Jejak Kelam Penghancuran Khilafah di Libanon

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Jika saat ini Indonesia sedang viral kabar film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara, maka ada baiknya kita tengok juga jejak kelam penghancuran Khilafah di Libanon.

Ya, awal Agustus 2020, dua ledakan besar terjadi di Beirut, Libanon. Begitu dahsyatnya hingga menelan banyak korban nyawa dan luka. Ledakan besar terjadi di daerah pelabuhan di Beirut dan suaranya terdengar di seluruh negara kecil hingga ke timur Siprus, 240 kilometer (150 mil) jauhnya.(detik.com, 05/08/2020)

Tak hanya itu, sejak beberapa hari sebelumnya, sudah banyak diberitakan Libanon memang tengah dilanda krisis ekonomi yang memicu ketegangan politik.

Krisis ekonomi ini belum pernah terjadi sebelumnya di Libanon. Mendorong puluhan ribu orang ke jurang kemiskinan dan memicu protes antipemerintah terbesar yang pernah terjadi di negara itu dalam lebih dari satu dekade.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda awal tahun ini, Lebanon memang sudah tampak akan mengalami krisis. Utang publik terhadap produk domestik bruto (apa yang dimiliki suatu negara dibandingkan dengan apa yang dihasilkannya) adalah yang tertinggi ketiga di dunia; pengangguran mencapai 25%; dan hampir sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan (bbc.com, 05/08/2020).

Dan yang terjadi berikutnya, setelah ledakan Beirut yang mengerikan itu, Perdana Menteri Lebanon mengumumkan Pemilu akan dilaksanakan lebih awal sebagai satu-satunya cara mengeluarkan Libanon dari krisis yang dihadapinya.

Namun lebih dari itu semua, ada sebuah memori kelam yang semestinya diingat kaum muslimin perihal Libanon. Bukan soal bahwa Libanon adalah bagian dari negeri-negeri muslim. Melainkan kaitan Libanon dengan rangkaian peristiwa menuju penghancuran Khilafah yang berpusat di Istanbul pada 1924.

Dikutip dari kitab “Kaifa Hudimat al-Khilafah”, saat itu masih terus berlangsung upaya negara-negara Eropa, khususnya Inggris, Prancis, dan Rusia, untuk menghapuskan Negara Khilafah.

Di antara berbagai upaya yang telah dilakukan, mereka menemukan suatu formula busuk untuk menghancurkan Khilafah. Yakni dengan membangkitkan semangat nasionalisme dan kecenderungan memisahkan diri dari Khilafah, yang di kemudian hari disebut “kemerdekaan”.

Baca juga:  Komparasi Indonesia - Suriah

Mereka memusatkan kegiatannya ini kepada bangsa Arab dan Turki. Dua markas kegiatan pun didirikan untuk melaksanakan misi ini.

Pertama, markas di Istanbul, untuk menyerang Khilafah di ibu kotanya. Kedua, markas Beirut untuk menyerang Khilafah melalui provinsi-provinsinya, khususnya di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Arab.

Markas Istanbul dirancang sebagai rencana jangka pendek, untuk mendapatkan hasil dalam waktu singkat namun dengan konsekuensi yang luas. Markas Beirut digunakan untuk kerja jangka panjang. Yakni agar mencapai hasil dengan jangkauan yang luas hingga mampu mengubah ribuan anak kaum muslimin menjadi kafir.

Selanjutnya, mengubah hubungan yang Islami menjadi hubungan yang dilakukan sesuai aturan-aturan kufur. Yang bahkan markas Beirut pada akhirnya mampu memukul Khilafah selama Perang Dunia I dengan sangat efektif.

Realitas ini menunjukkan markas Beirut memang dirancang layaknya suatu racun yang mematikan. Ini karena keberadaannya bertugas menyebarluaskan berbagai ilmu pengetahuan kepada kalangan orang dewasa, serta mendirikan sekolah bagi anak-anak.

Selain itu, memberikan motivasi kepada kalangan dewasa dan anak-anak, membiasakan mereka dengan budaya Barat, mengajarkan pemikiran-pemikiran Barat, serta mengarahkan mereka untuk tujuan-tujuan tertentu.

Mulailah berikutnya, munculnya gerakan (partai) politik pemuda Nasrani yang mendasarkan gerakannya pada nasionalisme Arab. Partai ini bernama “The Secret Association”. Partai ini berusaha membangkitkan permusuhan kepada Khilafah Turki Utsmani dan menyebutnya sebagai “Negara Turki”.

Partai ini memperjuangkan pemisahan agama dari negara, menegakkan nasionalisme Arab sebagai dasar persatuan, dan mengubah kesetiaan (wala’) kaum muslimin yang sebelumnya kepada akidah Islam, beralih menjadi nasionalisme Arab.

Partai ini juga menerbitkan selebaran (leaflet) dan menyebarkannya secara rahasia. Selebaran tersebut berisi tuduhan kepada Turki yang diklaim merebut Khilafah dari tangan bangsa Arab, melanggar kemuliaan syariat Islam, dan menyalahgunakan agama.

Masalahnya, kaum muslimin dari kalangan bangsa Arab jadi mengabaikan kenyataan bahwa yang mengurus dan menjalankan partai tersebut seluruhnya berasal dari kalangan Nasrani yang sejak kecil dididik untuk membenci Islam.

Jadi sangat jelas, kegiatan di Beirut ini memang bertujuan untuk menghancurkan pemikiran Islam dan jiwa kaum muslimin.

Ironisnya, dampak dari realitas sejarah kelam menuju penghancuran sistem Khilafah itu masih terasa hingga kini. Jika dirunut lagi, terkhusus dengan insiden ledakan dahsyat di Beirut beberapa waktu lalu, menunjukkan yang sedang krisis di Libanon tidak hanya ekonomi, tapi juga pemikiran.

Baca juga:  Demokrasi Setengah Hati Atasi Derita Muslim Rohingya

Bahkan, ledakan tersebut langsung saja mengungkapkan betapa rapuhnya sistem pemerintahan Libanon. Pun betapa parahnya korupsi di pusaran aparatur negara. Karena para koruptor dalam kekuasaan di Libanon, telah mereka telah menjadikan fasilitas negara, terutama pelabuhan sebagai sarang korupsinya.

Lihat saja, bagaimana mungkin ibu kota ditempatkan di atas lokasi eksplosif tanpa ada perhitungan dan pengawasan? Terlebih gudang di pelabuhan tersebut berisi bahan peledak berkekuatan tinggi.

Dan bagaimana mungkin gudang tersebut dibiarkan berada di pelabuhan yang terhubung dengan kota, yang tak lain adalah saraf vital bagi negara, terlebih lokasinya juga di tengah daerah pemukiman padat penduduk?

Seolah-olah realitas yang ada masih belum cukup. Padahal sudah begitu arogan hak rakyat terampas. Betapa alpanya pemerintah Lebanon terhadap jaminan politik bagi mereka di tanah airnya sendiri, kemudian ditambah jaminan kesehatannya, bahkan nyawa mereka.

Tiadakah tempat lain yang layak menjadi tempat dibangunnya gudang senjata dan bahan peledak selain Beirut? Tiadakah dana negara yang cukup untuk membangun gudang senjata dan bahan peledak di tempat lain? Sedemikian parahkah dampak korupsi akut di Lebanon?

Sungguh ledakan ini membuktikan ketiadaan niat baik untuk mengurusi urusan umat di Lebanon. Bahaya akibat ledakan tidak menjadi lecutan bagi pemerintah Lebanon untuk menjamin keselamatan dan kelangsungan hidup rakyatnya.

Mata dan hati penguasa telah dibutakan oleh kemilau kekuasaan. Dan kenyataan pahitnya adalah bahwa Libanon, seperti semua negara Muslim, hidup dalam keadaan tidak adanya jaminan politik, ekonomi dan sosial.

Karena itu, hendaklah kita perhatikan dengan seksama doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama berikut ini:

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barang siapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya.” (HR Muslim)

Baca juga:  Gaung Khilafah Mendunia, Sistem Sekuler Memusuhinya

Sungguh, tidak ada lagi solusi yang layak bagi Libanon, pun seluruh dunia Islam, kecuali mencabut rezim sekularisme, anak turun ideologi kapitalisme, hingga ke akar-akarnya.

Yang jika tetap demikian adanya, maka bencana demi bencana akan terus menimpa tanpa ada akhirnya. Na’udzubillaahi.

Firman Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf [07]: 96)

Satu-satunya yang dibutuhkan untuk membawa fajar yang mencerahkan Libanon dan dunia Islam, adalah perubahan sistem yang fundamental yang secara komprehensif akan mencabut campur tangan kolonial selama puluhan tahun di negeri Muslim; yang menanamkan korupsi, rezim inkompetenm dan pemimpin yang mementingkan diri sendiri dengan sistem mereka yang gagal.

Yang kita butuhkan adalah sebuah sistem yang memiliki solusi kredibel atas segunung masalah yang dihadapi dunia Islam.

Sistem lain apa yang bisa menyediakan ini selain sistem dari Tuhan semesta alam, Allah SWT, yakni Khilafah Islamiyah.

Sistem Islam ini adalah model politik yang telah teruji dan terbukti memiliki warisan pengentasan kemiskinan sampai ke akar, menghasilkan kemakmuran yang menebar manfaat terhadap semua yang berada di bawah pemerintahannya, menciptakan kepemimpinan yang benar-benar bertanggung jawab berdasarkan perwalian rakyat dan hak-hak mereka, dan menciptakan persatuan antarumat manusia meskipun berbeda keyakinan, ras, dan etnik.

Jika kita tidak ingin terus memutar daur ulang -puluhan tahun- penderitaan dan kegagalan di tanah kita, maka kita pasti harus mencari visi politik yang berbeda yang benar-benar akan mengakhiri mimpi buruk yang kita hadapi ini.

Allah SWT berfirman, “…maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (TQS Thaha [20]: 123-124) [MNews]

One thought on “Jejak Kelam Penghancuran Khilafah di Libanon

  • 20 Agustus 2020 pada 16:22
    Permalink

    SubhanaAllah, secepatnya Sistem ini di ganti,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *