Memerdekakan Pemikiran

Oleh: Siti Nafidah Anshory

Muslimahnews.com, FOKUS — Melihat bagaimana masyarakat Indonesia memaknai dan merayakan kemerdekaan, kian menambah keyakinan bahwa yang urgen dilakukan adalah MENGUBAH PEMIKIRAN UMAT DENGAN IDEOLOGI ISLAM. Bukan yang lain!

Bayangkan! Bagaimana bisa mayoritas bangsa ini berpikir dan merasa sudah merdeka? Padahal sesungguhnya penjajahan masih berlangsung dalam bentuk yang sangat halus dan justru lebih berbahaya dari gaya penjajahan sebelumnya.

Mari kita lihat faktanya!

Secara politik, negeri ini masih, bahkan makin terkooptasi hegemoni negara adidaya, baik Amerika maupun Cina. Hingga alih-alih bisa mandiri. Negeri ini kian hari kian kehilangan kedaulatan, bahkan tetap terposisi sebagai pengekor dalam konstelasi internasional.

Secara ekonomi, mayoritas rakyat sangat jauh dari kata sejahtera, karena sumber daya yang melimpah ruah dimilikinya justru dikuasai segelintir pemilik modal dan negara-negara kaya. Mirisnya, semua terjadi di bawah legitimasi undang-undang yang disahkan oleh negara dan oleh mereka yang disebut para wakil rakyatnya.

Dalam aspek hukum, yang berlaku juga masih hukum sekuler warisan Belanda. Yang alih-alih mampu menjadi benteng umat dari bahaya kemaksiatan, tapi malah melegitimasi merebaknya berbagai kemungkaran dan ketidakadilan.

Aspek budaya pun tak jauh beda. Rakyat negeri ini kian kehilangan jati dirinya sebagai umat mulia, ter-sibghah budaya kafir yang jauh dari nilai-nilai ruhiyah, serba permisif dan penuh dengan kerusakan.

Alhasil, merdeka bagi rakyat indonesia, selain dimaknai sekadar bebas dari penjajahan militeristik, ternyata juga hanya dimaknai sebagai merdeka berbuat semaunya.

Baca juga:  Umat Islam di Negeri ini Sudah Merdeka, Kata Siapa?

Seperti merdeka bertingkah laku termasuk gaul bebas, merdeka berpendapat, merdeka merampok uang rakyat, merdeka berkhianat atas amanah umat, merdeka buka-buka aurat, merdeka menistakan agama, merdeka gonta-ganti akidah, dan lain sebagainya.

Wajar jika meski umur kemerdekaan sudah tua, keadaan negeri ini tetap begini-begini saja. Bahkan posisi Indonesia di tengah percaturan politik dunia, seolah antara ada dan tiada. Padahal konon, negeri ini adalah negeri muslim terbesar di dunia.

Jika mau merenung sejenak, kondisi ini memang niscaya. Mengingat umat hari ini tengah dikooptasi sistem yang sejatinya hadir sebagai jalan penjajahan. Yakni sistem demokrasi kapitalisme neoliberal yang lahir dari akidah sekularisme dan kebebasan.

Sistem dan paham ini sudah lama dicekokkan dalam tubuh umat Islam, melalui serangan politik dan pemikiran. Terutama saat umat Islam dunia masih dipersatukan di bawah naungan Khilafah Islam sebagai satu-satunya kepemimpinan politik level global.

Saat itu, umat Islam tampil sebagai satu tubuh. Menjadi negara kuat, adidaya, dan berpengaruh di seantero dunia.

Bahkan saat Barat berada di jaman kegelapan, peradaban umat Islam yang cemerlang itu, tampil sebagai matahari yang menyinari alam semesta. Hingga Barat pun banyak mengambil manfaat dan mulai menemukan jalan kebangkitan.

Lantas apa yang menjadi rahasia kekuatan umat Islam, hingga belasan abad bisa tampil sebagai pionir peradaban?

Kuncinya tak lain adalah berpegangteguhnya mereka pada ideologi Islam. Yakni menjadikan akidah Islam dan hukum-hukumnya sebagai asas dan aturan kehidupan, yang direpresentasi oleh eksisnya Khilafah Islam.

Baca juga:  Beralih dari Sistem Kapitalisme, Berharap kepada Islam Ideologis Kafah

Khilafah ini tegak ditopang oleh individu-individu yang bertakwa, masyarakat yang aware dan negara yang konsisten menerapkan Islam. Hingga Islam benar-benar berfungsi sebagai jalan kehidupan dan solusi atas setiap persoalan.

Inilah yang kemudian disadari musuh-musuh Islam. Hingga mereka terus berusaha menggoyah keyakinan umat akan ideologi Islam dan menggoyah negaranya dengan serangan politik dan pemikiran.

Dari perang salib musuh-musuh Islam dengan cepat belajar dan menemukan simpulan, bahwa umat Islam dan negaranya tak mungkin dikalahkan dengan persenjataan. Umat Islam hanya butuh dipisahkan dari rahasia kekuatannya, yakni ideologi Islam.

Maka, mulailah Barat menebar racun pemikiran di tubuh umat. Agar Islam tak lagi dipahami sebagai sebuah ideologi. Melainkan sekadar agama ritual yang tak punya power atau kekuatan. Termasuk power untuk menyatukan umat dalam satu kekuatan politik bernama khilafah Islam.

Racun-racun itulah yang bernama paham sekulerisme, liberalisme, kapitalisme, sosialisme, permissifisme, nasionalisme, demokrasi, dan lain-lain, tang dibawa oleh para penjajah dan diusung oleh para anteknya di kalangan umat.

Racun-racun inilah yang sedikit demi sedikit melumpuhkan kekuatan umat Islam, menggerogoti tubuhnya, melemahkannya, bahkan menghancurkannya. Hingga institusi politik umat yang tegak belasan abad, hancur berkeping-keping dengan runtuhnya khilafah  yang terakhir, yakni Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki di tangan anteknya bernama Mustafa Kemal.

Baca juga:  Wacana "Khilafah-isme" adalah Upaya Mendistorsi Ajaran Islam (Bagian 2/2)

Setelah itu, umat Islam masuk dalam sejarah kelam. Tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara dan masing-masingnya ada di bawah telapak kaki penjajah, hingga sekarang.

Inilah rupanya maksud ucapan Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris, pada pidato politiknya saat menyambut keruntuhan Khilafah pada 1924: “Inti permasalahannya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit kembali, karena kita telah menghancurkan jantung kekuatan spiritualnya: Khilafah dan Islam.”

Betul bahwa sejak era 50-an, negeri-negeri muslim termasuk Indonesia sudah merdeka atau dimerdekakan. Tapi sejatinya, hingga hari ini kehidupan mereka belum lepas dari penjajahan yang telah berubah bentuk dari penjajahan militeristik menjadi penjajahan ekonomi, politik, dan pemikiran.

Inilah yang semestinya disadari umat Islam, termasuk kaum muslim Indonesia. Bahwa akar problem ketertinggalan mereka hari ini adalah ketiadaan Khilafah sebagai institusi penegak syariat tersebab mundurnya taraf berpikir dan jauhnya mereka dari sumber kebangkitan hakiki yakni ideologi Islam. Dan musuh umat, sedang terus berusaha agar kondisi ini tetap ada demi melanggengkan hegemoni mereka.

Sehingga, satu-satunya cara agar umat ini benar-benar merdeka dan kembali bangkit dengan kebangkitan yang sebenarnya adalah mengubah pemikiran mereka dengan ideologi Islam.

Dengan terus menggencarkan dakwah Islam kaffah hingga Khilafah Islamiyah sebagai institusi penegaknya kembali mewujud di muka bumi dengan dukungan mereka.

Sungguh, saat itu akan segera tiba dengan atau tanpa dukungan kita. Insya Allah. [MNews]

32 thoughts on “Memerdekakan Pemikiran

  • 29 Agustus 2020 pada 17:48
    Permalink

    Merdeka ketika kita bebas dari penjajah an sistem buatan manusia…

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 22:52
    Permalink

    Belum merdeka

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 22:51
    Permalink

    Belu merdeka..
    Pemahaman aja msh didikte as dan cina

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 21:04
    Permalink

    Hanya dg sistem Islam akal, nyawa dan jiwa kita terjaga! Khilafah pasti tegak kembali!! Allahuakbar!!

    Balas
  • 22 Agustus 2020 pada 18:50
    Permalink

    Banyak rakyat yg berfikir belum merdeka karena keadaan mereka tdk berubah bahkan makin sengsara

    Balas
  • 21 Agustus 2020 pada 07:03
    Permalink

    sebuah urgensitas untuk memerdekaan pemikiran dari segala faham yang merusak. Dan diganti dengan pemikiran yang shohih yaitu pemikiran Islam yg bersumber dr aqidah Islam.

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 23:00
    Permalink

    Say no to secularism. Say yes to Khilafah ❤️

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 22:33
    Permalink

    Faktanya, masih ada penjajahan baik dlm bentuk imperialisme maupun yg “tak nampak” di negri2 kaum muslimin..akibat penerapan sistem Kapitalis..

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 16:38
    Permalink

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ 
    “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
    (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 04:10
    Permalink

    Racun pemikiran banyak yg tidak disadari.umat Islam. Klo sdh sadar, kita akan berpikir sudah puluhan tahun kita jauh sekali dari Islam dan dicekoki dengan faham yg salah….

    Balas
  • 18 Agustus 2020 pada 21:36
    Permalink

    MasyaAllah… Sungguh hanya Islam agama yang diridhoi oleh Allah Subhana wata’ala

    Balas
  • 18 Agustus 2020 pada 00:16
    Permalink

    Khilafah solusi kaffah

    Balas
  • 17 Agustus 2020 pada 20:52
    Permalink

    Merdeka adalah bebas dari penghambaan pada manusia, bebas dalam menerapkan syariat yang berasal dari Sang Pencipta dan Sang Pengatur Kehidupan

    Balas
  • 17 Agustus 2020 pada 12:04
    Permalink

    Khilafah ini tegak ditopang oleh individu-individu yang bertakwa, masyarakat yang aware dan negara yang konsisten menerapkan Islam. Hingga Islam benar-benar berfungsi sebagai jalan kehidupan dan solusi atas setiap persoalan.

    Balas
  • 17 Agustus 2020 pada 11:45
    Permalink

    Merdeka itu.. terlepas dari penyembahan kepada manusia. menuju penyembahan kepada Allah SWT

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 22:47
    Permalink

    Mari…raih kemerdekaan yang haqiqi dengan syariah dan khilafah. Allahu Akbar

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 22:43
    Permalink

    Sungguh, saat itu akan segera tiba dengan atau tanpa dukungan kita. Insya Allah.
    Saat dmn KHILAFAH akan tegak kembali menaungi seluruh umat manusia.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 22:39
    Permalink

    realitasnya kita belum merdeka

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 22:00
    Permalink

    Kemerdekaan yg hakiki hanya dapat diraih dengan penerapan syariat islam.
    Hingga saat ini kata merdeka sangat jauh dari fakta kita di Indonesia. Sebab di Indonesia sangat diwanti2 orang yg berpikir dan bernalar cemerlang yg dianggap radikal, tentu ini adalah sebuah tuduhan fitnah, itu baru berpendapat belum yang lainnya semua ini tak ubah seperti penjajahan. Merdeka itu ya terbebas dari aturan manusia yg memberi kebebasan sesuai dengan keinginannya.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 21:43
    Permalink

    Selama masih berpegang pd sistem kapitalisme, negeri ini takkan pernah merdeka seutuhnya..

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 20:29
    Permalink

    Hanya islam sebagai solusi persoalan manusia

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 18:15
    Permalink

    Merdeka bagi rakyat indonesia, selain dimaknai sekadar bebas dari penjajahan militeristik, ternyata juga hanya dimaknai sebagai merdeka berbuat semaunya. Satu-satunya cara agar umat ini benar-benar merdeka dan kembali bangkit dengan kebangkitan yang sebenarnya adalah mengubah pemikiran mereka dengan ideologi Islam.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 17:55
    Permalink

    Arti merdeka itu..jika Islam diberi kesempatan memimpin & mngatur dunia.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 14:51
    Permalink

    Kemerdekaan hakiki hanya dapat terwujud dalam naungan daulah khilafah….saatnya berjuang bersama menegakkan lsyatiah dan khilafah

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 14:47
    Permalink

    Satu-satunya cara agar umat ini benar-benar merdeka dan kembali bangkit dengan kebangkitan yang sebenarnya adalah mengubah pemikiran mereka dengan ideologi Islam.

    Dengan terus menggencarkan dakwah Islam kaffah hingga Khilafah Islamiyah sebagai institusi penegaknya kembali mewujud di muka bumi dengan dukungan mereka.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 14:15
    Permalink

    Smoga umat Islam bisa merdeka dr pemikiran2 rusak

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 13:46
    Permalink

    satu-satunya cara agar umat ini benar-benar merdeka dan kembali bangkit dengan kebangkitan yang sebenarnya adalah mengubah pemikiran mereka dengan ideologi Islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *