Kematian Nakes, Tumbal Kejahatan Peradaban Kapitalisme

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si. (Pemerhati Politik Islam)

MuslimahNews.com, OPINI – Menurut Indeks Pengaruh Kematian Nakes (IPKN) yang dibuat kelompok Pandemic Talks, Indonesia adalah negara dengan dampak kematian tenaga kesehatan (nakes) terberat dan terburuk di dunia dengan skor 223.

Sekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dedi Supratman menyatakan jumlah kasus kematian nakes akibat Covid-19 di Indonesia termasuk tertinggi di Asia Tenggara dan dunia.

Dibandingkan Rusia (4,7%), Indonesia dengan angka 2,4% kematian nakes –per seribu populasi dokter– merasakan dampak yang terberat di dunia.

Dokter di Indonesia tidak sebagaimana di Rusia, baik dalam jumlah maupun distribusi nakes (1/8/2020). Saat ini, setiap 223.000 orang Indonesia kehilangan satu orang dokter yang seharusnya bisa memberi pelayanan kesehatan selama beberapa tahun lagi.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, berpendapat angka kematian nakes yang tinggi di Indonesia bergantung seberapa baik protokol kesehatan di rumah sakit dilaksanakan para nakes.

Menurutnya, sebenarnya Indonesia memiliki alat pelindung diri (APD) buatan lokal dengan nama Ina United yang lolos standar internasional tertinggi, yaitu ISO 1660.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, banyak dokter meninggal dunia disebabkan kelelahan dan stres menangani pasien Covid-19.

Plt. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir memiliki pandangan lain. Bahwa rumah sakit bukan satu-satunya tempat nakes tertular Covid-19. Dokter yang menderita Covid-19 tidak sebagai nakes yang merawat pasien, tetapi tertular di tempat umum atau pada saat pulang dari pertemuan.


Problem kekurangan dokter sesungguhnya tidak hanya muncul tatkala pandemi melanda. Sebelum pandemi, dunia memang telah kekurangan tenaga medis. Kini, tingginya kematian nakes akibat pandemi menambah problem yang ada.

Bila pandemi terus berlangsung dan jumlah kematian nakes terus bertambah, problem baru akan muncul. Kemampuan rumah sakit dan fasilitas kesehatan (faskes) memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien Covid-19 dan non-Covid akan terganggu.

Banyak negara di dunia memang kekurangan dokter dan tenaga medis. Menurut data World Health Organization (WHO), sebagai negara maju, AS hanya memiliki 26,12 dokter per 10.000 populasi. Inggris juga hanya memiliki 26,12 dokter per 10.000 penduduk.

Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki 4,27 dokter untuk 10.000 populasi. Jumlah dokter di Indonesia kalah dibandingkan Malaysia (15,36 dokter per 10.000 populasi), Singapura (22,94), Filipina (6), Vietnam (8,28), Thailand (8,05), Myanmar (6,77), dan bahkan Timor Leste dengan 7,22 dokter untuk setiap 10.000 penduduk.

Salah satu sebab terbatasnya jumlah tenaga medis di Indonesia dan dunia adalah faktor biaya pendidikan kedokteran yang tinggi.

Di negara maju seperti AS, biaya pendidikan kedokteran sangat tinggi. Laporan New York Times menegaskan, pendidikan kedokteran didominasi anak-anak yang terlahir dari kalangan ekonomi atas.

Baca juga:  Ummu Umarah, Tenaga Kesehatan Pemegang Panji di Medan Jihad

Sepuluh tahun lalu, 75 persen dari total mahasiswa kedokteran di AS berasal dari kalangan elite, dengan rata-rata penghasilan orang tua di atas $75.000 per tahun. Hari ini faktanya tak berbeda jauh.

Berdasarkan data survei tahunan U.S. News pada 72 sekolah kedokteran negeri, tercatat biaya studi mencapai rata-rata $60,293 di tahun 2019-2020. Sedangkan 10 universitas dalam daftar sekolah kedokteran paling terjangkau untuk mahasiswa luar negeri, biaya rata-rata studinya sekurang-kurangnya $39.924.

Yang menarik ialah laporan Time 2018 lalu, bahwa Kuba sebagai salah satu negara paling berpendidikan di dunia. Jumlah dokternya pun banyak, tiga kali lipat jumlah dokter per kapita yang dimiliki AS.

Dengan jumlah dokter yang melimpah itu, Kuba mengirim dokter-dokternya ke berbagai belahan dunia yang membutuhkan. Hingga kini, tercatat sekitar 50.000 dokter asal Kuba bekerja sebagai tenaga medis di 67 negara.

Mark Keller, analis pada Economist Intelligence Unit, menegaskan pendidikan dan kesehatan gratis adalah dua investasi terbesar dari revolusi yang dilakukan Kuba.

Walhasil, untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas pendidikan yang terbaik, memang mutlak membutuhkan biaya besar. Namun permasalahannya, siapa pihak yang harus menanggung biaya pendidikan kedokteran yang tinggi tersebut?

Bila biaya ini dibebankan kepada individu (keluarga), berapa banyak masyarakat yang mampu secara finansial, padahal hari ini Indonesia dan dunia membutuhkan banyak tenaga medis?

Belum lagi lama waktu pendidikan kedokteran sampai menjadi spesialis, tentu tidak pendek. Di Indonesia butuh waktu sekitar 6 tahun untuk lulus mendapatkan gelar dokter, dan sekitar 8-10 semester tambahan untuk menempuh spesialisasi tertentu.

Khilafah dan Pendidikan Kedokteran

Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, Ibn- Maimon, dan tokoh lainnya.

Dr Ezzat Abouleish MD dalam “Contributions of Islam to Medicine”, menuliskan umat Islam membangun sekolah Jindi Shapur sebagai sekolah kedokteran pertama.

Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematis. Jindi Shapur didirikan pada masa Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah.

Pada abad ke-8 M, ilmu kedokteran di dunia Islam mulai berkembang pesat dan berpengaruh besar di berbagai belahan dunia, termasuk di Eropa. Ini berlangsung sampai abad ke-13 M.

Kala itu, rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat pendidikan kedokteran. Tak heran bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan berbagai ilmu medis baru.

Al-Razi (841-926 M), dikenal dengan nama Razes, merupakan seorang dokter istana Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Al-Razi lalu pindah ke Baghdad menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi Khalifah. Buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul “Al-Mansuri” (Liber Al-Mansofis) dan “Al-Hawi“.

Baca juga:  Tudingan Minim Empati, Terawan Lebih Baik Introspeksi dan Evaluasi

Lalu Al-Zahrawi (930-1013 M), atau dikenal di Barat sebagai Abulcasis, merupakan ahli bedah terkemuka di Arab.

Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdul Rahman III. Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul “Al-Tastf li Man ‘Ajz ‘an At-Ta’lf”; karya magnum opus dalam bentuk ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan.

Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery (pembedahan) untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk menghentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang operasi gigi.

Dokter muslim masyhur lainnya adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomenal yang berhasil ditulisnya adalah “Al-Qanon fi Al- Tibb” atau Canon of Medicine.

Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Demikian juga Ibnu Rusdi atau Averroes (1126-1198 M) yang lahir di Granada, Spanyol. Para sarjana Eropa sangat mengaguminya.

Kontribusi Ibnu Rusdi dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul “Al Kulliyat fi Al-Tibb” (Colliyet) berisi rangkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul “Al-Taisir” mengupas praktik-praktik kedokteran.

Nama dokter muslim lainnya yang masyhur adalah Ibnu al-Nafis (1208-1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan kedokteran Islam.

Ibnu al-Nafis sempat menjadi kepala RS Al-Mansuri di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salah satunya yang tekenal adalah “Mujaz Al-Qanun”. Buku itu berisi kritik dan penambahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina.

Beberapa nama dokter muslim terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan al-Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan Afrika.

Menurut Dr. Hossam Arafa dalam tulisannya, Hospital in Islamic History, pada akhir abad ke-13, rumah sakit sudah tersebar di seantero jazirah Arabia. Rumah sakit-rumah sakit itu untuk pertama kalinya di dunia mulai menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan RS yang ada di seluruh dunia.

Semua itu didukung tenaga medis profesional, baik dokter, perawat, dan apoteker. Di sekitar RS didirikan sekolah kedokteran. RS yang ada juga menjadi tempat menempa mahasiswa kedokteran, pertukaran ilmu kedokteran, serta pusat pengembangan dunia kesehatan dan kedokteran secara keseluruhan. Dokter yang bertugas dan berpraktik adalah dokter yang memenuhi kualifikasi tertentu.

Baca juga:  Tudingan Minim Empati, Terawan Lebih Baik Introspeksi dan Evaluasi

Khalifah al-Muqtadi dari Bani Abbasiyah memerintahkan kepala dokter Istana, Sinan Ibn Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat.

Khalifah juga memerintahkan Abu Osman Said Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah, dan Madinah. Sungguh luar biasa capaian keunggulan kedokteran Islam kala itu.

Dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari 3 (tiga) unsur sistem.

Pertama: peraturan, baik peraturan berupa syariat Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis, dan sarana prasarana kesehatan lainnya. Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya.

Karenanya, Khilafah wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotek, pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan, dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya.

Negara juga wajib mengadakan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan, dan lainnya.

Semua disediakan Khilafah, sejumlah kebutuhan yang ada di seluruh wilayah negara Khilafah. Jumlah tenaga medis sebanding dengan jumlah warga negara, dengan perbandingan berdasarkan kapasitas optimum pelayanan kesehatan.

Tidak boleh tenaga medis over-capacity dalam pelayanan. Negara wajib menjamin tidak ada kondisi kekurangan tenaga medis baik kondisi biasa maupun kondisi pandemi.

Pembiayaan untuk semua itu diambil dari kas baitulmal, baik dari pos harta milik negara ataupun harta milik umum. Biaya pendidikan kedokteran dan keperawatan juga kebidanan, semua di-cover penuh baitulmal. Masyarakat sama sekali tidak dibebani pungutan pendidikan.

Di samping itu, dukungan kebijakan kesehatan dalam Khilafah diberikan demi terealisasinya sejumlah prinsip.

Pertama: pola baku sikap dan perilaku sehat. Kedua: Lingkungan sehat dan kondusif. Ketiga: pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Keempat: kontrol efektif terhadap patologi sosial.

Pembangunan kesehatan tersebut meliputi keseimbangan aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Promotif ditujukan untuk mendorong sikap dan perilaku sehat. Preventif diprioritaskan pada pencegahan perilaku distortif dan munculnya gangguan kesehatan. Kuratif ditujukan untuk menanggulangi kondisi patologis akibat penyimpangan perilaku dan munculnya gangguan kesehatan. Rehabilitatif diarahkan agar predikat sebagai makhluk bermartabat tetap melekat.

Dengan demikian, bila pada masa Khilafah nanti terjadi pandemi, maka masyarakat dan tenaga kesehatan tidak akan menjadi korban kejahatan sistem kapitalisme sebagaimana hari ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 thoughts on “Kematian Nakes, Tumbal Kejahatan Peradaban Kapitalisme

  • 12 Agustus 2020 pada 08:51
    Permalink

    Semua permasalah umat. kita kembalikan Ke Islam.. Di tuntaskan dengan Aturan Alqruan dn hadist. di pimpin oleh Ahli dalam Islam. yaitu khilafah.

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 06:31
    Permalink

    Para penanti khalifah tegak

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 19:35
    Permalink

    Hanya khilafah yang bisa menjadi periaya terbaik untuk umat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *