Covid-19 Memicu Stunting, Pakar Biomedik: Akibat Kerusakan Kronis Kapitalisme

MuslimahNews.com, NASIONAL — Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi.

Sebelum pandemi Covid-19, diperkirakan 47 juta balita mengalami penurunan berat badan dengan cepat (wasting) di tingkat sedang hingga parah, sebagian besar tinggal di Afrika sub-Sahara dan Asia Tenggara.

Wasting terjadi ketika tubuh kekurangan gizi akut sehingga otot dan lemak dalam tubuh mulai berkurang dengan cepat.

Dalam sebuah artikel pada jurnal medis The Lancet, tim ahli menunjukkan hasil estimasi pemodelan komputer tentang pasokan makanan di 118 negara miskin dan berpenghasilan menengah.

Hasilnya, mereka menemukan wasting akibat kekurangan gizi tingkat sedang hingga berat untuk anak di bawah usia 5 tahun akan meningkat 14,3%, atau setara 6,7 juta kasus tambahan.

Sementara di Indonesia, PBB memperkirakan Covid-19 memicu ancaman stunting terhadap hampir 7 juta anak dan 180.000 di antaranya terancam meninggal. (bbc.com/indonesia, 02/08/2020)

Menanggapi hal ini, pengamat yang juga pakar biomedik, Dr. Rini Syafri menyatakan, kegagalan kapitalisme menangani pandemi Covid-19 mengakibatkan berbagai persoalan serius.

“Lihatlah, betapa berbahayanya kapitalisme dan rezim pelaksananya terhadap kehidupan dan kesejahteraan umat manusia,” tegasnya.

Menurutnya, kerusakan kronis sistem kapitalisme ada di berbagai aspek kehidupan. Pandemi berkepanjangan ini pun makin memperparah ancaman kelaparan. Meski demikian, Dr. Rini mengatakan belum terlambat untuk menanggulangi.

Baca juga:  Kebijakan Rezim “Menggila”, Rakyat Makin Sengsara

“Saat ini pandemi telanjur sangat parah. Namun, tidak ada istilah terlambat untuk melakukan yang baik,” ujarnya pada MNews, 9/8/2020.

Untuk menanggulangi stunting dampak wabah ini, Dr. Rini pun memaparkan soal tujuh pilar sistem kesehatan Islam.

Pertama, fungsi negara yang sehat.

Negara menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai secara kualitas dan kuantitas, dana yang mencukupi, laboratorium diagnostik, SDM kesehatan, lembaga riset, dan  industri alat kedokteran serta farmasi.

Kedua, model kekuasaan bersifat sentralisasi dan administrasi bersifat desentralisasi.

Model kekuasaan ini menjadikan negara memiliki wewenang dan kekuasaan yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tanggung jawab dalam penanggulangan wabah.

Ketiga, pembiayaan berbasis baitulmal dan bersifat mutlak.

Negara mengelola harta milik umum yang tak lain adalah salah satu sumber pembiayaan penanganan wabah.

Keempat, pengadaan SDM kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam.

Ini menjadi output kurikulum sahih, serta steril dari unsur kapitalisasi. Dokter dan staf medis yang berkualitas tersedia dengan jumlah memadai. Mereka terintegrasi dengan pengelolaan kesehatan berkualitas terbaik.

Kelima, fasilitas kesehatan dan unit teknis lain milik negara berfungsi sebagai perpanjangan fungsi negara.

Artinya, harus dikelola di atas prinsip pelayanan dengan pembiayaan dan pengelolaan langsung dari negara. Tidak dibenarkan sebagai lembaga bisnis dan bersifat otonom. Setiap orang akan mudah mengakses pelayanan kesehatan gratis berkualitas kapan saja dan di mana saja di saat membutuhkan.

Baca juga:  Saat Arogansi Rezim Sukses Mengooptasi Rasionalitas Kaum Intelektual

Keenam, riset terkini untuk kecepatan penanganan wabah.

Seperti riset bagi penentuan titik areal wabah, luas areal yang harus dikunci, dan lamanya penguncian. Demikian juga riset tentang standar pengobatan, instrumen, dan obat-obatan terbaik bagi kesembuhan dan keselamatan jiwa pasien.

Ketujuh, politik industri berbasis industri berat.

Prinsip ini adalah jalan efekif bagi segera terpenuhinya berbagai teknologi terkini bagi penanganan wabah. Mulai dari produksi Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis, hingga berbagai produk farmasi, alat kesehatan dan obat-obatan.


“Hanya saja, ketujuh pilar di atas hanya sempurna terwujud menurut konsep sahih Islam dengan metode pelaksanaannya melalui negara Khilafah,” jelasnya.

Dr. Rini pun mengutip sabda Rasulullah Saw., bahwa Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya. (HR Muslim dan Ahmad, ed.)

“Tidak ada jalan lain bagi penyelesaian persoalan bangsa ini, terlebih saat pandemi dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kecuali dengan kembali pada pangkuan kehidupan Islam,” pungkas Dr. Rini. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

3 thoughts on “Covid-19 Memicu Stunting, Pakar Biomedik: Akibat Kerusakan Kronis Kapitalisme

  • 13 Agustus 2020 pada 15:48
    Permalink

    MasyaAlloh semoga pandemi Covid-19 segera berakhir sudah saatnya kita kembali kepada syari’at Allah SWT

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 20:06
    Permalink

    Islamlah solusi bg setiap permasalahan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *