Indonesia Terjungkal Resesi Teknikal, Perempuan Jadi Korban

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Resesi ekonomi menjadi perbincangan yang ngehits di masyarakat akhir-akhir ini. Bermunculan broadcast mengabarkan Indonesia sudah masuk jurang resesi. Namun, ada pula pihak yang tak percaya Indonesia sedang resesi. Kata mereka, lha wong pasar masih ramai, kok dibilang resesi.

Lantas, yang benar yang mana? Untuk menentukan Indonesia sudah masuk resesi apa belum, acuannya haruslah data. Bukan persepsi, apalagi teori konspirasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 jatuh hingga minus 5,32% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dibandingkan kuartal I-2020 yang tercatat 2,97%, perekonomian RI juga mencatatkan minus 4,19% (quarter-to-quarter/QtQ).

Dua kontraksi beruntun secara QtQ membuat Indonesia bisa dibilang sudah masuk ke fase resesi teknikal (technical recession). Pasalnya pada kuartal I-2020 secara QtQ PDB Indonesia minus 2,41%.

Biang Kerok Resesi

Penguasa bisa saja berlindung di balik alasan pandemi, sehingga berharap resesi bisa dimaklumi. Namun, jangan lupa, resesi tidak kali ini saja menyapa kita. Indonesia sudah berkali-kali disambangi resesi.

Tercatat pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo terjadi resesi teknikal sebanyak enam kali. Wah, kalau ini, sih, bukan melulu salahnya si Covid-19. Berarti, Indonesia memang rentan terkena resesi. Kenapa ya?

Daripada bertanya pada rumput yang bergoyang, kita bisa menyimak pendapat ahlinya.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time to Present Day, menguraikan sejarah kronologi krisis secara komprehensif.

Baca juga:  Kejatuhan Pasar Finansial untuk Kesekian Kalinya

Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan secara rata-rata, setiap lima tahun terjadi krisis keuangan hebat.

Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di abad 20 telah menyebabkan krisis siklik (berulang). Selama masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, selama itu pula Indonesia akan terus mengalami resesi.

Meski ekonomi sempat naik, namun akhirnya selalu terjun bebas ke jurang resesi. Meski wabah ini berakhir, resesi ekonomi akan tetap menghantui Indonesia. Pencetusnya saja yang berbeda, tapi akhirnya resesi juga.

Solusi Takwa

Atas kondisi resesi berulang ini, Indonesia perlu tobat nasuha di bidang ekonomi. Yakni meninggalkan sistem ekonomi kapitalisme yang berdasar riba, judi, dan ekonomi nonriil.

Serta menerapkan sistem ekonomi Islam yang memiliki fondasi yang solid. Ekonomi Islam berdasar pada ekonomi riil, sehingga tidak akan mengalami ekonomi gelembung.

Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk beriman dan bertakwa. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96)

Ibnu Mas’ud menjelaskan, “Takwa adalah menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir: Dar at-Thayyibah, 1999)

Baca juga:  Jelang Ajal Demokrasi, Songsong Fajar Khilafah

Maka, solusi atas resesi yang kerap terjadi di Indonesia adalah semua penguasa dan rakyat bertakwa di bidang ekonomi dan juga di seluruh kehidupannya.

Riba dan judi harus dibersihkan. Ekonomi berbasis pada ekonomi riil saja. Mata uang menggunakan standar emas yang stabil. Kepemilikan umum seperti tambang harus dikembalikan pada pemiliknya yakni semua rakyat.

Jika semua tambang di Indonesia dikelola negara dan hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan khalayak, rakyat akan tercukupi kebutuhannya. Ekonomi akan bergerak dan pertumbuhannya positif. Indonesia bisa lepas dari resesi dengan menerapkan ekonomi Islam.

Perempuan bukan Bumper Ekonomi

Sayangnya, solusi Islam tidak dijalankan penguasa Indonesia. Mereka justru menempuh solusi tambal sulam. Hanya menyelesaikan gejala krisis, bukan menyembuhkan sejak dari asasnya.

Misalnya, penguasa menolak solusi lockdown. Bahkan ngotot menerapkan new normal sehingga sentra-sentra ekonomi tetap berjalan.

Sayangnya, akibat kebijakan ini, wabah tak kunjung selesai. Ongkos ekonomi untuk menyelesaikan wabah pun kian besar dan membengkak. Akibatnya, ekonomi minus terus.

Gagal menyelamatkan ekonomi, penguasa justru lempar tanggung jawab pada kaum perempuan. Kini para perempuan dijadikan tulang punggung keluarga dan bahkan tulang punggung negara. Di Amerika Serikat (AS), kaum perempuan menyumbang triliunan dolar untuk ekonomi negara.

Para emak pun berbisnis aneka rupa. Mulai dari bakulan, produksi kue, membuat masker, dan lain-lain. Mengumpulkan Rupiah selembar demi selembar. Semata agar dapur tetap ngebul dan perut anggota keluarga terisi full. Karena pandemi harus dihadapi dengan raga yang kuat.

Baca juga:  Kebijakan Islam dalam Pengelolaan Kepemilikan Umum

Para emak pun terpaksa bekerja ganda. Kerja urusan rumah tangga dan kerja untuk ekonomi keluarga. Lelah fisik, pikiran, dan emosional dialami para ibu bangsa ini.

Bagaimana lagi, ekonomi resesi, penguasa pun abai. Sementara perut harus diisi. Jadilah emak dipaksa melakukan ekonomi kreatif yang hasilnya jauh dari kata layak. Sekadar menambal anggaran rumah tangga. Namun tak cukup untuk menggapai sejahtera.

Ah, pengorbanan para emak ini harusnya diapresiasi. Bukan malah dipolitisasi atau bahkan dijadikan bumper ekonomi.

Duh, nasib hidup di sistem zalim. Para pemilik surga di telapak kakinya ini justru dipaksa jadi penggenjot ekonomi. Lha, penguasa ngapain?

Mereka sibuk memperkaya diri sendiri dan golongannya. Sibuk mengamankan kursi dan tahtanya. Hingga tak sempat memikirkan nasib rakyatnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Padahal seandainya aneka tambang yang ada di bumi Indonesia dikelola dengan baik, lalu hasilnya digunakan sepenuhnya untuk rakyat, resesi akan cepat teratasi.

Dilengkapi dengan taubatan nasuha dengan penerapan ekonomi Islam secara kaffah, resesi akan bisa dicegah.

Keputusannya ada di kita, rakyat Indonesia. Masih mau bertahan dengan sistem gagal yang menyebabkan resesi berulang ataukah hijrah ke Islam kaffah dengan pemimpin yang amanah? Pilihan ada di tangan kita. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 thoughts on “Indonesia Terjungkal Resesi Teknikal, Perempuan Jadi Korban

  • 14 Agustus 2020 pada 20:04
    Permalink

    Innalillahiwainnailahi rojiuun
    Syang nya banyak yg masih belum sadar hanya
    Sistem islam lah yg sempurna

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 19:59
    Permalink

    Innilillahiwainnailahi rojiuu
    Sungguh kezaliaman yg luar biasa tp syang banyak yg tdk sadar
    Hanya sistem islam kafffah lah yg sempurna

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 04:47
    Permalink

    Betul sekali, Para perempuan pun ikut andil mencari nafkah. dng jualan online, buat menambah perekonomian keluarga. Peran Negara sdh sgt jauh.. sdh makin abai dengan rakyatnya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *