[Rohingya] Apakah Para Pengungsi yang Mencari Perlindungan itu Kriminal?

Apakah pengungsi yang mencari perlindungan itu kriminal? Atau (justru) rezim nasionalis yang menelantarkan dan menganiaya kaum muslimin yang tertindas (itu yang kriminal)?


Berita:

Pada 7 September 2020, setidaknya 300 pengungsi Rohingya mendarat di Indonesia setelah berada di laut selama hampir enam bulan. Di antara mereka ada 188 wanita dan 14 anak-anak, dan diselamatkan muslim lokal di pantai utara Sumatra.

Para pengungsi itu berlayar dari selatan Bangladesh menuju Malaysia, berharap mendapat perlindungan di negara mayoritas muslim itu setelah teraniaya di Myanmar. Namun, mereka justru diusir saat tiba di sana, dengan alasan penutupan perbatasan karena pandemi virus Corona.

Diperkirakan lebih dari 30 pengungsi tewas selama perjalanan. Sehari setelah kejadian ini, muncul kabar berita berupa video kesaksian dua orang tentara yang meninggalkan Myanmar. Mereka membeberkan bukti yang mengonfirmasi fakta (yang sudah diketahui) tentang niat militer Myanmar memberantas Muslim Rohingya dalam kampanye genosida.

Para tentara tersebut mendeskripsikan penembakan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil, eksekusi-eksekusi, penguburan massal, pemusnahan desa, dan pemerkosaan terhadap Rohingya oleh tentara Myanmar, serta arahan dari atasan mereka untuk: “Tembak semua yang kamu lihat dan semua yang kamu dengar!”, “Bunuh semua yang kamu lihat, entah anak-anak atau orang dewasa”, dan instruksi untuk “Memusnahkan” Rohingya!


Komentar:

Oleh: Dr. Nazreen Nawaz

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Terlepas dari skala penganiayaan yang mengerikan yang dihadapi Muslim Rohingya di Myanmar dan akan terus dihadapi, rezim Muslim nasionalis di wilayah tersebut terus mendorong mereka menjauh, atau menempatkan mereka di kamp-kamp kumuh yang penuh penyakit, atau mengkriminalisasi bahkan memenjarakan para pengungsi yang tak berdaya ini.

Baca juga:  Lagi, Arab Saudi akan Deportasi Muslim Rohingya

Kondisi kamp pengungsi Cox’s Bazar yang memprihatinkan di Bangladesh dan pencabutan semua hak di negara itulah yang mendorong ratusan orang Rohingya mempertaruhkan hidup mereka mencari perlindungan di Malaysia atau tanah Muslim lainnya.

Tahun ini, dilaporkan bahwa 800 Rohingya meninggalkan Bangladesh menuju Malaysia, dan puluhan diyakini tewas selama perjalanan mereka.

Sampai di Malaysia, alih-alih diterima sebagai saudara muslim mereka yang berhak dipedulikan dan dilindungi, rezim Malaysia yang tak berperasaan itu justru terbutakan konsep beracun mereka tentang menjaga perbatasan nasional; mendorong kembali Muslim (Rohingya) yang putus asa ini untuk tenggelam di laut atau mati kelaparan.

Penderitaan tragis Muslim Rohingya pasti akan menghancurkan hati setiap individu yang baik dan manusiawi, dan mengantarkan pada realisasi atas kebutuhan mendesak para pengungsi ini, untuk memiliki tempat tinggal dan perlindungan.

Namun, tidak demikian halnya dengan rezim dunia Muslim.

Tahun ini saja, otoritas Malaysia menyatakan telah mengembalikan 22 perahu yang mengangkut Muslim Rohingya. Sementara di Indonesia, pada Juni ini, otoritas lokal di Aceh menolak memberikan perlindungan kepada sekitar 100 muslim Rohingya yang hanyut di dekat pantai mereka -setelah menempuh empat bulan perjalanan selama mereka disiksa pedagang manusia dan terpaksa meminum air kencing mereka sendiri demi bertahan hidup.

Adalah muslim lokal di Aceh -yang marah atas sikap dan ketidakmanusiawian pejabat lokal mereka-, yang menyelamatkan saudara-saudara Muslim mereka dari perahu itu. Bersamaan dengan kedatangan paling baru Muslim Rohingya di Indonesia, Muslim setempat juga menyumbangkan makanan dan pakaian mereka.

Baca juga:  Cina Membayar Facebook dan Twitter untuk Menyebarkan Propaganda Anti-Islam

Seorang warga, Aisyah, mengatakan pada Reuters, “Kami prihatin dengan kondisi mereka. Mereka membutuhkan bantuan atas nama kemanusiaan. Mereka adalah manusia seperti kami.”

Ini adalah perbedaan jelas dari tindakan yang didorong Iman dan Islam yang mencontohkan kemanusiaan dan persaudaraan Islam, dibandingkan dengan tindakan tidak manusiawi yang tidak berperikemanusiaan dari sistem buatan manusia yang didorong kepentingan nasionalis yang egois!

Rezim nasionalis yang tercela ini tidak hanya meninggalkan Rohingya dalam keadaan menyedihkan. Beberapa, seperti pemerintah Malaysia, telah memicu pidato kebencian xenofobia terhadap mereka yang berhasil memasuki negara mereka, serta menangkap dan menahan ratusan orang di kondisi mirip penjara yang tidak sehat, membuat mereka mengalami babak baru penganiayaan dan teror.

Hampir 600 migran tidak berdokumen ditangkap di Malaysia pada akhir pekan pertama Mei tahun ini, sedangkan pada Juni, pengadilan di negara itu menjatuhkan hukuman hingga 7 bulan penjara pada 31 pria dan 9 wanita Rohingya karena melanggar undang-undang imigrasi Malaysia.

Beberapa pria bahkan dijatuhi hukuman cambuk, meskipun hukuman ini kemudian dibatalkan. Anak-anak Rohingya juga telah didakwa dan menghadapi hukuman penjara.

Pemerintah Malaysia bahkan mengeluarkan peraturan baru untuk mencegah pemilik rumah menyewakan propertinya kepada komunitas migran.

Begitulah negativitas intens yang diciptakan rezim terhadap Rohingya. Sekarang beberapa pekerja kemanusiaan takut memberi pengungsi makanan dan kebutuhan lainnya, karena menerima bentrokan balik dari pejabat pemerintah.

Rezim negeri-negeri Muslim ini telah terlucuti rasa kemanusiaannya di bawah sistem kapitalistik nasionalis mereka. Di bawah pemerintahan mereka yang tidak berperasaan, mencari perlindungan sebagai korban penganiayaan yang putus asa dan tidak berdaya adalah kejahatan.

Baca juga:  Dr Nazreen Nawaz: Penyakit Nasionalisme Mendasari Rezim Saudi Menangkapi Kaum Perempuan dan Anak-anak Rohingya

Sebenarnya, rezim-rezim ini dan sistem pemerintahan buatan merekalah yang merupakan penjahat nyata di mata umat, di mata orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan, dan yang terpenting di Mata Allah (SWT) -yang memerintahkan orang-orang beriman untuk mendukung dan melindungi saudara-saudara Muslim mereka yang tertindas dan memberi mereka tempat perlindungan yang bermartabat.

Allah (SWT) berfirman, “… Dan jika mereka meminta pertolonganmu kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan. …” [8:72].

Fakta bahwa Rohingya adalah Muslim, tidak ada artinya bagi rezim-rezim ini yang mengabaikan sabda Nabi (Saw.): «الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ ، وَلَا يَخْذُلُهُ» “Seorang Muslim adalah saudara seorang Muslim; Dia tidak menindas seorang Muslim, juga tidak meninggalkannya.”

Dan rezim ini telah memperlakukan Rohingya sebagai makhluk tak berharga, padahal Allah (SWT) telah mendefinisikan hidup mereka sebagai sesuatu yang suci, seperti halnya kehidupan setiap orang beriman.

Nabi (Saw.) bersabda, لزوال الدنيا أهون على الله من قتل مؤمن بغير حق “Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya orang mukmin tanpa hak.”

Sungguh, rezim yang tidak memiliki hati nurani, yang telah meninggalkan umat dan memandang hina orang-orang beriman yang tertindas ini, tidak pantas untuk berkuasa atas tanah kita satu hari pun!

Tidakkah kita sangat membutuhkan penegakan Sistem Allah (SWT): Khilafah berdasarkan metode kenabian, yang akan memenuhi perintah Rab kita untuk menjadi perisai dan pelindung orang-orang beriman, dan memberi keteduhan bagi semua yang tertindas?! [MNews] Sumber: https://s.id/rfgjr

Bagaimana menurut Anda?

3 thoughts on “[Rohingya] Apakah Para Pengungsi yang Mencari Perlindungan itu Kriminal?

  • 19 September 2020 pada 13:54
    Permalink

    Ya Allah bantulah kaum muslim

    Balas
  • 16 September 2020 pada 21:29
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *