Desain Sistem Kesehatan Islam, Solusi bagi Krisis Kesehatan Global

Oleh: Dr. Rini Syafri (Pengamat dan Pakar Biomedik)

MuslimahNews.com, FOKUS – Pandemi virus corona baru (Covid-19) menandai tonggak sejarah mengerikan pada Senin (10/08/2020) ketika jumlah kasus infeksi global melampaui 20 juta. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merespons dengan menyerukan masyarakat internasional tidak putus asa melawan pandemi.

Sementara itu, jumlah korban meninggal diperkirakan akan melampaui 750.000 dalam hitungan hari karena krisis kesehatan global yang dimulai akhir tahun lalu di Cina terus berlanjut (sindonews.com, 11/08/2020).

Di Indonesia sendiri, tampak jelas abainya pemerintah hingga mengakibatkan kondisi pandemi tak kalah mengkhawatirkan. Semenjak program new normal diaruskan pemerintah, penambahan kasus baru penderita Covid-19 lebih cepat dari biasanya.

Tragisnya, alih-alih mengoreksi diri, pemerintah justru sibuk menyalahkan masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, yang bila dicermati penyebabnya juga berpulang pada kelalaian pemerintah.

Jika boleh berandai-andai, seandainya di awal pandemi pemerintah menerapkan konsep penanganan yang manusiawi, tentu negeri ini selamat dari pandemi dan masyarakat tidak sengsara seperti saat ini.

Harus diakui, kegagalan kapitalisme menangani pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai persoalan serius. Ini tersebab kerusakan kronis sistem kapitalisme pada berbagai aspek kehidupan.

Kegagalan kapitalisme menangani pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai persoalan serius. Tampak pada tingginya angka kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, termasuk korban di negeri ini, yang mencapai ratusan ribu hingga nominal jutaan.

Belum lagi dampak lanjutan yang tak kalah berbahaya. Pasalnya, pandemi berkepanjangan ini juga berimplikasi pada ancaman kelaparan hingga stunting. Demikian halnya dengan kemiskinan, dekadensi moral, serta krisis sosial yang makin dalam.

Karena itu, lihatlah, betapa berbahayanya kapitalisme dan rezim pelaksananya ketika dipaksakan untuk mengelola kehidupan dan kesejahteraan umat manusia.

Oleh karenanya, hendaklah kita juga bijak menilai solusi yang benar dan mampu menyolusi secara manusiawi pula. Konsep manusiawi yang dimaksud tentu saja sesuai Islam. Karena Islam bersumber dari Sang Khalik, yang diturunkan melalui utusan-Nya, Rasulullah Saw.

Sebagai diin yang sempurna, tidak satu pun persoalan kehidupan manusia kecuali ada penyelesaiannya di dalam Islam.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala tegaskan, “Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS An-Nahl [16]: 89)

Penting dicatat, penyelesaian Islam bukanlah asal-asalan, tapi sesuai fakta, tuntas, manusiawi, dan pelestari kehidupan.

Ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (TQS Al Anfaal [8]: 24)

Termasuk di dalam Islam juga, seluruh aturannya bersifat memuliakan manusia, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan, “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”  (TQS Bani Israiil [17]: 70)

Terkait penyelesaian pandemi, di samping karakter tersebut, pada solusi Islam juga menyatu pandangan sahih, bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok publik.

Sebagaimana dituturkan lisan yang mulia Rasulullah Saw., “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari sehat badannya, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari)

Baca juga:  Keterlaluan, Jualan di Tengah “Panic Game” Corona

Selain itu, solusi Islam juga bermuatan pandangan sahih bahwa keselamatan nyawa manusia lebih utama dari pada nilai materi (ekonomi), “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan unuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR At Tirmidzi)

Bahkan, penyelesaian Islam memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pemanfaatan sains dan teknologi terkini. Hal ini tampak dari pandangan Islam yang mendudukkan ilmu pengetahuan tak ubahnya air dalam kehidupan.

“Perumpamaan  petunjuk dan ilmu yang Allah SWT mengutusku karenanya seperti air hujan yang menyirami bumi.” (HR Bukhari dari Abu Musa dari Rasulullah Saw.)

Semua desain kesehatan yang digali dari Islam itu meniscayakan dalam penyelesaian Islam terwujudnya dua tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu singkat.

Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.


Dua tujuan pokok ini tercermin pada lima prinsip Islam dalam memutuskan rantai penularan wabah.

Prinsip pertama, penguncian areal wabah (lockdown syar’i). 

Ditegaskan Rasulullah Saw., “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Artinya, tidak boleh seorang pun yang berada di areal terjangkiti wabah keluar darinya. Juga, tidak boleh seorang pun yang berada di luar areal wabah memasukinya.

Prinsip ini sangat efektif untuk memutus rantai penularan wabah. Sebab menutup rapat celah penularan baik sudah terinfeksi tetapi belum diketahui dengan baik karakteristik kuman dan manivestasi klinisnya, maupun dari yang terinfeksi tanpa gejala.

Artinya, prinsip ini dengan sendirinya tidak saja menjamin masyarakat yang berada di luar areal wabah tercegah dari kasus impor (imported case), namun juga mereka dapat beraktivitas seperti biasa.

Prinsip kedua, pengisolasian  yang sakit.

Rasulullah Saw. menegaskan, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari); “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

Kedua hadis ini dapat diimplementasikan antara lain dengan massive testing yang cepat dengan hasil akurat kepada setiap orang yang berada di areal wabah. Sebab, mereka semua berpotensi terinfeksi dan berisiko sebagai penular.  \

Selanjutnya, yang positif terinfeksi harus segera diisolasi dan diobati hingga benar-benar sembuh. Deteksi dan contact tracing dapat dilakukan untuk keberhasilan massive testing.

Prinsip ketiga, pengobatan segera hingga sembuh bagi setiap orang yang terinfeksi meski tanpa gejala (asymptomatic).

Sebab setiap penyakit dapat disembuhkan, sebagaimana tutur lisan yang mulia Rasulullah Saw., “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan didiadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Di samping itu, kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Rasulullah Saw. juga bersabda, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari)

Baca juga:  Kenaikan Iuran BPJS Bukan Hanya Soal Nilai Nominal

Prinsip keempat, social distancing.

Orang yang sehat di areal wabah hendaklah menghindari kerumunan. Hal ini sebagaimana masukan sahabat ‘Amru bin Ash r.a, yang dibenarkan Khalifah Umar bin Khaththab.

Sebab, wabah ibarat api. Kuman yang penularannya antarmanusia akan menjadikan kerumunan manusia sebagai sarana penularan, begitu juga sebaliknya.

Dan prinsip kelima, penguatan imunitas (daya tahan) tubuh.

Mereka yang sehat tetapi berada di areal wabah, lebih berisiko terinfeksi. Karena kuman di areal wabah relatif tinggi, sementara tubuh manusia dan kondisi imunitasnya adalah penentu terjadinya infeksi, di samping port de entry (portal ke luar masuk kuman).

Allah SWT menegaskan, “…Yang menetukan kadar (masing-masing) ciptaan-Nya…” (TQS Al A’la [87]:3). Caranya, adalah dengan menjaga pola hidup sehat sesuai syariat.

Hal ini jelas butuh jaminan langsung negara dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, bahkan masker yang sesuai standar kesehatan.

Pelaksanaan kelima prinsip ini secara bersamaan meniscayakan kehidupan di areal wabah berlangsung secara normal.

Di saat yang bersamaan, pemutusan rantai penularan berjalan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.

Pelaksanaan kelima prinsip ini menutup rapat semua ruang dan celah bagi terjadinya imported case, local imported case, juga penularan atau transmisi lokal.

Pelaksanaan lima prinsip tersebut niscaya dalam sistem kehidupan Islam. Karena didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam.

Sistem kehidupan Islam sendiri adalah unsur pembentuk sistem kesehatan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam.


Selanjutnya, yang tak kalah urgen, ada tujuh pilar sistem kesehatan Islam yang berperan penting dalam pelaksanaan lima prinsip sahih Islam dalam penanggulangan wabah.

Pilar pertama, fungsi  negara yang sehat, yakni pengurus  urusan kehidupan masyarakat. 

Ditegaskan Rasulullah Saw., “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Artinya negara adalah pihak yang bertanggung jawab langsung dan penuh terhadap pelaksanaan lima prinsip pemutusan rantai penularan wabah di atas.

Termasuk menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai secara kualitas dan kuantitas, dana yang mencukupi, laboratorium diagnostik, SDM kesehatan, lembaga riset, dan industri alat kedokteran serta farmasi. Tuntutan ini begitu selaras dengan potensi dan kapasitas yang dimiliki negara.

Pilar kedua, model kekuasaan bersifat sentralisasi dan administrasi bersifat desentralisasi.

Ditegaskan Rasulullah Saw., “Apabila dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR  Muslim)

Model kekuasaan ini menjadikan negara memiliki wewenang dan kekuasaan yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tanggung jawab pentingnya, dalam hal ini pelaksanaan lima prinsip Islam dalam penanggulangan wabah.

Baca juga:  B2B Vaksin Covid-19, Kapitalisasi Dunia Kesehatan

Pilar ketiga, pembiayaan berbasis baitulmal dan bersifat mutlak.

Ini adalah kunci rahasia bagi terwujudnya kemampuan finansial negara secara memadai. Utamanya untuk pelaksanaan berbagai fungsi pentingnya dalam wabah, yang tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit.

Ini di satu sisi. Di sisi lain, faktanya Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya dikaruniai Allah SWT barang tambang berlimpah, seperti batu bara, BBM, hingga emas. Yang kedudukannya sebagai harta milik umum dan salah satu sumber pembiayaan penanganan wabah berbasis baitulmal yang bersifat mutlak.

Pilar keempat, pengadaan SDM (Sumber Daya Manusia) kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam.

Hal ini, khususnya tujuan dan kurikulum sahih serta steril dari unsur kapitalisasi, akan bekerja secara sistemis mengatasi persoalan SDM kesehatan hari ini.

Pendidikan tinggi adalah sandaran negara dalam pemenuhan tenaga terampil dan ahli bagi berjalannya fungsi negara. Seperti dokter dan staf medis yang berkualitas dengan jumlah memadai. Olehnya, segera terwujud pelayanan kesehatan gratis berkualitas, utamanya yang terinfeksi wabah.

Pilar kelima, fasilitas kesehatan dan unit-unit teknis lain yang dimiliki negara berfungsi sebagai perpanjangan fungsi negara.

Artinya, harus dikelola di atas prinsip pelayanan dengan pembiayaan dan pengelolaan langsung dari negara. Dengan kata lain, sektor pelayanan kesehatan tidak dibenarkan menjadi lembaga bisnis dan bersifat otonom.

Konsep ini menemukan relevansinya dengan fungsi negara yang sehat. Setiap orang akan mudah mengakses pelayanan kesehatan gratis berkualitas kapan saja dan di mana saja di saat ia membutuhkan.

Pilar keenam, riset pada segera terwujudnya politik dalam dan luar negeri negara Khilafah.

Sinergi fungsi negara yang sehat dan konsep riset ini memungkinkan segara terwujud riset terkini untuk kecepatan penanganan wabah. Seperti riset bagi penentuan titik areal wabah, luas areal yang harus dikunci, dan lamanya penguncian.

Demikian juga riset tentang standar pengobatan, instrumen, dan obat-obatan terbaik bagi kesembahan dan keselamatan jiwa pasien.

Dan pilar ketujuh, politik industri berbasis industri berat.

Prinsip ini adalah jalan efekif bagi segera terpenuhinya berbagai teknologi terkini bagi penanganan wabah. Mulai dari alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, hingga berbagai produk farmasi, alat kesehatan, dan obat-obatan.


Pandemi memang telanjur sangat parah, namun tidak ada istilah terlambat untuk melakukan yang baik. Hanya saja, semua konsep sahih Islam hanyalah serasi dengan metode pelaksanaannya menurut Islam, yakni negara Khilafah.

Sungguh, tidak ada jalan lain bagi penyelesaian persoalan bangsa ini, khususnya pandemi dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kecuali dengan kembali pada pangkuan kehidupan Islam, Khilafah Islam.

Tiba saatnya penguasa negeri ini membuang jauh sikap antikhilafah, pun kepada para pejuangnya. Karena negeri ini hanya akan sejahtera di bawah naungan Khilafah. In syaa Allah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

28 thoughts on “Desain Sistem Kesehatan Islam, Solusi bagi Krisis Kesehatan Global

  • 19 Agustus 2020 pada 11:55
    Permalink

    Begitu sempurnanya aturan Islam, aturan yg berasal dr Allah pasti yg terbaik

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 10:34
    Permalink

    Khilafah adalah tuntutan keimanan dan sekarang menjadi kebutuhan

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:19
    Permalink

    Maa syaa Allah, sedemikian liar biasanya Islam mengatur kehidupan ini…
    Seharusnya kaum muslim memahami dan memperjuangkannya..

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 22:01
    Permalink

    Sungguh, tidak ada jalan lain bagi penyelesaian persoalan bangsa ini, khususnya pandemi dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kecuali dengan kembali pada pangkuan kehidupan Islam, Khilafah Islam.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:29
    Permalink

    Astaghfirullah, kebijakan2 yang diambil tidak menyelesaikan masalah pandemi saat ini

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 20:36
    Permalink

    Hanya Sistem Islamlah satu2 nya yang bisa menyelesaikan masalah secara tuntas.

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 19:48
    Permalink

    Saatnya Khilafah tegak kembali.
    #ReturnTheKhilafah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 13:38
    Permalink

    Maa Syaa Allah, begitu totalitas nya Islam dalam segala aspek kehidupan ini. Allahu Akbar!!

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 13:36
    Permalink

    Sistem Islam adalah solusi atas semua masalah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 12:19
    Permalink

    Kapitalisme gagal

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 11:51
    Permalink

    Masih ngeyel pakai sistem selain Islam…semakin nestapa umat

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 08:53
    Permalink

    Islam adalah agama yg sempurna yg mengatur seluruh aspek kehidupan jika ingin sejahterah maka terapkan sistem islam kaffah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 08:01
    Permalink

    Dalam sistem kapitalisme, kesehatan adalah bisnis, maka yg berhak dpt kesehatan adlh org2 berduit. Smntr rakyat miskin mendapatkan fasilitas ala kadarnya. Hny sistem Islam yg menjaga dan memuliakan manusia sebaik2nya

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 05:44
    Permalink

    negeri ini hanya akan sejahtera di bawah naungan Khilafah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 04:02
    Permalink

    Masyaa Allah..Allahu Akbar..smoga peradaban Islam akan segera tegak..

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 00:44
    Permalink

    Islam punya cara cepat dan jitu untuk menangani dan menjamin kesehatan ummat.

    Balas
    • 15 Agustus 2020 pada 12:16
      Permalink

      Tiba saatnya penguasa negeri ini membuang jauh sikap anti khilafah, pun kepada para pejuangnya. Karena negeri ini hanya akan sejahtera di bawah naungan Khilafah. In syaa Allah.

      Balas
    • 15 Agustus 2020 pada 17:18
      Permalink

      Hanya Islam lah solusi yg sesuai dg fitrah manusia

      Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:51
    Permalink

    Masya Allah.. Solusi Islam begitu sempurna dan paripurna ❤️

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:35
    Permalink

    Kapitalis adalah sistem yang gagal, kembalilah kepada sistem islam yang akan membawa perubahan dari berbagai aspek kehidupan

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:31
    Permalink

    Sangat aneh jika anti Khilafah masih ada yang mengusungnya..

    Balas
    • 16 Agustus 2020 pada 05:01
      Permalink

      Inilah negara plin plan dan coba coba

      Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:19
    Permalink

    Kapitalisme sumber berbagai problematika umat yg tak berujung penyekesaiannya. Butuh Islam sbg solusi tuntas

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:14
    Permalink

    Yaa Allah…
    Bener banget, sadar atau tidak, sebenarnya dunia sedang membutuhkan khilafah. Untuk memperbaiki tatanan kehidupan agar sesuai dengan fitrah manusia

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 21:11
    Permalink

    Masyaallah, begtu sejahteranya hidup dibawah naungan khilafah

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 20:53
    Permalink

    Saatnya Khilafah Menggantikan Kapitalisme

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 20:36
    Permalink

    Setuju..
    Saatnya penguasa ni membuang jauh sikap antikhilafah, pun kepada para pejuangnya. Sejahtera akn ad hny di bawah naungan Khilafah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *