Dr. Fika Komara: Serangan terhadap Ulama dan Wabah Global Islamofobia

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Mengaku anaknya gangguan jiwa, orang tua dari Alfin Andrian sang pelaku penusukan Syekh Ali Jaber pada Senin (14/9/2020) lalu, terus memberi alibi.

Dikatakan sudah empat tahun Alfin mengalami gangguan dan sempat dirawat di rumah sakit jiwa (RSJ) di Lampung. Di saat yang sama, pihak RSJ membantah. Tidak ada rekam medis terkait pelaku.

Dalam inside itu, Syekh Ali Jaber mengalami luka tusuk di bagian lengan kanan, setelah sempat menangkis tusukan pelaku yang ditengarai mengarah ke lehernya.

Sementara, di negara yang berbeda, di Belanda, majalah Charlie Hebdo kembali berulah. Majalah itu kembali memublikasikan kartun Nabi Muhammad Saw. meski menuai kemarahan yang luar biasa dari umat Islam.

Meski demikian, Charlie Hebdo justru mendapat dukungan dari Perdana Menteri Prancis, Macron. Begitu pun tragedi pembakaran Alquran di Skandinavia yang juga dibela otoritas setempat.

Pembelaan Salah Tempat?

Seorang ahli geostrategi, Dr. Fika Komara menyatakan terkait kasus penusukan Syekh Ali Jaber, alasan “orang gila” adalah alasan aneh yang perlu diwaspadai.

Menurutnya, sebagaimana desakan tokoh Muhammadiyah, Din Syamsuddin, sebaiknya Polri tidak mudah menerima pengakuan dan kesimpulan bahwa pelaku adalah orang gila, sebagaimana pernah terjadi dulu yang hingga kini tidak ada kejelasan.

Baca juga:  Songsong Abad Khilafah Tinggalkan Negara Bangsa

Sedangkan terkait kasus Charlie Hebdo, Dr. Fika menyatakan kegeramannya ketika Macron justru berkata, “Being French means defending the rights to make people laugh; the freedom to mock, mock by using caricatures…”. (Menjadi seorang Prancis artinya membela hak untuk membuat orang tertawa; kebebasan untuk mengejek, mengejek dengan karikatur.)

Bahkan, Dr. Fika menyebutkan, seorang tokoh Muslim di Belanda, Okay Pala, juga menuliskan kemarahannya terkait insiden itu.

“Begitu pun insiden perobekan, peludahan Alquran di negara-negara Skandinavia yang juga dibela oleh otoritas setempat, astaghfirullah!” ujarnya.

Benang Merah Islamofobia

Meski berbagai peristiwa ini tidak terlihat berhubungan, Dr. Fika meminta umat untuk mengamati lebih jeli, bahwa ada benang merah yang sama, yakni penyerangan terhadap simbol Islam: Rasulullah Saw., Alquran, dan Ulama.

“Mengapa ini bisa terjadi? Semua ini bermuara pada satu penyebab, yakni promosi Islamofobia melalui kampanye global antiradikalisme yang dipelopori Barat sejak 20 tahun lalu dan diikuti oleh para makmum penguasa Muslim,” urainya, dilansir dari akun Muslimah Timur Jauh (17/9/2020).

Dr. Fika membeberkan, rezim Barat jelas punya kepentingan membela pelaku penyerangan terhadap Islam.

“Mereka ingin menjaga sistem nilai dan ideologi mereka. Wajar saja Macron membela Charlie Hebdo, atau PM Norwegia membela hak-hak penista Alquran,” sindirnya.

Baca juga:  Simbol

Dr. Fika pun mempertanyakan penguasa Muslim negeri ini.

“Lalu bagaimana dengan penguasa Muslim di negeri ini? Akankah mereka berani membela para ‘orang gila’ yang menyerang ulama kita?” tanyanya retorik. [MNews|Gz]

4 thoughts on “Dr. Fika Komara: Serangan terhadap Ulama dan Wabah Global Islamofobia

  • 19 September 2020 pada 14:34
    Permalink

    Islamophobia sdh menyebar sama dgn corona

    Balas
  • 18 September 2020 pada 09:51
    Permalink

    Wajar jika mereka takut dengan kebangkitan islam,Krn mereka tidak mengenal islam…lalu kenapa orang Islam sendiri juga takut dengan islam dan kebangkitannya,seharusnya kita berjuang untuk menegakkan Islam dibumi ini💪

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *