Cerai Gugat, bagaimana Rambu-Rambunya menurut Syariat Islam?

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Bermula dari berita menghebohkan, yaitu mengularnya antrean di PA Soreang, yang tenyata berkaitan dengan kasus perceraian yang ada di kabupaten Bandung. (detiknews, 24.08.2020). Selanjutnya, semakin marak berita tentang kasus perceraian di berbagai kota di negeri ini.

Panitera PA Cibinong kepada Wartakotalive.com menyatakan hingga 1 Agustus 2020 sudah menerima 3.980 perkara. Rata-rata 700 perkara per bulan, hingga akhir tahun diperkirakan ada lebih dari 7.000 perkara gugatan cerai yang didaftarkan, pemicunya sebagian besar karena masalah ekonomi. Sekitar 90 persen penggugat adalah perempuan, karena kurang perhatian dari suami, tidak dinafkahi atau suami kasar. (Tribunjakarta.com, 1 September 2020).

Angka gugatan perceraian di Jawa Barat pun meningkat pesat selama pandemi COVID-19. Dari semua satuan kerja Pengadilan Agama se-Jawa Barat lonjakan gugatan cerai melonjak dari angka 2.734 pada Mei 2020 ke angka 12.617 pada Juni.

Sementara itu angka permohonan cerai atau talak yang dilakukan suami pada bulan Mei di Jawa Barat mencapai angka 412, sedangkan pada Juni meningkat ke angka 1.782. Peningkatan angka permohonan cerai juga bertambah di bulan Juli yakni,2.286 kasus. Dari Januari hingga Agustus 2020 terjadi 55.876 perceraian.

Dan yang lebih mencengangkan lagi, 75% bahkan di beberapa daerah lebih dari 80% dari kasus perceraian ini diakibatkan gugat cerai, yaitu perceraian yang diajukan pihak istri.

Data ini juga menunjukkan adanya tren pergeseran kasus cerai di mana istri yang menggugat cerai. Pergeseran tren perceraian yang dominan diajukan pihak istri menimbulkan tanda tanya besar dan merupakan hal yang harus menjadi perhatian kita pula, di samping tingginya tingkat perceraian di Indonesia. Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?

Perceraian dalam Pandangan Islam

Memang, perceraian bukan merupakan hal yang dilarang dalam Islam, namun ia merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT.

Sabda Nabi Saw., “Allah tidak menjadikan sesuatu yang halal, yang lebih dibenci oleh-Nya dari talak.”

Dan lagi, “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.” (Riwayat Abu Dawud).

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika akhirnya badai perkawinan menerpa sedemikian hebatnya sehingga rumah tangganya tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi. Dan perpisahan menjadi kehendak Allah yang harus dijalani. Maka, sesungguhnya Islam pun telah mengaturnya dengan rinci.

Islam telah menjadikan cerai atau talak di tangan suami, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah: 229 -230, At Thalaq: 2 yang artinya, “Maka rujukilah mereka dengan yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik juga.”

Dan Islam pun memerintahkan agar para suami menempuh segala langkah untuk menyelesaikan berbagai problem sehingga terhindar dari perceraian, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisaa: 35):

Baca juga:  Menjadi Suami Istri yang Saling Mendukung Perjuangan Islam

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lalu apakah boleh seorang perempuan menceraikan dirinya dari suaminya?

Istri Menceraikan Diri dari Suaminya

Keberadaan talak di tangan suami, tidak berarti bahwa istri tidak boleh menceraikan dirinya sendiri dari suaminya dalam situasi-situasi tertentu.

Dalam kitab an-Nizhamul Ijtima’iy fil Islam, syekh Taqiyyuddin An-Nabhani menegaskan bahwa syariat telah memberikan hak kepada seorang Istri untuk membatalkan (fasakh) pernikahannya dan mengajukannya dalam beberapa kondisi.

Syariat telah memberikan hak kepada perempuan untuk menceraikan dirinya dari suaminya, sesuai kewenangan yang diberikan suaminya. Yaitu jika suami menyerahkan masalah talak di tangan istrinya.

Maka istrinya mengatakan, “Aku telah menceraikan diriku sendiri dari suamiku, si Fulan.” Atau “Aku telah menceraikan diriku darimu”. Tapi istri tidak mengatakan, “Aku telah menceraikan kamu”.

Selanjutnya Syekh Taqiyyudin menegaskan lebih jauh, bahwa syariat memberi hak kepada seorang istri untuk menuntut perceraian antara dirinya dengan, pada beberapa kondisi ini:

Yaitu pertama, jika istri mengetahui bahwa suaminya memiliki cacat yang menghalangi terjadinya hubungan suami istri, seperti impoten atau dikebiri. Maka hakim akan menelusurinya selama setahun apakah ada kemungkinan untuk sembuh atau tidak.

Kedua, jika tampak pada suaminya mengidap suatu penyakit yang membahayakan atau berdampak buruk baginya, maka hakim akan menelusurinya selama setahun, apakah ada kemungkinan sembuh atau tidak.

Ketiga, jika suami mengalami gangguan jiwa atau gila setelah menikah.

Keempat, jika seorang suami melakukan perjalanan istri terhalang untuk mendapatkan nafkah.

Kelima, jika suami tidak memberi nafkah istrinya padahal mampu, dan istrinya sulit mendapatkan nafkah darinya. Maka jika istri menuntut cerai, maka hakim wajib menceraikannya tanpa menunda lagi.

Keenam, jika di antara suami-istri terjadi pertentangan dan persengketaan terus menerus, yang mengakibatkan ketidaktenangan dalam kehidupan pernikahannya. Maka hakim akan mendatangkan hakam (juru damai) dari masing-masing pihak. (Annizhamul Ijtimaiy fil Islami, Syekh Taqiyyudin An-Nabhani))

Lalu bagaimana dengan fenomena yang sekarang marak terjadi, bahkan setiap tahun terus meningkat, yaitu kasus cerai gugat?

Cerai Gugat dalam Timbangan Syariat

Sebagian besar ulama mengategorikan cerai gugat ini sebagai ‘khulu. Khulu’ secara harfiah diambil dari lafaz “Khala’a-Yakhla’u-Khal’a” berarti melepaskan.

Khala’a (melepas) dalam bahasa Arab biasanya digunakan untuk konotasi melepas pakaian. Lafaz ini digunakan, karena Alquran menyebut istri adalah pakaian bagi suami, begitu juga sebaliknya, sebagaimana firman Allah SWT:

﴿هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ﴾

Baca juga:  Hakikat Kehidupan Suami-Istri

“Mereka pakaian bagimu, dan kalian pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah : 187)

Disebut khulu’, karena seorang istri melepaskan statusnya sebagai pakaian bagi suaminya. Dengan disertai membayar tebusan yang digunakan untuk membebaskan dirinya dari ikatan nikah yang ada di tangan suaminya.

Firman Allah SWT:

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS Al-Baqarah: 229).

Pada masa Rasulullah pun ada seorang perempuan yang minta cerai dari suaminya dan diizinkan oleh Rasulullah.

Istri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur.”

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Saw. memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya.” (HR Al-Bukhari)

Rambu-Rambu Khulu’

Dari nas-nas di atas, sesungguhnya menjelaskan rambu-rambu tentang khulu’, di antaranya adalah:

Pertama, dalam khulu’, inisiatif berpisah berasal dari istri dan syariat menetapkan si istri harus menebus perpisahannya dengan mengembalikan mahar yang telah diberikan suaminya tanpa ada tambahan.

Kedua, kebolehan seorang istri melakukan khulu’ adalah karena adanya sebab pada dirinya yang dikhawatirkan mengakibatkan dia dan suaminya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah. Artinya, istri haram meminta khulu’ jika tanpa ada sebab tersebut.

Hal ini pun dikuatkan dengan hadis Rasul, “Perempuan yang meminta khulu’ adalah perempuan munafik.” (HR Tirmidzi dan Al Baihaqi). “Siapa saja perempuan yang meminta dicerai oleh suaminya, tanpa alasan apa pun, maka dia diharamkan untuk mencium aroma surga.” (HR Abu Dawud dari Tsauban).

Ketiga, khulu’ harus seizin imam atau yang mewakilinya. Ustaz Abu Fuad dalam buku penjelasan Kitab Sistem Pergaulan Dalam Islam halaman 312, menjelaskan ada syarat tambahan selain adanya kekhawatiran berdua (suami istri) tidak bisa melaksanakan hukum-hukum Allah (illa an takhafaa allaa yuqiimaa huduudallaah), yaitu di lanjutan ayat ini “… fa in khiftum alla yuqiima hududallaah” (jika kalian khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa…).

Adanya perubahan dhamir dari mutsanna (yakhafaa) menjadi jamak (khiftum) menunjukkan bahwa khulu’ disandarkan pada pihak lain selain suami/istri itu.

Pihak lain yang memiliki wewenang untuk itu adalah imam atau yang mewakilinya yaitu qadhi. Hal ini pun diperkuat peristiwa khulu’ yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. (kasus istri Tsabit bin Qais).

Baca juga:  Habis Surat Nikah, Terbitlah Kartu Nikah

Masa Idah dan Rujuk

Demikianlah, syariat telah menjelaskan apa itu khulu’ (cerai gugat) beserta rambu-rambunya. Tinggal satu permasalahan lagi, yaitu terkait dengan konsekuensinya atau hukum lain yang menyertainya, yaitu tentang masa idah dan rujuk.

Abu Fuad menjelaskan bahwa masa idah perempuan yang meminta khulu’ adalah satu kali haid. Sebagaimana riwayat Rubayyi binti Muawwidz bin Afra’:

Bahwa Tsabit bun Qais memukul istrinya hingga tangan istrinya patah. Lalu saudara laki-lakinya mengadukannya kepada Rasulullah Saw.. Maka Rasulullah bersabda, “Ambillah miliknya yang menjadi kewajibanmu (mahar), dan lepaskan dia.” Kemudian Tsabit menjawab, “Baiklah.” Lalu Rasulullah menyuruh istrinya menahan diri satu kali haid dan pulang kepada keluarganya. (HR An-Nasai dan At-Thabrani).

Dan riwayat Ibnu Abbas:

Bahwa istri Tsabit bin Qais meminta khulu’ dari suaminya, “Nabi lalu menyuruhnya menunggu masa ‘iddah satu kali haid.” (HR Tirmidzi).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa At-Tirmidzi meriwayatkan dari ar-Rabi’ binti Muawwidz bin ‘Afra bahwa ia pernah mengajukan kasus khulu’ di masa Rasulullah Saw., maka Nabi memerintahkannya untuk menjalani masa idah dengan sekali haid.

Khulu’ berbeda dengan talak, maka suami tidak berhak merujukinya, baik selama masa idah ataupun setelahnya. Namun suami boleh menikahinya kembali dengan akad baru dan mahar baru dan tentu saja dengan kerelaan mantan istrinya tersebut. (Penjelasan Kitab Sistem Pergaulan dalam Islam, Abu Fuad).


Khatimah

Demikianlah, Islam telah memberikan penjelasan dengan sangat detail tentang perceraian, sebagaimana telah dengan sangat detail menjelaskan aturan-aturan lainnya.

Jika saja seluruh hukum-hukum Islam diterapkan muka bumi ini, tentu saja kasus perceraian yang terus meningkat secara fantastis di negeri-negeri kapitalis tidak akan pernah terulang kembali.

Seorang istri pun tidak akan mudah tergoda bahkan teracuni propaganda menyesatkan yang mengatasnamakan kemandirian perempuan.

Seorang suami akan menjalankan fungsi dan tugasnya dengan maksimal, mempergauli keluarganya dengan makruf, demikian halnya istri akan menjalankan kewajiban dengan baik dan menuntut hak dengan makruf.

Sehingga tujuan pernikahan, sakinah mawaddah wa rahmah, senantiasa berusaha diwujudkan. Karenanya mereka akan berusaha keras mempertahankan keluarganya, mereka paham bahwa dari keluargalah akan lahir generasi yang kuat akidah dan akhlaknya untuk mewujudkan kembali Islam sebagai sebuah negara.

Maka, di saat negara Islam belum terwujud, maka menjadi kewajiban setiap pasangan untuk menjaga kekukuhan keluarga tersebut.

Agar Islam dalam institusi terkecil tersebut tidak mampu dihancurkan kaum kafir yang tidak pernah rida dengan kekuatan Islam, sampai Islam tegak kembali dalam naungan Khilafah.

Karenanya, menjadi kewajiban kita untuk melanggengkan ikatan pernikahan dan kehidupan keluarga yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah SWT. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

27 thoughts on “Cerai Gugat, bagaimana Rambu-Rambunya menurut Syariat Islam?

  • 13 September 2020 pada 05:50
    Permalink

    Alhamdulillah. Sangat mencerahkan

    Balas
  • 12 September 2020 pada 21:51
    Permalink

    Islam telah memberikan penjelasan dengan sangat detail tentang perceraian, sebagaimana telah dengan sangat detail menjelaskan aturan-aturan lainnya.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 21:02
    Permalink

    Cerai tak sekedar solusi masalah rumah tangga namun butuh tahapan-tahapan pendahulu yang harus dilakukan secara maksimal.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 20:00
    Permalink

    Astaghfirullah.. memang mereka sengaja untuk merusak tatanan generasi, khususnya muslim.. semoga Islam segera bangkit, aturannya diterapkan aamiin

    Balas
  • 12 September 2020 pada 19:49
    Permalink

    Islam adalah agama yang komplit memberikan aturan dari bangun tidur sampai bangun negara

    Balas
  • 12 September 2020 pada 18:58
    Permalink

    Segala kebijakan yang keluar dari rahim sistem kapitalis tidak akan pernah mampu mewujudkan keutuhan rumah tangga, justru sebaliknya memicu munculnya berbagai macam konflik dlam rumah tangga yang berujung kepada perceraian. Dan mirisnya seiring dengan gencarnya emansipasi wanita (kesetaraan gender) dengan berbagai programnya membuat wanita semakin berani melakukan gugat cerai. semakin membuktikan kelemahan sisten kapitalis.

    Balas
  • 12 September 2020 pada 10:37
    Permalink

    Sistem pergaulan dlm islam

    Balas
  • 12 September 2020 pada 08:02
    Permalink

    MasyaaLlah Allah maha mengetahui. dan Islam adalah petunjuk

    Balas
  • 11 September 2020 pada 20:44
    Permalink

    Maa Syaa Allah Tabarakallah

    Balas
  • 11 September 2020 pada 09:53
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 10 September 2020 pada 14:19
    Permalink

    Masyaallah sempurnanya pengaturan syariat Islam tentang perceraian

    Balas
  • 9 September 2020 pada 22:42
    Permalink

    MashaAllah, detail sekali Islam dalam mengaturnya

    Balas
  • 9 September 2020 pada 22:13
    Permalink

    Maraknya Gugat cerai di tengah pandemi hal ini menunjukkan rapuhnya pundi-pundi keluarga dalam membangun rumah tangga disebabkan sistem sekuler dimana benteng2 pertahan dalam rumah tangga jauh aqidah Islam.

    Balas
    • 11 September 2020 pada 07:41
      Permalink

      Hanya Islam yg mampu melanggengkan ikatan pernikahan dengan selalu terikat kpd hukum syara

      Balas
  • 9 September 2020 pada 20:29
    Permalink

    Masya Allah

    Balas
  • 9 September 2020 pada 20:25
    Permalink

    Ya Allah semoga Engkau melindungi keluarga-keluarga muslim dari masalah perceraian

    Balas
  • 9 September 2020 pada 20:00
    Permalink

    Maa syaa Allah. Begitu sempurna Islam mengatur berbagai problem sebuah keluarga

    Balas
  • 9 September 2020 pada 19:15
    Permalink

    MasyaaAllah Islam luar biasa detail dalam memberikan aturan di setiap permasalahan

    Balas
  • 9 September 2020 pada 18:45
    Permalink

    Masya Allah, begitu detail aturan Islam

    Balas
  • 9 September 2020 pada 17:18
    Permalink

    Semoga entitas keluarga muslim senantiasa kokoh, sehingga lahir generasi generasi pejuang Islam, Aamin

    Balas
  • 9 September 2020 pada 15:05
    Permalink

    Islam memang agama yang sempurna, sangat menjaga fitrah manusia, termasuk dalam urusan pernikahan

    Balas
    • 12 September 2020 pada 05:33
      Permalink

      Inilah aturan yg sempurna dari Islam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *