Nasib Ulama di Sistem Sekuler: Dilukai, Dipersekusi, hingga Tak Diakui

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Akhir-akhir ini, berbagai perlakuan buruk dialami para ulama. Yang terbaru, Syekh Ali Jaber ditusuk ketika sedang ceramah di Lampung (Ahad, 13/9/2020). Lengan sang ulama terluka serius sehingga harus dijahit.

Sebelumnya, pada Kamis (20/8/2020) Kyai Zainullah dan Abdulhalim dipersekusi di Pasuruan. Keduanya digeruduk sekelompok ormas karena mendakwahkan Khilafah yang merupakan ajaran Islam.

Tak hanya individu ulama, lembaga yang menaungi para ulama yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tak luput dari tudingan.

Politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi dalam akun Twitternya, @TeddyGusnaidi pada Jumat (10/9/2020) menyebutkan, “MUI itu LSM, sama seperti LSM lainnya, gak ada bedanya. MUI itu cuma LSM urusan ulama, tapi pengurusnya belum tentu ulama. Sama seperti LSM urusan hewan, apakah pengurusnya laler dan kecoa? Gak, kan?”

Sang Pewaris Nabi

Perlakuan yang buruk terhadap ulama adalah sebuah keharaman. Islam menempatkan ulama pada posisi yang mulia. Allah Swt. berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11)

Ulama adalah pewaris nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu, maka ia telah mendapatkan bagian terbanyak (dari warisan para nabi).” (HR Tirmidzi (2682))

Baca juga:  Dr. Fika Komara: Serangan terhadap Ulama dan Wabah Global Islamofobia

Peran ulama menurut penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Quthub yaitu menyampaikan ajaran sesuai dengan ajaran Alquran, menjelaskan kandungan Alquran serta menyelesaikan permasalahan dan problem agama di masyarakat.

Umat Islam diperintahkan untuk mendekat pada ulama. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahuinya.” (QS Al Anbiya: 7)

Umat Islam Diwajibkan Memuliakan Ulama

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَكْرِمُوا الْعُلَمَاءَ فَإِنَّهُمْ عِنْدَ اللهِ كُرَمَاءُ مُكْرَمُوْنَ}.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Muliakanlah ulama’ karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan.” (Kitab Lubbabul Hadis, Imam As Suyuthi).

Sungguh miris, saat ini ulama diperlakukan buruk. Inilah jalan terjal yang harus ditempuh para ulama. Jalan dakwah tak pernah sepi dari ujian dan pertentangan.

Pemuja kebatilan selalu berupaya memadamkan cahaya Islam. Mereka mengatur makar untuk membungkam ulama. Baik dengan opini negatif, rayuan rupiah, maupun tindakan kasar.

Bahkan di negeri lain, banyak ulama yang syahid di tangan penguasa. Namun mereka tak gentar. Para ulama adalah orang yang mewakafkan hidupnya di jalan dakwah. Lepasnya nyawa sebagai konsekuensi dakwah adalah syahid yang mereka rindu.

Seperti pernyataan ulama Syekh Umar Mukhtar ketika dihukum mati rezim Libya. Beliau berkata, “Ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri hidup saya. Kami menang, atau kami mati.” Sang ulama pun syahid di tiang gantungan.

Khilafah Memuliakan Ulama

Perlakuan buruk terhadap ulama sering terjadi saat ini karena sistem sekuler tidak menghormati ulama. Sistem sekuler meminggirkan agama dari kehidupan manusia. Semua keputusan ekonomi, politik, pemerintahan, dan sebagainya diambil tanpa merujuk pada petunjuk dari Sang Khalik.

Baca juga:  Umat Islam di Negeri ini Sudah Merdeka, Kata Siapa?

Dalam kehidupan seperti ini, ulama seolah tak punya peran. Ulama hanya didengar jika memberi tausiyah yang menyenangkan. Namun saat ulama meluruskan yang bengkok, pemuja kebatilan pun murka dan membuat makar pada sang ulama. Sungguh tak ada akhlak!

Sungguh beda dengan sistem Khilafah Islam yang tegak atas akidah Islam. Pemerintahan dijalankan sesuai syariat Islam. Sehingga Khilafah butuh orang-orang yang paham ilmu agama, yakni para ulama.

Dalam Khilafah, ulama dimuliakan. Mereka dijadikan rujukan dalam berbagai urusan kehidupan. Bukan hanya urusan akidah, ibadah, dan akhlak. Tapi juga politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Para khalifah tak segan mendatangi majelis ilmu para ulama, alih-alih memanggil mereka ke istana. Al-Qadhi Iyadh berkata tentang Khalifah Harun al-Rasyid, “Ia (Harun al-Rasyid) berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan Imam malik rahimahullah.” Masya Allah, sungguh penguasa yang memuliakan ilmu dan ulama.

Para penguasa dalam Khilafah senantiasa mendekat pada ulama dan mendengarkan nasihat mereka. Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebutkan, Sultan Muhammad Al Fatih memiliki sebuah kebiasaan di bulan Ramadan. Beliau datang ke istananya setelah salat zuhur bersama rombongan ulama ahli tafsir Alquran.

Salah seorang dari mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran yang kemudian didiskusikan oleh semua ulama. Sultan ikut terlibat dalam diskusi itu dan mendorong para ulama dengan memberikan hadiah dan santunan uang yang cukup banyak.

Setiap kali ulama memberikan nasihat, penguasa Islam akan memperhatikannya. Di masa Khilafah Bani Umayah, ulama bernama Atha’ bin Abi Rabah menghadap pada khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Atha’ bin Abi Rabah didudukkan di sebelah singgasana sang Khalifah.

Baca juga:  Khilafah Menghentikan Persekusi terhadap Pengemban Dakwah

Atha’ bin Abi Rabah pun menyampaikan hajat-hajat kaum muslimin dan sekretaris Khalifah mencatatnya. Setelah itu dia mengatakan, “Demi Allah wahai amirul mukminin, kau dilahirkan di bumi ini sendirian, dan kau juga akan mati sendirian, dan kau akan dihisab oleh Allah sendirian. Demi Allah, semua yang kau lihat di sekitarmu ini tidak akan memberikan manfaat kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah”.

Hisyam yang mendengarkan ucapan Atha’ tiba-tiba menangis luar biasa sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah. Lalu Hisyam sambil menangis berkata, “Jazakallah khairan.” Setelah itu, Atha’ bin Abi Rabah pun keluar. Atha’ bin Abi Rabah tidak minum sedikit pun dari segelas air yang telah disediakan.

Pada saat tiba di pintu gerbang, sekretaris mengejar sambil membawa sekantong uang emas untuk diberikan kepada Sang Ulama. Lalu Atha’ pun berkata, “Demi Allah saya datang bukan untuk ini.” Dan beliau pun meninggalkannya (sumber: suara muslim.net).

Demikianlah seharusnya sikap terhadap ulama, memuliakan dengan cara mengikuti ajaran mereka. Ini juga rahasia terjaganya kecemerlangan peradaban Islam selama ribuan tahun. Karena para khalifah memuliakan para ulama.

Ini juga yang harus menjadi pelajaran bagi kita sekarang. Pantas saja kehidupan negeri kita jauh dari keberkahan, berbagai problem membelit tak kunjung selesai. Karena nasihat ulama tak dijadikan sebagai solusi. Saatnya kita kembali merujuk pada Islam dan ulama. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

5 thoughts on “Nasib Ulama di Sistem Sekuler: Dilukai, Dipersekusi, hingga Tak Diakui

  • 19 September 2020 pada 13:59
    Permalink

    Ulama itu mendekatkan pd islam

    Balas
  • 16 September 2020 pada 21:31
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 16 September 2020 pada 12:53
    Permalink

    Dalam sistem kekhilafahan keamanan utk ulama sudah pasti terjamin..#back to Khilafah aja

    Balas
  • 16 September 2020 pada 06:29
    Permalink

    Masyaallah. Khilafah sangat menjamin keamanan.. ulamapun sangat dimuliakan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *