Narasi Palsu di Balik Normalisasi UEA-“Israel”

Uni Emirat Arab menormalisasi hubungannya dengan “Israel”.


Oleh: Okay Pala (Belanda)

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Banyak yang bisa mengingat kembali kejadian jahat dari Presiden Donald Trump 2017 lalu di Arab Saudi. Dia meletakkan tangannya di atas bola dunia yang bercahaya bersama-sama dengan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.

Basis dari AS, strategi Timur Tengah telah diperkuat dan deklarasi Riyadh ditandatangani “untuk membawa perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut dan dunia seluruhnya”, sebagaimana mereka nyatakan.

Tapi faktanya, hal itu semata-mata untuk memperkuat hegemoni AS dan mengamankan kepentingan mereka di kawasan tersebut, baik secara politik, militer, maupun ekonomi. Deklarasi tersebut terutama didasarkan pada kerja sama dengan AS (Aliansi Strategis Timur Tengah) melawan “musuh bersama” -Iran beserta ambisi nuklir dan pengaruh regionalnya. Juga sebagai pengakuan dan penerimaan penuh atas “Israel” oleh Arab dan negeri-negeri Muslim.

Bagaimanapun, alasan utama di balik kebijakan fasad AS ini bukanlah ambisi nuklir Iran. Sebab, Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir efektif dengan Iran, yang dicapai antara AS, Iran, Inggris, Rusia, Prancis, Cina, Jerman, dan Uni Eropa pada Juli 2005 (The Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA). Kendati demikian, AS berupaya meredam pengaruh Iran di kawasan tersebut setelah memanfaatkannya.

Selain itu, AS memanfaatkan Iran untuk membentuk “orang-orangan sawah” di wilayah itu dengan memicu konflik Sunni-Syiah demi membangun koalisi Amerika-Arab, dengan menghadirkan musuh bagi negara-negara Arab dan “Israel”.

Baca juga:  Normalisasi UEA-"Israel", Abnormalnya Pembelaan terhadap Palestina

Dengan melakukan itu, AS bertujuan untuk membangun koalisi (termasuk entitas Zionis) untuk melawan Iran. Dengan memasarkan narasi busuk “Musuh dari musuhku adalah temanku“, AS mencari pengakuan, penerimaan, dan kerja sama dengan penjajah “Israel” di kawasan tersebut melalui jalinan kerja sama yang lebih erat di berbagai bidang, seperti militer dan kemitraan ekonomi.

Pada 2018, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, bertemu di New York bersama para menteri luar negeri dari Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Oma, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk meningkatkan proyek ini. Kemudian pada 2019, AS menyelenggarakan konferensi di Warsawa/Polandia sebagai tindak lanjut proyek tersebut bersama negara-negara Arab yang sama.

Jadi, pengkhianatan UEA yang sepenuhnya “menormalisasi” hubungannya dengan “Israel” pada 2020, tidaklah mengejutkan.

Lebih jauh lagi, peningkatan signifikan dalam interaksi informal antara keduanya dan meningkatnya kerja sama tidak resmi berdasarkan oposisi bersama mereka terhadap program nuklir Iran dan pengaruh regional, dapat diamati. Sayangnya, contoh UEA ini kurang lebih berlaku untuk semua negara Arab dan Muslim lainnya.

Meskipun para pemimpin pengkhianat dari negeri-negeri Muslim telah dengan sangat jelas menunjukkan wajah asli mereka dan kesetiaan mereka pada musuh-musuh Islam, umat tampaknya lumpuh dan tidak berdaya untuk melawannya. Ini karena narasi tertentu yang sengaja disebarluaskan untuk menyesatkan masyarakat.

Baca juga:  Framing Islam dalam Kasus Qunun

Misalnya: Iran adalah ancaman bagi praktik Islam Sunni di wilayah tersebut. Jadi, untuk melindungi Sunni-Islam, Syiah dan Iran harus diperangi. Iran adalah musuh. Menurut logika “musuh dari musuhku adalah temanku”, bekerja dengan AS dan “Israel” untuk mengalahkan musuh (Iran) diperbolehkan. Kesepakatan yang dibuat UEA dengan “Israel” adalah setuju untuk menangguhkan aneksasi wilayah di Tepi Barat yang diduduki. Jadi, kesepakatan itu (dianggap) menguntungkan Islam dan Umat sebagai manuver politik yang diperlukan untuk berkontribusi pada solusi konflik “Israel”-Palestina.

Namun faktanya: Praktik Sunni bahkan tidak diterapkan, justru ide-ide kapitalis Barat yang diterapkan sepenuhnya, Jadi, ancaman terbesar bagi Islam-Sunni bukanlah Syiah, melainkan kapitalisme. Musuh terbesar wilayah tersebut dan sekitarnya, sudah tidak diragukan lagi ialah AS dan sekutu-sekutu Barat mereka. Iran hanyalah proxy AS. Jadi bagaimana bisa “marionette” (boneka kayu yang digerakkan tali, ed.) menyebabkan ancaman yang lebih besar dari tuannya?

Dengan “menormalkan” hubungan dengan penghuni Tanah yang Diberkati itu, UEA memberikan legitimasi kepada negara pembunuh ilegal tersebut! Selain itu, dalam Islam, konsep “musuh dari musuhku adalah temanku” adalah tertolak. Status musuh itu jelas, teman juga jelas. Kebanyakan, “musuh dari musuhku” bisa berupa negara yang mengadakan perjanjian, bukan (sebagai) teman.

Baca juga:  Kerajaan Arab Saudi: Wanita Saudi Butuh Khilafah Rasyidah untuk Emansipasi yang Sesungguhnya

Selain itu, Islam menolak untuk memerangi sekutu di bawah panji kufur. Dan dengan menyetujui apa yang disebut penangguhan aneksasi bagian Tepi Barat, berarti penjajah “Israel” diakui sebagai negara. Ini seperti membuat perjanjian dengan seorang pencuri yang mengambil 1.000 koin emas dari Anda, lalu dia setuju untuk tidak mencuri lagi, jadi dia bisa menyimpan 1.000 koin emas curian tersebut.

Meski setidaknya, untuk saat ini, “Perdana Menteri” Netanyahu menyatakan ia hanya menyetujui “penundaan”. Apakah ada sesuatu yang tersisa untuk membela tindakan seperti itu?

Dan kasus Erdogan yang mengkritik normalisasi antara UEA dan “Israel”, bahkan lebih menyedihkan. Sebab, Turki tidak hanya mengakui entitas ilegal Zionis, namun Turki memiliki hubungan diplomatik, militer, dan ekonomi yang kuat dengan “Israel”, dan terlebih lagi dengan musuh terbesar Islam, AS.

Semua ini bukanlah karena narasi kaum kuffar yang kuat, tentu saja, mereka salah dan lemah. Tapi yang membuat mereka tampak kuat adalah kurangnya pemahaman dan kepercayaan umat pada Islam sebagai ideologi yang komprehensif dan mumpuni bagi semua manusia.

Saat umat melihat masalah yang kita hadapi saat ini hanya dengan Islam, kita bisa kuat kembali sebagaimana mestinya. Jika tidak, kita akan terus menerus disesatkan dan dipermalukan, lagi dan lagi. [MNews]

Sumber: https://s.id/q8rOO

3 thoughts on “Narasi Palsu di Balik Normalisasi UEA-“Israel”

  • 15 September 2020 pada 07:34
    Permalink

    Selalu Ada kepentingan terselubung

    Balas
  • 30 Agustus 2020 pada 16:39
    Permalink

    Penguasa negeri-negeri muslim saat ini diduga adalah antek-antek AS sehingga mereka bertekuk lutut di bawah dominasi AS. Apa pun yang diminta “tuannya” mereka akan lakukan walaupun menggadaikan diri dan kehormatannya.Bahkan menyakiti kaum muslimin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *