Hanya Berani “Maling Teriak Maling”, Proyek Deradikalisasi Bakal Bangkrut

MuslimahNews.com, ANALISIS – Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengungkapkan eksklusivisme beragama terjadi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini dianggapnya ikut berkontribusi menciptakan radikalisme di kalangan pegawai kelembagaan, BUMN, hingga ASN di Indonesia.

Dilansir dari cnnindonesia.com (12/08/2020), menurut Alissa, pakem ini berasal dari kelompok “garis keras” keagamaan yang berlangsung sejak perguruan tinggi, klaimnya. Caranya dengan memperkenalkan konsep diri dan ajaran terkait kebanggaan sebagai umat.

Oleh karenanya, salah satu cara mengantisipasi radikalisme adalah memperkuat praktik moderasi beragama dan membangun praktik bernegara berlandaskan hak konstitusi.

Dari laman berita yang sama, Ade Armando (FISIP UI) mengungkapkan komunikasi pemerintah soal radikalisme selama ini masih belum tegas. Namun ia memaklumi, sebab lawan radikalisme yang dihadapi saat ini memang sebuah kekuatan besar.

Yang lebih penting untuk diwaspadai, kata Ade, adalah pihak-pihak yang berpikir mengubah Indonesia secara gradual. Yakni melalui jalur kebudayaan, pendidikan, ekonomi, politik, agar Indonesia menjelma sebagai sebuah negara yang diatur syariat-Nya.


Dalam QS Ash Shaaf ayat 8 Allah SWT menegaskan, sekalipun orang-orang kafir amat ingin memadamkan cahaya Allah dengan berbagai tipu daya, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya melalui makar yang tak pernah mereka sangka.

Seperti pernyataan keji John Ashcroft, mantan Jaksa Agung AS pada masa pemerintahan George Bush, tentang Islam. Dalam sebuah wawancara setelah peristiwa 11 September 2001, Ashcroft berkata, “Islam adalah agama di mana Tuhan meminta Anda untuk mengirim putra Anda mati untuk-Nya.”

Kalimat tersebut membuat muslim Amerika marah. Mereka percaya Ashcroft sendiri menyimpan niat buruk terhadap Islam dan Muslim. Islamofobia memicu perlawanan muslim di belahan dunia mana pun.

Baca juga:  Islam Radikal: Propaganda Menjegal Islam Kaffah

Hari ini, 18 tahun setelah Ashcroft melemparkan tuduhan kejinya, pemerintahan Donald Trump menghadapi “ancaman terorisme” di dalam negeri. Kelompok antifasis Antifa dimasukkan Trump dalam daftar organisasi teroris karena dianggap memulai kerusuhan di tengah protes atas kematian George Floyd.

Garda Nasional –pasukan cadangan militer AS untuk keadaan darurat domestik- pun dikerahkan di 15 negara bagian untuk membantu pasukan polisi menangani kerusuhan tersebut.

Lagi-lagi, maling teriak maling, karena RAND Corporation menuduh jihad salafi seperti al-Qaeda, Islamic State, dianggap menginspirasi supremasi kulit putih, neo- Nazi dan elemen-elemen anarkis. Padahal, jelas-jelas Antifa tidak pernah terhubung dengan kalangan muslim.

Realitasnya, kelompok individu itu bermunculan sekalipun tidak memilki komando dan kontrol yang biasanya dimiliki para pelaku kontraterorisme. Itulah “kutukan” bagi Amerika.

Ala kulli hal, hampir dua dekade sejak diluncurkan Global War on Terrorism (GWoT), membuktikan cahaya Allah tak pernah pudar.

Upaya menghentikan gairah kaum muslimin untuk mengkaji Islam “radikal” makin menunjukkan kegagalan, sekalipun bujet counter terrorism terus meningkat. Office of Counter-Terrorism PBB sampai mendapat empat persen dari total bujet PPB keseluruhan, dan rutin mendapat dana dari negara donor sebesar 238 juta dolar (tahun 2019).

Karena itu, agenda deradikalisasi yang tak kalah kencang dikerjakan di negeri-negeri muslim adalah moderasi Islam. Orang kafir tentu tidak mau sendirian dalam menyebarkan tipu dayanya. Mereka menggalang dukungan “patners”-nya dari kalangan muslim untuk menyebarkan pemahaman Islam moderat.

Baca juga:  Konsistensi Indonesia dalam Program Deradikalisasi

“Gerombolan muslim” ini tak ragu-ragu menstigma Islam, mencitraburukkan saudara muslimnya yang ingin melaksanakan satu demi satu hukum syariat Islam dalam kehidupannya secara sempurna. Pernyataan mereka pedas, tuduhannya tak berdasar, tidak ada bedanya dengan Ashcroft, Bush ataupun Trump.

Seperti tuduhan terbaru yang menyatakan ASN ikut berkontribusi menciptakan radikalisme di kalangan pemerintahan tadi. Sesungguhnya pernyataan itu basi, diulang-ulang corong Islamofobis, meniru pernyataan beberapa menteri yang tak paham hakikat Islam sekalipun mereka disumpah di bawah Alquran.

Padahal, Fadli Zon menuding isu radikalisme sengaja dihembuskan untuk menutupi ketidakbecusan pemerintah mengelola negara. Demikian pula Rizal Ramli yang menganggap isu radikalisme yang didengungkan pemerintah menutupi jurus monoton Menkeu Sri Mulyani yang hanya mengandalkan utang dan pengetatan anggaran tanpa ada terobosan-terobosan.

Pernyataan keduanya dikuatkan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) Siti Zuhro yang menilai, permasalahan utama di Indonesia bukan radikalisme, tapi ketimpangan sosial ekonomi yang sangat serius (29/12/2019).

Jadi, sudah jelas, bukan? Jika kegagalan rezim mengatasi masalah negara “kawin” dengan agenda titipan musuh Islam. Korbannya, jelas ajaran Islam berikut kaum muslimin.

Dengan demikian, sungguh mengada-ada pernyataan orang-orang yang mengatasnamakan dirinya pengamat gerak-gerik muslim garis keras, lantas menyalahkan sikap keagamaan muslim yang memiliki visi perjuangan sebagai cerminan kebanggaan untuk melaksanakan ajaran Islam.

Padahal, yang dilakukan oleh muslim yang telah benar-benar hijrah –apa pun posisi mereka, sebagai ASN, mahasiswa, expert di perusahaan swasta atau calon pejabat publik– tidak lain hanyalah merefleksikan keimanan mereka kepada Allah berikut keinginan untuk menjadi sebaik-baik manusia yang menjalankan seluruh perintah agama dan menjauhi larangan-Nya.

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Lantas, apa hak pemerintah –yang notabene hanya sekumpulan manusia yang mendapat kesempatan dari Allah menjadi penguasa– atau bahkan hanya segelintir manusia –yang dibesarkan namanya oleh media dan rezim– untuk memberikan rekomendasi agar BNPT makin kencang melawan muslim “garis keras”?

Apa pula kewenangan yang mereka miliki, hingga terus menerus mengupah kaum munafik yang terkenal lancang mengutak-atik ayat-ayat Alquran maupun teks hadis demi memperkuat praktik moderasi beragama?

Apakah memiliki kekuasaan menjadi pembenar untuk mengkriminalisasi muslim yang ingin menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara?

Dengan menuduh Islam berpandangan eksklusif, justru menunjukkan ekslusivitas demokrasi yang memaksakan sekularisme pada kaum muslimin. Karena haram bagi demokrasi sekuler untuk menerapkan Islam kaffah dalam kehidupan bernegara.

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah Ayat 77).

Orang kafir beserta orang-orang yang bersedia dibayarnya untuk memutarbalikkan ajaran Islam, akan terus ada. Apalagi dalam konstelasi politik di bawah supremasi kapitalisme.

Sebagai muslim, kita harus secara lugas membongkar kedok mereka demi menyelamatkan umat dan ajaran Islam. Karena membela dan menolong agama Allah itu adalah cermin kemuliaan seorang muslim, sekalipun munafik dan kafir membencinya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

24 thoughts on “Hanya Berani “Maling Teriak Maling”, Proyek Deradikalisasi Bakal Bangkrut

  • 24 Agustus 2020 pada 22:05
    Permalink

    Astaghfirullah………semakin hari semakin menjadi jadi kebobrokan Ats landasan sistem kapitalis ini.
    Saatnya kembali kepada sistem khilafah Rasyidah’alaa minhajinabi.
    Allahuakbar………

    Balas
  • 20 Agustus 2020 pada 22:52
    Permalink

    Allahu Akbar.. Islam pasti menang! Musuh Islam pasti binasa!

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 18:55
    Permalink

    Yg nyata2 berbahaya adalah SEPILIS (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme). Knp selalu umat Islam yg difitnah? Krn mereka takut Islam bangkit. Ya Allah semoga mereka yg benci Islam bs menyaksikan Islam tegak. Aamiin..

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 16:27
    Permalink

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad 47: Ayat 7)

    Balas
  • 18 Agustus 2020 pada 21:27
    Permalink

    Orang kafir beserta orang-orang yang bersedia dibayarnya untuk memutarbalikkan ajaran Islam, akan terus ada. Apalagi dalam konstelasi politik di bawah supremasi kapitalisme.
    Ya tinggal menunggu waktu saja bagaimana hancurnya sistem kapitalisme ini.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 14:17
    Permalink

    Deradikalisasi adalah proyek untuk menjauhkan umat Islam dr ajaran Islam yg lurus. Musuh2 Islam takut akan kebangkitan kaum muslimin

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 13:01
    Permalink

    Sebagai muslim, kita harus secara lugas membongkar kedok mereka demi menyelamatkan umat dan ajaran Islam. Karena membela dan menolong agama Allah itu adalah cermin kemuliaan seorang muslim, sekalipun munafik dan kafir membencinya.

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 08:18
    Permalink

    Maling teriak maling

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 04:58
    Permalink

    Wamakaru wamakarollah, Wallahu Khoirul maakirin….in syaa Allah

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 04:57
    Permalink

    Mereka adalah org munafik, mencari cari kesalahan Islam, tapi mereka tidak tahu bahwa Islam dijaga oleh sang pencipta dunia ini

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:49
    Permalink

    Mereka tidak akan berhenti untuk menjatuhkan Islam. Meski cara mereka selalu gagal

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:48
    Permalink

    Ya Allah, segerakanlah tegaknya khilafah agar permasalahan umat segera teratasi

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:21
    Permalink

    Alibi yg diumbar yaitu “radikal” sebagai kedok kejahatan rezim. Segala daya dan upaya mencari keuntungan semata karena tahta.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:14
    Permalink

    Deradikalisasi, upaya Barat utk menghadang kebangkitan Islam

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:33
    Permalink

    Astaghfirullah.. memang sudah saatnya ganti sistem, terlalu banyak kebobrokan yang terjadi. We need Islam kaffah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:07
    Permalink

    ketimpangan ekonomi yang jadi penyebab utama tapi kenapa islam (radikalisme) yang jadi kambing hitam. Terbiasa pengalihan isu jadi masalah tidak pernah tuntas sampe akarnya.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:03
    Permalink

    Bahaya bila umat islam tdk bersatu.. Tdk tahu musibah sejatinya

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:44
    Permalink

    Sebagai muslim, kita harus secara lugas membongkar kedok mereka demi menyelamatkan umat dan ajaran Islam. Karena membela dan menolong agama Allah itu adalah cermin kemuliaan seorang muslim, sekalipun munafik dan kafir membencinya.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:44
    Permalink

    Sepandai-pandainya menyimpan bangkai lama2 akan tercium juga bau busuknya. Itulah istilah yang tepat bagi penyebutan sistem kapitalis yang diterapkan saat dengan berbagai macam proyek yang diciptakannya untuk menghalangi tegaknya Islam.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:28
    Permalink

    Sekuat apapun upaya kuffar menghadang kebangkitan umat Islam, maka itu adalah kesia-siaan

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:23
    Permalink

    Tabik Ustadzah!

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:00
    Permalink

    Islam itu tinggi yang tak bisa ditandingi, apalagi direndahkan oleh tangan musuh islam.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 19:55
    Permalink

    Semakin rindu Khilafah
    Islam Kaffah solusi tuntas atasi semua masalah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *