Konsistensi Indonesia dalam Program Deradikalisasi

Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS – Pada 6 Agustus 2020, Menlu Retno Marsudi memimpin Debat Terbuka Tingkat Tinggi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Pertemuan tersebut membahas tentang keterkaitan antara Penanggulangan Terorisme dan Kejahatan Terorganisir.

“Indonesia menekankan bahwa perang terhadap pandemi tidak boleh menyurutkan upaya kita dalam mengatasi ancaman terorisme,” ujar Retno.

Apa yang disampaikan Retno tersebut sejalan dengan resolusi DK PBB nomor 2.532 terkait Covid-19 yang menyerukan gencatan senjata selama pandemi kecuali untuk memerangi terorisme.

Untuk mengantisipasi ancaman yang lebih besar dari keterkaitan (nexus) antara terorisme dan kejahatan terorganisir, Indonesia menyampaikan tiga hal penting.

Pertama, penting bagi negara-negara untuk menyesuaikan kebijakan dalam menangani keterkaitan antara terorisme dan kejahatan terorganisisr yang selama ini diambil.

Kedua adalah menyoal penguatan infrastruktur hukum dan institusi menghadapi nexus dalam kedua keterkaitan ini.

Poin ketiga adalah dengan memperkuat mekanisme kawasan dalam merespons fenomena dua kejahatan tersebut. [i]

Menurut Retno, sinergi antara organisasi kawasan dan organisasi internasional menjadi sebuah keniscayaan dalam mengatasi keterkaitan antara terorisme dan kejahatan terorganisir. Ini dapat dilakukan melalui tukar menukar informasi dan berbagi pengalaman mengenai praktek terbaik.

Radikalisme tergantung Siapa

Meski Menlu RI, bahkan dunia, menyuarakan bahaya besar dari radikalisme/terorisme, nyatanya hingga hari ini definisi kedua terminologi itu masih debatable.

Menurut Rezasyah, pengamat hubungan internasional dari President University, hingga saat ini belum ada definisi terorisme yang disepakati bersama. Negara-negara, mendefinisikan terorisme sesuai dengan preferensi mereka masing-masing.

Bagi Amerika -sebagai negara adidaya abad ini-, dengan semena-mena mendefinisikan terorisme. AS membangun porosnya, antara teroris dan bukan teroris.

Hal ini tampak dari pidato George W. Bush selepas peristiwa 9/11. Dengan pongahnya Bush menyampaikan,

Negara kita saat ini sedang rentan dari marabahaya, dan kami semua harus bertahan. Dengan situasi berduka seperti ini, kita harus bertindak, apakah kita bakal bawa musuh kita dalam keadilan atau memberi keadilan untuk musuh kita. Kami tidak akan lelah, kami tidak akan goyah, kami tidak akan gagal. Semua bangsa punya pilihan sendiri. Apakah mau bergabung bersama kami atau ingin bersatu dengan teroris”.[ii]

Baca juga:  Advokat Ini Ungkap Dua Kejanggalan Dijadikannya Mbai sebagai Ahli Di PTUN

Pilihan hanya satu: ikut Amerika jika tak mau dicap sebagai teroris.

Dari peristiwa 9/11 tersebut, muncullah berbagai isu-isu baru mengenai terorisme. Media-media kemudian banyak memberitakan terorisme yang terkait dengan Al Qaida yang identik dengan Arab dan Islam.

Melalui propaganda media itu, masyarakat Amerika begitu marah kepada muslim yang berada di sana. Sampai saat ini, Islam seperti masih termarginalkan anggapan-anggapan tersebut.

Realitas hari ini menunjukkan, kebijakan Presiden Donald Trump yang melarang beberapa negara yang mayoritas negaranya beragama Islam, mendukung klaim terorisme bakal terus dikaitkan dengan Islam.

Fatalnya, sikap anti-Islam tersebut diadopsi penguasa negeri-negeri muslim. Indonesia pun tak luput dari hal itu.

Ketika Amerika membuat framing bahwa terorisme dan radikalisme dengan menunjuk jari pada ajaran Islam dan kum muslimin, penguasa Indonesia pun tidak menentang meski mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Maka terhitung sejak pidato Bush tersebut, Amerika Serikat mulai menerjunkan pasukan militer dan anggota intelijen untuk menggempur Taliban di Afghanistan. Sejak itu juga, banyak negara-termasuk Indonesia memperketat Undang-Undang Anti-Terorisme.

Oleh karena itu, tak heran jika seruan lawan radikalisme/terorisme tak surut di negeri ini meski dalam kondisi pandemi.

Sebagaimana dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Banten. BNPT mengajak masyarakat Banten merawat perdamaian untuk mencegah radikalisme dan terorisme yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kita harus mampu mencegah radikalisme dan terorisme karena merupakan bentuk ancaman yang nyata bagi kedamaian Indonesia,” kata Inspektur BNPT Buntoro saat dialog “Internalisasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Moderasi Beragama” dengan tema “Moderasi Dari Sekolah” di Pandeglang.[iii]

Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar bahkan menyatakan, di tengah pandemi Covid-19 masyarakat perlu mewaspadai 2 (dua) virus yang sama-sama mematikan, yaitu Corona dan Radikalisme/terorisme[iv].

Oleh karenanya, perlu terlibatnya komponen bangsa untuk menanggulangi. Terutama para guru diminta terlibat aktif dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme.

Baca juga:  [Editorial] Home Learning, kok Bikin Pusing?!

Yakni dengan memasukkan materi ajar tentang cara mencintai sesama manusia, menghargai perbedaan, toleransi kepada yang berlainan keyakinan, dan menjalankan ajaran agama sesuai keyakinan tanpa mengusik keyakinan orang lain.

Termasuk tidak mengajarkan materi yang dianggap berpotensi menumbuhkan radikalisme dan terorisme. Apakah itu? Tak lain adalah ajaran-ajaran Islam, dakwah, khilafah, dan jihad.

Oleh karenanya, tak heran jika pemerintah pun menarik buku-buku yang memuat konten tersebut pada kurikulum tahun ajaran baru ini.

Tak berhenti di situ, untuk mendukung argumen bahwa Islam dan kaum muslimin layak diwaspadai, mereka menunjukkan hasil penelitian beberapa LSM dan lembaga riset yang didanai Australia-Indonesia Centre.

Mereka paparkan ada tiga tipe sekolah yang berisiko tumbuhkan ajaran radikal:

Pertama, Sekolah tertutup (closed schools). Yakni sekolah yang mengajarkan tsaqafah Islam dan membenturkan peradaban Barat dan Islam.

Kedua, Sekolah terpisah (separated schools). Yakni sekolah yang selektif dalam perekrutan guru. Harus sevisi dan seide.

Ketiga, Sekolah yang mengajarkan identitas Islam murni (schools with pure Islamic identity). Yakni sekolah yang menjadikan Islam sebagai konstruksi identitas tunggal dan menolak identitas-identitas yang lain.[v]

Dari sini makin jelas, tudingan sebagai pelaku teroris/radikal tak lain adalah Islam dan kaum muslimin.

Kesimpulannya, identitas kemusliman dianggap berbahaya. Seorang muslim yang menunjukkan identitas kemuslimannya, akan bermasalah. Dan yang gencar hari ini dilakukan adalah dibenturkannya identitas kemusliman dengan identitas sebagai warga negara, yakni identitas nasional.

Padahal, sejarah membuktikan negeri ini merdeka melalui tangan para pejuang yang mayoritas beridentitas muslim. Mereka pun berjuang atas dorongan semangat jihad -yang dianggap sebagai ajaran radikal.

Seorang individu muslim adalah individu yang cinta akan negerinya. Tak rela negerinya dikotori oleh tangan-tangan penjajah kuffar. Tak rela negeri subur dan kaya ini diatur sistem kapitalisme yang rusak dan serakah.

Tak pernah tertayang di media, bahwa koruptor, penjual negeri ke kalangan investor asing, adalah orang-orang yang bangga menunjukkan identitas kemuslimannya. Namun sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang berteriak Pancasila dan NKRI harga mati.

Baca juga:  Mahfud: Proyek Perang Melawan Radikalisme Merugikan Umat Islam, Menguntungkan Barat

Konsisten dengan Identitas Muslim

Apakah benar persoalan besar bangsa ini, bahkan dunia saat ini adalah radikalisme? Hingga perang yang lain dibolehkan gencatan senjata, perang terhadap radikalisme dan terorisme tak boleh dihentikan?

Tidak benar! Jelas ini merupakan penyesatan opini yang membutakan mata dan menulikan telinga. Jangan sampai seorang muslim termakan opini tersebut.

Bagi individu muslim yang berikrar hanya Allah SWT semata sebagai Tuhan yang layak disembah dan tiada Tuhan selain-Nya, wajib tunduk dan patuh atas segala perintah-Nya serta berserah diri seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah.

Tak perlu takut menunjukkan identitas kemuslimannya. Justru seorang muslim haruslah menunjukkan sikap cinta dan benci karena Allah saja melalui prinsip Al Wala wal Bara’.

Prinsip akidah ini merupakan tanda kesempurnaan iman seorang muslim dan lurus tidaknya tauhid hanya kepada Allah. Prinsip ini wajib dijaga dan istiqamah di dalamnya.

Wujud dari prinsip Al Wala ini adalah mencintai, berkasih sayang, lemah lembut, persaudaraan dan loyalitas terhadap sesama muslim sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Sedangkan wal Bara’ adalah menunjukkan kebencian kepada yang Allah benci, yaitu membenci musuh-musuh Allah seperti orang kafir dan musyrikin dengan menjauhi dari mereka, memisahkan diri darinya, dan berlepas diri dari segala bentuk kekufuran dan pelakunya.

Identitas muslim inilah yang membebaskan negeri ini dari tangan penjajah kufur. Dengan identitas muslim pula, hari ini terus berjuang menyuarakan rusaknya sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini, serta mulianya syariat dalam sistem Islam.

Identitas muslim ini pula yang tengah menjemput bisyarah Rasulullah dan janji Allah SWT akan tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Hanya dalam naungan Khilafah, individu muslim, umat dan bangsa ini bisa wujudkan makna hakiki “merdeka” –yakni semata menghamba kepada Allah SWT. Wallahu a’lam


Referensi:

[i] https://republika.co.id/berita/qeop9x459/menlu-retno-pimpin-sidang-dk-pbb-secara-virtual

[ii] https://www.liputan6.com/global/read/2107796/20-9-2001-presiden-bush-kobarkan-perang-lawan-teroris-911

[iii]https://www.antaranews.com/berita/1653626/bnpt-ajak-masyarakat-banten-rawat-perdamaian-cegah-radikalism2

[iv]https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/seputar-banten/pr-59653968/bersama-bnpt-fkpt-banten-berikan-pemahaman potensi-dan-dampakradikalisme

[v] https://theconversation.com/radikalisme-di-sekolah-swasta-islam-tiga-tipe-sekolah-yang-rentan-96722

22 thoughts on “Konsistensi Indonesia dalam Program Deradikalisasi

  • 21 September 2020 pada 08:16
    Permalink

    Jangan takut menunjukkan jati diri kita sebagai muslim sejati.meski dianggap radikal yang ga jelas makna yg dimaksud.
    Padahal terorisme dan radikalisme adalah bukan dari Islam.
    “Mereka “adalah teroris yang sebenarnya.

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 21:38
    Permalink

    Hanya dalam naungan Khilafah, individu muslim, umat dan bangsa ini bisa wujudkan makna hakiki “merdeka” –yakni semata menghamba kepada Allah SWT

    Balas
  • 23 Agustus 2020 pada 18:48
    Permalink

    Setuju. Sekarang yg diurusi adalah terorisme
    Sekulerisme menjamur dan dibiarka Akibatnya semakin matak lgbt, freesex. Mengapa ini tidak dibasmi ?

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 22:24
    Permalink

    Menyiarkan islam sedikit dikit dibilang teroris

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 20:33
    Permalink

    Astaghfirullah.. apa Ndak takut nanti di akhirat nya pho ya, sedih akutu

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 15:13
    Permalink

    Konsisten dalam keislaman

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 15:10
    Permalink

    Konsisten dalam kebenaran

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 20:05
    Permalink

    Mereka tak akan pernah berhenti untuk menghancurkan islam

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 10:31
    Permalink

    Sesuai dengan narasi yang dipesankan oleh tuan pengemban mabda’ kapitalis. Oleh karena itu umat Islam jangan berhenti untuk memperjuangkan Islam kaffah karena kebenaran pasti akan mengalahkan keburukan.

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 06:11
    Permalink

    Allahu Akbar!!!!!

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 00:49
    Permalink

    Kembali kepada identitas seorang muslim, menerapkan Islam kaffah wujud dari keimanan.

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 00:06
    Permalink

    Program sebagai loncatan sebagai hegemoni yg mana menjadi permintaan maka akan menjadi hukum

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 23:11
    Permalink

    Masya Allah Al wala wal bara’

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 22:46
    Permalink

    Astaghfirullah. Mereka terus saja memperburuk Islam dengan cara apapun

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 22:35
    Permalink

    Allahu Akbar, semakin musuh Allah meredupkan eksistensi Islam, semakin bersinar citra Islam di mata umat, semoga kaum muslimin segera bersatu dlm naungan khilafah menghancurkan musuh Islam

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 20:58
    Permalink

    Rakyat butuh penanganan serius terhadap pandemi bukan malah sibuk ngirusin terorisme yg selalu di sematkan kepada Islam dan umatnya

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 20:44
    Permalink

    Tak perlu takut menunjukkan identitas kemuslimannya. Justru seorang muslim haruslah menunjukkan sikap cinta dan benci karena Allah saja melalui prinsip Al Wala wal Bara’.

    Prinsip akidah ini merupakan tanda kesempurnaan iman seorang muslim dan lurus tidaknya tauhid hanya kepada Allah. Prinsip ini wajib dijaga dan istiqamah di dalamnya.

    Noted

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 20:39
    Permalink

    Musuh2 Islam tidak pernah ridha dengan kemurnian aqidah kaum muslimin.
    Saatnya ummat Islam bangkit
    Merdeka adalah ketika kita bisa tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah tanpa tekanan.

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 20:27
    Permalink

    Hanya dalam naungan Khilafah, individu muslim, umat dan bangsa ini bisa wujudkan makna hakiki “merdeka” –yakni semata menghamba kepada Allah SWT. Wallahu a’lam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *