Khilafah (dan Jejaknya) yang Tak Terbendung

Oleh: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia/ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Apa jadinya jika khilafah menjadi buah bibir di setiap sudut rumah umat Islam sedunia? Apa yang akan terjadi jika Islam kaffah menjadi tema paling menarik untuk diperbincangkan di webinar-webinar atau bahkan diskusi di warung kopi? Sesuatu yang bisa jadi tak terpikirkan, tapi mungkin saja itu terjadi. Saat ini!

Tagar #jejakkhilafahdinusantara sempat trending dan merajai jagat Twitter pada Kamis (20/08/2020). Tema khilafah memang semakin sering terdengar dan dibicarakan banyak orang.

Orang-orang tidak lagi tertukar-tukar saat mengucapkan kata khilafah, khalifah, atau “khofifah”. Semakin banyak orang yang bisa membedakan ketiga istilah ini.

#jejakkhilafahdinusantara sendiri viral bersamaan dengan pemutaran filmnya “Jejak Khilafah di Nusantara”. Sebuah film yang mengupas tentang sejarah Islam di Nusantara. Lengkap dengan sejarah awal kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Film ini diprakarsai Khilafah Channel bekerja sama dengan Komunitas Literasi Islam (KLI), diluncurkan bertepatan 1 Muharam 1442 Hijriah atau 20 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB.

Film ini adalah sebuah karya, yang akan membuka khasanah sejarah tentang bagaimana dulu rakyat Indonesia bisa mengenal Islam, juga tentang bagaimana hubungan peradaban dunia Islam (khilafah) dengan Nusantara.

Baca juga:  Khilafah, Format Bernegara Terbaik

Sejarawan Moeflich Hasbullah mengatakan, Khilafah itu bukan hal yang baru. Sudah ada hubungan antara Nusantara dengan kesultanan dalam Khilafah Turki Utsmani sejak abad ke-7.

Salman Iskandar, editor buku Api Sejarah yang fenomenal, menjelaskan, tatkala Islam membara di Timur Tengah, pengaruhnya sampai di Nusantara.

Nah, Khilafah itu apa?

Menurut Wikipedia, Khilafah (bahasa Arab: Al-Khilāfah) didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin.

Ketika Khalifahnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau dikenal dengan sebutan Khalifatu Ar-Rasulillah (penggantinya Nabi Muhammad). Ketika Khalifah Umar bin Khaththab, beliau disebut Amirul Mukminin (pemimpinnya orang beriman). Dan ketika masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, beliau disebut Imam Ali.

Khilafah adalah institusi pemerintahan Islam sejak masa para sahabat dan merupakan sebuah simbol keagungan Islam selama lebih dari 13 abad lamanya. Sudah hampir 100 tahun semenjak keruntuhannya, Khilafah kembali menjadi perbincangan semua kalangan, meskipun masih ada pro-kontra.

Pembicaraan tentang Khilafah tak terhindarkan. Khilafah semakin viral. Di dalam film Jejak Khilafah di Nusantara terdapat berbagai tanda berupa tempat peninggalan, makam, hingga manuskrip hubungan erat Khilafah dan Nusantara.

Baca juga:  Sekularisme Singkirkan Islam dari Negara

Bukti-bukti itu hingga kini masih ada dan begitu dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Hubungan Khilafah dan Nusantara semakin tak terbantahkan.

K.H. Rokhmat S. Labib, selaku ulama dan tokoh agama di Indonesia menuturkan bahwa Islam dan kekuasaan tidak bisa dipisah. Keduanya merupakan satu kesatuan.

“Agama adalah dasar, sementara kekuasaan adalah penjaga. Apa yang tidak memiliki dasar, maka akan runtuh. Apa yang tidak memiliki penjaga, maka akan hilang,” tuturnya.

K.H. Rokhmat S. Labib menerangkan bahwa Khilafah telah menebar hidayah dan menerangi negeri ini dengan Islam. Saat ada invasi Barat, Khilafah membantu negeri ini untuk terbebas dari penjajah dengan bantuan militer.

Apa yang disampaikan K.H. Rokhmat S. Labib nyata ditayangkan dalam film Jejak Khilafah di Nusantara. Bantuan militer yang dikirimkan oleh Khilafah kepada rakyat Aceh.

Beliau pun melanjutkan dengan menjelaskan sebuah hadis akan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah berdasarkan minhaj kenabian, sebuah kabar gembira bagi kaum muslimin.

“Bahwa setelah masa nubuwwah (kenabian) adalah masa Khilafah, dan akan kembali lagi Khilafah ala minhajin nubuwwah setelah kekuasaan diktator hari ini.”

Sampai detik ini, narasi khilafah terus bergulir tak terbendung. Seperti mata air jernih yang airnya mengalir ke segala penjuru. Antusiasme umat dan tokoh tentang khilafah dan kabar gembira seperti tertera dalam hadis tersebut begitu luar biasa.

Baca juga:  Islam Bukan Sebatas Rukun Islam dan Rukun Iman

Ini tampak dalam berbagai ajakan dan seruan tokoh untuk mendukung dan menyaksikan film Jejak Khilafah di Nusantara.

Saatnya kita mengambil bagian untuk menjadi pejuang tegaknya kembali Khilafah. Semoga Allah SWT. memberikan pahala yang besar bagi kita semua dan menyegerakan pertolongan-Nya. [MNews]

One thought on “Khilafah (dan Jejaknya) yang Tak Terbendung

  • 26 Agustus 2020 pada 23:29
    Permalink

    Setiap orang yang mengkaji subhat isme ciptaan manusia akan memahami bahwa Khilafah adalah solusi terbaik untuk perdamaian dunia. Khilafah menempatkan toleransi sebagai pondasi visi Rahmatan Lil Alamin. Sebaliknya, pemeluk maksiat lah yang anti terhadap Amar Makruf Nahi Mungkar. Sudah tiba saatnya untuk melepaskan semua atribut perbedaan yang mengarahkan pada subhat. Seperti citra semua agama menghendaki kebaikan dan kebenaran haruslah tegak dimuka bumi, maka ajaran yang paling benar haruslah memimpin Ideologi Global, agar isme-isme ciptaan manusia dan godaan ragu memasuki rahmat dalam kaffah tidak lagi menistakan nilai-nilai luhur yang mestinya dimuliakan oleh semua suku bangsa di dunia.
    (Dorowoni Akbar Bimantara)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *