Jas Hitam! Jangan Sekali-kali Menghitamkan Sejarah Islam: Wawancara dengan Rachmad Abdullah soal Jejak Khilafah

MuslimahNews.com, FOKUS – Pembahasan terkait adakah sejarah Khilafah di Nusantara, semakin ramai di tengah masyarakat. Berdasarkan film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN), jejak itu bahkan bermula sejak Bani Umayyah (abad VII).

Perihal tanah Jawa, JKdN menceritakan, dengan berdirinya Demak sebagai daulah Islam pertama yang berdaulat di tanah Jawa, bertambahlah kuatĀ bargaining politik Islam di kawasan Nusantara, bersama-sama dengan Kesultanan Samudera Pasai di Sumatra, Kesultanan Malaka di semenanjung Malaya, Kesultanan Brunei di Borneo, serta Kesultanan Sulu di Filipina.

Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd., penulis buku sejarah Islam, salah satunya berjudul “Wali Songo, Sultan Fattah, dan Kerajaan Islam Demak”, mengapresiasi film JKdN produksi Khilafah Channel ini, yang berusaha mengedukasi masyarakat dalam bentuk audio-visual agar paham sejarah Islam.

Simak hasil wawancara MNews dengan Rachmad Abdullah, pada Ahad (23/8/2020), berikut ini. (Adanya hubungan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak, sudah dijelaskannya di sini).


1- Bentuk relasi Kesultanan Demak dengan Negeri Timur Tengah dan Turki Utsmani.

Apakah ada relasi/hubungan para ulama-ulama dan pejabat Kesultanan Demak dengan negeri-negeri Timur Tengah dan Turki Utsmani? Seperti apa bentuknya?

Jawaban:

Ada. Misalnya ulama wali Sunan Gunung Jati pernah di Mesir, pusat Kekhalifahan Abbasiyah. Sultan Trenggono mendapat otoritas gelar dari Syarif Makkah tahun 1524. Syariah Makkah saat itu di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani sejak masa Yavuz Salim tahun 1517.

Baca juga:  Islam dan Penghapusan Kasta

2- Seberapa besar kuatnya hubungan Turki Utsmaniyah dengan Kesultanan Demak hingga pascaruntuhnya Kesultanan Demak?

Jawaban:

Hubungan Khilafah Utsmani dengan Kesultanan Demak cukup kuat. Karena para ahli meriam yang dikirim Sultan Sulaiman Al-Qanuni tiba di Aceh lalu ke Jawa di Kesultanan Demak.


3- Hubungan Fatahillah dengan Turki Utsmani.

Berdasarkan saran para ulama, tokoh masyarakat dan para pejabat Kesultanan Demak yang takut serangan Portugis kembali berlanjut, meminta Fadhillah (Fatahillah) untuk mempelajari teknologi pembuatan senjata meriam dan strategi perang menghadapi bangsa Eropa yang lebih maju.

Fatahillah akhirnya merantau diawali ke Nasrabat hingga ke Turki Utsmani. Benarkah hanya belajar atau sekaligus meminta bantuan ke Turki Utsmani?

Jawaban:

Belajar sejarah maupun ajaran apa pun, pertama kali yang harus ditanyakan adalah kesahihan sumber (validitas sumber). Sebatas hasil pembacaan dan tulisan saya, Fatahillah hijrah dari Pasai ke Makkah (akibat Portugis menguasai Pasai) antara sekitar tahun 1522-1524.

Ia belajar Islam di Makkah cukup lama. Karena Makkah saat itu di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani, maka mungkin saja Fatahillah minta bantuan Turki Utsmani. Namun tidak bisa hanya menduga. Harus cari sumber berita.

Bisa baca kitab karya Ibnu Iyas yang hidup di masa itu, berjudul Badai’ adz-dzuhur. Jilid yang abad 900 H.

Baca juga:  Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

4- Pengaruh budaya Turki di Masa Kesultanan Demak.

Adakah pengaruh budaya Turki Utsmani, misal dari sisi pakaian, makanan, atau perayaan keagamaan di masa Kesultanan Demak?

Jawaban:

Kalau pengaruh budaya Turki Utsmani terhadap Kesultanan Demak dari sisi pakaian, makanan, dan perayaan keagamaan, belum saya ketahui. Pastinya, karena sama-sama Islam, maka perayaan Hari Raya Idulfitri dan Iduladha pastinya sama. Sama-sama salat Id, misalnya.


5- Tanggapan soal film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara.

Bagaimana tanggapan ust soal keriuhan film JKdN (Jejak Khilafah di Nusantara), antusiasme masyarakat terhadap isu khilafah, fenomena apa?

Jawaban:

Sebagai Muslim sekaligus pecinta dan penulis buku sejarah Islam, sebagian besar penjelasan dalam film JKdN bagi sejarawan bukan sesuatu hal yang baru, bahkan sebagian sejarawan Barat semacam Denys Lombard, Anthony Reid, De Graaf, dan lainnya pun membenarkan adanya fakta sejarah itu, sebagaimana bisa dibaca dalam buku-buku mereka.

Namun, bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia banyak yang belum tau, (film ini) ikut membantu mengajarkan pelajaran sejarah Islam, yang selama ini minat baca buku (masyarakat) sangat kurang. Sehingga sangat mengedukasi dalam bentuk audio-visual agar paham sejarah Islam.


6- Pandangan sejarawan terhadap janji tegaknya Khilafah.

Ada adagium: jika kita mengetahui masa lalu, maka kita bisa menentukan masa depan. Bila dikaitkan dengan jejak khilafah di Nusantara ini, bahkan jejak di dunia, dengan janji Allah kelak khilafah tegak, bagaimana pandangan ustaz sebagai sejarawan dan tanggung jawab sejarawan soal ini?

Jawaban:

Baca juga:  Pelajaran dari Kesuksesan Film JKdN

Islam mengajarkan untuk melihat masa lalu demi kebaikan masa depan dan kehidupan akhiratmu. Bagi muslim, belajar sejarah bukan karena hobi atau minat, namun kewajiban.

Bagaimana bisa seorang muslim tidak mau mempelajari dan mencintai sejarah Islam? Sedangkan pedoman hidupnya Alquran dan Sunah banyak tentang kisah-kisah (Al-Qashash) dengan segala ‘ibrah dan hikmahnya?

Jika dulu umat Islam dijajah secara fisik oleh bangsa asing Kristen Barat asal Eropa (Spanyol, Portugal, Belanda, Prancis, Inggris), maka sejak kemerdekaan masih dijajah secara intelektual.

Salah satunya dengan mengajarkan IPS sejarah dengan cara pandang Barat yang empiris-rasionalis, menolak wahyu. Sehingga, tidak akan ketemu dengan Nubuwwah akhir zaman yang berdasarkan wahyu. Misalnya akan datangnya Al-Mahdi, keluarnya Dajjal, dan turunnya Nabi Isa putra Maryam.

Perseteruan antara kaum beriman pembela Al-Haq melawan kaum kafirin dan munafiqin akan terus terjadi sampai menjelang hari kiamat. Jadi, banyak upaya penghitaman sejarah Islam. Maka, Jas Hitam!: Jangan sekali-kali menghitamkan sejarah Islam. Wallahu a’lam. [MNews | NMN]

23 thoughts on “Jas Hitam! Jangan Sekali-kali Menghitamkan Sejarah Islam: Wawancara dengan Rachmad Abdullah soal Jejak Khilafah

  • 30 Agustus 2020 pada 07:01
    Permalink

    Jas hitam jgn menghitamkan sejarah

    Balas
  • 29 Agustus 2020 pada 18:49
    Permalink

    MaasyaAllah, terima kasih penjelasannya

    Balas
  • 28 Agustus 2020 pada 16:32
    Permalink

    Betul. Perseteruan antara kaum beriman pembela Al-Haq melawan kaum kafirin dan munafiqin akan terus terjadi sampai menjelang hari kiamat. Saatnya bangkit memenangkan kebenaran.

    Balas
  • 27 Agustus 2020 pada 08:27
    Permalink

    alhamdulillah film JKDN semakin mengedukasi kita thd posisi sejarah terkait dg kekhilafahan dan tidak hnaya itu semakin meyakinkan pada diri bahwa khilafah itu ada di nusantara dan sangat lekat dengan kita.

    Balas
  • 24 Agustus 2020 pada 07:09
    Permalink

    Maa syaa Allah Islam takkan bisa dikaburkan.

    Balas
  • 24 Agustus 2020 pada 05:40
    Permalink

    Perseteruan antara kaum beriman pembela Al-Haq melawan kaum kafirin dan munafiqin akan terus terjadi sampai menjelang hari kiamat. Jadi, banyak upaya penghitaman sejarah Islam. Maka, Jas Hitam!: Jangan sekali-kali menghitamkan sejarah Islam.

    Balas
  • 24 Agustus 2020 pada 04:37
    Permalink

    Smakin jelas Jejak khilafah di nusantara.. Allahu Akbar!

    Balas
  • 24 Agustus 2020 pada 04:20
    Permalink

    Sejarah Islam memang banyak yg dihitamkan. Kalau bukan kita yang menguaknya agar terang, maka siapa lagi…?

    Balas
  • 24 Agustus 2020 pada 04:19
    Permalink

    Maa syaa Allah.. semakin jelas adanya hubungan Nusantara dgn khilafah di turki Utsmaniyah. Semoga semakin semangat berjuang, unt tegaknya kembali Islam dlm naungan khilafah

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 22:12
    Permalink

    JAS HITAM = MUBAH
    HITAMKAN SEJARAH = DZOLIM

    Rezim memang gegabah untuk hitamkan sucinya islam, begitu nyata baik secara empirik atau teoritik bagi orang2 yg melek fakta dan pengetahuan, hanya orang bodoh yg menafikkannya.

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 21:45
    Permalink

    MasyaAllah… Jejak khilafah di Nusantara jayaaa..

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 21:33
    Permalink

    Telah tampak bukti yang nyata tentang sejarah kita. Masihkah kita ragu dengan sejarah hub Nusantara dan Khilafah?

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 21:19
    Permalink

    Semakin melek jika nonton filmnya

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 20:54
    Permalink

    Allahuakbar!!!
    Dengan adanya JKDN banyak orang2 yg sudah tau apa itu khilafah dan tentu bukan ancaman malahan sebaliknya justru tegakx Islam di muka bumi bisa memuliakan ummat manusia

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 20:54
    Permalink

    Masyaalloh…
    Jika dulu umat Islam dijajah secara fisik oleh bangsa asing Kristen Barat asal Eropa maka sejak kemerdekaan masih dijajah secara intelektual.

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 20:48
    Permalink

    Maa syaa Allah,semoga umat molai sadar dan berjuang bersama mewujudkan tegakknya islam.

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 20:43
    Permalink

    MasyaAllah…..yang menghitamkan sejarah adalah orang ” Yg panik khawatiran kekuasaannya terancam dengan adanya umat faham sejarah khilafah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *