Normalisasi UEA-“Israel”, Abnormalnya Pembelaan terhadap Palestina

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI – Perkembangan Timur Tengah selalu menjadi perhatian dunia. Gejolak di Timur Tengah tak ubahnya seperti ombak yang selalu bergolak.

Kali ini publik disibukkan dengan berita normalisasi antara Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA). Bagi sebagian kalangan tentu kabar ini tak mengejutkan lagi. Pasalnya kedua negara tersebut sejatinya telah lama “main belakang”.

Atas kabar ini, akhirnya negara-negara terbelah menjadi dua bagian. Terjadi pro-kontra atas kedua bagian tersebut. Tentu saja Palestina merupakan negara yang berada pada barisan kontra terdepan.

Palestina adalah negara yang pertama kali menolak hubungan normalisasi ini. Pasalnya, Palestina adalah negara yang diduduki Israel dengan semena-mena. Sejak kependudukan Israel atas negara ini, rakyat Palestina senantiasa mengobarkan perlawanan demi kemerdekaannya.

Juru Bicara Presiden Palestina Nabil Abu Rudeineh berkata, “Pemimpin Palestina menolak dan mengecam trilateral Uni Emirat Arab, Israel, pengumuman mengejutkan,”, dikutip dari Reuters, 14 Agustus 2020. Juru Bicara tersebut menambahkan, normalisasi ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al Aqsa, dan perjuangan Palestina.

Hamas pun tak tinggal diam. Dari Gaza pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh menyatakan kepada media Palestina WAFA (18/8/2020), penolakan atas semua deklarasi dan keputusan sepihak yang berusaha menghapus hak-hak Palestina dan melanggar resolusi internasional.

Hal yang sama dinyatakan Menteri Luar Negeri Yaman, Mohammed al-Hadrami. Beliau menyatakan posisi Republik Yaman akan konsisten dan tidak akan berubah terkait perjuangan Palestina dan hak-hak persaudaraannya yang tidak dapat dicabut, yaitu pembentukan negara merdeka dengan Al Quds Al Sharif sebagai ibu kotanya.

Sedangkan kubu pro atas normalisasi ini adalah negara Eropa termasuk Mesir. Sebagaimana kita ketahui, Mesir adalah salah satu negara yang lebih dulu melakukan normalisasi dengan Israel. Sehingga wajar saja ketika negara tersebut mendukung hubungan baru UEA dengan Israel.

Bahkan pujian pun dilontarkan Presiden Mesir, kesepakatan tersebut merupakan upaya untuk mencapai kemakmuran dan stabilitas kawasan.

Baca juga:  Akses Air Bersih adalah Hak Asasi Manusia, Lalu Mengapa Tidak untuk Palestina?

Begitu pula Austria yang menyatakan kesepakatan tersebut adalah tanda kemenangan Timur Tengah. Diikuti Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson yang menyampaikan bahwa keputusan tersebut adalah sebuah kabar baik.

“Saya sangat berharap bahwa aneksasi tidak dilanjutkan di Tepi Barat dan kesepakatan hari ini untuk menangguhkan rencana tersebut merupakan langkah yang disambut baik dalam perjalanan menuju Timur Tengah yang lebih damai,” katanya, mengutip The Independent.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pun menyambut hubungan normalisasi ini sebagai upaya mempromosikan perdamaian dan keamanan di kawasan Timur Tengah. (rmol.id, 14/8/2020)

Hubungan UEA dengan Palestina

Sejarah mencatat, UEA termasuk negara di Timur Tengah yang ikut mengecam pendudukan Israel atas Palestina. Di pertengahan Juni lalu, Duta Besar UEA untuk Amerika Serikat, menolak Israel melakukan normalisasi hubungan dengan dunia Arab jika menganeksasi wilayah pendudukan Tepi Barat.

Biarpun demikian, pada kenyataannya saat ini justru berbalik arah. UEA malah menjadi salah satu negara Teluk yang lebih dulu melakukan normalisasi dengan Israel.

Dari hubungan ini, ada dua keuntungan yang diperoleh UEA. Pertama, keuntungan strategis dan kedua, keuntungan teknologi.

Dalam keuntungan strategis ini UEA secara langsung menjadi sekutu AS. Dengan begitu kedudukannya di mata dunia akan naik. Walaupun pada akhirnya pamor UEA di mata negara Timur Tengah turun.

Sedangkan keuntungan teknologi dapat diperoleh karena Israel adalah negara yang memiliki teknologi mutakhir. Untuk memajukan teknologi, UEA dapat bekerja sama dalam hal ini dengan Israel. Dengan begitu UEA akan menandingi kemajuan teknologi negara Timur Tengah lainnya, seperti proyek nuklir Iran.

Dari sini kita dapat melihat, bukan darah persaudaraan sesama muslim yang terpenting. Tapi unsur kepentingan mampu mengalahkan persaudaraan. (bbc.com, 18/8/20)

Kerja Sama dalam Kesunyian

Pada kenyataannya, hubungan UEA dengan Israel telah berjalan cukup lama. Jauh sebelum pernyataan normalisasi ini terjadi, kedua negara tersebut secara diam-diam telah bekerja sama.

Baca juga:  [News] Setelah UEA, Giliran Sudan Menjabat Tangan Berdarahnya Israel

Bulan Mei tahun ini, pesawat maskapai Etihad dari Abu Dhabi terbang dan mendarat di bandara Israel. Pesawat itu mengangkut bantuan untuk wabah Covid-19 di Palestina.

Sebelumnya, bulan November 2015, diplomat Israel Dore Gold membuka kantor utusan pemerintah Israel di UEA. Bahkan masa 1970-an kedua negara ini telah bekerja sama dalan masalah intelijen.

Tidak sampai di situ, kerja sama keduanya terus berlanjut pada bisnis penjualan produk dan layanan ke UEA. Hubungan ini semakin meluas setelah Israel dan Palestina manandatangani Perdamaian Oslo tahun 1994. (Tempo.co, 18/8/20)

Kapitalisme Meracuni Kemurnian Iman

Sebagaimana diketahui, normalisasi ini juga didukung Amerika Serikat. Atas nama membentuk perdamaian di Timur Tengah, perjanjian normalisasi ini akhirnya terjadi. Ada udang di balik batu, AS sebagai negara pendukung dan penghubung pastilah memiliki maksud tertentu.

Sebagai negara adidaya, AS selalu memiliki kepentingan untuk memuluskan tujuannya. AS dengan pengaruhnya akan berusaha memainkan peran agar kekuasaannya bisa abadi. Dengan mendukung hubungan Israel dan UEA, AS akan mampu menundukkan negara Timur Tengah.

Israel yang sengaja ditanam di wilayah itu, akan mengamini setiap kebijakan AS. Dalam hal ini, kepentinganlah yang berbicara.

Israel dengan pendudukannya atas Palestina, dan AS dengan hegemoninya sebagai negara adidaya. Dengan begitu negara-negara Teluk tak akan berani menyuarakan perang melawan AS maupun Israel.

Mungkin inilah yang dimaknai sebagai pengaruh kapitalisme yang nyata. Demi kemajuan, kedudukan, dan kepentingan dunia, penguasa akan merelakan idealisme agamanya.

Padahal, partner kerja samanya telah menjajah tanah saudaranya sendiri. Tak hanya merebut tanahnya, tapi juga menghabisi nyawa saudaranya.

Apakah patut hal seperti ini masih dikatakan beriman? Jika kepentingan pribadi jauh lebih penting daripada menolong kesulitan saudara seiman? Bagaimana jika nanti diminta pertanggungjawaban oleh Sang Maha Pencipta?

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

Menormalkan Hubungan Saudara

Karena kapitalisme, akhirnya kita terpecah belah. Karena kapitalisme, teman jadi lawan. Pun sebaliknya. Jika kita ingin mengembalikan keabnormalan ini, maka satu-satunya jalan adalah menyadarkan negeri-negeri muslim.

Kapitalisme adalah racun yang sengaja ditiupkan musuh-musuh Islam. Mereka, para musuh Islam, tak akan berhenti memusuhi kita. Mereka akan menghalalkan segala cara agar Islam terpecah dan tunduk pada mereka.

Dengan dalih kesepakatan damai bersama musuh, mereka mengambil alih tanah Palestina, bahkan mengadu domba antarnegara muslim.

Mengingatkan kembali, tujuan utama kita adalah beribadah kepada Allah. Hanya Dialah yang patut disembah dan menjadi tempat kembali.

Untuk keluar dari cengkeraman itu, negeri-negeri muslim harus sadar bahwa kita umat muslim adalah umat yang satu. Kita bagaikan satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit maka semua umat muslim harus membantu.

Jika ingin terbebas dari kapitalisme, kita hanya memiliki satu jalan, yaitu kembali kepada Islam. Sebagaimana firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran: 103)

Islam menjamin kita akan menjadi umat terbaik jika kita senantiasa berpegang padanya. Sebagaimana firman Allah, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran 110)

Dengan menjadikan Islam sebagai sebuah mabda yang dapat menyatukan seluruh negeri muslim, bangsa seperti “Israel” atau AS akan ketakutan. Perdamaian yang selama ini dimimpikan akan terjadi.

Bukan di bawah kepemimpinan AS dengan kapitalismenya, tapi dalam naungan Islam dengan Khilafah sebagai sistem pemerintahannya. [MNews]

3 thoughts on “Normalisasi UEA-“Israel”, Abnormalnya Pembelaan terhadap Palestina

  • 4 September 2020 pada 09:27
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 3 September 2020 pada 23:50
    Permalink

    itulah jika telah dirasuki dunia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *