Pemblokiran Film JKdN, Wajah Busuk Hipokrisi Demokrasi

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Perbincangan seputar film dokumenter “Jejak Khilafah di Nusantara” (JKdN) masih belum selesai. Sutradara film tersebut, Nicko Pandawa, mengungkapkan di Kabar Malam TVOne (27/8/2020), dirinya bersyukur atas apa yang telah terjadi pascapenayangan film tersebut. Yakni setidaknya, JKdN telah menjadi pemantik diskusi mengenai hubungan Khilafah dan Nusantara.

Isu khilafah memang selalu menjadi buah bibir yang menggemaskan. Gaungnya semakin terasa seiring dengan kriminalisasi terhadap pengembannya dan monsterisasi terhadap ajarannya.

Namun, alih-alih ajaran Khilafah hilang dari benak umat, yang terjadi justru pertanyaan-pertanyaan umat seputar Khilafah semakin mendalam.

Diskusi mengenai dalil kewajiban menegakkan Khilafah, tak bisa dihindari. Begitu pun perdebatan apakah negara berbentuk Khilafah bisa diterapkan di Indonesia atau tidak.

Semua pertanyaan tersebut turut menjadi diskursus menarik terhadap ajaran Islam politik di tanah air.

Layaknya Madinah Al Munawaroh saat Mus’ab bin Umair diutus Rasulullah Saw. berdakwah ke Madinah, tak ada satu pun dinding-dinding rumah yang tak membahas ajaran Islam.

Pemblokiran Film JKdN Wujud Hipokrisi Demokrasi

Harus diakui, era media sosial telah menghidupkan literasi dan membangkitkan kembali semangat kaum muslim untuk mencari tahu kebenaran akan sejarah agamanya sendiri.

Jika dulu informasi bisa dicengkeram penguasa, menjadikan seluruh kanal sebagai pengukuh keberadaan mereka, namun tidak untuk hari ini. Individu bebas menjadi admin bagi media sosialnya sendiri dan mengatur informasi apa saja yang ingin disebarkan.

Namun ironisnya, dalam kasus JKdN, banyak pihak berusaha mencegah tersampaikannya film ini di tengah-tengah umat. Beberapa kali penayangan perdana JKdN diblokir pihak YouTube atas permintaan pemerintah. Jelas, pemblokiran ini adalah wujud nyata kekalahan intelektual.

Baca juga:  Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

Setelah argumen para penentang Khilafah –mulai dari kiai hingga sejarawan pembenci Khilafah– tidak mampu membuktikan Khilafah tidak ada kaitan dengan Nusantara, penguasa menggunakan kayu untuk memukul ide dan pengembannya.

Mengapa penguasa begitu ketakutan pada film berdurasi 57 menit ini? Jawabannya, menurut Ust. Ismail Yusanto, jika sejarah Nusantara terkuak kebenarannya, maka akan tampaklah seluruhnya adalah spirit Islam.

Artinya, negeri ini dibangun oleh ajaran Islam dan para pengembannya. Jika umat yakin sepenuhnya bangsa ini dibangun di atas darah para syuhada, umat tak akan rela negeri ini mengkriminalisasi para ulama dan memusuhi ajaran yang dibawa ulama.

Tapi tentu bukan rezim anti-Islam namanya, jika mereka berdiam diri atas tersebarnya ajaran Islam di Indonesia. Mereka tak akan sudi melihat perkembangan pemikiran masyarakat yang dulunya manut terhadap sejarah yang dicekoki penjajah, kini mulai tertarik dengan fakta sejarah negerinya sendiri.

Inilah wajah asli demokrasi. Si buruk rupa yang bersembunyi di balik hak asasi. Sebuah konsep absurd yang katanya memberikan kebebasan berpendapat. Nyatanya, jika hal tersebut bertentangan dan mengancam keberadaan penguasa, akan dilibas dan dihabisi.

Bagaimanapun juga, mau tidak mau, suka tidak suka, JKdN telah menjadi salah satu mahakarya putra bangsa yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Baca juga:  “Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 2/2)

Bukan hanya antusiasme penontonnya yang sangat besar, kontennya pun disebut-sebut sebagai film dokumenter pertama mengenai sejarah keterkaitan Nusantara dan Kekhilafahan.

JKdN menyodorkan adanya jejak mengenai peran Kekhilafahan Turki Utsmani atas menyebarnya agama Islam di Nusantara.

Kewajiban Khilafah Terbukti secara Historis, Empiris, dan Normatif

JKdN memvisualisasikan kebenaran sejarah yang dahulu ditutup-tutupi para penjajah. Propaganda hitam tentang Khilafah adalah ajaran impor dan tak sesuai budaya Indonesia, mampu dibantah dalam film tersebut dengan hujah yang kuat.

Film tersebut menyuguhkan pada kita, sebuah fakta bahwa corak budaya Nusantara begitu kental dengan pemikiran Islam. Juga membuktikan peradaban Islam di Nusantara tak bisa dilepaskan dari pusat kejayaannya di Madinah hingga Turki Utsmani.

Artinya, secara historis, negeri ini memiliki akar sejarah yang kuat dengan Kekhilafahan.

Begitu pun secara empiris, bagaimana negeri dengan sejuta problem ini tak mungkin bisa dibenahi hanya dengan mengganti rezim yang berkuasa. Buktinya, rezim terus berganti namun Indonesia terus menuju keterpurukannya.

Maka dari segi empiris, dibutuhkan lebih dari sekadar penggantian rezim untuk membenahi tata kelola negeri. Sistem demokrasi yang cacat dari lahir, justru menjadikan negeri ini di ambang kehancurannya.

Dari sisi normatif pun, Khilafah tak terbantahkan. Telah banyak ditemukan dalil syariat atas keberadaan Khilafah sebagai tajul furudh (mahkota kewajiban). Dengan tegaknya Khilafah, akan terlaksana seluruh syariat yang terhalang pengamalannya saat demokrasi menjadi pijakan bangsa ini.

Dalam sistem peradilan misalnya, tak akan bisa dilaksanakan syariat mengenai qhisas karena terhalang hukum positif buatan manusia. Dan tak akan mungkin negara ini menemui kesejahteraan dan keberkahannya jika sistem ekonomi yang dipakai masih berbasis riba.

Baca juga:  Penolakan Khilafah adalah Pengingkaran Sejarah Islam di Nusantara

Maka, penegakan Khilafah merupakan wajib kifayah. Seperti yang tertulis di buku pelajaran fikih MA (Madrasah Aliah) kelas XII, terbitan Kemenag RI tahun 2016, bahwa Khilafah adalah kewajiban: “Berdasarkan pendapat yang diikuti mayoritas umat Islam (muktabar), hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah.”

Upaya Memadamkan Cahaya Allah SWT akan Sia-sia

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah SWT dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Allahlah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS at-Taubah: 32-33)

Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirannya, bahwa mereka yaitu orang-orang kafir, berusaha memadamkan cahaya Allah SWT dengan mulut yang penuh dengan kebohongan. Namun, usaha mereka itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari atau cahaya bulan dengan tiupan mulut, jadi tidak mungkin berhasil.

Sekeras apa pun mereka menutupi ajaran Islam mengenai Khilafah, maka usaha mereka pastilah sia-sia. Maka, harus ada para pengemban dakwah yang berani menyibak tipuan dan kebohongan mereka, agar umat semakin merindukan Khilafah, sistem yang diberkahi Allah.

Semoga allah SWT menyegerakan pertolongan-Nya dalam mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyah ‘ala minhaji nubuwwah. [MNews]

5 thoughts on “Pemblokiran Film JKdN, Wajah Busuk Hipokrisi Demokrasi

  • 4 September 2020 pada 21:44
    Permalink

    emang parah rezim ini

    Balas
  • 4 September 2020 pada 13:28
    Permalink

    Sungguh negeri ini tersiksa dengan sistem demokrasi sekarang banyak khayalan semata dijanjikan

    Balas
  • 4 September 2020 pada 09:24
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 3 September 2020 pada 23:47
    Permalink

    dakwah butuh perjuangan guys, so tetap semangat ya.

    Balas
  • 3 September 2020 pada 19:10
    Permalink

    Semangat,terus berdakwah,karena Alloh tak pernah ingkar janji,janji Alloh pasti terjadi yakin itu…. Allohu akbar

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *