Khilafah Menghentikan Persekusi terhadap Pengemban Dakwah

Oleh: Ustazah Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS – Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan selalu menguji dakwah dan para pengembannya dengan hadangan dan penentangan orang-orang yang melemparkan berbagai fitnah dan tuduhan keji.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebut mereka sebagai syayâthîn. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

“Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin…” (TQS al-An’am [6]: 112).

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah ﷺtetapi juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Rasulullah ﷺ dan para sahabat telah mengalami kondisi demikian. Bahkan Rasulullah ﷺ yang mulia pernah disebut sebagai orang gila (QS al-Hijr [15]: 6), tukang sihir (QS Shad [38]: 4), penyair gila (QS Shaffat [37]: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

Tak hanya itu, para penentang dakwah ini pun melakukan penganiayaan secara fisik. Mereka mengembargo kegiatan sosial dan ekonomi Nabi ﷺ dan para sahabat beliau. Mereka pun mengucilkan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau ke lembah tandus selama tiga tahun.

Sebagian sahabat, terutama yang duafa, ditangkap, disiksa, bahkan ada yang dibunuh. Yasir dan Sumayyah ra. adalah pasangan suami istri yang menjadi syuhada pertama dalam perjuangan dakwah.

Rasulullah ﷺ pun tak lepas dari penyerangan secara fisik. Abu Lahab dan istrinya pernah menaburkan duri-duri di depan rumah Nabi ﷺ. Abu Lahab pernah menaburkan isi perut unta ke atas kepala beliau. Abu Lahab bahkan pernah mencekik dan hampir membunuh beliau.

Kaum kafir Quraisy juga mengerahkan para pemudanya untuk mengepung rumah Nabi ﷺ. Mereka siap membunuh beliau. Namun demikian, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyelamatkan beliau hingga beliau bisa hijrah ke Madinah.

Tantangan Dakwah Hari Ini

Para pengemban dakwah hari ini pun mengalami berbagai tantangan dan persekusi. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah. Di antaranya dengan membubarkan pengajian-pengajian; mengancam dan mengintimidasi jemaah pengajian maupun ustaz yang mengisi pengajian; juga mengkriminalisasi para dai dengan tuduhan sebagai kaum radikal, membahayakan kebinekaan, mengancam persatuan dan kesatuan, dsb..

Bahkan yang teranyar, rencana sertifikasi dai akan segera direalisasikan. Siapa pun yang dianggap dakwahnya tidak sesuai dengan rezim, tak akan lolos dari sertifikasi ini.

Para aktivis dakwah pun ditangkap, dituduh melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan hoaks di media sosial. Anehnya, berbagai akun medsos yang terang-terangan menghina tokoh Islam, menyerang ormas Islam, juga menghina dan menistakan ajaran Islam lamban diproses bahkan mayoritas tak kunjung ditindak.

Baca juga:  Pentingnya Keyakinan di Jalan Dakwah

Ajaran Islam juga dikriminalkan, terutama syariat dan Khilafah. Para penentang dakwah melakukan framing terhadap dakwah penegakan syariat dan Khilafah sebagai ancaman terorisme.

Khilafah dianggap sebagai ajaran yang membahayakan bahkan ada yang menyamakan bahayanya dengan komunisme. Tujuannya adalah menjauhkan umat dari dakwah Islam kaffah dan Khilafah.

Menghadang Dakwah, Menuai Azab

Meninggalkan dakwah adalah kerugian besar bagi seorang muslim sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.

Kalian sungguh-sungguh menyerukan kemakrufan dan mencegah yang mungkar atau Allah benar-benar akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, lalu orang-orang baik di antara kalian berdoa, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah.” (HR Ibnu Hibban).

Di hadis tersebut, Allah mengancam siapa pun yang meninggalkan dakwah, apalagi yang menghalangi dakwah. Penghalang dakwah akan menuai azab Allah sebagaimana firman-Nya:

“…..Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan, mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya.” (QS Huud [11]: 18–20).

Khilafah Menghentikan Persekusi

Dakwah adalah sebuah kewajiban dan amalan yang sangat mulia. Banyak ayat Alquran maupun hadis Nabi ﷺ yang menjelaskannya. (Di antaranya lihat QS Fussilat [41]:33; QS Ali Imran [3]: 104, 110; QS Al Ashr [103]: 3 ).

Dalam negara Khilafah, aktivitas ini tentu mendapatkan dukungan penuh. Negara akan mendorong seluruh warganya untuk melakukannya, dan menjamin tertunaikannya kewajiban ini tanpa ada tekanan maupun ancaman.

Bagaimana mekanismenya?

Pertama, melalui pengaturan media massa. Di dalam negara Khilafah, media massa menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat. Tidak ada tempat bagi penyebaran pemikiran rusak merusak juga sesat menyesatkan.

Negara maupun warga negara terikat dengan pemahaman hukum syariat yang melarang penyiaran berita bohong, propaganda negatif, fitnah, penghinaan, dan semua bentuk persekusi terhadap ajaran Islam dan para pengemban dakwahnya.

Negara Khilafah akan memberikan kesempatan seluas luasnya kepada para ulama maupun dai untuk meyampaikan dakwah Islam kaffah di semua media massa yang ada.

Dalam negara Khilafah, semua lembaga penyiaran atau media massa, baik milik pemerintah maupun swasta, wajib menyiarkan informasi, berita, berbagai ilmu pengetahuan, dll. yang sesuai ketentuan Islam.

Berbeda nyata dengan media massa pengabdi ideologi kapitalisme sekuler dan sistem negara demokrasi liberal, di mana media massa telah menjadi alat destruktif untuk menghancurkan ajaran Islam dan menjauhkan umat dari Islam yang sahih.

Baca juga:  Pulang ke Kampung Halaman, Jadi Doa Pengungsi Rohingya

Kedua, Negara Khilafah juga akan menertibkan, baik individu maupun kelompok di masyarakat yang melakukan hasutan, fitnah, atau bahkan aktivitas serangan fisik untuk membubarkan pengajian, menakut-nakuti ulama, atau menghalangi masyarakat yang ingin mendengarkan nasihat/ceramah keislaman dari para ulama.

Negara Khilafah akan menugaskan polisi (syurthah) untuk menjaga keamanan seluruh warga dari berbagai persekusi. Polisi ini bekerja di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri (DKDN) yang mempunyai cabang di setiap wilayah/daerah yang dipimpin kepala polisi (syahib as-syurthah) di wilayah/daerah tersebut.

Dalil tentang (kewajiban) adanya polisi ini adalah berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik,

“Sesungguhnya Qais bin Saad di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memiliki kedudukan sebagai ketua polisi dan ia termasuk di antara para amir.”

Imam Tirmizi juga telah meriwayatkan dengan redaksi,

“Qais bin Saad di sisi Nabi ﷺ berkedudukan sebagai ketua polisi dan ia termasuk di antara para amir. Al-Ansari berkata, ‘Yaitu orang yang menangani urusan-urusan polisi.’”

Tugas utama polisi adalah menjaga keamanan di dalam negeri. Selain itu, mereka juga ditugasi untuk menjaga sistem, mensupervisi keamanan di dalam negeri dan melaksanakan seluruh aspek teknis/eksekusi.

Adapun maksud polisi berada di bawah otoritas Khalifah/kepala daerah (wali/’amil), mereka akan malaksanakan apa saja yang dibutuhkan Khalifah/kepala daerah sebagai pasukan eksekusi untuk mengeksekusi pelaksanaan hukum syariat, menjaga sistem, keamanan, patroli, ronda malam hari, mengintip pencuri, mencari pelaku kriminal, dan orang yang dikhawatirkan keburukannya. (Ajhizat Daulah al-Khilafah, hal 95, 96 dan 99; Anwar ar-Rifa’I, al-Insan al-‘Arabi wa al-Hadharah, hal 235).

Dalam Islam, polisi juga bertugas menghukum orang-orang yang dicurigai (ahl ar-raib), karena bekerja sama dengan kafir harbi fi’lan (musuh umat Islam). Orang-orang yang seperti ini bisa muslim maupun ahli dzimmah, bisa individu maupun organisasi.

Kalau sekarang, mereka itu seperti aktivis liberal, LSM komprador, dan antek-antek AS, Inggris, maupun sekutunya yang lain yang memusuhi Islam.

Dalam kasus ini, negara bisa memata-matai mereka dengan alasan memata-matai kafir harbi fi’lan hukumnya wajib dan kafir harbi hukman dalam kondisi normal boleh, tetapi bisa juga wajib ketika membahayakan negara. Begitupun dengan orang-orang yang dicurigai, juga boleh untuk memata-matai mereka.

Tugas dan tanggung jawab polisi memang berat, tetapi dengan ketakwaan dan tsaqafah Islam yang ditanamkan secara mendalam kepada mereka, maka tugas berat itu pun bisa mereka jalankan dengan keikhlasan sebagai ibadah kepada Allah.

Baca juga:  Absurdnya Persekusi terhadap Ustaz Ismail Yusanto

Mereka tak akan mungkin menangkap para ulama maupun para pegiat dakwah hanya karena laporan orang orang tak bertanggung jawab yang tak suka dengan penerapan syariat Islam kaffah.

Justru mereka, para syurthah (polisi), akan menangkap para perusuh, pengacau keamanan, atau siapa pun yang berusaha menakut-nakuti atau mengintimidasi para pengemban dakwah.

Ketiga, para pejabat negara akan menjadi pengayom bagi semua aktivitas dakwah, sehingga tak mungkin melakukan tindakan maupun mengeluarkan pendapat yang kontraproduktif dengan dakwah Islam. Jika pejabat negara ini melakukan tindakan persekusi terhadap para pengemban dakwah, maka ini termasuk kezaliman.

Di negara Khilafah, kezaliman ini akan diselesaikan lembaga peradilan yang disebut Mahkamah Mazalim, sebuah peradilan yang dipimpin oleh Qâdhî Madzâlim untuk menghilangkan kezaliman negara terhadap orang yang berada di bawah wilayah kekuasaannya.

Jika ini terkait kebijakan, maka Qâdhî Mazhalim akan membatalkan kebijakan tersebut. Jika ini terkait sikap atau tindakan semena-mena, maka Qâdhî Mazhalim juga akan menghentikan sikap dan tindakan tersebut. Qâdhî Mazhalim berhak memberhentikan pejabat, pegawai negara, bahkan Khalifah jika harus diberhentikan, sebagaimana ketentuan hukum syariat. (Ajhizat Daulah al-Khilafah)

Memfasilitasi Dakwah

Negara Khilafah tak hanya menghentikan persekusi dakwah, bahkan akan memfasilitasi dakwah, seperti membuka luas semua masjid untuk kajian keislaman. Demikian juga dengan majelis-majelis taklim, dibebaskan untuk menggelar kajian-kajian keislaman.

Negara akan mengarahkan dan mengontrol agar semua kontennya adalah ajaran Islam yang menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, yang bersumber dari Alquran dan Hadis.

Negara juga akan membiayai dakwah dan memastikan dakwah sampai ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan Khilafah, sehingga tidak ada satu pun tempat di wilayah kekuasaan negara Khilafah yang penduduknya tak paham Islam.

Bahkan negara Khilafah akan mengirim para ulama dan para dai ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan Islam ke seluruh umat manusia. Itu karena mengemban dakwah Islam adalah aktivitas utama Daulah Khilafah Islamiyah selain penerapan hukum-hukum Islam di dalam negeri.

Demikianlah, bukan kebetulan Khilafah mampu menghentikan persekusi terhadap pengemban dakwah dan juga menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi umat manusia hari ini. Tapi karena Khilafah memiliki seperangkat kebijakan dan menerapkan aturan yang semuanya berasal dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Sang Khalik, sang pencipta manusia, juga bumi dan seluruh isinya.

Kembali tegaknya Khilafah adalah pasti. Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia tetap akan berdiri.

Sekarang tinggal kita mau memilih, menjadi pejuang, penonton, atau penentang yang berakhir jadi pecundang? Wallahu a’lam bishshawab. [MNews] 

Bagaimana menurut Anda?

27 thoughts on “Khilafah Menghentikan Persekusi terhadap Pengemban Dakwah

  • 20 September 2020 pada 15:12
    Permalink

    Kenapa takut terhadap Islam ? Sampai sampai memperkusi pendakwahnya. Para pendakwah hanyalah menyampaikan segala sesuau dari Allah. Mereka tidak salah

    Balas
  • 19 September 2020 pada 20:38
    Permalink

    Maa Syaa Allah Tabarakallah

    Balas
  • 19 September 2020 pada 13:50
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 17 September 2020 pada 10:41
    Permalink

    Khilafah menjamin keaaman bagi setiap individu/rakyat yang hidup dalam negeri khilafah

    Balas
  • 17 September 2020 pada 02:18
    Permalink

    Khilafah ajaran islam…!!!

    Balas
    • 19 September 2020 pada 20:55
      Permalink

      وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

      “Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin…” (TQS al-An’am [6]: 112).

      Balas
  • 16 September 2020 pada 21:49
    Permalink

    Khilafah memberikan jaminan keamanan bagi warganya tanpa memandang status sosial.

    Balas
  • 16 September 2020 pada 15:02
    Permalink

    Khilafah beserta strukturnya akan menjadi perisai para pendakwah yang lurus

    Balas
  • 16 September 2020 pada 13:26
    Permalink

    Ingin menjadi pejuang.

    Balas
  • 16 September 2020 pada 10:42
    Permalink

    Kembali tegaknya Khilafah adalah pasti. Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia tetap akan berdiri.

    Balas
  • 16 September 2020 pada 10:12
    Permalink

    Negara harusnya menjamin rasa aman utk para pengemban dakwah bukan malah dipersekusi

    Balas
  • 16 September 2020 pada 08:57
    Permalink

    Yes. Mari Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia tetap akan berdiri. Krn kembali tegaknya Khilafah adalah pasti.

    Balas
  • 16 September 2020 pada 00:01
    Permalink

    Smoga khilafah sgera terwujud …aamiin…

    Balas
  • 15 September 2020 pada 22:45
    Permalink

    Khilafah tempat teraman bagi para pengemban dakwah, tidak seperti kapitalis adalah ancaman.

    Balas
  • 15 September 2020 pada 22:09
    Permalink

    MasyaAllah…makin rindu khilafah…smoga khilafah segera tegak ….Aamiin

    Balas
  • 15 September 2020 pada 21:15
    Permalink

    Maa syaa Allah, betapa sempurnanya Ideologi Islam, semakin rindu akan segera tegaknya Khilafah sebagaimana bisyarah Rasulullah SAW. Semoga Allah segera turunkan pertolongan-Nya.

    Balas
    • 19 September 2020 pada 20:58
      Permalink

      وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

      “Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin…” (TQS al-An’am [6]: 112).

      Balas
  • 15 September 2020 pada 17:06
    Permalink

    Hanya penerapan islam kaffah dlam naungan khillafah kehidupan ini akan seimbang

    Balas
  • 15 September 2020 pada 14:56
    Permalink

    Dakwah itu wajib. Jadi biar diminta pemerintah hentikan dakwah tetap tidak akan berhenti.

    Balas
  • 15 September 2020 pada 14:31
    Permalink

    Semakin rindu Khilafah
    Islam kaffah solusi tuntas atasi semua masalah

    Balas
  • 15 September 2020 pada 13:15
    Permalink

    Kembali tegaknya Khilafah adalah pasti. Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia tetap akan berdiri.

    Sekarang tinggal kita mau memilih, menjadi pejuang, penonton, atau penentang yang berakhir jadi pecundang? Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]

    Bagaimana

    Balas
  • 15 September 2020 pada 11:54
    Permalink

    Semoga segera berakhir persekusi kepada ulama dan pengemban dakwahdengan tegaknya khilafah..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *