Wajib Teken Pakta Integritas, Mahasiswa Masuk Kampus Otoriter?

MuslimahNews.com, NASIONAL — “Sungguh parah negara ini. Kooptasi kampus sudah masif. Gaya otoriter dipakai elite penguasa untuk menghancurkan otonomi/independensi universitas/kampus sebagai institusi akademis,” demikian ujar pengamat politik dan dunia kampus, Luluk Farida.

Pernyataan tersebut sebagai respons atas diwajibkannya calon mahasiswa baru Universitas Indonesia (UI) menandatangani lembar Pakta Integritas di atas meterai yang baru dimulai tahun ajaran ini.

Respons ini bukan tanpa alasan. Menurut Luluk, bentuk otoriter kampus ini tampak dari isi Pakta Integritas tersebut.

Melansir dari kompas.com, dalam Pakta Integritas itu terdapat 13 poin yang tak boleh dilanggar mahasiswa sejak ditetapkan sebagai mahasiswa UI. Karena ditandatangani di atas meterai, maka pelanggarannya berkonsekuensi hukum, yakni maksimum diberhentikan dari kampus.

Poin Kritis

Dari 13 poin tersebut, ada dua poin yang paling dikritisi Luluk, yakni poin 10 dan 11.

Poin kesepuluh tentang larangan mahasiswa baru terlibat politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara. Sedangkan poin kesebelas terkait larangan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok/organisasi yang tidak mengantongi izin resmi pimpinan fakultas/universitas. Untuk sanksi pelanggaran bisa di-DO dari kampus UI.

“Ketika kampus dinormalisasi, disterilkan dari aktivitas politik, apa yang mahasiswa dapat? Dan (apa yang) negeri ini dapat? Tak lain adalah keterbungkaman, mati daya kekritisan mahasiswa, sementara kezaliman sistem dan rezim terus berjalan tanpa kritik. Korupsi bebas, kebijakan rezim prokapitalis Asing-Aseng, sementara rakyat negeri ini bertambah menderita,” papar Luluk kepada MNews (16/9/2020).

Baca juga:  Editorial: Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Pecundang!

Menurutnya, bukan kali ini saja kampus melakukan pembungkaman. Atas nama radikalisme, intoleran, dan sebagainya, kampus banyak membungkam suara kritis mahasiswa.

“Mahasiswa banyak yang diberhentikan, ditangkap ketika menyuarakan sikap yang bertentangan dengan kebijakan rezim. Bahkan bukan hanya mahasiswa, kalangan intelektual juga menjadi korbannya,” ujarnya.

Luluk mencontohkan, beberapa waktu lalu, Prof. Din Syamsuddin dikeluarkan dari Majelis Wali Amanat (MWA) ITB karena dianggap terlalu kritis dan radikal. Sebelumnya di UGM, acara diskusi dirusak dan pembicara diintimidasi dan diteror.

“Sungguh sangat prihatin pada kehancuran dunia kampus di Indonesia,” katanya miris.

Luluk melanjutkan, kampus sebagai institusi pendidikan tertinggi, harusnya membangun suasana berpikir objektif, analitis, logis, serta kritis. Akan tetapi, tampaknya kini dirusak kekuatan kolonialis, pragmatis, dan mungkin agen kapitalis atau komunis.

Pembinaan Politik yang Benar

Luluk pun mempertanyakan sebenarnya apa yang ditakutkan dari sikap kritis mahasiswa maupun akademisi kampus? Fakta bahwa mahasiswa dan akademisi adalah salah satu elemen masyarakat, tentu tidak bisa dipisahkan dari politik. Entah sebagai subjek ataupun objek.

Oleh sebab itu, Luluk mengatakan bahwa kampus harusnya melakukan pembinaan politik yang benar, bukan membungkam mahasiswa dan akademisi, bahkan “mengalienasikan” mereka dari perannya terhadap masyarakat dan bangsa ini.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Seputar Pakta Integritas bersama Ustazah Luluk Farida

Yang dimaksudnya adalah dengan memahamkan politik sejatinya tidak melulu berkaitan dengan pertarungan perebutan kekuasan, tetapi bagaimana mengurus berbagai kepentingan rakyat.

“Sikap kritis harus ideologis, tidak pragmatis apalagi anarkis. Semangat kritis mahasiswa tanpa solusi ideologis tentu menambah ruwet masalah negeri ini,” ujarnya.

Luluk menegaskan, kampus harus menumbuhkan daya solutif mahasiswa dan akademisi dengan mengkaji secara objektif akar permasalahan bangsa ini dan solusi mendasarnya.

“Yaitu dengan kembalinya negara dan bangsa ini ke ideologi Islam—ke akidah dan syariat Islam—dan bukan dengan tetap mempertahankan sistem status quo,” tukasnya. [MNews|Gz]

Bagaimana menurut Anda?

4 thoughts on “Wajib Teken Pakta Integritas, Mahasiswa Masuk Kampus Otoriter?

  • 19 September 2020 pada 14:46
    Permalink

    Mahasiswa agent of change

    Balas
  • 19 September 2020 pada 14:12
    Permalink

    Kenapa mahasiswa harus jadi korban juga..apa salah mereka..

    Balas
  • 19 September 2020 pada 07:55
    Permalink

    Hanya islam solusi terbaik

    Balas
  • 16 September 2020 pada 21:56
    Permalink

    #WeNeedKhilafah❤️

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *