Ilmu “Good Looking”: Dari Balaghah hingga Khilafah

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I.

Jangan salah, Syaikhuna al-‘Allamah al-Qadhi al-Mujtahid Taqiyuddin al-Nabhani rahimahullah adalah sosok ulama karismatik yang juga menguasai dengan sangat mapan ilmu balaghah arabiyyah (jangan tanya soal kepakarannya terhadap al-‘ulum al-syar’iyyah).


Muslimahnews.com, TSAQAFAH – Bukti-bukti tersebut kentara tersebar dalam pendalilan yang diuraikan Syaikhuna ini dalam kitab-kitabnya, di antaranya dalam kitab Al-Nizham al-Ijtima’i, Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, dsb.

Dalam dua kitab tersebut, bisa kita dapati penggunaan ilmu balaghah untuk menyokong pendalilannya.

Jangan percaya khurafat anti-Khilafah yang menstigma negatif Khilafah tanpa ilmu. Padahal, kalau paham ilmu bahasa arab, ilmu balaghah, hadis ini jadi dalil khabar yang mengandung madh (pujian) dari Rasulullah ﷺ kepada sosok Khalifah.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya al-imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Al-’Allamah al-Syaikh Makhluf bin Muhammad al-Badawi dalam Hasyiyah-nya atas Hilyat al-Lubb Syarh al-Jawhar al-Maknûn karya al-’Allamah Ahmad al-Damanhuri menggambarkan,

إنّ فنّ البلاغة من بينها محتو على أسباب النجاح، ومنطو على قواعد الفلاح، إذ غايته نيل السعادة العظمى من معرفة إعجاز القرآن.

Baca juga:  FI’L AL-AMR (KATA PERINTAH)

“Sesungguhnya ilmu balaghah di antara kandungannya mengantarkan kepada sebab-sebab keberhasilan hidup, mengandung kaidah-kaidah meraih keberuntungan, di mana tujuan akhirnya adalah meraih kebahagian yang paling agung, yakni mengenal kemukjizatan Alquran.”[1]

Maka wajar jika Syaikhuna pun menegaskan, di era “good looking” Khilafah, bahasa arab wajib jadi pelajaran rutin asasi.

Dalam kitab Muqaddimat al-Dustûr digambarkan,

يجب أن تجعل حصص العلوم الإسلامية والعربية أسبوعيًا، بمقدار حصص باقي العلوم حيث العدد ومن حيث الوقت

“Wajib hukumnya bagi negara mengalokasikan porsi ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu bahasa arab menjadi pelajaran rutin mingguan. Dengan kadar yang sama seperti ilmu-ilmu lainnya, baik dari segi jumlah maupun waktunya.”

Bagaimana dengan kita di era “bad looking“? Harus lebih survive, terus belajar.

Al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) dalam syairnya:

تَعَلَّمْ ما استطعتَ تكُنْ أَمِيرا * ولا تَكُن جاهلاً تبقى أَسِيرا
تَعَلَّمْ كلَّ يومٍ حَرْفَ عِلْم * تَرَ الجُهَّالَ كُلُّهُم حَمِيرا

“Belajarlah dengan segenap kemampuanmu, maka engkau akan menjadi pemimpin (yang terdepan, pen.). Dan janganlah engkau menjadi orang yang bodoh tetap menjadi orang yang tertawan (tidak berkembang-pen.).”

“Belajarlah kalian setiap hari huruf demi huruf ilmu, engkau akan melihat orang-orang bodoh mereka semua adalah orang pandir.”[2]

Al-Imam al-Alusi pun menggambarkan dalam syairnya:

Baca juga:  Perubahan Kurikulum Bahasa Arab, Makin Menjauhkan Umat dari Karisma Islam

إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِنْهُمْ فَتَشَبَّهُوْا * إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالكِرَامِ فَلاح

“Meskipun kalian belum menjadi seperti mereka, maka serupailah. Karena sesungguhnya menyerupai orang-orang yang mulia merupakan keberuntungan.”

Jadi, jangan ragu, mari mengkaji Islam kepada guru yang jelas bersanad ilmunya; bersanad kepada Syaikhuna Taqiyuddin al-Nabhani, di mana sanad beliau pun bersambung (muttashil) kepada para ulama madzahib, kepada para sahabat, hingga kepada Rasulullah ﷺ.


Catatan Kaki:

[1] Makhluf bin Muhammad al-Badawi, Hasyiyat Syarh Hilyat al-Lubb al-Mashûn, Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, t.t., hlm. 5.

[2] Abdurrahman al-Mushthawi, Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, Cet. III, 1426 H, Qafiyyatur-Râ’, hlm. 55.

Bagaimana menurut Anda?

2 thoughts on “Ilmu “Good Looking”: Dari Balaghah hingga Khilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *