“Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

Oleh: Ustazah Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS – Istilah “good looking” tiba-tiba ramai dibicarakan khalayak, bahkan menjadi viral di media sosial. Apa pasalnya? Tidak lain yang menjadi pemicunya adalah pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi dalam sebuah webinar bertema “Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara”, yang disiarkan melalui channel YouTube Kemenpan/RB (2/09/2020).

Berikut sebagian pernyataan Menag yang diberitakan islamtoday.id:

“Dengan penampilan good looking, mereka mampu menarik simpati dari para jamaah serta pengurus masjid, sehingga dipercaya sebagai imam serta menjadi bagian dari pengurus masjid. Lanjut Fachrul, para penghafal qur’an tersebut akan merekrut rekan-rekannya yang juga berfaham radikal untuk masuk menjadi pengurus masjid. Lalu masuk teman-temannya. Dan masuk ide-idenya yang kita takutkan.”

Sungguh miris mendengar pernyataan Menteri agama ini. Apa alasan menuduh pemuda penghafal Alquran sebagai agen radikal?

Mereka adalah generasi harapan masa depan umat. Dengan semangat dan ketulusannya mempersembahkan sebagian besar hidupnya untuk menjaga wahyu Allah SWT dan bersungguh-sungguh mengajarkannya di tengah umat.

Sudah berulang kali Menteri Fachrul Razi mengeluarkan pernyataan kotroversial terkait Islam dan umatnya. Dan yang menjadi pertanyaan: Mengapa dia berani berkata demikian?

Sebenarnya bagaimana pandangan Islam terkait good looking ini dan apakah pernyataan Menag ini layak dilontarkan seorang muslim? Tulisan berikut akan membahasnya secara ringkas.

Apa yang Salah dengan “Good Looking”?

Ketika sebuah perbuatan dipermasalahkan, kemungkinannya bisa dua: Perbuatan tersebut memang salah, atau orang yang menilainya yang memiliki pandangan yang salah.

Apakah hafiz Alquran dan menguasai bahasa Arab dengan baik, serta gemar mendakwahkan syariat kafah sebuah kesalahan? Apakah mengajak orang meninggalkan maksiat dan bersegera bertaubat serta taat syariat adalah perbuatan yang dilarang?

Dakwah adalah perintah Allah. Menyerukan Islam kafah adalah kewajiban dari Allah. Keharaman riba, keharaman seks bebas, keharaman menjual harta umum milik rakyat, keharaman korupsi adalah aturan Allah.

Kewajiban salat dan zakat (QS Al-Baqarah: 43) , perintah menutup aurat (QS An-Nuur: 30-31), perintah berjihad (QS An-Nisaa: 84), perintah memerangi kemusyrikan, perintah mengusir penjajah, serta perintah menegakkan Khilafah (QS an-Nuur: 55) juga kewajiban yang berasal dari Allah.

Lalu, apa salahnya jika para penyeru risalah Allah ini menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang baik?

Jika ada pihak yang tidak suka kepada aktivitas kebaikan dalam rangka menjalankan kewajiban Allah Pencipta manusia, sebenarnya siapa yang salah?

Allah SWT mengingatkan kita dalam Alquran,

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.(QS al-Ra’d[13]:19)

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsîr menyatakan,

“Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak memercayainya, dan tidak mengikutinya.” (Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm, surah Ar-Ra’du[13]: 19).

Senada dengan Imam Ibnu Katsir, Imam as-Sa’di ketika menafsirkan QS al-Anbiya: 24 menyebutkan,

“Mereka tidak mengetahui kebenaran bukan karena kebenaran itu samar dan tidak jelas. Namun karena mereka berpaling darinya. Jika mereka tidak berpaling dan mau memperhatikannya, niscaya kebenaran menjadi jelas bagi mereka dari kebatilan, dengan kejelasan yang nyata dan gamblang.” (Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân, surah al-Anbiyâ’[21]:24).

Kejelasan objek yang dipandang, dipengaruhi kacamata yang digunakan. Jika memakai kacamata kapitalis-liberalis-sekuler, maka akan menganggap buruk orang-orang yang menyerukan kebenaran Islam, dan akan memandang sebagai ancaman siapa pun yang mengajak untuk menerapkan syariat kafah karena tegaknya Islam di muka bumi akan menggantikan hegemoni mereka.

Karenanya, dengan berbagai macam cara mereka akan menjegal dan menghentikan perjuangan Islam.

Sebaliknya, orang-orang yang meyakini kewajiban menerapkan Islam secara sempurna dalam institusi Khilafah, akan menilai baik para pejuang ikhlas ini, akan memberikan dukungan, membelanya, bahkan ada juga yang ikut serta memperkuat barisannya.

Jadi, tidak ada yang salah dengan good looking. Tinggal mengganti kacamata untuk melihatnya. Jangan menggunakan kacamata para pembenci Islam. Gunakanlah kacamata orang-orang yang meyakini kebenaran Islam dan merindukannya kembali jaya memimpin dunia.

Good Looking” Hasil Keterikatan Seorang Muslim pada Hukum Syariat, Bukan Polesan

Penampilan dan perilaku seorang muslim tidak boleh lepas dari keimanan yang diyakininya. Dan tidak bisa kosong dari keterikatannya dengan syariat Islam.

Baca juga:  Motif di Balik Narasi Islam Akomodatif

Keimanan yang benar akan menuntunnya untuk tunduk dan patuh pada Allah SWT yang telah menciptakannya dari ketiadaan. Kepada-Nya pula dia akan dikembalikan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidup di dunia.

Keimanannya akan menjadi panduan bahwa hidupnya harus disesuaikan dengan aturan syariat yang telah diturunkan Allah kepada Baginda Nabi ﷺ.

Bagi seorang muslim, hukum syariat bukanlah paket aturan-aturan baku yang ada dalam buku atau cerita masa lalu. Namun merupakan panduan praktis yang lengkap untuk mengatur seluruh aktivitasnya dalam kehidupan nyata.

Dorongannya semata berharap pahala ibadah di sisi Allah, bukan hanya meraih keuntungan materi. Ketaatannya pada hukum syariat akan membuatnya berpenampilan khas dan istimewa. Begitulah gambaran penampakan seorang yang memiliki kepribadian Islam “Syakhshiyyah Islamiyah”.

Demikian pula “good looking” seorang pemuda muslim bukanlah aksesoris yang dikenakan untuk menarik perhatian orang. Tidak ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, apalagi untuk mengelabui orang lain supaya masuk ke dalam perangkapnya.

Jelas hal demikian bukan karakter seorang muslim berkepribadian Islam. Menarik hati siapa saja yang bergaul dengannya adalah wujud dari akhlak al-karimah yang dia miliki, hasil dari penerapan syariat Islam.

Dia akan melakukan perbuatan yang dianggap baik menurut syariat, dan akan menjauhkan semua perilaku buruk yang dilarang syariat.

Jadi, baginya ukuran baik dan buruk itu semata standar syariat, bukan keinginan hawa nafsu, juga bukan hasil kesepakatan manusia.

Terkait standar akhlak, ini Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan,

Sejatinya syara’ telah menjelaskan sifat-sifat yang dianggap sebagai akhlak yang hasan (baik), dan juga akhlak yang buruk, syariat pun telah menganjurkan kepada setiap muslim agar berakhlak baik dan melarang untuk berakhlak buruk: maka diperintahkanlah seorang muslim agar jujur, amanah, bermuka ramah, malu, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, membantu yang membutuhkan, mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, semua sifat tersebut dianjurkan untuk dilaksanakan karena mengikuti perintah Allah SWT. Syara’ juga telah melarang kaum muslim dari sifat kebalikannya seperti dusta, khianat, hasad, durhaka dan sebagainya, semua sifat tersebut dilarang karena Allah swt. melarangnya. [An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 131]

Jadi, good looking merupakan cerminan ketaatannya pada syariah Islam. Adapun ketertarikan orang lain, sikap simpatik, juga dorongan untuk mengikutinya adalah sebuah konsekuensi logis. Siapa pun akan nyaman dekat dengan orang yang dianggap baik.

Karakter yang lahir dari keimanan yang kuat, akan kukuh menghiasi pribadi seorang muslim. Keberadaannya bukan tempelan yang bersifat temporer, tidak tergantung kepada kepentingan, juga tidak akan hilang karena ancaman dan celaan yang menghadang.

Dia akan tetap istikamah karena yakin akan kebenaran yang dia emban dan perjuangkan. Sikap konsisten ini pula yang akan menjadi magnet penarik bagi orang lain yang ada di sekelilingnya, akan menjadi lampu penerang yang akan menunjuki ke jalan hidayah.

Sifat mulia seperti ini telah dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Mâidah[5]: 54)

Islam Melarang Bersikap Munafik

Penampilan yang tidak didasari keimanan dan bukan karena dorongan untuk menerapkan aturan syariat, boleh jadi merupakan kamuflase untuk menutupi wujud sebenarnya.

Baca juga:  Editorial: Jurus Mabuk Menjegal Dakwah Khilafah

Ibarat topeng yang dipakai untuk menyembunyikan wujud aslinya yang buruk. Seseorang akan berpura-pura baik dan taat, padahal ada maksud tertentu di baliknya.

Dia melakukan amalan baik bukan karena meyakininya sebagai keharusan yang akan mendatangkan pahala di sisi Allah, namun bisa saja terpaksa dikerjakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan atau demi untuk menghindari keburukan yang akan menimpanya.

Sikap seperti ini jelas tidak dibolehkan dilakukan seorang muslim yang taat. Bahkan Baginda Nabi ﷺ menyebutnya sebagai tanda orang munafik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji mengingkari, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Tanda-Tanda Orang Munafik, no. 33 dan Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59).

Apa itu nifak atau munafik? Imam Ibnu Katsir, mengatakan nifak adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan.

Sementara itu, Ibnu Juraij mengatakan,

“Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya.” (‘Umdah At-Tafsir I/78).

Sedangkan menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani, seseorang yang melakukan perbuatan atau berakhlak bukan karena pertimbangan syariat, tapi berdasarkan dorongan manfaat, akan menyebabkannya memiliki sifat munafik:

وهذه الأخلاق القائمة على تبادل المنفعة تجعل صاحبها منافقا: يكون باطنه غير ظاهرة، لأن الخلق عنده بني على المنفعة، فيدور في نفسه حيثما تدور المنفعة

“Akhlak yang tegak berdasarkan pertukaran manfaat akan menjadi­kan pelakunya munafik, batinnya berbeda dengan zhahirnya, karena menurutnya akhlaq dibangun berlandaskan nilai manfaat. Sehingga jika ada manfaat yang didapat, maka akhlak akan terwujud dalam dirinya.” (An-Nabhani, Mafahaim Hizb at-Tahrir, cet. VI, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir – t.tp. 2001. hlm. 40)

Dilarang Buruk Sangka pada Sesama Muslim

Pernyataan Menag yang mengaitkan penyebaran radikal dengan pemuda hafiz Alquran dan menguasai bahasa Arab dengan baik, merupakan tuduhan keji yang sangat melukai perasaan umat Islam.

Selain tidak berdasarkan pada bukti-bukti valid, lontaran ini pun sangat tendensius terhadap umat Islam.

Realitas menunjukkan radikalisme bukan berasal dari agama tertentu, bisa dilakukan siapa pun dengan latar belakang yang beragam.

Bukankah peristiwa radikalisme, teror, dan pembunuhan seringkali terjadi di negeri kafir dan pelakunya jelas-jelas tidak beragama Islam, sementara korbannya tidak sedikit dari kalangan umat Islam?

Namun kenapa mereka para pembantai kejam ini tidak disebut sebagai teroris dan radikalis? Dan mengapa motivasi mereka melakukan pembunuhan, perusakan, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya tidak dihubungkan dengan agama dan keyakinan yang mereka anut?

Padahal tidak jarang ketika kejahatan tersebut terjadi, mereka sedang memakai simbol-simbol agamanya, bahkan meneriakkan slogan-slogan yang diyakini kebenarannya.

Mengapa tudingan itu langsung diarahkan pada pemuda muslim dengan identitas khas yang menunjukkan ketaatan mereka pada ajaran Islam?

Menuduh sesama muslim yang belum terbukti kesalahannya, apalagi dilakukan seorang pemimpin lembaga kenegaraan, jelas bukan perkara yang dibenarkan. Alih-alih mengungkap kebenaran, yang terjadi justru memicu konflik dan mengundang kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

Selayaknya Pak Menteri memberikan contoh yang benar bagaimana memperlakukan saudara muslim.

Sungguh Islam adalah agama yang sempurna, mengatur setiap permasalahan kehidupan. Termasuk memberikan panduan bagaimana menyikapi setiap berita yang diterima.

Sudah semestinya memastikan kebenaran berita yang diperolehnya, sebagaimana firman Allah SWT,

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS Al -Hujurat : 6)

Imam Ali Ashabuni memberikan penafsiran terkait ayat ini:

أَن تُصِيبُواْ قَوْمًا بِجَهَالَةٍ أي لئلا تصيبوا قوماً وأنتم جاهلون حقيقة الامر

“Agar suatu kaum tidak celaka, sedang kalian tak mengetahui hakikat hal yang sebenarnya.” (Muhammad Ali Ash Shabuni, Shafwah At Tafasir, [Cairo: Dar Ash Shabuni, 1417H] J. 3 h. 216)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa sikap tergesa-gesa dan sembrono dalam merespons berita akan membahayakan orang lain dan mengantarkan pada penyesalan.

Baca juga:  Khilafah Menghentikan Persekusi terhadap Pengemban Dakwah

Sungguh berbahaya jika banyak orang terpengaruh dengan tuduhan Menag ini. Para pemuda muslim hafiz Alquran dan memiliki pemahaman Islam yang luar biasa akan dicurigai, diwaspadai, dan dijauhi.

Sementara di sisi lain, para pemuda pengikut liberalisme dan sekularisme bebas berkeliaran menampilkan perilaku sesatnya seperti LGBT, seks bebas, dan narkoba. Bahkan di antara mereka tidak sedikit yang dinobatkan sebagai idola remaja lainnya.

Apa jadinya masa depan umat ini, jika generasi Qurani dijauhi dan dekriminalisasi, sementara pengikut kesesatan malah dibiarkan bahkan difasilitasi?

Adapun berprasangka jelek dan memberikan gelar serta menyematkan istilah yang buruk, sungguh dilarang Islam.

Allah SWT dalam Alquran menjelaskan,

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (TQS al-Hujuraat[49]: 11-12).

Dalam Tafsir Al Jalalain, disebutkan yang dimaksud menaruh curiga atau prasangka buruk yang terlarang dalam ayat ini adalah prasangka jelek pada orang beriman dan pelaku kebaikan.

Larangan berprasangka buruk juga disampaikan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563).

Berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah al-Hujurat: 11-12 dan hadis Rasulullah ﷺ jelas bahwa yang dilakukan Menag menuduh pemuda hafiz Alquran sebagai pembawa ajaran radikal bisa tergolong tuduhan dusta dan membahayakan umat Islam.

Firman Allah dalam Alquran surah Al-Ahzab menyatakan demikian,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (TQS Al-Ahzab: 58)

Demikian juga Rasulullah ﷺ mengingatkan umat Islam untuk menjaga kehormatan sesama muslim dan dilarang menghinanya.

“Setiap muslim atas muslim yang lain haram kehormatannya, hartanya, dan darahnya. Ketakwaan itu letaknya di sini (di dada). Cukuplah seseorang melakukan kejahatan dengan menghina saudaranya sesama muslim.” (HR Ibnu Khuzaimah: 237, dan Hakim: 220)

“Good Looking” Dicurigai, Pengemban Dakwah Terus Istikamah

Gelar apa pun yang diberikan orang terhadap aktivitas ketaatan yang dilakukan, tidak selayaknya menjadikan pengemban dakwah mundur dari medan perjuangan.

Dakwah yang dilakukan bukan karena kesempatan atau perizinan yang diberikan manusia, juga bukan disebabkan pujian yang diberikan. Namun semata memenuhi kewajiban yang telah dibebankan Allah SWT.

Sebagaimana firman- Nya dalam surah Ali Imran: 104,

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Karakter pejuang hakiki adalah istikamah dalam dakwah dan tidak ragu-ragu menempuh perjuangan sekalipun berbagai rintangan menghadang. Sifat mulia ini lahir dari keimanan yang kuat, sebagaimana disampaikan Allah dalam wahyu-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-hujurat[49]: 15). [MNews]

28 thoughts on ““Good Looking” Dicurigai, Pejuang Syariat tetap Istikamah

  • 13 September 2020 pada 05:45
    Permalink

    Setuju. Jangan menggunakan kacamata pembenci Islam. Bisa jadi semua org yg masuk masjid semuanya dicurigai dan masjid hanya menjadi tempat org2 tidur. Rusak nanti negara ini apabila masjid berubah fungsinya

    Balas
    • 23 September 2020 pada 17:25
      Permalink

      Selalu Istiqomah 😍😍

      Balas
  • 12 September 2020 pada 23:46
    Permalink

    Menagnya perlu disertifikasi nih 😅😂

    Balas
  • 12 September 2020 pada 22:04
    Permalink

    good looking nya seorang pemuda muslim bukanlah aksesoris yang dikenakan untuk menarik perhatian orang. Tidak ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, apalagi untuk mengelabui orang lain supaya masuk ke dalam perangkapnya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 20:09
    Permalink

    Makna good looking yg dimaksud pak Menag itu apa sih sebenarnya.. astaghfirullah bikin narasi aneh” aja sukanya 🙁

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:01
    Permalink

    Tuduhan apapun yang disematkan kepada para pejuang Islam terutama pejuang Khilafah tidak akan mampu memadamkan cahaya Allah, bahkan akan semakin membuat bercahaya dan mematikan para penuduhnya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 08:07
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 12 September 2020 pada 05:30
    Permalink

    Islam memberikan pengaturan bagaimana seorang muslim berkepribadian..

    Balas
  • 11 September 2020 pada 20:52
    Permalink

    Maa Syaa Allah Tabarakallah

    Balas
  • 11 September 2020 pada 11:46
    Permalink

    Karakter pejuang hakiki adalah istikamah dalam dakwah dan tidak ragu-ragu menempuh perjuangan sekalipun berbagai rintangan menghadang.

    Balas
  • 11 September 2020 pada 09:46
    Permalink

    Rindu khilafah

    Balas
  • 11 September 2020 pada 07:20
    Permalink

    Dunia memang sdh terbalik. yg mau menjalankan agamanya dituduh radikal dan dimusuhi, sementara pelaku maksiat dibiarkan begitu saja. Semoga pr pengemban dakwah ttp istiqomah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar walau bnyk rintangan yg menghadang

    Balas
    • 11 September 2020 pada 22:30
      Permalink

      Karakter pejuang hakiki adalah istikamah dalam dakwah dan tidak ragu-ragu menempuh perjuangan sekalipun berbagai rintangan menghadang.

      Balas
    • 12 September 2020 pada 07:10
      Permalink

      Semoga masyarakat semakin tercerdaskan

      Balas
  • 10 September 2020 pada 21:50
    Permalink

    Ketika sebuah perbuatan dipermasalahkan, kemungkinannya bisa dua, Perbuatan tersebut memang salah, atau orang yang menilainya yang memiliki pandangan yang salah.

    Balas
  • 10 September 2020 pada 21:12
    Permalink

    Sistem demokrasi hanyaa bisa menindas agama islam hanya khilafah yg bisa menaungi smua ini

    Balas
  • 10 September 2020 pada 20:30
    Permalink

    Maa syaa Allah. Harus bangga menjadi generasi good looking

    Balas
  • 10 September 2020 pada 20:00
    Permalink

    Makin lama makin aneh-aneh saja pemikiran kemenag ini.

    Balas
  • 10 September 2020 pada 18:40
    Permalink

    Ikan teri pake saos, iri bilang Bos… Kata anak zaman now, yang hafidz dicurigai, yang elgebete dianggap hak azasi… Udah gak masuk akal memang berpikirnya orang” yang kerasukan sistem sekularisme ni

    Balas
  • 10 September 2020 pada 18:12
    Permalink

    Segera tegakkan Daulah…umat butuh khilafah…sampai kapan Islam diobok-obok ajarannya…Sekaran musuh Islam bukan hanya org kafir tapi org2 munafik sdh mulai muncul…pererat genggaman agar syariah bisa tegak…insya Allah. Aamiin

    Balas
  • 10 September 2020 pada 15:32
    Permalink

    Good looking kalau terkait Islam jadinya bad looking.. eh..

    Balas
  • 10 September 2020 pada 15:21
    Permalink

    Seorang muslim sdh selayaknya akn berusaha berpenampilan sseaui dnga syariat islam sehingga terlihat good looking

    Balas
  • 10 September 2020 pada 14:52
    Permalink

    Ya Allah, istikamah kan lah kami agar selalu menjadi pengemban dakwah untukMu dan Islam, aamiin

    Balas
    • 12 September 2020 pada 10:17
      Permalink

      Good looking

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *