Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Salah satu tudingan yang sering disampaikan para penolak Khilafah adalah bahwa gagasan Khilafah tak lebih dari romantisme sejarah. Dalam pandangan mereka, Khilafah hanya milik masa lalu yang tak relevan diterapkan di era kekinian.

Profesor Azyumardi Azra misalnya, mengungkap hal tersebut dalam bukunya Transformasi Politik Islam: Radikalisme, Khilafatisme, dan Demokrasi. Pada bagian kelima halaman 252, dia menyebut ide Khilafah seperti yang digagas Hizbut Tahrir Indonesia hanyalah romantisme dan idealisme sejarah.

Dia pun menyitir alasan, bahwa jika gagasan ini dinisbatkan kepada Turki Utsmani, maka sejak masa Sulaiman Al Qanuni (abad ke-15) para penguasa Turki Utsmani hampir tak pernah menyebut otoritas politik mereka sebagai “Khilafah”, atau menyebut diri mereka sebagai “Khalifah”.

Menurutnya, mereka justru begitu rendah hati hingga hanya menyebut diri mereka sebagai “Sulthan”. Karena mereka sadar istilah Khilafah atau jabatan Khalifah bukan istilah sembarangan. Sementara mereka hanyalah para ghazi yang karena perjalanan sejarah bisa menjadi penguasa.

Terlebih dalam penilaian Azyumardi, para penguasa ini ternyata tak mampu mempertahankan kebesaran kekuasaan Al Qonuni. Mereka malah tenggelam dalam kekuasaan despotik, melakukan berbagai penyimpangan dan tak memedulikan rakyat banyak.

Inilah yang –menurutnya– memicu munculnya gerakan perlawanan semacam Turki Muda di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Yang lambat laun, eksistensi dan pengaruhnya bertambah kuat. Terutama ketika kekuasaan berada di bawah Sultan Abdul Hamid, pada abad ke-20 dasawarsa kedua.

Menurut Azyumardi, justru pada situasi inilah Sultan Abdul Hamid mengangkat kembali istilah Khilafah dan khalifah. Tujuannya tak lain demi menarik simpati dan solidaritas kaum muslimin, karena merasa kekuasaannya terancam oleh gerakan Turki Muda.

Namun –menurutnya– usaha membangun romantisme ini terbukti gagal. Sang Khalifah akhirnya berhasil diturunkan dari kekuasaan. Bahkan Khilafahnya pun dihancurkan.

Dan di saat sama, Turki Muda mendeklarasikan berdirinya Republik Turki yang sekuler pada 29 Oktober 1923 dengan Mustafa Kemal sebagai presidennya.

Dengan paparannya ini, Sang Profesor dan mereka yang sejalan dengannya, nampak ingin membangun narasi, bahwa apa yang dilakukan oleh pengusung Khilafah tak berbeda dengan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid di era akhir Khilafah.

Narasi “mengembalikan Khilafah”, hanyalah upaya membangun romantisme sejarah. Yang  dilakukan semata demi kepentingan politik; Menarik simpati masyarakat hanya demi tujuan pragmatis kelompok pemburu kekuasaan.

Di saat yang sama, mereka pun seakan ingin menunjukkan, bahwa upaya ini hanyalah bentuk kesia-siaan. Karena apa yang disebut sebagai “era kejayaan Islam” nyatanya hanyalah dongengan. Mengingat sejarah panjang kekhilafahan, khususnya di era Utsmaniyah, justru diliputi penyimpangan-penyimpangan.

Baca juga:  Khilafah

Hal ini dikuatkan dengan beberapa wawancara yang ditayangkan televisi nasional. Sang profesor keukeuh menyampaikan, bahwa menisbatkan perjuangan Khilafah pada era dinasti Utsmaniyah adalah salah. Karena Khilafah Utsmaniyah, bukan Khilafah nubuwwah. Melainkan hanya kerajaan yang kekuasaannya diturunkan melalui pewarisan.

Bahkan Khilafah selain Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Kaththab ra pun, disebut-sebut tak layak disebut Khilafah. Apalagi Khilafah nubuwwah. Karena di masa-masa itu, sejarah kekuasaan Islam begitu berdarah-darah.

Narasi inilah yang berulang-ulang disampaikan demi menolak gagasan penegakan Khilafah Islam. Lalu diadopsi oleh berbagai kelompok para pendengki, seolah-olah mereka mendapat senjata hebat dan rasional untuk menyerang dan melumpuhkan hujah para pengusung Khilafah.

Rupa-rupanya mereka gagal memahami argumentasi dakwah Khilafah. Seolah-olah dalil perjuangan Khilafah hanyalah bertumpu pada sejarah. Dan seolah-olah mereka para pendakwah Khilafah sudah begitu dibutakan oleh sejarah dan hanya hidup dengan romantisme sejarah.

Padahal, dakwah penegakan Khilafah tegak di atas hujjah syar’iyah. Yakni berlandas pada sumber hukum syara, mulai dari Kitabullah, sunnatur Rasulillah, Ijmak sahabat, hingga qiyas syar’iyyah.

Dan pembahasan detail soal ini, terserak di berbagai karya tulisan para ulama, yang bagi seorang muslim yang khalis, tak mungkin bisa menolaknya.

Lantas, mengapa ada ikhtiar mengungkap sejarah? Tak lain semata agar umat mau mengambil ibrah. Betapa Khilafah bukan gagasan asing dalam agama dan sejarah peradaban mereka.

Khilafah, justru telah eksis belasan abad menaungi dunia. Bahkan jejaknya, begitu dekat dengan mereka, termasuk di nusantara.

Betul bahwa sejarah peradaban Islam tak sepenuhnya bisa diambil sebagai teladan. Karena sebagai sistem yang diturunkan untuk manusia, memungkinkan terjadinya penyimpangan dalam penerapan.

Namun menafikan seluruh atau sebagian besar dari sejarah islam karena adanya sisi-sisi sejarah kelam, jelas-jelas merupakan sebuah kelancangan. Karena keberadaan sejarah emas peradaban islam juga tak bisa dinafikan. Bahkan banyak diakui para sejarawan Barat yang jujur dalam keilmuan.

Bahkan lebih lancang lagi, jika sikap itu diikuti penolakan terhadap keberadaan sistem Khilafah. Karena Khilafah sejatinya adalah bagian dari ajaran Islam. Dan sejarah emas peradaban Islam tadi, tak bisa dilepaskan dari penerapan ajaran-ajaran Islam di seluruh aspek kehidupan.

Walhasil, keberadaan Khilafah merupakan keniscayaan sejarah. Bahkan dalam hal ini, baginda Rasulullah ﷺ telah menyampaikan sebuah hadis yang menyebut soal lima fase kekuasaan dalam sejarah umat islam hingga hari kiamat.

Baca juga:  Menimbang Politik Islam Mendesain Kebangkitan

Dari Hudzaifah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda,

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.

Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.

Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. 

Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. 

Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.”

(HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Di lima fase itu memang terdapat era yang disebut mulkan a’dhan (penguasa zalim) dan mulkan jabriyan (penguasa diktator). Namun para ulama menyebutkan hakikat kekuasaan mereka sebagai Khilafah. Salah satunya sebagaimana yang ditulis Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Tarikh Khulafa.

Semua ini bisa dipahami, karena meskipun ada penyimpangan dalam implementasinya hingga era itu disifati demikian oleh baginda Nabi ﷺ, namun pilar-pilar sistem pemerintahan Khilafah ternyata tetap tegak dan diwariskan dari masa ke masa hingga keruntuhannya di tangan antek Inggris Mustafa Kemal pada 1924.

Pilar-pilar sistem Khilafah itu di antaranya:

Pertama, menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya sumber undang-undang atau dustur negara di berbagai bidang kehidupan. Dan ini merepresentasi prinsip kedaulatan di tangan Asy-Syaari’ yang merupakan prinsip utama sistem Kekhilafahan.

Kedua, ada pelaksanaan baiat penguasa oleh umat meski sebagian cara pengambilannya diwarnai dengan drama dan kezaliman. Fakta ini merupakan perwujudan prinsip kekuasaan di tangan umat yang juga menjadi salah satu pilar Kekhilafahan.

Ketiga, sepanjang sejarah peradaban Khilafah, khalifah/imam/amirul mu’minin memiliki hak prerogatif untuk melegalisasi hukum yang diambil dari dalil-dalil syara’, khususnya untuk hukum yang dipahami beragam. Sehingga adanya hak adopsi hukum oleh Khalifah ini bisa mencegah perselisihan.

Baca juga:  Waspada Upaya Penghitaman Sejarah, Inilah Delapan Bukti Adanya Hubungan Utsmaniyah-Kesultanan Jawa

Keempat, tampak dari realitas bahwa sepanjang masa itu, kepemimpinan umat Islam di seluruh dunia ada dalam komando seorang Khalifah. Perluasan wilayah Islam ke berbagai penjuru dunia, otomatis diikuti pengakuan kepemimpinan Khalifah di pusat kekuasaan.

Kondisi ini justru hilang setelah Khilafah runtuh pada 1924. Setelah itu, umat Islam berhasil dipecah-belah penjajah menjadi puluhan negara dan kepemimpinan.

Itulah bukti bahwa sejarah peradaban umat Islam tak bisa lepas dari sistem Khilafah. Bahkan Khilafah menjadi sistem hidup yang telah membawa umat menjadi umat terbaik, sekaligus menjadi pioner peradaban cemerlang.

Hal ini sejalan dengan kedudukan Khilafah sebagai mahkota kewajiban. Di mana penerapan syariat Islam kaffah yang diturunkan oleh Allah Zat Yang Mencipta Kehidupan bisa seluruhnya ditegakkan.

Sementara, penerapan Islam kaffah ini merupakan konsekuensi keimanan, sekaligus menjadi jaminan terwujudnya kehidupan yang sejahtera dan penuh keberkahan.

Maka, tak ada alasan bagi seseorang yang mengaku dirinya muslim, selain mendukung perjuangan penegakan Khilafah. Karena Khilafah adalah sebuah kewajiban, yang dengannya pula bertumpu pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang lainnya. Sekaligus merupakan konsekuensi keimanan.

Justru tak patut bagi yang mengaku muslim untuk menyeru pada sistem selain Islam, atau memilih hidup sebagai pembela dan penjaga sistem sekuler yang jelas-jelas telah menyingkirkan ajaran-ajaran Islam, atau malah berdiri sebagai penentang perjuangan Khilafah. Karena apa yang mereka jaga dan pertahankan justru telah terbukti menjadi sumber segala kerusakan.

Sungguh sekularisme dan semua sistem hidup yang dilahirkannya, seperti sistem demokrasi kapitalisme neoliberal telah terbukti menyebabkan umat manusia jatuh pada kehancuran.

Tercerai-berai dalam simbol-simbol kesukuan, terjebak dalam perilaku hewan, membuka lebar pintu penjajahan, dan kerusakan lain yang tak pernah terjadi saat Khilafah ditegakkan.

Bahkan umat Islam hari ini telah kehilangan predikat terbaiknya sebagai umat pilihan. Dan di saat sama, kehilangan kedudukan sebagai umat pemegang kepemimpinan. Terjebak dalam kungkungan penjajahan alias hegemoni sistem kapitalisme global.

Alangkah benar apa yang Allah SWT firmankan,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha: 124). Allaahu A’lam. [MNews | SNA]

29 thoughts on “Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

  • 6 September 2020 pada 07:56
    Permalink

    Pemikiran barat

    Balas
  • 6 September 2020 pada 05:09
    Permalink

    Sangat besar kebencian mereka terhadap Islam. Islam rahmatan lil alamin.

    Balas
  • 5 September 2020 pada 22:56
    Permalink

    meskipun ada penyimpangan dalam implementasinya hingga era itu disifati demikian oleh baginda Nabi ﷺ, namun pilar-pilar sistem pemerintahan Khilafah ternyata tetap tegak dan diwariskan dari masa ke masa hingga keruntuhannya di tangan antek Inggris Mustafa Kemal pada 1924.

    Balas
  • 4 September 2020 pada 21:31
    Permalink

    Semoga hari ini yang benci2 ide khilafah, Allah buka pintu hatinya dan diberi hidayah🤲

    Balas
  • 4 September 2020 pada 13:34
    Permalink

    Terimakasih tulisannya, betul2 fakta di cantumkan

    Balas
    • 4 September 2020 pada 21:32
      Permalink

      mantaappp keren, semoga Khilafah cepet terwujud

      Balas
  • 3 September 2020 pada 17:44
    Permalink

    Memalukan, sekelas profesor tak paham dgn khilafah. Dan dengan sombongnya menolak khilafah

    Balas
  • 2 September 2020 pada 23:58
    Permalink

    Khilafah terbukti selama ±1300th diterapkan..dan membawa rahmatan lil ‘alamiin

    Balas
  • 2 September 2020 pada 11:04
    Permalink

    Umat Islam terpecah belah dibawah sistem kapitalis

    Balas
    • 4 September 2020 pada 19:10
      Permalink

      Maa Syaa Allah Tabarakallah

      Balas
  • 2 September 2020 pada 10:43
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas
  • 2 September 2020 pada 09:49
    Permalink

    Kebencian merekantidak akan merubah janji Allah akan tegaknya Khilafah kembali. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    فَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ مُخْلِفَ وَعْدِهٖ رُسُلَهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ ذُوْ انْتِقَا مٍ ۗ 
    “Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Sungguh, Allah Maha Perkasa dan mempunyai pembalasan.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 47)

    Balas
  • 2 September 2020 pada 09:03
    Permalink

    Hari gini masih blm percaya khilafah wajib? Astagfirullahal’adzim, pdhl sdh banyak dalil Al-quran maupun As-Sunnah yg menunjukkan ttg kewajiban menegakkan khilafah. Diantaranya sabda Rasulullah SAW:
    مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

    Siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada baiat (kepada Imam/Khalifah), maka ia mati jahiliah (HR Muslim).

    Balas
  • 2 September 2020 pada 08:01
    Permalink

    Khilafah memang bukan hanya sekedar romantisme sejarah namun bagian dari Ajaran Islam yang wajib hukumnya untuk ditegakkan

    Balas
  • 2 September 2020 pada 05:53
    Permalink

    Sungguh Khilafah Janji Allah. ‘Kan kembali tegak atas izin-Nya..beri kesejahteraan bagi sluruh makhluk muka bumi.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 23:28
    Permalink

    sebenarnya masalah orang2 hedonis yg sebenarnya bukan sejarah Khilafah, melainkan aturan Islam secara kaffah yg menghambat rencana busuk mereka.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 23:26
    Permalink

    Benar sekali, khilafah bukanlah gadang2 sebuah omongan melainkan realitas terbaik yg pernah ada sepanjang masa.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 21:47
    Permalink

    Ma sha Allah. Semoga kita dapat memahami secara utuh Ajaran Islam dan selalu condong pada yang Haqq.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 21:32
    Permalink

    Masyaa Allah….
    Ternyata aturan islam memang yang terbaik^_^

    Balas
  • 1 September 2020 pada 20:57
    Permalink

    Semoga khilafah segera tegak kembali🙏🙏

    Balas
  • 1 September 2020 pada 20:43
    Permalink

    Khilafah ajaran islam

    Balas
  • 1 September 2020 pada 20:08
    Permalink

    Sekularisme dan semua sistem hidup yang dilahirkannya, seperti sistem demokrasi kapitalisme neoliberal telah terbukti menyebabkan umat manusia jatuh pada kehancuran. Tercerai-berai dalam simbol-simbol kesukuan, terjebak dalam perilaku hewan, membuka lebar pintu penjajahan, dan kerusakan lain yang tak pernah terjadi saat Khilafah ditegakkan.

    Balas
  • 1 September 2020 pada 19:07
    Permalink

    MasyaAllah memang sejarah itu bisa salah jika di ceritakan oleh orang yang salah

    Balas
  • 1 September 2020 pada 17:58
    Permalink

    Insya Allah akan terwujud. Aamiiin yra

    Balas
  • 1 September 2020 pada 17:40
    Permalink

    Khilafah adalah satu2nya solusi untuk problematika imat saat ini

    Balas
  • 1 September 2020 pada 16:45
    Permalink

    Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah, namun mereka hanya melakukan kesia-siaan

    Balas
  • 1 September 2020 pada 16:43
    Permalink

    Khilafah adalah sistem pemerintahan yg diperintahkan Allah SWT

    Balas
  • 1 September 2020 pada 16:41
    Permalink

    Khilafah ajaran Islam

    Balas
  • 1 September 2020 pada 16:06
    Permalink

    Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha: 124).

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *