Doktor UIN Ungkap Bukti Hubungan Ottoman-Kesultanan Jawa, Peter Carey Terbantahkan?

MuslimahNews.com, NASIONAL – Sejarawan Prof. Peter Carey merilis siaran pers tentang tidak adanya hubungan Ottoman dan kesultanan-kesultanan di Pulau Jawa.

Rilis disampaikan asistennya, Christopher Reinhart, di akun Twitter-nya @reireinhart pada Rabu sore (19/8/2020), sehari sebelum peluncuran film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara yang sedang viral.

Sanggahan itu disebut hasil korespondensi Prof. Peter Carey dengan Dr. Ismail Hakki Kadi, ahli sejarah Utsmaniyah-Asia Tenggara pada Selasa (18/8/2020).

Namun, seorang Doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Kasori Mujahid, mempunyai perspektif yang berbeda.

Pemerhati sejarah asal Solo ini mengungkap, terdapat arsip Turki Utsmani yang menyebut para penduduk di Jawa dan Sumatra di masa lampau, sebelum Islam datang.

Berdasarkan bukti-bukti (peninggalan) kuil, candi, dan kuburan, ditemukan para penduduk memeluk agama Buddha dan Brahma -yang berasal dari Cina dan India.

Namun menjelang abad XIII, terjadi migrasi besar-besaran kaum muslimin Arab dan Persia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam.

Sejak itu penduduk Jawa dan Sumatra mengalami transformasi agama dengan damai, selanjutnya Islam pun berakar di masyarakat.

Tidak hanya itu, Doktor yang menulis disertasi tentang relasi Demak dengan Turki Utsmani ini menjelaskan, pada abad yang lebih muda, ada surat yang merekam ucapan selamat Pakubuwono X saat Sultan Abdul Hamid II selamat dari upaya pembunuhan dan kudeta.

Dilansir dari Republika.com (21/8/2020), Dr. Kasori mengungkap surat tersebut ada pada arsip Turki Utsmani. Isinya menjelaskan ucapan selamat Sultan Surakarta Abdurrachman (gelar PB X).

Baca juga:  Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

Isi korespondensi yang ditunjukkan Dr. Kasori adalah sebagai berikut:

“Cava Adasindaki Surakarta gehrinin rocasi Abdurrchman’in, Sultan 2. Abdulha mid suikasttan kurtulmasi uzerine Batavya Bo cehbenderligi araciligryla urz ettiyi tebrik yazisinin, sultan’a sunuldugu hakkindadir.”

Korespondensi ini jelas membantah rilis Prof. Peter Carey yang mengatakan tidak ada hubungan antara keduanya.

Dr. Kasori juga mengungkap bahwa banyak sumber Barat mencatat hubungan para ulama Demak dengan negeri-negeri di Timur Tengah dan Turki Utsmani. Di antara sejarawan yang menulis relasi tersebut adalah Tome Pires, Mendez Pinto, dan H. J. De Graaf.

“Mereka menulis itu dengan alasan yang kuat. Relasi itu ada terlepas apakah cuma inspirasi atau hubungan diplomasi,” ujarnya, dilansir dari perbincangannya dengan Republika via sambungan telepon, Kamis (20/8/2020) malam. 

Dalam buku Kerajaan-Kerajaan Islam karya Graaf dan Pigeaud, contohnya, Graaf mencatat hubungan internasional masyarakat Jawa dengan Turki Utsmani sudah terjalin sejak berdirinya Kesultanan Demak.

Demak membangun komunikasi dengan Turki Utsmani melalui para ulamanya, baik dalam urusan pengembangan dakwah Islam maupun bidang lainnya.

Dalam bukunya, Graaf menerangkan Jemaah (ulama) Demak mempunyai akses langsung untuk membangun kerja sama dengan Syarif Makkah, bahkan Turki Utsmani, seperti peran Sunan Gunung Jati dalam pengusulan pemberian gelar sultan bagi Sultan-Sultan Demak.  

Dalam kutipannya, Graaf menyatakan:

“Terdapatnya Jemaah yang sangat berpengaruh dan dapat mengadakan hubungan dengan pusat-pusat Islam internasional di luar negeri (di Tanah Suci Makkah, dan bila perlu dengan Khilafat Turki) mungkin merupakan hal yang membedakan pemerintahan negara Keraton Majapahit “kafir” lama itu dengan Kesultanan Demak yang masih muda.”

Graaf menulis, sebelum Demak berdiri, para ulama di Jawa telah membangun hubungan dengan Turki Utsmani yang saat itu terkenal di dunia Islam setelah merebut Konstantinopel. Graaf merujuk data dari Tome Pires yang pernah melancong ke Demak dan menulis perjalanannya sekitar tahun 1515. 

Akan tetapi, Dr. Kasori menambahkan, Graaf tidak merinci hubungan dan kerja sama lain antara Turki dan Demak. Graaf tidak menyebut secara jelas kapan terjadinya hubungan Turki-Demak; bagaimana kronologinya; serta kapan Raden Fatah, Pati Unus, ataupun Trenggana diresmikan menjadi Sultan oleh Syarif Makkah.

Dengan demikian, jelas pernyataan Prof. Peter Carey mengenai tidak adanya hubungan antara Ottoman (Turki Utsmani) dengan kerajaan-kerajaan/kesultanan-kesultanan Jawa, terbantahkan. Bahkan bisa mengarah pada upaya pengaburan dan penguburan sejarah. [MNews]


Dr. Kasori Mujahid sedang memegang panji di Museum Tekstil Jakarta – (Facebook-Kasori Mujahid)

One thought on “Doktor UIN Ungkap Bukti Hubungan Ottoman-Kesultanan Jawa, Peter Carey Terbantahkan?

  • 21 Agustus 2020 pada 12:15
    Permalink

    kebenaran Cahaya Islam akan tetap terpancar dan terus bersinar walau orang2 yg tak suka dg Islam mencoba menghalangi… Allahu Akbar!!!

Tinggalkan Balasan