khawatir dirinya dan suami yang dicintainya akan melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya.

Berkenaan dengan hal ini, turunlah QS Al-Mujadilah ayat 1-4 sebagai jawaban yang sangat melegakan hati Khaulah.

Ayat Alquran Turun untuk Khaulah

Diceritakan, Khaulah adalah istri dari Aus bin Shamit, seorang lelaki tua yang suka menghardik dan kurang baik perilakunya.

Suatu hari, Aus marah kepada Khaulah seraya berkata, “Ya Khaulah, engkau bagiku bagaikan punggung ibuku!” Aus kemudian keluar dan duduk di dalam perkumpulan kaum untuk beberapa waktu lamanya.

Lalu Aus datang kembali pada Khaulah, serta menghendaki dirinya. Kepadanya Khaulah katakan, “Jangan engkau lakukan hal itu, Demi Tuhan yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, engkau tidak dapat lagi berbuat begitu (jimak) denganku, karena engkau telah mengucapkan apa yang baru engkau ucapkan, hingga Allah dan Rasul-Nya memberi keputusan antara kita.”

Di zaman jahiliah dulu, apabila seorang suami mengatakan hal tersebut kepada istrinya, maka istrinya pada waktu itu menjadi haram baginya.

Maka, Khaulah pun pergi menghadap Rasulullah Saw. dan menceritakan apa yang baru saja terjadi atas dirinya. Khaulah adukan pula keburukan akhlak suaminya kepada beliau.

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Khaulah, anak pamanmu itu sudah tua, maka takutlah engkau kepada Allah.”

Lalu ia (Khaulah) mengatakan, “Demi Zat yang menurunkan kitab kepadamu, ia tidak menyebutkan talak. Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu beratnya musibah yang menimpaku dan alangkah berat bagiku berpisah dari suamiku. Ya Allah, turunkanlah melalui lisan Nabi-Mu keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kesulitan kami ini. Sejak peristiwa itu, demi Allah, aku terus-menerus menunggu hingga Allah menurunkan Ayat Alquran yang membicarakan masalahku dengan Aus bin Shamit.”

Lalu Rasulullah Saw. mengisolasi diri sebagaimana biasa, hingga kemudian keluar dengan wajah ceria, seraya bersabda, “Ya Khaulah, Allah telah menurunkan ayat Alquran mengenai masalahmu dengan suamimu.”

Sesaat kemudian Rasulullah membacakan ayat itu kepada Khaulah,

Baca juga:  Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

“Sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah, Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.[1]

Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istri sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. [2]

Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian hendak menarik kembali apa yang diucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[3]

Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan budak), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.[4]” (QS Al-Mujadilah [58]: 1-4)

Selanjutnya Rasulullah bersabda kepada Khaulah, “Ya Khaulah, suruhlah suamimu memerdekakan seorang budak.” Jawabnya, “Ya Rasulullah, demi Allah, ia tidak mampu untuk memerdekakan budak.”

Sikap Khaulah Dipuji Rasulullah

Setelah dibacakan QS Al-Mujadillah kepada Khaulah, Rasulullah bersabda, “Suruhlah ia (suaminya) berpuasa dua bulan berturut-turut.” Jawab Khaulah, “Demi Allah, ia sudah tua renta, dan tidak akan mampu berpuasa dalam waktu dua bulan berturut-turut.”

Lalu Rasulullah bersabda, “Suruhlah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq (enam puluh sha’) kurma.” Jawabnya, “Ya Rasulullah, ia tidak punya kurma sebanyak itu.”

Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Saya akan membantu dengan setandan kurma.” Lalu Khaulah menimpali Sabda Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan setandan kurma.”

Rasulullah kemudian bersabda, “Benar dan bagus engkau, wahai Khaulah. Pergi dan bersedekahlah untuknya. Kemudian bersikaplah yang baik terhadap anak pamanmu (suamimu).”

Khaulah pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan dan dipesankan Rasulullah.

Baca juga:  Biografi 20 Shahabiyah Rasulullah SAW yang Asing di Telinga Kita

Menasihati Amirul Mukminin

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Umar bin Khaththab pada suatu waktu pernah melewati Khaulah. Ketika itu, Umar yang memangku jabatan Khalifah, sedang mengadakan ekspedisi wilayah.

Ia berada di atas kendaraan yang dikawal para prajurit, lalu Khaulah menghentikannya seraya memberikan nasihat, “Aku masih ingat, dahulu engkau dipanggil dengan nama Umair. Aku sering melihatmu di pasar Ukadz, bermain dan bergulat bersama anak-anak sebayamu. Sekarang, engkau berganti nama menjadi Umar. Bahkan, lebih dari itu, engkau kini sudah digelari Amirul Mukminin. Sungguh indah sebutan nama itu, tetapi apakah engkau tahu makna di balik gelar tersebut? Ketahuilah wahai Umar, orang yang takut mati tentu tak akan menyia-nyiakan usianya untuk beramal kebaikan.”

Umar menundukkan kepalanya, mendengar nasihat dari perempuan tua tersebut, tak ubahnya seperti seorang anak kecil yang dengan hormat menyimak di depan ibunya.

Lalu para pengawal berkata kepada Umar, “Ya Amirul Mukminin, adakah engkau berhenti di tempat ini hanya karena wanita tua?”

Umar bin Khathab sebenarnya merasa tersinggung atas pertanyaan itu, namun ditahan. Lalu ia balik bertanya, “Tahukah kalian, siapakah wanita ini? Ia adalah Khaulah binti Malik bin Tsa’labah. Allah telah mendengar perkataan dan mengabulkan doanya dari atas langit ketujuh sana. Apakah pantas, jika Allah saja mau mendengar perkataannya, sedangkan Umar tidak mau mendengarnya? Sungguh, sebuah ketololan bila itu terjadi.”

Memprotes Penetapan Mahar oleh Umar

Pernah pula terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, di mana situasi yang terjadi adalah tingginya mahar yang diminta kaum perempuan dari laki-laki yang hendak menikahinya.

Baca juga:  Zainab binti Khuzaimah, Sang Ummul Masaakin

Maka untuk kemashlahatan kaum muslimin, waktu itu Umar menetapkan jumlah/besar mahar tertentu, yaitu tidak boleh lebih dari 400 dirham. Mendengar ketetapan Khalifah Umar pada waktu itu, maka Khaulah menilai bahwa apa yang dilakukan Umar waktu itu sudah menyalahi tuntunan Allah dan Rasul-Nya, maka kemudian ia protes atau lebih tepat lagi mengoreksi penguasa (muhasabah lil hukkam).

Lalu ia berkata kepada Umar, “Apa hak engkau, yaa Amirul mukminin, menentukan jumlah mahar perempuan, sedangkan Allah saja tidak pernah membatasi jumlah/besarnya mahar tersebut.”

Seraya ia membacakan salah satu ayat Alquran, yang artinya, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS An-Nisaa[4]: 20).

Mendengar apa yang dikatakan Khaulah, Umar segera menyadari kekeliruannya, lalu ia berkata, “Perempuan ini benar dan Umar salah.”

Sinergisme Peran

Demikianlah sebuah teladan yang patut kita contoh sebagai seorang muslim. Ketidakrelaan seorang muslimah jika dia melihat seorang muslim/muslimah lainnya; siapa pun ia, baik orang terdekat dengannya, tetangganya, orang lain, bahkan seorang Khalifah (kepala negara) sekalipun; keliru dalam bertindak atau menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya.

Tampak sekali dalam dirinya rasa tanggung jawab sebagai seorang muslimah, baik saat sebagai istri, bagian dari keluarga lainnya, ataupun sebagai bagian dari masyarakat. Senantiasa menjaga agar semuanya tetap berjalan pada syariat-Nya.

Sungguh sebuah sinergisme peran yang sangat baik, menempatkan posisinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Yang Mahakuasa. [MNews/Gz]

*Disarikan dari buku Revisi Politik Perempuan.

One thought on “Khaulah binti Malik bin Tsa’labah ra., Fasih Bicara dan Indah Bahasanya

  • 24 September 2020 pada 20:52
    Permalink

    Subhanallah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *