Pelecehan Alquran di Swedia dan Norwegia, Pengamat: Kemunafikan Demokrasi Atas Nama Kebebasan Berpendapat

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Aksi demo anti-Islam di ibu kota Oslo, Norwegia, pada Sabtu (29/8/20) pekan lalu berujung bentrokan akibat insiden penistaan kitab suci Alquran, setelah insiden yang sama terjadi di Swedia.

Seperti dilansir WION News, Senin (31/8/20), bentrokan terjadi ketika kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN) berdemo di Oslo. Mereka berunjuk rasa di dekat gedung parlemen (Stortinget) setempat (cnnindonesia.com, 31/8/2020).

Ironisnya, peristiwa ini memperoleh pembelaan dari Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg. Solberg menyebut aksi itu sebagai bentuk kebebasan berpendapat (cnnindonesia.com, 02/09/2020).

Pernyataan Solberg ini keluar satu hari selepas pemerintah Turki mengecam aksi yang membuat kitab suci umat Islam tersebut dilecehkan.

Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk keras tindakan tidak hormat terhadap kitab suci umat Muslim dan memperingatkan bahwa tindakan itu tidak hanya menargetkan Muslim, tapi juga aturan hukum dan demokrasi secara keseluruhan.

Turut menanggapi hal ini, pengamat politik Ustazah Pratma Julia Sunjandari menyatakan, “Menjadi negara yang paling bahagia sedunia menurut World Happiness Report 2017, nyatanya tidak membuat Norwegia menjadi negara yang paling aman bagi siapa pun.”

Menurut Ustazah Pratma pula, “Bisa jadi Norwegia adalah habitat yang nyaman bagi pemuja kebebasan, namun tidak mampu memberi ruang aman bagi Islam dan kaum muslimin.”

Baca juga:  Demokrasi Lindungi Penguasa "Sakti" Langgengkan Politik Dinasti

“Pembelaan PM Norwegia Erna Solberg atas aksi unjuk rasa kelompok SIAN, yang dianggapnya sebagai bentuk kebebasan berpendapat sekali lagi menunjukkan kemunafikan demokrasi,” tegas Ustazah Pratma.

Padahal, demonstrasi menentang Islam dan muslim yang terjadi di sejumlah negara Skandinavia bermula karena kegagalan negara-negara tersebut mengatasi  krisis migrasi Eropa sejak  2015.

“Namun Islamofobia yang telah mendarah daging pada bangsa Eropa menjadikan masalah itu menjadi isu diskriminasi,” lanjut Ustazah Pratma.

Dendam berabad-abad akibat futuhat Khilafah Islamiyah sejak abad ke-8 yang menjadikan muslim Afrika Utara (mereka sebut kaum “Moor”) memasuki Spanyol, Portugal, Italia Selatan dan Malta, diikuti serangkaian kekalahan dalam Perang Salib, menjadi api dalam sekam yang dipelihara hingga anak cucu mereka.

“Itulah tabiat mereka, sebagaimana yang disampaikan Allah SWT dalam wahyu-Nya,” papar Ustazah Pratma.

Beliau pun mengutip sebuah ayat, yang artinya: “…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali Imran [03] : 118).

Kebencian itu memang terus dipelihara Eropa, sebagaimana pernyataan Direktur Penerbitan Charlie Hebdo, Laurent “Riss” Sourisseau yang kembali menerbitkan kartun penghinaan terhadap Rasulullah SAW.

Baca juga:  Pernyataan Berbahaya Ma’ruf Amin soal Terorisme Bermula dari Intoleran; Asma Amnina: Fitnah dan Bisa Memecah-belah Rakyat

“Kebencian yang melanda kami masih ada, dan sejak 2015, perlu waktu untuk bermutasi, mengubah penampilannya, untuk tidak diperhatikan dan diam-diam melanjutkan perang salib yang kejam,” demikian pernyaatan Sourisseau.

“Kaum kafir laknatullah tidak akan berhenti melakukan penodaan atas Islam dan muslim,” kritik Ustazah Pratma.

Tren Islamofobia tetap kuat di Uni Eropa, khususnya karena partai-partai populis sayap kanan meraup lebih banyak suara pemilih dari 10,6 persen pada 1980 menjadi 18,4 persen pada 2017.

“Wajar jika demontrasi menentang Islam dan muslim berentetan terjadi di Prancis, Belanda, Norwegia, Swedia atau tempat lain di Eropa,” tambahnya.

Ustazah Pratma juga mengulas, bahwa semua fenomena itu membuktikan bahwa nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan toleransi hanyalah omong kosong. Fatalnya, semua slogan itu bahkan difungsikan demi tujuan menjajah dan meracuni pemikiran kaum muslimin.

“Jadi sungguh aneh, jika di seluruh negara muslim, pemerintah yang diikuti cendekiawan, ulama ataupun aktifis Islam turut latah menyerukan demokrasi, pluralisme ataupun toleransi demi menampilkan wajah Islam yang moderat dan ramah,” papar Ustazah Pratma.

“Padahal orang kafir itu tak pernah berhenti menjerumuskan kaum muslimin dalam kesesatan, sebagaimana disampaikan lisan mulia Rasulullah Saw..

Baca juga:  Menggadang-gadang Pemimpin via Debat?

“Menghentikan penodaan atas Islam tak boleh dengan perilaku apologetik, menampilkan Islam moderat sebagaimana yang mereka inginkan. Atau berhenti dengan mengutuk saja sebagaimana dilakukan oleh Kemenlu Turki,” tukas Ustazah Pratma.

Kekurangajaran berani dilakukan individu kafir, lanjut Ustazah Pratma, karena memang posisi negri muslim saat ini tak ada yang mampu menjadi junnah, perisai yang melindungi muslim –orang per orang- sebagaimana perlindungan yang dilakukan Khilafah Islamiyyah.

Hanya karena seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar dilecehkan oleh orang Romawi, Khalifah al-Mu’tasim Billah menjawabnya dengan mengerahkan pasukan yang devilenya tak terputus dari gerbang Istana Khalifah di Kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki) pada April, 833 Masehi. Setelah dikepung selama 5 bulan, Ammuriah ditaklukkkan, dan memakan korban 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 ditawan.

“Itulah pembelaan hakiki atas kehormatan seorang muslim. Apalagi pembelaan atas Rasulullah Saw., Alquran dan kemuliaan Islam lainnya, pasti bakal ditunaikan secara tuntas dan paripurna oleh Khilafah Islamiyyah,” pungkas Ustazah Pratma. [MNews | Ndr]

6 thoughts on “Pelecehan Alquran di Swedia dan Norwegia, Pengamat: Kemunafikan Demokrasi Atas Nama Kebebasan Berpendapat

  • 4 September 2020 pada 22:34
    Permalink

    kalian seperti membakar semangat kami untuk membela agama kami

    Balas
  • 4 September 2020 pada 20:55
    Permalink

    Astagfirullah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *