Kebangkitan Teknologi: antara Fakta dan Retorika

Oleh: Permadina Kanah Arieska, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, FOKUS – Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25 yang diperingati pada 10 Agustus 2020, dinyatakan sebagai momentum penguatan kolaborasi tiga pihak (triple helix) dalam mewujudkan kemandirian nasional dan menjadikan inovasi sebagai solusi berbagai persoalan bangsa.

Peringatan tahun ini ditandai pula dengan sejumlah peluncuran program kolaboratif, yaitu 100 Desa Berinovasi yang merupakan kolaborasi antara Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dengan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Selain itu, ada juga peluncuran katalog/website e-katalog produk inovasi di Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), serta Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence).

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengawali puncak acara Hakteknas ke-25 dengan monolog yang menuturkan mulai dari sejarah peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, yaitu keberhasilan putra-putri terbaik bangsa merancang bangun Pesawat Terbang N250 Gatotkaca dan terbang perdana mengarungi angkasa nusantara pada 10 Agustus 1995.

Peristiwa monumental ini menjadi simbol kebangkitan teknologi yang membawa bangsa Indonesia sejajar dan bahkan melampaui bangsa lain. Selanjutnya, Menristek/Kepala BRIN menceritakan capaian-capaian monumental lainnya dari masa ke masa termasuk peran produk teknologi dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1998, produk yang telah dihasilkan antara lain:

  1. Bidang Transportasi (Kereta Api Listrik tahun 2001 dan purwarupa sistem konversi kendaraan listrik LIPI tahun 2005, Landing Platform Dock – PLD tahun 2008, Kendaraan Skuter Listrik GESITS tahun 2016, Teknologi Kapal Pelat Datar tahun 2017, Pesawat N219 Nurtanio tahun 2017);
  2. Bidang Ketahanan Nasional (PUNA -Pesawat Udara Nir Awak tahun 1989, Kendaraan Lapis Baja APS-3 Anoa tahun 2006, InaTEWS – Indonesia Tsunami Early Warning System tahun 2006, Satelit LAPAN-Tubsat tahun 2007, Indonesia Sea Radar – ISRA tahun 2008, Roket RX 100 tahun 2009, LAPAN A2 tahun 2010, PUNA MALE tahun 2019);
  3. Bidang Komputasi, Energi, dan Pangan (Padi unggul Bestari tahun 2008, Chipset WIMAX Xirka tahun 2009, PLTH Pandansimo tahun 2012, 28 Varietas Benih Unggul (20 padi, 6 kedelai, 1 kacang hijau, dan 1 kapas pada tahun 2013), Irradiator Gamma Merah Putih tahun 2017, Katalis Merah Putih tahun 2019, Garam Industri tahun 2019);
  4. Bidang Kesehatan (Ekspor perdana vaksin Bio Farma 1997, Stemcell tahun 2017, Rapid Diagnostics Test Kit RI-GHA19; PCR Test Kit, Ventilator COVENT-20, BPPT3S-LEN, GERLIP HFNC-01, Vent-I Origin, DHARCOV-23S, Robot Perawat Kesehatan RAISA; Mobile Lab BSL-2, Imunomodulator, Sistem AI untuk Deteksi Covid-19, RT-LAMP tahun 2020) (ristekbrin.go.id, 10/08/2020)
Baca juga:  Bagaimana Khilafah menjadi Negara Pertama dalam Sains dan Teknologi

Inovasi-inovasi ini menunjukkan Indonesia adalah negara yang mandiri dan sejajar dengan negara lain di dunia dari aspek teknologinya.  Benarkah demikian?


Inovasi Teknologi dan Problem Solving

Tak bisa dipungkiri, Indonesia memiliki banyak ilmuwan hebat dan kompeten yang menghasilkan berbagai macam inovasi. Inovasi-inovasi ini diciptakan dengan harapan mampu menyelesaikan masalah bangsa. Namun realitasnya, banyaknya inovasi ternyata tak linier dengan kuantitas problem yang dihadapi bangsa ini.

Smart Farming untuk kemandirian pangan nasional misalnya, sebuah riset dan inovasi yang dilakukan para peneliti di bawah Ristek/BRIN yang difokuskan pada digitalisasi dan smart farming. 

Dalam riset ini, beberapa inovasi mencakup tata kelola data pangan berbasis IT, pemetaan lahan menggunakan drone dan satelit, solar power untuk pertanian, serta sistem pemantauan kualitas pangan secara otomatis, telah ditemukan.

Selain itu, kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi produksi melalui teknologi agromaritim dan transformasi digital juga telah menjadi penemuan yang membanggakan.

Faktanya, bagaimana dengan ketahanan pangan Indonesia? Alih-alih menjaga kedaulatan pangan, kebijakan impor nyatanya semakin deras diluncurkan. Komoditas pangan impor malah membanjiri Indonesia.

Beras, misalnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2014, impor beras tembus 844 ribu ton. Setahun setelah pemerintahan berjalan, impor beras naik tipis 861 ribu ton.

Kemudian, pemerintah kembali mengimpor beras sebanyak 1,28 juta ton pada 2016, dan sempat turun menjadi hanya 305 ribu ton pada 2017.

Tahun 2018, impor beras kembali meroket hampir mencapai tujuh kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 2,25 juta ton.(cnnindonesia.com, 15/02/2019)

Meski pada faktanya harga beras terus menanjak, baik di tingkat grosir maupun eceran, namun kondisi ini tak memperbaiki nasib para petani Indonesia. Kehidupan petani Indonesia tak semakin membaik, malah sebaliknya, terus menerus didera permasalahan yang berulang.

Pupuk langka dan mahal, hama menyerang, kurangnya air di lahan yang tandus dan harga beras anjlok. Sedangkan uang modal yang digunakan untuk mengelola sawah adalah hasil pinjaman bank yang harus segera dikembalikan beserta bunganya. Nasib petani Indonesia, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Selain Smart Farming, juga ditemukan teknologi untuk menyuplai garam industri dengan tujuan merealisasikan swasembada garam nasional 2021.

Sudah dilakukan trial production pilot plant pabrik garam industri terintegrasi di Manyar-Gresik dengan kapasitas 40 ribu ton/tahun dan menghasilkan garam industri dengan harga 2-4 kali lipat lebih tinggi dari garam krosok yang murah. Pabrik ini sudah menerapkan Internet of Things dan direncanakan akan diresmikan pada September 2020.

Baca juga:  Penjajahan Berkedok Penelitian

Inovasi ini apakah kemudian berefek pada kemandirian Indonesia dalam hal swasembada garam? Kita akan lihat faktanya di tahun 2021 ke depan.

Realitas sebelumnya telah menunjukkan bahwa pada 2014 impor garam terpantau sebesar 2,26 juta ton. Sempat ditekan pada 2015 menjadi 1,86 juta ton. Namun, kembali melonjak pada 2016 menjadi 2,14 juta ton. Impor garam kembali bertambah menjadi 2,55 juta ton pada 2017 dan sebesar 2,83 juta ton pada 2018.

Indonesia terkenal dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia. Sayangnya wilayah laut yang luas itu ternyata tak menjadikan Indonesia swasembada garam. Impor garam masih tak terbendung bahkan pada 2020 alokasi impornya nyaris  mencapai tiga juta ton (cnbcindonesia.com, 13/01/2020).

Tak hanya itu, di masa pandemi ini, Kemenristek/BRIN juga mengklaim telah melakukan upaya mewujudkan kemandirian bangsa dalam bidang alat kesehatan dan bahan baku obat. Mulai dari ventilator, Rapid Diagnostic Test (RDT), PCR test kit, imunomodulator, dan berbagai hasil karya anak bangsa terkait penanganan Covid 19 di Indonesia, telah digunakan.

Faktanya, impor bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia hampir 90%. Bahkan 95% bahan baku Industri Farmasi masih tergantung pada impor (finance.detik.com, 24/04/2020).

Jika faktanya demikian, perlu adanya kita menjawab pertanyaan retoris ini, benarkah inovasi teknologi ini memang ditujukan untuk kemandirian dan solusi (problem solving) bagi permasalahan bangsa? Ataukah hanya sebagai simbol kebangkitan teknologi semata tanpa realiasi kebijakan yang nyata adanya?

Inovasi untuk kemandirian atau untuk melanggengkan Penjajahan?

Fokus Hakteknas tahun 2020 ini adalah menampilkan kontribusi keunggulan riset dan inovasi untuk kemandirian bangsa Indonesia. Tujuannya adalah untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, dan sejahtera dengan melakukan transformasi Indonesia dari negara berbasis sumber daya alam (SDA) menjadi negara berbasis inovasi.

Tagline ini begitu memesona bagi siapa pun yang membaca, namun sebenarnya menyisakan problem besar bagi penduduk negeri.

Sebagai contoh adanya penemuan Katalis Merah-Putih untuk mendukung Kemandirian Energi Nasional. Katalis Merah-Putih merupakan teknologi untuk mengolah minyak sawit menjadi bensin, solar, maupun avtur untuk mengurangi impor BBM, dan bekerja sama dengan masyarakat sekitar melalui peran Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat.

Kandungan bahan bakar fosil dapat digantikan biohidrokarbon 100% dari minyak sawit dengan Katalis Merah Putih. Penemuan ini disebut inovasi sebab yang awalnya tergantung pada Bahan Bakar Minyak (SDA) kemudian beralih menjadi pengolahan kelapa sawit.

Baca juga:  [Telaah Kitab] Antara Ilmu dan Tsaqafah (Natural Sciences & Social Sciences)

Masyarakat kemudian digiring untuk tidak berpikir politis berkaitan dengan SDA yang semakin menipis jumlahnya.

Bukankah awalnya Indonesia kaya dengan SDA melimpah seperti minyak bumi dan barang tambang lainnya? Ke manakah semua SDA itu? Berapa besar jumlah ekspor minyak mentah Indonesia? Siapa perusahaan asing yang menggarong SDA Indonesia hingga tak tersisa?

Kerusakan alam yang dihasilkan dari ekploitasi SDA oleh korporasi asing, siapa yang bertanggung jawab? Jika menggunakan kelapa sawit sebagai bahan bakar, berapa banyak kelapa sawit yang harus ditanam untuk bisa mencukupi kebutuhan nasional? Bagaimana dengan dampak kerusakan alamnya?

Jika satu persatu pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur, maka dapat dibuat kesimpulan inovasi yang ditemukan ternyata hanyalah upaya menutupi kerusakan alam yang diakibatkan korporasi asing yang sudah menggasak seluruh SDA Indonesia.

Masyarakat diiming-imingi “piagam” berlabel inovasi, padahal mereka hanya menjadi pemadam kebakaran dari masalah yang ditimbulkan korporasi penjajah.

Teknologi di Masa Khilafah Islam, Teknologi yang Menyejahterakan

Dalam sistem Khilafah Islam, teknologi adalah hasil dari sains dan diberikan apresiasi yang tinggi bagi siapa pun yang mempelajari dan mengamalkannya.

Banyak penemuan intelektual muslim telah diukir dalam sejarah sebagai penyumbang peradaban dunia. Ibnu Sina dengan karya fenomenalnya dibidang kedokteran The Book of Healing dan The Canon of Medicine; Al Idrisi, ahli Geografi penemu Globe; Al Jazari ilmuwan muslim penemu pertama konsep robot modern dengan prinsip hidroliknya, yang akhirnya tercipta jam otomatis dan juga pompa rantai tenaga air (Hidro Power).

Tak ketinggalan pula Maryam Asturlabi, sang ahli Astronomi, yang dengan penemuannya menjadi dasar bagi pengembangan teknologi GPS hari ini.

Di dalam sistem Khilafah Islam, mencari ilmu adalah sebuah kewajiban, mengaplikasikannya merupakan sebuah amal saleh dan mengajarkannya akan menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya.

Tak heran jika hasil karya intelektual muslim memang selalu memberikan kebermanfaatan bagi sesama dan menghantarkan masyarakat dan negara semakin menuju kepada puncak ketakwaannya.

Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al A’raf : 96) Wallahu a’lam bis showab.. [MNews]

19 thoughts on “Kebangkitan Teknologi: antara Fakta dan Retorika

  • 20 Agustus 2020 pada 22:56
    Permalink

    Makin rindu Khilafah ✨

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 18:34
    Permalink

    Masya Allah, terapkan Islam maka hidup berkah. Tdk ragu lg Islam hrs segera tegak

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 06:09
    Permalink

    Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al A’raf : 96) Wallahu a’lam bis showab.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 04:36
    Permalink

    Masih banyak kerusakan akibat eksploitasi yg dilakukan. Inovasi yg ada juga harus didorong utk tdk.merusak akan tetapi memsejahterakan rakyat

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:31
    Permalink

    Hanyalah retorika rezim untuk mencitrakan kepemimpinannya. Kebangkitan yg hawaii tidak dapat diraih walau bagaimanapun.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:17
    Permalink

    Peradaban yg kuat ditopang oleh teknologi yg mantap (salah satu faktor). Negara akan memberikan perhatian pd teknologi utk kemashlahatan umat..bukan pd orientasi materi semata

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:15
    Permalink

    Dengan khilafah maka terwujudlah baldatun thayyibatun wa Robbin ghofuur

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:32
    Permalink

    Banyak generasi pintar di negara ini tapi sayangnya tdk diimbangi dengan akhlak yg baik sehingga kepintarannya malah membuat kebijakan2 yg merugikan bangsa

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:55
    Permalink

    Di dalam sistem Khilafah Islam, mencari ilmu adalah sebuah kewajiban, mengaplikasikannya merupakan sebuah amal saleh dan mengajarkannya akan menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:39
    Permalink

    Hanya Islamlah satu2 nya sistem yang bisa mensejahterakan

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 18:54
    Permalink

    Di dalam sistem Khilafah Islam, mencari ilmu adalah sebuah kewajiban, mengaplikasikannya merupakan sebuah amal saleh dan mengajarkannya akan menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya. MasyaAllah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 17:11
    Permalink

    Hasil karya intelektual muslim memang selalu memberikan kebermanfaatan bagi sesama dan menghantarkan masyarakat dan negara semakin menuju kepada puncak ketakwaannya.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 16:02
    Permalink

    MasyaAllah ilmuwan didalam sistem khilafah adalah ahli ilmu sekaligus ahli agama…..makin rindu khilafah….

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 15:42
    Permalink

    Faktanya, untuk sekolah daring sj byk yg kesulitan krn jaringan internet terbatas. Masyarakat juga tetap miskin. Inovasi2 yg ada hny utk mnggemukkan pemilik modal, sementara rakyat tetap tersisih dan diperas dg berbagai pungutan

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 15:22
    Permalink

    Ketika teknologi baru terus bermunculan tapi kesejahteraan rakyat malah tak berubah. Untuk siapa teknologi itu? Bukankah teknologi untuk mempermudah dan meningkatkan nilai jual produk?

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 15:07
    Permalink

    Rindu sistem Islam

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 14:19
    Permalink

    Negara memberikan pendidikan yg berkualitas agar sdm bisa menjadi ilmuwan yg hebat spy gk dijajah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *