Editorial: Saat Khilafah bukan Sekadar Sejarah

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Ketakutan rezim akan berkembangnya ide Khilafah makin tampak jelas. Upaya take down tayangan trailer film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) di YouTube, dan beberapa kali upaya yang sama saat acara premiere film #JKdN berlangsung, adalah salah satu buktinya.

Pihak rezim tampak memahami betul konsekuensi pembiaran gagasan ini tersebar luas di masyarakat. Ide khilafah, kian disadari akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan hegemoni rezim sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang selama ini mereka jaga dan pertahankan.

Sebelumnya, memang sudah tampak upaya keras pihak rezim untuk mengerdilkan gagasan khilafah yang arusnya kian tak terbendung di tengah umat. Upaya monsterisasi, persekusi, alienasi, bahkan kriminalisasi para pengusungnya masif dilakukan.

Istilah radikalisme, moderasi Islam, dan narasi Pancasila pun dipakai sebagai senjata untuk menyerang gagasan khilafah. Targetnya, membangun narasi bahwa khilafah adalah ide berbahaya dan tak layak ditarik dalam konteks kekinian. Bahkan ide khilafah sudah seharusnya dikubur dalam-dalam.

Rupa-rupanya, rezim makin mantap berdiri bersama kepentingan negara adidaya. Bahkan dengan sadar memilih posisi melawan kebangkitan Islam demi jaminan dukungan bagi kekuasaan politik yang menyilaukan. Sampai-sampai mereka tega menjauhkan generasi umat ini dari akar sejarah kekhilafahan.

Maka, alangkah paniknya ketika rezim tahu bahwa buku-buku sekolah dan pesantren masih bercerita tentang khilafah. Tak hanya mengungkap sisi sejarah kegemilangannya saja, bahkan mengungkap posisinya sebagai bagian dari ajaran Islam.

Itulah pula mengapa, rezim begitu rela bersusah payah. Mensterilkan kurikulum sekolah dan pesantren dari narasi khilafah yang tentunya bukan perkara mudah.

Bahkan demi sukses jegal khilafah, semua perangkat strategis dimobilisasi sesuai arahan penjajah. Mulai dari kalangan akademisi, media massa, ormas dan aktivisnya, hingga kalangan “ulama” yang berkhidmat kepada Barat imperialis.

Namun alih-alih dijauhi masyarakat, ide khilafah justru makin menjadi perbincangan di tengah umat. Menandai kerinduan yang kian dalam untuk segera keluar dari sistem sekuler yang kian bobrok menuju sistem hidup yang penuh berkah.

Betapa tidak? Meski “wajah” khilafah belum begitu jelas, umat kian paham bahwa khilafah dan agama tak bisa dipisah. Maka saat ide khilafah terus diserang, mereka merasa bahwa agamalah yang sedang dilawan.

Mereka pun kian paham, bahwa sejarah peradaban Islam, termasuk berislamnya mereka, sejatinya tak mungkin lepas dari sejarah panjang kekhilafahan. Hingga saat khilafah dinista, mereka anggap sebagai penistaan terhadap agama.

Baca juga:  Khilafah Ajaran Islam: Istilah Khilafah, Makna Khilafah dan Khalifah (1)

Terlebih umat memang tak bisa menafikan fakta, bahwa saat agama dijauhkan, martabat dan kehormatan mereka kian tak terjaga. Begitu pun dengan harta dan nyawa. Siapa pun seolah berhak mencerabut meski tanpa haknya.

Mereka pun tak bisa menutup mata, betapa sistem yang ada telah membuat ketidakadilan begitu merajalela. Anugerah kekayaan alam yang demikian besarnya, hanya menjadi sumber malapetaka, berupa masifnya praktik penjajahan yang berujung penderitaan rakyat jelata.

Di luar itu, umat pun melihat, betapa kebebasan yang diagung-agungkan dalam sistem yang ada, juga tak kalah bahayanya. Terbukti, sebagian generasi mereka kian kehilangan martabat kemanusiaannya dan jatuh melebihi derajat binatang. Meninggalkan noda buruk dan potret suram bagi peradaban generasi yang akan datang.

Maka saat gagasan khilafah menggema, umat seolah melihat secercah cahaya di kegelapan. Bahwa khilafah, adalah rumah harapan yang akan memberi segala bentuk kebaikan di masa depan.

Terlebih mereka tahu, bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Sementara Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan. Sehingga menerima Islam dan khilafah mulai mereka pahami sebagai salah satu konsekuensi keimanan.

Khilafah memang bukan rukun iman. Juga bukan rukun Islam. Namun para ulama menyebutkan bahwa khilafah adalah mahkota kewajiban.

Dan baginda Rasulullah Saw sendiri menyifatinya sebagai simpul utama tempat terikatnya ajaran-ajaran Islam.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ

تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah kekuasaan dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR Ahmad)

Tanpa khilafah, syariat Islam kaffah nyatanya memang tak bisa dijalankan. Padahal tak ada pilihan bagi seorang muslim selain melaksanakan Islam secara keseluruhan. Karena jika tidak, berarti dia telah mengikuti jalan setan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Baca juga:  Trending! "Jejak Khilafah di Nusantara" Cetak Sejarah Dunia Perfilman

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208)

Oleh karenanya, upaya rezim menjauhkan umat dari khilafah, sama halnya dengan upaya menjauhkan umat dari Islam. Karena begitu banyak hukum-hukum Islam yang tak mungkin tegak tanpa khilafah.

Hukum-hukum Islam terkait persanksian, ekonomi, moneter, pergaulan, politik, pendidikan, media massa, informasi, polugri termasuk jihad, dan lain-lain, tak mungkin diterapkan tanpa institusi khilafah.

Sehingga jika ada yang mengatakan bahwa negeri ini sudah sesuai dengan Islam, maka jelas tak sesuai kenyataan.

Bukankah di negeri ini riba, zina, dan khamr dilegalkan? Bukankah di negeri ini para kriminal dimanjakan? Bukankah di negeri ini para penjahat pun bisa dengan mudah duduk di kekuasaan? Bahkan penjajah diberi karpet merah?

Umat justru kian paham, bahwa sistem demokrasi yang dijalankan, tak mengizinkan hukum-hukum Allah diberlakukan.

Karena sistem ini tegak di atas asas sekularisme yang mengagungkan kebebasan, sekaligus menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Kalau pun diberi ruang, agama hanya jadi pilihan dan bukan jadi kewajiban.

Maka tak heran, jika dalam demokrasi, ibadah mahdhah diperkenankan, tapi riba dan perjudian jadi pilar perekonomian. Kekayaan milik umum pun boleh dikuasai individu bahkan asing. Padahal, Islam menetapkannya sebagai milik bersama rakyat secara keseluruhan.

Begitu pun segenap ekspresi kebebasan. Sepanjang tak merugikan orang lain, “fine-fine” saja dipertontonkan. Termasuk berpindah-pindah agama dan aktivitas menyebarluaskan kesesatan.

Inilah yang menguatkan tesis, bahwa sejatinya sistem demokrasi kapitalis neoliberal adalah pilar penjaga bagi penjajahan. Bukan penjajahan fisik, tapi penjajahan budaya dan pemikiran di dunia Islam.

Wajar jika berbagai kemungkaran, krisis moral, ketidakadilan, krisis ekonomi berkepanjangan, ketergantungan kepada asing, bahkan keterjajahan terus mewarnai kehidupan umat Islam. Hingga pascaruntuhnya institusi khilafah, umat Islam jatuh terpuruk dalam waktu berkepanjangan.

Sungguh, umat hari ini memang butuh institusi khilafah. Tak hanya sebagai narasi sejarah, tapi sebagai ajaran yang semestinya segera mereka terapkan dalam kehidupan. Karena keimanan, memang menuntut demikian.

Hanya dengan khilafahlah, agama, kehormatan, nyawa, dan harta mereka akan terjaga. Karena khilafah adalah institusi penegak hukum Allah ‘Azza wa Jalla Yang Mahasempurna dan Mahaperkasa.

Baca juga:  Kemuliaan Dakwah dan Kehinaan Para Penentangnya

Sejarah tak akan lupa, jika umat ini pernah tampil sebagai umat mulia. Tak hanya selama dekade satu dua, tapi belasan abad lamanya. Dan tak hanya di belahan Timur Tengah sana, tapi hingga Eropa dan Nusantara.

Di sepanjang masa itu, lebih dari separuh penduduk dunia merasakan keagungan khilafah. Hingga mereka yang tak berislam pun, rela tunduk di bawah naungannya yang mulia.

Adalah pantas ulama terdahulu menempatkan penjagaan atas eksistensi negara khilafah ini dalam urusan yang ma’lumun min ad-diini bi adh-dharuurah. Yakni urusan yang semestinya dipahami urgensinya oleh setiap muslim. Bahkan ditempatkan sebagai urusan hidup matinya umat Islam.

Maka jika ada muslim yang tak peduli dengan perjuangan khilafah, meragukan kefarduannya, atau meragukan janji Allah tentangnya, atau bahkan membenci perjuangannya dan mencoba mengubur sejarahnya, maka sudah semestinya dia memeriksa keimanannya. Jangan-jangan di sana ada benih-benih kemunafikan, bahkan kekufuran.

Tidakkah mereka takut murka Allah SWT yang berfirman,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.” (QS An-Nisa 131)

Dan firman Allah Ta’ala,

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nuur : 63) Wallaahu a’lam bi ash-Shawwab. [MNews | SNA]

Bagaimana menurut Anda?

29 thoughts on “Editorial: Saat Khilafah bukan Sekadar Sejarah

  • 11 September 2020 pada 21:55
    Permalink

    Saat KHILAFAH tegak kembali.
    Back to KHILAFAH…..

    Balas
  • 1 September 2020 pada 09:34
    Permalink

    Hukum Islam mustahil dapat tegak tanpa Khilafah

    Balas
  • 30 Agustus 2020 pada 12:58
    Permalink

    Org2 yg tidak senang Islam mulai kepanasan. Mereka memaksakan utk menghilangkan fakta kebenaran

    Balas
  • 30 Agustus 2020 pada 06:52
    Permalink

    Agama dan negara seperti saudara kembar

    Balas
  • 29 Agustus 2020 pada 21:25
    Permalink

    Karena KHILAFAH adalah sebuah sistem dr sang Ilahi yg harus segera kita wujudkan.
    Saatnya kembali kepada sistem khilafah Rasyidah’alaa minhajinabi

    Balas
  • 29 Agustus 2020 pada 20:51
    Permalink

    “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

    Balas
  • 29 Agustus 2020 pada 09:19
    Permalink

    Ma syaa Allah, khilafah min hajinnubuwwah pasti akan tegak Insya Allah

    Balas
  • 27 Agustus 2020 pada 21:22
    Permalink

    Mereka ingin.menghadang dakwah..namun itu sia2..karena kemenangan Islam ibarat terbitnya matahari, yg tak bisa dihadang..

    Balas
  • 27 Agustus 2020 pada 08:21
    Permalink

    Alhamdulillah, umat makin sadar akn kepemimpinan Khilafah bagi dunia.

    Balas
  • 27 Agustus 2020 pada 08:19
    Permalink

    Alhamdulillah ide khilafah semakin ditentang akan semakin dikenang dan disenangi. Sekarang saatnya berbicara khilafah dan era khilafah. Orang-orang yang membencinya tidak akan sanggp memadamkan cahayanya, karena khilafah adalah Ajaran Ilahi yang akan senantiasa dijaga.

    Balas
  • 26 Agustus 2020 pada 21:16
    Permalink

    Masya Allah, sangat mencerahkan 🥺

    Balas
  • 26 Agustus 2020 pada 19:46
    Permalink

    Khilafah solusi fundamental atas kterpurukan yg adavl d dunia…ygvakan mmberikan solus atas semua problematikavyg ada…Allohu Akbar

    Balas
  • 26 Agustus 2020 pada 10:53
    Permalink

    Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira Rasulullaah SAW

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 23:18
    Permalink

    Dibalik kekejaman dan regresif rezim saat inj menanggapi JKDN, adalah bentuk ketakutan pada khilafah bukan sejarahnya sehingga rezim akan menghapus jejas yg mulai tampak oleh ummat untuk meniti kebenaran islam dan aturannya karena mengganggap ini ancaman pada kekuasaan rezim.

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 22:00
    Permalink

    Raatkan barisan dengan tetap semangat mendakwahkan khilafah walau nyawa taruhannya… Takbir!!

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 21:59
    Permalink

    Raatkan barisan dengan tetap semangat mendakwahkan khilafah walau nyawa taruhannya

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 21:55
    Permalink

    Hidup berkah dengan Khilafah ✨

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 20:30
    Permalink

    Khilafah ajaran Islam

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 19:48
    Permalink

    Khilafah khilafah pasti bangkit kembali.

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 18:02
    Permalink

    Khilafah adalah ajaran Islam yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita.

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 17:53
    Permalink

    Mashaa Allah.. Khilafah akan menjadi rahmatan lil’alamin jik diterapkan

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 17:40
    Permalink

    Tanpa khilafah, syariat Islam kaffah tak bisa dijalankan dan tak ada pilihan bagi seorang muslim selain melaksanakan Islam secara keseluruhan. Karena jika tidak, berarti dia telah mengikuti jalan setan.

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 17:04
    Permalink

    We need khilafah.. semoga umat semakin sadar dan turut memperjuangkan nya..

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 16:59
    Permalink

    Jika ada muslim yang tak peduli dengan perjuangan khilafah, meragukan kefarduannya, atau meragukan janji Allah tentangnya, atau bahkan membenci perjuangannya dan mencoba mengubur sejarahnya, maka sudah semestinya dia memeriksa keimanannya. Jangan-jangan di sana ada benih-benih kemunafikan, bahkan kekufuran.

    Balas
  • 25 Agustus 2020 pada 16:47
    Permalink

    Khilafah representasi keimanan..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *