Mewujudkan Cinta Hakiki

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Para Sahabat/Shahabiyat radhiyallahu ‘anhum adalah contoh para pecinta sejati sekaligus teladan kesalehan hakiki. Karenanya mereka layak menempati derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Betapa tidak? Kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun yang mereka inginkan di dunia ini. Dan cinta ini tak hanya sebatas lisan, melainkan mereka buktikan dengan perbuatan. Yakni dengan menyerahkan seluruh kehidupan mereka demi meraih rida Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun untuk itu, mereka harus mengorbankan segalanya, termasuk nyawa.

Banyak kisah teladan yang menunjukkan kedahsyatan cinta mereka radhiyallahu ‘anhum. Imam Ahmad dari Mujahid misalnya menceritakan, orang yang pertama kali mati syahid dalam Islam adalah ibu Ammar, Sumayyah ra.. Beliau dibunuh Abu Jahal dengan cara ditombak alat vitalnya hingga syahid.

Beliau ra. kala itu rida dengan pahala surga yang dijanjikan Rasulullah ﷺ, yang diucapkan tatkala melihat diri dan keluarganya tengah menanggung siksaan berat. Rasul ﷺ kala itu memang tak memiliki kekuatan apa pun untuk menolong mereka.

Ibnu Sa’d juga meriwayatkan kisah Ummu Syarik Ghaziyah binti Jabir yang masuk Islam bersama suaminya. Sesaat setelah suaminya hijrah bersama Abu Hurairah dan sekumpulan orang dari kaumnya, dia didatangi beberapa orang dari keluarga Abul Akar, suaminya.

Mereka lalu bertanya, apakah dia berada pada agama suaminya? Ketika dia menyatakan keislamannya, mereka bersumpah akan menimpakan siksaan keras kepadanya.

Mereka membawanya keluar kampung dan menaikkannya ke atas punggung hewan yang paling buruk dan paling kasar. Mereka memberinya makan roti dan madu tanpa memberinya minuman seteguk pun. Membiarkannya dibakar terik matahari selama tiga hari. Sampai-sampai akalnya menjadi kacau, tidak dapat mendengar dan melihat.

Pada hari ketiga, mereka meminta agar dia meninggalkan agamanya. Akan tetapi, tidak ada yang dilakukannya kecuali hanya memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang tertuju ke atas yang menggambarkan tauhidullah.

Mush’ab bin Umair ra juga termasuk sosok pecinta sejati. Dia adalah seorang yang pernah dikatakan Rasulullah dengan sabdanya, “Sungguh aku melihat Mush’ab ini sebagai pemuda yang tidak ada duanya di kota Makkah dalam hal memperoleh kesenangan dari orang tuanya, namun ditinggalkannya semua itu karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Cinta Sejati Buah Iman yang Tinggi

Kisah-kisah di atas hanyalah sekelumit gambaran cinta sejati yang dimiliki para sahabat/shahabiyat Rasul ﷺ. Yakni gambaran cinta yang hanya mungkin terlahir dari keimanan yang benar dan tinggi.

Keimanan seperti inilah yang mampu menggerakkan, memengaruhi, dan mendorong seseorang bahkan umat, untuk menjadikan keridaan Allah dan Rasul-Nya serta kemuliaan Islam sebagai tujuan tertinggi.

Keimanan yang menjadikan dunia dan seisinya menjadi hina di matanya. Sementara kehebatan dan makar orang-orang kafir menjadi kecil di hadapannya.

Keimanan yang menjadikan segala kesulitan menjadi mudah karenanya, dan menjadikan seseorang sanggup menahan derita dan gangguan dalam berjuang di jalan Allah demi meraih surga-Nya.

Bahkan, keimanan inilah yang senantiasa membuat umat ini yakin, bahwa keberadaan mereka di dunia hanyalah untuk Islam. Dan bahwa kemuliaan hidup serta kemenangan hanya ada pada dan untuk Islam.

Kedahsyatan cinta seperti ini sesungguhnya bisa menjadi milik siapa pun, manakala keimanan yang benar tertancap kuat dalam dirinya.

Baca juga:  Keterikatan pada Hukum-Hukum Syarak, Merealisasikan Otoritas Hukum Syarak, Menentukan Standar Perbuatan dalam Kehidupan (Bagian 1/3)

Keimanan dimaksud tak lain adalah syahadat yang lurus. Karena syahadat hakikatnya merupakan ikrar/persaksian yang teguh yang mengandung dua tuntutan dasar pilar Islam. Yakni memurnikan pengabdian kepada Allah (‘ubudiyyah) semata dan ketaatan pada Rasulullah ﷺ.

Maka, tatkala seseorang mengucapkan syahadat tauhid (أشهد أن لا إله إلا الله), sesungguhnya dia tengah mengazamkan dalam dirinya dan menancapkan mafhum ’ubudiyah dalam benaknya. Bahwa tidak ada yang layak dia sembah dan dia cintai kecuali Allah, Zat Yang Maha Pencipta dan Mahasempurna. Zat tempat dia kembali dan Yang Akan Menghisabnya di akhirat nanti.

Dan tatkala seseorang –pada saat yang bersamaan—bersyahadat dengan syahadat Rasul (و أشهد أن محمدا رسول الله), sesungguhnya dia juga tengah menyaksikan dan berjanji sepenuh hati, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang membawa wahyu untuk ditaati olehnya dan oleh seluruh umat manusia. Sehingga, tak ada satu manusia pun yang layak diikuti dan dicintai selain Muhammad Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, bagi seorang mukmin sejati, kecintaan kepada Allah dan Rasul akan (dan wajib) menjadi karakter yang terus melekat pada dirinya. Yang akan senantiasa dia buktikan dalam bentuk ketaatan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dituntut Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

“… Dan adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (TQS Al-Baqarah [2]: 165)

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS Ali Imran[3]: 31)

“Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman, ketika dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menerapkan hukum (dengan syariat Islam) di antara mereka, mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat’. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nuur[24]: 51)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim (penetap hukum) dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian merekatidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa[4]:65)

Juga sebagaimana hadis Rasul ﷺ,

“Tidak dikatakan beriman seseorang hingga diriku lebih dia cintai daripada dirinya sendiri, hartanya, keluarganya, dan manusia seluruhnya.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i dari Anas ra.)

Pada tataran praktis, keimanan yang benar secara pasti akan senantiasa mengarahkan setiap mukmin agar terus berada dalam kehidupan yang lurus dan bersih. Karena keimanan ini paling tidak, akan membuatnya memiliki kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa bersama dan mengawasi dia (ma’iyyatullah/muraqabatullah) di mana pun dia berada.

Pada dirinya akan melekat pula keyakinan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Menepati Janji (Tsiqah bi wa’dillah). Sehingga, dia akan senantiasa optimis, percaya pada janji Allah, termasuk janji bahwa Allah akan memberi balasan bagi setiap amalan yang dilakukannya, baik ataupun buruk.

Oleh karenanya, dengan keimanan seperti ini seluruh sifat Allah akan senantiasa melekat dalam kesadarannya. Demikian juga dengan pokok-pokok keimanan lain yang tertuang dalam Alquran dan Sunah, akan senantiasa berpengaruh dalam kehidupannya ketika dia berpikir dan bersikap.

Sehingga, tatkala dia yakin bahwa Allah Maha Penyayang, Mahaadil, Mahasempurna, Maha Pemberi Rezeki, Maha Mengetahui, dan Mahasegalanya, maka dia akan tunduk pada seluruh perintah dan larangan-Nya. Sekaligus bersegera melaksanakan ketundukan tesebut (mubādirah ila iltizāmi bisy-syar’i) sekalipun secara zahir ketentuan-ketentuan Allah tadi bertentangan dengan keinginan dirinya atau bahkan bertentangan dengan kehendak manusia seluruhnya.

Baca juga:  Sistem Pendidikan yang Didambakan

Hal ini karena dia yakin seluruh hukum Allah pasti baik, karena berasal dari Zat Yang Mahabaik, pasti sempurna karena berasal dari Zat Yang Mahasempurna, dan pasti benar karena berasal dari Zat Yang Mahabenar.

Demikian pula ketika pelaksanaan perintah Allah tersebut ternyata membawa risiko “buruk” bagi dirinya, seperti terputusnya jalan rezeki, terasingnya dari manusia, dan lain sebagainya.

Dia akan tetap tegar menjalaninya. Karena selain yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, Maha Penyayang, dan Mahaluas Rahmat-Nya, dia juga yakin bahwa Allah Mahakeras Siksaan-Nya.

Hakikat Iman, Ketundukan Secara Total

Nas-nas di atas dan banyak nas lainnya sesungguhnya menggambarkan bahwa ketaatan yang dituntut syariat sebagai konsekuensi iman dan cinta adalah ketaatan tanpa reserve dan total, dalam seluruh perkara apa pun.

Firman Allah Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kāffah (keseluruhan) dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al-Baqarah[2]: 208)

“Dan tidak patut bagi mukmin dan tidak patut pula bagi mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu keputuskan (hukum), akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (TQS Al-Ahzab[33]:36)

Persoalannya adalah, saat ini telah terjadi kesamaran pada diri umat akan hakikat syariat/ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga, gambaran ketundukan yang menjadi konsekuensi iman tadi pun hanya terbatas pada ketundukan dalam aturan-aturan ibadah dan akhlak saja.

Sementara, dalam bermuamalat dan aspek-aspek kehidupan lain, kaum muslimin terlepas dari syariat. Mereka menyangka bahwa Islam tak beda dengan ajaran lain yang syariatnya hanya mengajarkan aspek moral dan ibadah mahdhah semata.

Karena itu, tak heran jika di negeri yang penduduknya mayoritas muslim ini berbagai kemaksiatan merajalela: Praktik riba, korupsi, perjudian, perzinaan, pergaulan bebas, dan lain-lain. Bahkan cara berpikir umat pun sudah teracuni pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam dan syariatnya.

Akibatnya, dalam konteks individu, kita akan melihat pribadi-pribadi muslim yang pecah kepribadian (split personality); salat tapi mencuri uang rakyat, menutup aurat tapi pacaran, berzakat tapi menyukai harta riba, atau ahli ibadah tetapi meyakini dan menyerukan ide-ide kufur, dan lain sebagainya.

Sementara itu, dalam konteks umat, kaum muslim terutama penguasanya justru dengan sadar bahkan bangga menerapkan sistem demokrasi kapitalisme neoliberal yang kufur. Hingga mereka kehilangan ‘izzah, tunduk pada bangsa-bangsa kafir dan kekufuran.

Wajar jika umat kian terjauhkan dari kemuliaan hidup yang sesungguhnya dijamin oleh pelaksanaan syariat. Karena syariat Islam hakikatnya diturunkan Allah SWT untuk menjamin kemuliaan hidup, sejalan dengan keberadaannya sebagai rahmatan lil ‘ālamīn.

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al-Anbiya[21]: 107)

Mewujudkan Cinta Hakiki Butuh Dakwah Islam Kaffah

Sejatinya Islam adalah din yang sempurna. Akidahnya merupakan akidah ruhiyah sekaligus akidah siyasiyah. Sementara syariat yang terlahir darinya mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Mulai dari (1) hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, yakni urusan akidah dan ibadah; (2) hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya, seperti masalah akhlak, pakaian, makanan, dan minuman; serta (3) hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, yang tercakup dalam masalah muamalat (seperti sistem pergaulan, ekonomi, politik pemerintahan (dalam dan luar negeri, dll.), dan uqubat (sistem persanksian).

Baca juga:  Aksi bela Tauhid 212: Islam Yes, Islam Kaffah Harus!

Pada semua hukum inilah setiap mukmin diwajibkan tunduk, bukan pada sebagian hukum saja. Bahkan Allah SWT mengancam kepada orang yang bersikap menentang Allah dan Rasul-Nya, yang mengambil sebagian hukum dan meninggalkan sebagian lainnya), dengan ancaman kenistaan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Lihat QS Al-Mujadilah: 5, Al-Baqarah: 85, Thaha: 124).

Dan sebaliknya, Allah justru menjamin kehidupan yang baik jika kaum muslimin mau beramal saleh dengan cara tunduk terhadap seluruh syariat-Nya. (QS An-Nur: 55, Al-Anfal: 24)

Inilah hakikat iman yang benar, keimanan yang melahirkan cinta dan ketundukan tanpa reserve dan total. Keimanan yang akan menuntun umat untuk senantiasa menyelaraskan cara berpikir dan bersikap mereka dengan ketetapan-ketetapan Islam.

Umat semacam inilah yang dijanjikan kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, sebagaimana diperoleh generasi sahabat Rasul, radiyallahu ‘anhum dan generasi saleh setelahnya. Yang terbukti mampu tampil menjadi umat terbaik, menjadi pionir peradaban dunia selama berabad-abad lamanya.

Sayangnya, inilah yang saat ini hilang dari sebagian besar kaum muslim. Keimanan yang ada dalam diri mereka saat ini tak lebih dari keimanan yang kering kerontang. Tak mampu memunculkan gejolak semangat untuk berkorban demi meraih keridaan Allah dan Rasul-Nya.

Keimanan kaum muslim saat ini, telah kehilangan gambaran tentang hakikat kehidupan dunia yang fana, kekekalan kampung akhirat, adanya yaumil hisab, pedihnya jahanam, kenikmatan surga, dan lain-lain.

Sehingga akhirnya, orientasi kehidupan mereka kini tak lagi “mengarah ke langit”, tetapi justru fokus terhadap apa yang ada di muka bumi.

Kelemahan akidah inilah yang menyebabkan kaum muslim saat ini kian kehilangan kemuliaannya, seiring dengan tercampaknya aturan-aturan Allah di muka bumi dan kian kuatnya dominasi kekufuran atas mereka.

Karena itulah, penting bagi kita untuk segera menyebarkan kembali kesadaran tentang hakikat iman dan syariat yang sesungguhnya. Dengan cara berdakwah mengajak umat kepada Islam keseluruhan. Bukan dakwah pada sebagian ajaran Islam.

Dakwah seperti inilah yang akan menjadikan umat Islam sebagai umat yang berkepribadian unik. Yakni umat yang berkepribadian Islam. Yang hanya menjadikan keridaan Allah sebagai tolok ukur kebahagiaan hakiki bagi diri mereka.

Bahkan dengan dakwah ini umat akan kembali bangkit dengan kebangkitan yang sahih. Yakni kebangkitan yang tegak di atas landasan akidah Islam, kebangkitan yang lahir dari ketundukan dan cinta sejati. Yang mewujud dalam bentuk “sebaik-baik umat” yang hidup di bawah aturan dan kepemimpinan yang satu, yakni khilafah Islamiyah sebagaimana semestinya.

Dakwah seperti ini memang tidak mudah. Bahkan harus siap dihadang oleh para penjaga kekufuran seperti yang juga sudah terjadi saat ini.

Satu-satunya yang dibutuhkan adalah konsistensi terhadap ideologi, seraya memastikan bahwa jalan yang ditempuh selaras dengan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat tatkala mereka melakukan proses perubahan.

Persoalannya, apakah kita mau memikul “pekerjaan besar” dan menempuh “jalan sulit dan panjang” ini? Wallahu a’lam bish-shawwab. [MNews]

4 komentar pada “Mewujudkan Cinta Hakiki

Tinggalkan Balasan