Editorial: Sampai Kapan Perempuan Ditumbalkan?

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Dalam dua tahun terakhir, dunia telah mengalami pelemahan ekonomi yang berujung ancaman resesi. Di antaranya tampak dari melonjaknya angka kemiskinan yang berkelindan dengan PHK besar-besaran dan menurunnya tingkat pendapatan.

Kondisi ini jelas makin parah saat dunia dilanda wabah corona. Ekonomi benar-benar amblas. Tsunami PHK terjadi di mana-mana. Bahkan beberapa negara mengumumkan dirinya kolaps. Termasuk Amerika sang adidaya.

Indonesia sendiri ? Jangan ditanya! Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 ini saja sudah melorot hingga minus 5,32%. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut di kuartal III hingga Indonesia dipastikan ikut jatuh ke lubang yang sama.

Beberapa bulan sebelumnya Menko bidang perekonomian memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan minus 0,49. Bahkan Presiden Jokowi sempat mengatakan, masyarakat jangan kufur nikmat karena di saat negara lain kolaps, ekonomi kita masih aman-aman saja alias selamat.

Tapi faktanya, di level akar rumput, situasinya benar-benar terasa berat. Lantaran wabah corona, ruang gerak usaha kian menyempit. Sementara negara nyatanya emoh memberi jaminan apa-apa. Kalaupun ada program-program bantuan, semua nyaris unfaedah dan tampak hanya sekadar pencitraan saja.

Maklumlah. Sejak sebelum pandemi, kondisi ekonomi negara memang sudah tak baik-baik saja. Selain pertumbuhan ekonomi yang stagnan, utang luar negeri Indonesia pun tampak tak bisa dikendalikan.

Tercatat hingga september 2019 lalu, utang sudah naik menjadi Rp5.569 triliun. Sementara per juni 2020 ini sudah tembus angka Rp6.026,85 Triliun.

Angka kemiskinan pun demikian. Akibat pandemi, per Maret 2020 jumlah orang miskin sudah mencapai 26,42 juta orang. Padahal per September 2019 lalu angkanya “masih” 24,79 juta orang. Dan parahnya, ADB melaporkan, 90% di antaranya mengalami kelaparan kronis.

Itu pun dengan catatan, standar yang digunakan untuk menghitung angka kemiskinan adalah angka penghasilan sangat minimal. Yakni sekitar Rp440 ribu per kapita per bulan. Bisa dibayangkan, sezalim apa.

Catatan lainnya, angka-angka itu pun hanyalah angka yang terdata dalam sensus negara. Jadi, tak menggambarkan realitas sesungguhnya.

Masalahnya, pemerintah sendiri, alih-alih fokus mencari solusi, malah sibuk menebar mimpi. Dalam pidato nota keuangan RAPBN 2021 yang disampaikan presiden Jokowi baru-baru ini misalnya, pemerintah malah berani menetapkan asumsi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 akan ada di level 4,5 – 5,5 persen.

Pemerintah tampaknya yakin betul, empat opsi kebijakan untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dicanangkan di masa pandemi -hingga dibentuk Satgasnya- ini benar-benar bisa menggerakkan roda ekonomi yang tengah stagnan. Bahkan bisa menjadi lompatan besar.

Baca juga:  Tsunami PHK Menghantui Dunia

Keempat opsi kebijakan itu tertuang dalam PP No 23 tahun 2020, berupa (1) suntikan penyertaan modal negara (PMN) untuk BUMN terdampak, UMKM dan koperasi; (2) penempatan dana untuk mendukung likuditas perbankan; (3) investasi pemerintah, serta (4) program penjaminan bagi pelaku usaha atas kredit modal kerja yang diberikan perbankan. Adapun dana yang disiapkan, tak tanggung-tanggung. Yakni sebesar Rp695 triliun.

Yang menarik, dalam proyek PEN ini, kaum perempuan lagi-lagi dijadikan andalan utama. Khususnya menyangkut proyek-proyek UMKM yang jumlahnya meliputi 99,3 persen dari 64 juta pelaku usaha dan 60 persen di antaranya ternyata merupakan kaum perempuan.

Fakta inilah yang dijadikan alasan pemerintah untuk lebih intens melibatkan kaum perempuan dalam pemulihan ekonomi nasional. Karena, khususnya di masa pandemi ini, perempuan dipandang masuk dalam kelompok rentan, baik sebagai tenaga kerja, pelaku usaha, maupun sebagai seorang perempuan yang penghasilannya bergantung pada kepala keluarga.

Selama ini, UMKM sendiri, memang menjadi sektor unggulan dalam menyelesaikan sebagian problem ketenagakerjaan. Selain permodalan relatif kecil, juga bisa mencerap sekitar 95 persen angkatan kerja, termasuk tenaga kerja perempuan.

Dengan begitu, melalui UMKM, kaum perempuan berkesempatan untuk berkontribusi pada ekonomi keluarga hingga diharapkan bisa segera keluar dari lingkaran kemiskinan.

Adanya pelibatan perempuan dalam pengentasan kemiskinan memang bukan hal baru. Terutama sejak dideklarasikannya Millennium Development Goals (MDGs) oleh 189 negara anggota PBB pada tahun 2000, dilanjut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang disahkan pada 2015 di markas besar PBB.

MDGs dan SDGs sendiri merupakan rencana aksi global yang disepakati para pemimpin dunia dengan fokus untuk mengakhiri berbagai masalah di dunia seperti kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.

Dalam hal ini, baik MDGs maupun SDGs, secara gamblang telah mengaitkan antara isu kemiskinan dengan kaum perempuan. Akan tetapi perempuan bukan hanya dipandang sebagai objek yang harus dientaskan (kemiskinannya), tapi juga sebagai subjek pengentasan kemiskinan.

Karenanya dalam rencana aksi ini, kaum perempuan terus didorong terlibat total dalam menyelesaikan problem kemiskinan global, dengan cara aktif dalam kegiatan ekonomi atau produksi.

Inilah yang masif dipropagandakan sebagai pemberdayaan ekonomi perempuan (PEP). Dengan PEP ini diharapkan akan ada separuh masyarakat yang terangkat dari kemiskinan.

Bahkan keterlibatan mereka dalam PEP ini disebut-sebut akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara. Sekaligus menghapus problem kemiskinan dunia secara perlahan.

Istilah PEP memang makin kencang disuarakan sejalan dengan makin rapuhnya fundamental ekonomi kapitalisme. Kerapuhan ini tampak dari fenomena kian akutnya problem kemiskinan di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Baca juga:  Keuangan Pailit, Kehidupan Sulit, Utang Melilit, Apakah Tanda Negara Sedang Sakit?

Bahkan dorongan pelibatan perempuan di sektor ekonomi terus dipropagandakan melalui berbagai program, sarana, dan bentuk atas nama realisasi MDGs atau SDGs.

Targetnya, sebanyak mungkin kaum perempuan bisa berkontribusi di bidang ekonomi, bahkan pun ketika mereka diam di rumah.

Maka hari ini kita lihat, fokus propaganda ada pada isu perempuan di era digital yang memang membuka peluang bisnis tanpa batas. Artinya kaum perempuan didorong memanfaatkan teknologi digitalisasi ini untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas peran perempuan dalam pembangunan ekonomi.

Untuk itu berbagai dukungan diberikan. Mulai dari program peningkatan kapasitas pelaku usaha perempuan, fasilitasi akses permodalan, kemudahan pendaftaran usaha, bantuan perluasan pasar, jaminan kekayaan intelektual, dan lain-lain.

Dengan demikian, tak ada lagi alasan bagi kaum perempuan untuk tidak berperan serta dalam proyek global pemberdayaan ekonomi perempuan. Lagi-lagi demi dalih mengentaskan kemiskinan.

Pada praktiknya, proyek PEP ini diaruskan seiring dengan proyek global mainstreaming ide kesetaraan gender. Di mana sesuai target SDGs, tahun 2030 harus sudah tercipta dunia dengan kesetaraan mutlak laki-laki dan perempuan di berbagai bidang kehidupan, sehingga bumi layak disebut disebut planet 50:50.

Pasalnya, capaian target KKG inilah yang dianggap sebagai prasyarat mutlak bagi suksesnya capaian SDGs. Khususnya untuk target mengeliminasi 100 persen kemiskinan global di tahun 2030.

Tentu saja, apa yang sedang terjadi ini sangat bertentangan dengan Islam dan berbahaya bagi umat. Karena, baik proyek PEP maupun mainstreaming ide kesetaraan gender ini justru akan membuka celah kerusakan yang lebih lebar di tengah umat.

Pertama, proyek ini berpotensi mengeksploitasi kaum perempuan dan menjebak mereka sebagai penopang tegaknya hegemoni sistem kapitalisme yang hampir runtuh. Yakni dengan mendorong mereka menjadi mesin penggerak industri kapitalisme sekaligus menjadi objek pasar mereka.

Kedua, proyek-proyek ini akan melunturkan fitrah perempuan sebagai pilar keluarga dan penyangga masyarakat yang justru dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam cemerlang.

Bahkan lambat laun, proyek-proyek ini akan meruntuhkan struktur bangunan keluarga dan masyarakat hingga tak ada lagi jaminan bagi munculnya generasi terbaik pembangun peradaban.

Kenapa? Karena perempuan kian kehilangan fokus dan orientasi tentang kontribusi terbaik, yang sejatinya bukan ada pada peran ekonomi, melainkan ada pada peran keibuan mereka.

Terbukti, hari ini sudah terjadi pergeseran paradigma di tengah masyarakat soal definisi perempuan berdaya. “Perempuan berdaya adalah perempuan bekerja”. Selain itu, bekerja memang sudah zamannya, dan perempuan bekerja memang haknya, dan sebagainya.

Baca juga:  Perempuan dalam Bayang-bayang Kapitalisme

Padahal sejatinya, meskipun Islam membolehkan perempuan bekerja, namun harus siap dengan peran ganda. Konsekuensinya bertambah pula beban tanggung jawab mereka, baik terhadap dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan tentu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini tentu tidak mudah. Karena tugas sebagai ibu juga bukan tugas yang mudah dan remeh. Melainkan memiliki sisi politis dan sangat strategis. Yakni menyiapkan generasi cemerlang, arsitek peradaban terbaik di masa depan. Bukan sekadar mengantarkan anak menjadi dewasa secara fisik.

Itulah kenapa, muncul analisis yang menyebutkan bahwa semua proyek yang masif diaruskan ini sesungguhnya merupakan alat tipuan untuk mengukuhkan hegemoni dan penjajahan kapitalisme global melalui perempuan.

Yakni dengan menjadikan kaum perempuan sebagai “bemper” bahkan tumbal ekonomi kapitalisme global. Sekaligus menjadi “jalan penghancuran” pilar penyangga peradaban Islam yang senyatanya akan menjadi lawan potensial peradaban sekuler kapitalisme global di masa depan.

Dan realitasnya, apa yang terjadi hari ini memang tak bisa dilepaskan dari perang panjang benturan ideologi dan peradaban, yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Sehingga umat semestinya memiliki kesadaran politik Islam yang tinggi dan tidak hanya berpikir pragmatis. Sehingga mereka tidak mudah terjebak oleh propaganda menyesatkan bahkan terjebak dalam euforia yang justru akan menghancurkan.

Mereka seharusnya sadar bahwa merebaknya kemiskinan dan semua turunannya pada hari ini justru merupakan dampak dari cengkeraman sistem ekonomi kapitalisme global yang terbukti rusak dan membawa kerusakan.

Terutama memberi jalan kepada negara-negara adidaya melakukan pemiskinan global melalui penjajahan politik dan ekonomi di negara-negara lemah, termasuk negeri-negeri Islam.

Sehingga umat pun harus disadarkan, bahwa solusi satu-satunya adalah melepaskan diri dari kungkungan sistem ini, dan menggantinya dengan sistem yang berasal dari Dzat Yang Mahaadil dan Mahasempurna.

Yakni sistem Khilafah Islam yang sudah terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan selama belasan abad. Tak hanya bagi umat muslim, tapi juga nonmuslim. Tak hanya bagi laki-laki, tapi juga perempuan.

Bahkan dalam sistem Khilafah ini, kaum perempuan benar-benar mendapat kedudukan terbaik dan terjamin hak-haknya. Termasuk hak finansial dan hak politik-strategisnya sebagai ibu, arsitek generasi pemimpin peradaban cemerlang.

Sehingga selama belasan abad pula umat Islam mampu menjadi umat terbaik, yang menebar rahmat bagi seluruh alam. Wallaahu a’lam bi ash-shawwab. [MNews | SNA]

21 komentar pada “Editorial: Sampai Kapan Perempuan Ditumbalkan?

  • 24 Agustus 2020 pada 14:06
    Permalink

    Astaghfirullah, kapitalisme sistem yang rusak dan membawa kerusakan kalo ini terjadi sungguh, fitrah nya perempuan akan rusak pulak. Naudzubillah

  • 22 Agustus 2020 pada 22:44
    Permalink

    Malah ibu2 itu senang dibantu dana modal…tp gk solusi krisis…sda banyak besar..kita ambil sampah2…kapitalis mau menguasai…

  • 22 Agustus 2020 pada 19:06
    Permalink

    Sampai kapan perempuan jadi tumbal? Selamanya …. Selama sistem kapitalisme diterapkan selama itu pula perempuan akan jadi tumbal ekonomi. Hanya syariah Islam dalam naungan khilafah yang akan menyelamatkan..

  • 21 Agustus 2020 pada 08:36
    Permalink

    Saatnya umat semestinya memiliki kesadaran politik Islam yang tinggi dan tidak hanya berpikir pragmatis. Sehingga mereka tidak mudah terjebak oleh propaganda menyesatkan bahkan terjebak dalam euforia yang justru akan menghancurkan.

  • 20 Agustus 2020 pada 00:08
    Permalink

    Eksploitasi wanita kerap terjadi pada sistem kapitalis yg mana perempuan selalu diberdayakan untuk pertumbuhan ekonomi lewat media apa saja. Tentunya ini sangat miris mengingat hak seorang perempuan terlindungi dan aman. Harusnya negara yg menjamin hak perempuan bukan perempuan yg memberikan jaminan untuk pertumbuhan ekonomi negara.

  • 19 Agustus 2020 pada 22:18
    Permalink

    Astagghfirullah. Kita sebagai ibu maupun calon ibu harus bisa menjadi ibu yang menciptakan generasi terbaik mass depan umat

  • 19 Agustus 2020 pada 17:44
    Permalink

    Selama belasan abad umat Islam mampu menjadi umat terbaik, yang menebar rahmat bagi seluruh alam.

  • 19 Agustus 2020 pada 17:38
    Permalink

    Dalam sistem Khilafah, kaum perempuan benar-benar mendapat kedudukan terbaik dan terjamin hak-haknya.

  • 19 Agustus 2020 pada 11:51
    Permalink

    Tumbal kapitalisme..
    Tentu kita tidak mau,, saatnya memfokuskan diri untk mengaruskan opini syariah dan khilafah, bahwasannya Islam adalah solusi bagi kesejahteraan para perempuan

    • 19 Agustus 2020 pada 21:24
      Permalink

      Hanya Islam yang dapat memuliakan perempuan dan mengembalikan sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan

    • 22 Agustus 2020 pada 20:47
      Permalink

      Astaghfirullah.. secara tak langsung menghancurkan keluarga. Akhirnya perempuan tidak lagi fokus menjadi Ummu wa rabbatul bait

  • 19 Agustus 2020 pada 11:17
    Permalink

    Benar2 akn meruntuhkan pilar keluarga
    Somoga para perempuan muslim sadar klo ini adalah hanya tipu muslihat. Kaum kapitalis unk menghancurkan peradaban islam
    Dngan dalih PEP
    Akhirnya perempuan menjadi bamper /alat
    Bagi kaum kapitalis

    • 20 Agustus 2020 pada 05:47
      Permalink

      Fitnah bagi perempuan akhir zaman.. Ya Allah lindungilah para perempuan kami.. Semangat terus ikhtiar memberikan sistem terbaik bagi perempuan.. Termasuk juga para laki2nya.. Karena keduanya adalah hamba Allah yang sama2 mengemban amanah memakmurkan bumi dengan Islam.. In syaa-a Allah

Tinggalkan Balasan