Fenomena Berbagi Istri, Nasib Nasab Kian Gelap

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI — Fenomena poliandri mencuat di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Tjahjo Kumolo mengaku memberikan putusan atas perkara ASN karena memiliki pasangan perkawinan lebih dari satu.

Uniknya, perkara tersebut berkaitan dengan ASN wanita yang memiliki lebih dari satu suami atau poliandri (cnnindonesia, 28/8/2020).

Infografis | Tren Poliandri ASN

Munculnya poliandri merupakan gambaran masyarakat tersebut sakit. Semua agama melarang poliandri, begitu juga dengan hukum negara dan adat. Hanya ada suku-suku kecil primitif yang membolehkan poliandri. Alasannya adalah ekonomi. Yakni agar harta keluarga tidak berpindah ke orang lain.

Ada juga usulan legalisasi poliandri di Cina, karena tidak imbangnya jumlah lajang laki-laki dan perempuan. Ini murni kesalahan Cina, karena membatasi jumlah anak tidak boleh lebih dari satu. Sehingga anak laki-laki lebih dipilih untuk mendukung ekonomi keluarga.

Sementara di Saudi ada feminis yang menyerukan poliandri sebagai realisasi kesetaraan gender. Namun idenya justru ditentang mayoritas feminis karena dinilai merendahkan perempuan.

Perkawinan yang Terlarang

Poliandri haram hukumnya dalam Islam, berdasarkan dalil Alquran dan Sunah. Dalil Alquran adalah firman Allah SWT:

وَٱلۡمُحۡصَنَـٰتُ مِنَ ٱلنِّسَاۤءِ إِلَّا مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۖ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ

“Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.” (QS An-Nisa (4): 24)

Ayat ini menunjukkan salah satu kategori wanita yang haram dinikahi laki-laki, adalah wanita yang sudah bersuami, yang dalam ayat di atas disebut al-muhshanaat.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani berkata dalam an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam (Beirut: Darul Ummah, 2003) hal. 119, “Diharamkan menikahi wanita-wanita yang bersuami. Allah menamakan mereka dengan al-muhshanaat karena mereka menjaga [ahshana] farji-farji (kemaluan) mereka dengan menikah.”

Adapun dalil Sunah, bahwa Nabi Saw. telah bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ زَوَّ‌َجَهَا وَلِيَانِ فَهِيَ لِلأَوَّلِ مِنْهُمَا.

“Siapa saja wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka pernikahan yang sah bagi wanita itu adalah yang pertama dari keduanya.” (HR Ahmad)

Hadis di atas secara manthuq (tersurat) menunjukkan jika dua orang wali menikahkan seorang wanita dengan dua orang laki-laki secara berurutan, maka yang dianggap sah adalah akad nikah yang dilakukan wali yang pertama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, Juz III/123).

Berdasarkan dalalatul iqtidha, hadis tersebut juga menunjukkan tidaklah sah pernikahan seorang wanita kecuali dengan satu orang suami saja. Dalalatul iqtidha’ hadis di atas menunjukkan haramnya poliandri.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata,

“Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki’, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya.

Allah Mahatinggi dan Mahasuci dari kebalikan sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau lebih, maka dunia akan hancur.

Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan.” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)

Gagal Jaga Nasab

Penerapan poliandri akan menyebabkan ketidakjelasan nasab. Anak akan dinasabkan pada ayahnya. Jika seorang perempuan memiliki banyak suami, tidak akan jelas siapa ayah dari anak tersebut.

Fenomena poliandri di kalangan ASN hanyalah kasus yang muncul di permukaan. Sementara fakta yang tidak terungkap tentu lebih banyak jumlahnya dan bukan hanya dari kalangan ASN saja.

Hal ini menunjukkan kegagalan penguasa dalam menjaga nasab dan moral rakyatnya. Padahal, nasab akan berimplikasi pada hukum yang lain seperti pernikahan, nafkah, dan waris.

Juga akan terjadi kekacauan kepemimpinan dalam rumah tangga. Ini seperti salat jamaah yang dipimpin dua imam. Makmum akan bingung dalam menjalankannya.

Pengharaman poliandri dalam Islam sangat tepat, karena akan menjaga nasab manusia. Tentu saja karena syariat Islam berasal dari Allah SWT Pencipta manusia. Sehingga Dia tahu apa yang terbaik bagi manusia. Saat manusia melawan syariat, dia termasuk orang yang keblinger (melampaui batas).

Kegagalan penguasa menjaga nasab manusia tak hanya dalam kasus poliandri saja. Yang paling marak adalah pembiaran zina. Dalam sistem yang sekuler liberal seperti sekarang, zina dibolehkan penguasa. Asalkan dilakukan suka sama suka, tidak ada sanksi bagi pezina.

Penguasa juga justru menyediakan tempat-tempat hiburan yang memfasilitasi zina. Ini adalah kerusakan sosial yang luar biasa. Zina yang merajalela akan menyebabkan Allah SWT mencabut keberkahan dari bumi Indonesia.

Melihat kemungkaran ini, kita tak boleh diam. Kita harus berdakwah, amar makruf nahi mungkar. Mendorong penguasa agar meninggalkan sistem sekuler serba bebas dan menegakkan sistem Islam yakni Khilafah.

Dulu sekali, di era Majapahit, Nusantara juga pernah mengalami krisis sosial. Raja saat itu yakni Brawijaya V sampai meminta tolong pada Sunan Ampel untuk membina para bangsawan dan masyarakat dengan Islam.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel diberi tanah perdikan di Ampel Denta, Surabaya sebagai pusat pembinaan masyarakat. Ajaran Sunan Ampel yakni Molimo begitu viral di masyarakat saat itu. Banyak wilayah yang penduduknya masuk Islam dan meninggalkan zina, narkoba, judi, dan miras.

Sebagai bagian dari Wali Songo, keberhasilan Sunan Ampel dalam menyelesaikan krisis sosial ini, menjadi bukti kecemerlangan solusi Islam.

Kini tugas kita sebagai umat muslim untuk menjadikan sistem Islam berkuasa di bumi Nusantara dan keberkahan akan tercurah dari langit dan bumi.  Insya Allah. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]

4 thoughts on “Fenomena Berbagi Istri, Nasib Nasab Kian Gelap

  • 9 September 2020 pada 15:01
    Permalink

    Astaghafirullah ini adalah salah satu pembuktian yang dapat membuka pemikiran kita bahwa penguasa saat ini tidak dapat dalam menjaga nasab manusia, dan ternyata hanya islamlah solusi yg tepat atas hal ini. maka dari itu jika kita ingin benar benar mengharapkan keadilan serta kesejahteraan didalam hidup maka kita harus menggunakan sistem islam.

    Balas
  • 4 September 2020 pada 09:21
    Permalink

    Astaghfirullah, miris

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *