Derita Guru Honorer, Bilakah Berakhir?

Oleh: Yusriana

Muslimahnews.com, FOKUS – Pernahkah Anda bayangkan, di alam kapitalisme yang harga barang-barangnya serba melangit, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, punya penghasilan Rp250 ribu per bulan?

Lalu coba Anda bayangkan kalau jumlah itu pun tidak selalu didapatkan setiap bulannya dengan lancar, bahkan menunggu berbulan-bulan untuk cair dan bisa dinikmati.

Tapi ini bukan hal aneh bagi para guru honorer di negeri zamrud khatulistiwa ini. Mereka bukan hanya membayangkan, tapi sudah merasakan berkali-kali. Kecewa karena gaji yang tak seberapa itu tak kunjung sampai di tangan karena berbagai alasan.

Namun, di antara mereka ada yang tetap ikhlas menjalankan amanah, tetap profesional dalam pengabdian sebagai guru. Walau seringkali pikiran galau karena terdesak kebutuhan hidup yang makin tak terkendali.

Sungguh tidak adil nasib yang dialami para guru honorer ini. Padahal guru honorer kebanyakan memiliki tugas atau beban yang sama dengan guru berstatus PNS yang sudah menerima gaji tetap dan lebih layak besarannya.

Masa pandemi Covid-19 menjadi lebih sulit bagi para mereka, karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) terlihat sekali banyak kendala di lapangan.

Banyak guru-guru desa yang harus berkeliling ke rumah para siswanya. Hal itu dikarenakan keluarga mereka sama sekali tidak memiliki ponsel sebagai sarana PJJ. Walhasil, semakin banyak energi bahkan biaya yang harus dikeluarkan para guru ini.

Upaya Penguasa, Sudahkah Menjadi Solusi?

Di tengah derita para guru honorer tersebut, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Ali Rhamdani, menyatakan nasib guru agama dan guru madrasah non-PNS di Kemenag masih menjadi persoalan yang tidak mudah dipecahkan (Kompas.com 06/09/20).

Baca juga:  Beneficial Owner: The Untouchable Men Pengendali Negeri

“Banyaknya guru honorer yang belum menjalankan sertifikasi, angkanya tak sebanding dengan kuota pengangkatan (PNS) tiap tahunnya. Jika tak ada lompatan, banyak guru yang tak pernah merasakan sertifikasi hingga datang masa pensiun,” ucap Ali dalam keterangan resminya, melansir laman Kemenag.go.id, Minggu (6/9/2020).

Sementara itu, saat Kemendikbud serta Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) tengah melakukan pendataan terhadap pegawai honorer yang akan mendapatkan subsidi gaji Rp600 ribu, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan terkait bantuan pemerintah tersebut, guru honorer belum bisa menerima bantuan karena pihaknya masih terkendala data di BPJS Kesehatan (Liputan 6 11/09/20).

Seolah warga kelas dua, nasib guru honorer masih saja terkatung-katung dengan kebijakan yang dibuat penguasa di sistem kapitalis ini.

Sudah bertahun-tahun jeritan mereka terdengar. Aksi demi aksi dilakukan untuk memperjuangkan nasib, namun kebijakan yang ada tak kunjung memberikan solusi bagi mereka.

Kapitalisme Tidak Pernah Memberi Solusi

Nasib buruk yang dialami guru honorer di negeri ini tak lain dan tak bukan adalah akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler. Ya, kapitalismelah sistem hidup yang membawa pendidikan di negeri ini masuk ke dalam jurang kehancuran.

Tetap hidup dalam kapitalisme hanya akan membuat para guru menderita dan terhina. Padahal guru adalah tulang punggung pendidikan nasional yang akan menentukan nasib bangsa ini di masa depan. Generasi yang akan datang sangat ditentukan peran guru dalam mendidik mereka.

Baca juga:  Beralih dari Sistem Kapitalisme, Berharap kepada Islam Ideologis Kafah

Seandainya pemerintah memperhatikan peran strategis ini, tentu pemerintah tidak akan abai dalam menyejahterakan para pencetak generasi ini. Seharusnya pemerintah lebih peduli dan bersungguh-sungguh memecahkan masalah nasib para guru honorer yang tidak mendapatkan hasil sepadan dengan jasa yang sudah dicurahkan.

Tapi sekali lagi, hal ini jelas membuktikan gagalnya sistem pendidikan kapitalis sekuler dalam memberikan solusi dan jaminan kesejahteraan bagi para guru.

Guru dalam Naungan Khilafah Islamiyah

Berbeda dengan sistem kapitalisme sekuler, dalam sistem Islam, Negara Khilafah Islamiyah memberikan penghargaan tinggi termasuk memberikan gaji yang melampaui kebutuhan guru.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dari al-Wadl-iah bin Atha; bahwasanya ada tiga orang guru di madinah yang mengajar anak-anak, dan Khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63.75 gram emas; bila saat ini harga 1 gram emas Rp800rb saja, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp51.000.000).

Subhanallah, dalam sistem Khilafah Islamiyah para guru akan terjamin kesejahteraannya. Ini tentu menjadikan guru bisa memberi perhatian penuh dalam mendidik anak muridnya tanpa dipusingkan lagi untuk mencari tambahan pendapatan, seperti banyak dialami guru honorer hari ini.

Ibnu Hazm dalam kitab Al Ahkaam menjelaskan, seorang kepala negara (Khalifah) berkewajiban memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat.

Baca juga:  Tolak Komunisme, Tolak Semua Sistem Kufur

Jika kita melihat sejarah kekhilafahan Islam, maka kita akan melihat perhatian para Khalifah terhadap pendidikan rakyatnya sangat besar, demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya.

Banyak hadis Rasul yang menjelaskan perkara ini, di antaranya: “Barang siapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/imbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan.” (HR Abu Daud)

Barang siapa yang diserahi tugas pekerjaan dalam keadaan tidak memiliki rumah, maka hendaklah ia mendapatkan rumah. Jika ia tidak memiliki istri, maka hendaklah ia menikah. Jika ia tidak memiliki pembantu, maka hendaklah ia mendapatkannya. Bila ia tidak memiliki hewan tunggangan, hendaklah ia memilikinya. Dan barang siapa yang mendapatkan selain itu, maka ia telah melakukan kecurangan.” 

Dengan demikian jelaslah, kesejahteraan guru dalam naungan Khilafah Islam sangat dijamin. Selain mereka mendapatkan gaji yang sangat besar, mereka juga mendapatkan kemudahan mengakses sarana-prasarana untuk meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya.

Hal ini akan menjadikan guru bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban agung dan mulia.

Hanya dengan Khilafah Islamiyahlah problematik pendidikan, termasuk mewujudkan kesejahteraan guru, dapat terwujud dengan baik dan sempurna. Dalam naungan Khilafah Islamiyah, Insya Allah derita para guru secara umum akan berakhir. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

20 thoughts on “Derita Guru Honorer, Bilakah Berakhir?

  • 17 September 2020 pada 11:25
    Permalink

    Hanya dalam Islam guru bs sejahtera sehingga guru bs fokus mengajar tanpa harus memikirkan biaya tambahan utk kebutuhan hidup

    Balas
  • 15 September 2020 pada 21:20
    Permalink

    Lagi, bukti kegagalan sistem kapitalis meriayah guru / pendidikan…
    Dan kewajiban utk menegakkan islam sebagai sistem kehidupan

    Balas
  • 14 September 2020 pada 09:27
    Permalink

    Bagaimana ajaran Al Quran pun meninggikan orang2 yang berilmu bbrapa derajat. Maka hanya Islam yang akan memuliakan guru.
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

    “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah 58: 11)

    Balas
  • 13 September 2020 pada 19:31
    Permalink

    Hanya dalam sistem Islam guru akan sejahtera

    Balas
  • 13 September 2020 pada 14:38
    Permalink

    Rindu Khilafah

    Balas
  • 13 September 2020 pada 05:42
    Permalink

    Guru seharusnya adalah orang yg dimuliakan

    Balas
  • 12 September 2020 pada 22:18
    Permalink

    Sungguh tidak adil nasib yang dialami para guru honorer ini. Padahal guru honorer kebanyakan memiliki tugas atau beban yang sama dengan guru berstatus PNS yang sudah menerima gaji tetap dan lebih layak besarannya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 21:40
    Permalink

    Iya, gaji guru honorer pada umumnya sangat rendah…padahal mereka adl ukung tombak pendidikan, terlepas dari kompetensi yg mereka miliki.

    Memang ada yg kurang kompeten, tapi mengasah diri utk menjadi kompeten pun mahal.

    Rekrutmen pegawai pns maupun honorer yg mendapat tunjangan dr pemerintah pun sangat terbatas, tak sesuai dg jumlah guru yg sebenarnya diperlukan.

    Memang miris ketika pengelolaab sistem pendidikan dilandasi kapitalisme, krn gak mendatangkan duit, maka pengelolaan thd pendidikan termasuk thd SDM gurunya pun sedapatnya.

    Sungguh kita butuh sistem yg peduli 100 persen thd sistem pendidikan, dan sistem itu emang hanya khilafah ar rosyidah. Kalo kata kalian ada sistem yg lain selain khilafah ini, maka sistem apakah itu?

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:42
    Permalink

    Andaikan pemerintah saat ini menggaji para guru seperti Khalifah Umar bin Khattab menggaji 15 Dinar setiap guru, maka semua guru hanya fokus mendidik siswanya saja tanpa memperhatikan kebutuhan pokoknya karena sudah terjamin. Tapi itu hanya hayalan dalam sistem kapitalis saat ini.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:36
    Permalink

    kesejahteraan guru dalam naungan Khilafah Islam sangat dijamin. Sehingga guru bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban agung.

    Hanya dengan Khilafah Islamiyahlah masalah pendidikan, kesejahteraan guru, dapat terwujud dengan baik dan sempurna.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:36
    Permalink

    Semakin rindu khilafah dimana pada masa khikafah guru sangat dimuliakan serta hidup dalam kesejahteraan..

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:05
    Permalink

    Derita guru akan berakhir ketika ada sistem yang mampu melindunginya. dan sistem itu ialah Khilafah.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:00
    Permalink

    Astagfirullah.. Kasihan para guru begitu ikhlas untuk mngajrkan generasi skrng tp sayang para penguasa mendzoliminya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 14:45
    Permalink

    Di satu sisi guru harus tetap mengabdi walaupun dengan gaji minim. Di sisi lain, kinerja guru selalu dipermasalhkan. Miris. Inilah buah pendidikan sekularisme

    Balas
    • 12 September 2020 pada 19:14
      Permalink

      miris, padahal ditangan guru merupakan tombak bagi generasi penerus bangsa

      Balas
  • 12 September 2020 pada 13:51
    Permalink

    Kapitalisme Tak kan pernah berikan solusi Karena dialah biang masalah ya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 12:53
    Permalink

    Hanya dengan Khilafah Islamiyahlah problematik pendidikan, termasuk mewujudkan kesejahteraan guru, dapat terwujud dengan baik dan sempurna.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 10:05
    Permalink

    Malang guru sekarang

    Balas
    • 12 September 2020 pada 21:35
      Permalink

      Iya, gaji guru honorer pada umumnya sangat rendah…padahal mereka adl ukung tombak pendidikan, terlepas dari kompetensi yg mereka miliki.

      Memang ada yg kurang kompeten, tapi mengasah diri utk menjadi kompeten pun mahal.

      Rekrutmen pegawai pns maupun honorer yg mendapat tunjangan dr pemerintah pun sangat terbatas, tak sesuai dg jumlah guru yg sebenarnya diperlukan.

      Memang miris ketika pengelolaab sistem pendidikan dilandasi kapitalisme, krn gak mendatangkan duit, maka pengelolaan thd pendidikan termasuk thd SDM gurunya pun sedapatnya.

      Sungguh kita butuh sistem yg peduli 100 persen thd sistem pendidikan, dan sistem itu emang hanya khilafah ar rosyidah. Kalo kata kalian ada sistem yg lain selain khilafah ini, maka sistem apakah itu?

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *