Tak Seharusnya Penyuluh Agama Menjadi Penyampai Moderasi

Oleh: Ustazah Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS – Penyuluh agama Islam adalah penyampai ajaran Islam, maka tugas penyuluh menjadi penting dan luar biasa dalam menyampaikan kebenaran yang berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Karenanya, sudah selayaknya semua penyuluh agama menghindari penyiaran ajaran yang bukan berasal dari Islam, sekalipun seolah tampak bagai ajaran Islam.

Di antaranya adalah ajaran moderasi Islam. Konsep moderasi (jalan tengah) tidak ada di dalam Islam. Negara Baratlah yang pada awalnya memproduksi kemudian memaksakan kaum muslimin agar ikut mengadopsinya.

Tujuannya tidak lain adalah sekularisasi pemikiran Islam, meragu-ragukan dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam.

Selanjutnya, mengeliminasi nilai-nilai dan praktik Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dan menggantinya dengan pemikiran dan budaya Barat.

Kemudian dicarilah istilah moderasi ini dalam Alquran, hingga “ditemukanlah” di Surah Al-Baqarah ayat 143 kata “ummatan wasathon” (umat pertengahan) yang dianggap pas dengan konsep moderasi.

Padahal, tafsir dari ayat ini tidak menunjukkan Islam kompromistis atau Islam jalan tengah. Mayoritas para mufasir menafsirkan kata “wasath” di ayat tersebut dengan dengan “al-‘adl (adil) dan/atau “al-khiyar (terbaik dan pilihan).

Bisa dilihat di antaranya di tafsir Al Qurthubi dan tafsir Ibn Katsir. Sehingga, sikap “wasath” yang dimaksud ayat tersebut bukanlah sikap moderat, kompromistis, dan selalu mengedepankan jalan tengah.

Sikap “wasath” tidak lain adalah sikap adil, yaitu menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuannya menurut syariat.

Sikap “wasath” juga mencakup sikap memilih yang benar dan sikap melaksanakan dan terikat dengan syariat islam.

Sungguh sayang, tak sedikit dari umat yang terkelabui hingga kemudian menerima moderasi islam ini. Terlebih, pemerintah serius menggarap berbagai program pengarusannya dan menjadikan Kemenag sebagai ujung tombaknya.

Maka, penyuluh agama pun didesain sebagai corongnya. Itu tampak jelas dalam pernyataan Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama Muhammad Adlin Sila saat memberikan materi pada kegiatan Diseminasi Konten Moderasi Beragama di Provinsi Jawa Tengah, Hotel Sahid Jaya Kota Solo, Rabu (19/08),

Pada masa ini sudah saatnya para Penyuluh Agama Islam lebih “speak up dalam menggaungkan gerakan moderasi beragama. Tidak hanya keliling dari masjid dan majelis taklim saja, namun juga melalui media-media digital seperti Facebook, Twitter atau Instagram di mana jumlah follower-nya itu banyak dan sebagian besarnya itu adalah kaum millennial”. (kemenag.go.id).

Baca juga:  Menyoal Pendidikan Politik oleh Elite

Menyedihkan. Penyuluh yang seharusnya penyampai kebenaran yang berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya, akan dibelokkan menjadi penyuluh moderasi yang menyimpang dari Alquran dan Hadis.

Penyimpangan Moderasi Beragama

Penyimpangan konsep moderasi beragama setidaknya tampak dari apa yang disampaikan Adlin ketika mengajak para penyuluh agama melakukan gerakan moderasi di dunia digital.

Ia mengajak para penyuluh agama memulai membiasakan menulis konten-konten positif” dengan iringan sifat etis yang menyertainya yaitu khusnudzan dan terbuka. (kemenag.go.id).

Apa maksud pernyataannya ini? Maksudnya jelas, penyuluh agama tak boleh menyampaikan ajaran Islam secara utuh, apa adanya. Tapi harus menyampaikan Islam inklusif yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya.

Tak boleh menyiarkan konten yang dianggap radikal dan intoleran seperti jihad dan Khilafah. Padahal Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya.

Apalagi menegakkan Khilafah adalah wajib menurut syariat Islam. Bahkan Khilafah merupakan “tâj al-furûd (mahkota kewajiban)”. Pasalnya, tanpa Khilafah—sebagaimana saat ini—sebagian besar syariat Islam di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, pemerintahan, politik, politik luar negeri, hukum/peradilan, dsb. terabaikan.

Apa jadinya ketika penyuluh mengajak masyarakat untuk beragama secara moderat hingga mengambil sebagian hukum Allah dan menolak sebagian lainnya?

Jelas ini tindakan yang menyimpang dari Alquran dan memastikan pelakunya mendapatkan kenistaan di dunia dan adzab pedih di akhirat sebagaimana firman Allah SWT,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.(QS Al Baqarah 85)

Baca juga:  Menggelikan, Benar-benar Menggelikan

Yang lebih parah lagi, bisa terjerumus pada penentangan ajaran Islam ketika penyuluh ikut menyiarkan bahaya Khilafah, sebagaimana dikampanyekan rezim hari ini.

Bagaimana bisa ajaran Islam dianggap berbahaya? Bukankah ini sama saja menentang dan menantang Allah Sang Pembuat Ajaran-Nya?

Saking bahayanya, mendengar kata Khilafah saja, rezim ini sudah alergi. Berbagai macam cara dilakukan untuk menghalangi umat mendapatkan pengetahuan dan informasi sahih berkaitan dengan Khilafah.

Yang teranyar, adalah pemblokiran film Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) hingga munculnya berbagai opini dan propaganda busuk yang menolak pengaitan Khilafah dengan Nusantara.

Padahal, film ini sesuai realitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Seharusnya rezim bisa ber-khusnudzan dan juga bersifat terbuka sebagaimana seruan-seruan mereka.

Kalaupun mereka menganggap Khilafah tidak ada hubungannya dengan Nusantara, maka mereka harusnya juga menerima perbedaan pendapat, hingga mau berlapang dada dan membiarkan umat memilih.

Demikianlah, doktrin mereka tentang keharusan bersikap khusnudzan dan terbuka, seharusnya dicirikan dengan membuka luas ruang diskusi terhadap berbagai pemikiran dan ideologi. Tapi rupanya, kalau untuk ajaran Islam kaffah dan Khilafah, mereka tutup rapat ruang diskusi itu.

Penyimpangan berikutnya juga tampak ketika Adlin mengajak para penyuluh mempromosikan toleransi dan menolak tindakan ekstrem. Ini adalah dua karakter muslim moderat yang sangat diharapkan Barat sebagaimana tercantum dalam laporan Rand Corporation –lembaga think tank Amerika Serikat–berjudul Building Moderate Muslim Network yang diterbitkan tahun 2007.

Karakter muslim moderat yang diharapkan Barat di dokumen tersebut adalah muslim yang menghargai keberagaman dan menentang terorisme dan semua bentuk kekerasan.

Maka bisa dibayangkan, para penyuluh agama harus menyampaikan konten Islam sesuai arahan Barat. Toleransi yang dimaksud tentu adalah toleransi “ala Barat”.

Atas nama toleransi dan moderasi, umat Islam harus mengabaikan sebagian dari ajaran Islam yang bersifat qath’i, baik dari sisi redaksi (dalâlah) maupun sumbernya (tsubût), seperti: superioritas Islam atas agama dan ideologi lain (QS Ali Imran [3]: 19); kewajiban berhukum dengan hukum syariat (QS al-Maidah [5]: 48); keharaman wanita muslimah menikah dengan orang kafir (QS al-Mumtahanah [60]: 10); dan dan sebagainya. Jelas ini adalah penyimpangan dari ajaran Islam.

Penyuluh Agama adalah Penyampai Kebenaran

Para penyuluh agama seharusnya tetap teguh menyampaikan kebenaran, menyampaikan Islam secara keseluruhan yang bersumber dari Alquran dan Hadis, sekalipun sulit dan berisiko karena melawan arus moderasi.

Baca juga:  Alam Semesta akan Hancur karena Moderasi Islam Produksi Barat

Para penyuluh agama harus berani menentang semua pihak yang hendak menutupi kebenaran dan kemuliann Islam. Tak mengikuti arahan “Barat” yang kufur, tapi mengikuti petunjuk Allah SWT.

Sungguh, kedudukan para penyuluh agama ini sama dengan ulama. Dan para ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah sebagaimana firman-Nya

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fathir [35]: 28).

Pada ayat ini, yang disebut ulama adalah hamba-hamba Allah yang keilmuan yang dimilikinya membuatnya khasyah (takut) kepada Allah. Takut di sini berbeda dengan kata khauf yang biasa diterjemahkan dengan takut.

Syeikh Mannā’ al-Qaṭṭān dalam buku “Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur`ān” (2000: 207) menerangkan perbedaannya.

Takut (khasyah) lebih tinggi tingkatannya daripada takut (khauf). Khasyah, rasa takut yang timbul akibat keagungan yang ditakuti, meski yang takut adalah orang kuat. Dengan kata lain, rasa takut yang disertai pengagungan. Sementara rasa takut khauf, timbul karena lemahnya orang yang takut. Meski yang ditakuti sebenarnya adalah perkara remeh.

Di sisi lain, huruf dari kata “khasyah (kha, syin, ya) berdasarkan timbangan ilmu sharaf menunjukkan keagungan. Karena itu, tidak mengherankan jika kata ini pada galibnya (umumnya) terkait dengan Allah SWT sebagaimana yang terdapat dalam surah Fathir ayat 28.

Dengan demikian, ulama seperti ini adalah ulama yang keilmuannya mengantarkannya pada rasa takut kepada Allah SWT disertai pengagungan kepada Allah SWT.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam “Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn” (I/77) mengategorikan ulama semacam ini sebagai “Ulamā al-Ākhirah” (ulama akhirat) yang kata beliau, selain “khasyah (rasa takut), juga diikuti ciri lain berupa: khusyuk, tawaduk (rendah hati), berakhlak mulia, serta memprioritaskan akhirat daripada dunia (zuhud).

Demikianlah, dengan karakter ulama yang melekat padanya, seharusnya para penyuluh agama memosisikan diri mereka sebagai penyampai kebenaran Islam kaffah, bukan penyampai moderasi. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

26 thoughts on “Tak Seharusnya Penyuluh Agama Menjadi Penyampai Moderasi

  • 6 September 2020 pada 21:02
    Permalink

    Ya Allah..semoga kita dilindungi dr pemikiran2 yg salah.

    Balas
  • 6 September 2020 pada 08:05
    Permalink

    Selanjutnya argumen good looking

    Balas
  • 6 September 2020 pada 05:11
    Permalink

    Para pendakwah seharusnya menjelskan kebenaran yg datangnya dari Allah

    Balas
  • 5 September 2020 pada 22:53
    Permalink

    Menyedihkan. Penyuluh yang seharusnya penyampai kebenaran yang berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya, akan dibelokkan menjadi penyuluh moderasi yang menyimpang dari Alquran dan Hadis.

    Balas
  • 4 September 2020 pada 19:09
    Permalink

    الله اكبر

    Balas
  • 3 September 2020 pada 00:00
    Permalink

    Menyampaikan kebenaran adalah kewajiban..ammar ma’ruf nahi munkar..inilah yg seharusnya dilakukan oleh para penyuluh..bukan sebaliknya..

    Balas
  • 2 September 2020 pada 16:55
    Permalink

    Lantas bagaimana mau menetapkan Islam khafah dan khilafah di Indonesia yg mempunyai banyak keberagaman baik dari segi budaya, agama, dan masyarakatnya?

    Balas
  • 2 September 2020 pada 11:53
    Permalink

    Tugas penyuluh seharusnya memperkuat akidah ummat bukan justru sebaliknya menjadi corong pemikiran barat yang menjauhkan umat dari akidahnya. karena sejatinya moderat itu adalah mengikuti budaya barat.

    Balas
  • 2 September 2020 pada 10:42
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 2 September 2020 pada 09:56
    Permalink

    Astagfirullahaladzim segeralah bertaubat para penyuluh agama, janganlah kau gadaikan aqidahmu demi kesenangan sesaat. Yakinlah Khilafah pasti segera tegak

    Balas
  • 2 September 2020 pada 09:50
    Permalink

    Satu hal yang semestinya ditakutkan adalah firman Allah SWT,

    أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

    “Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 85)

    Balas
  • 2 September 2020 pada 08:45
    Permalink

    Apakah mereka tidak membaca firman Allah SWT:

    يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

    “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
    (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

    Balas
  • 1 September 2020 pada 23:29
    Permalink

    Penyuluh agama bukan harusnya membuat pembenaran sesuai keinginannya penguasa melainkan berkata jujur atas perintah dan.lanranhnnya.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 21:25
    Permalink

    Na’udzubillah.. Ummat butuh Khilafah dalam mengatasi masalah penyimpangan spt ini

    Balas
  • 1 September 2020 pada 21:18
    Permalink

    Para penyuluh agama harus berani menentang semua pihak yang hendak menutupi kebenaran dan kemuliann Islam. Tak mengikuti arahan “Barat” yang kufur, tapi mengikuti petunjuk Allah SWT

    Balas
  • 1 September 2020 pada 20:16
    Permalink

    Para penyuluh agama harus berani menentang semua pihak yang hendak menutupi kebenaran dan kemuliann Islam. Tak mengikuti arahan penjajah yang kufur, tapi mengikuti petunjuk Allah SWT. Kedudukan para penyuluh agama ini sama dengan ulama

    Balas
    • 4 September 2020 pada 21:28
      Permalink

      moderasi bukan dr ajaran Islam.. mengaburkan mana yg benar dan salah, mengabu abukan yg hitam dan putih

      Balas
  • 1 September 2020 pada 16:49
    Permalink

    Miris ya.. mereka hendak mengaruskan Islam moderat lewat penyuluh2 agama. Islam moderat itu adalah Islam yg dikompromikan berdasarkan keinginan Barat

    Balas
  • 1 September 2020 pada 15:40
    Permalink

    Dengan karakter ulama yang melekat padanya, seharusnya para penyuluh agama memosisikan diri mereka sebagai penyampai kebenaran Islam kaffah, bukan penyampai moderasi.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 14:45
    Permalink

    Sepakat.. penyuluh agama adalah penyampai kebenaran secara kaffah, bukan moderasi. Seruan kepada selain Islam adalah kebatilan.. Saatnya tuk satukan perjuangan lawan kebatilan.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 14:32
    Permalink

    Subhanallah. Sungguh semua permasalahan bermula karena ketiadaan institusi negara sebagai penjaga agama. Negara yang seharusnya menjadi terdepan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam, malah memberi ruang kepada pemahaman2 baru yang justru merusak Islam itu sendiri.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 14:09
    Permalink

    Astaghfirullah, semoga Allah melindungi kita dari pemikiran yg salah. Dan tetap berpegang teguh pada ajaran islam yg benar.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 12:14
    Permalink

    Astagfirullah…..smoga tidak ada ulama bayaran….tetapi yg ada hanyalah ulama2 yg hanif yg menyampailan islam kaffah

    Balas
  • 1 September 2020 pada 11:25
    Permalink

    Yang harus kita dakwahkan adl ide, Syariah Islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *