Editorial: Apa Dosa Khilafah?

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Spanduk bertuliskan “KHILAFAH ADALAH MASALAH BUKAN SOLUSI” yang mengatasnamakan PCNU Kota Cirebon, terpasang di sejumlah Jalan Protokol di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Spanduk ini dipasang menyusul peristiwa penghapusan kata Khilafah oleh Ketua DPRD Kota Cirebon dalam draf ikrar kesetiaan pada Pancasila.

Menurut pemasangnya, spanduk itu bertujuan mengampanyekan semangat “hubbul wathan” atau cinta tanah air. Sekaligus “mengedukasi” masyarakat untuk selalu waspada terhadap gerakan-gerakan yang dianggap mengancam nilai-nilai kebangsaan, semisal gerakan pro-Khilafah.

Sebelumnya, Kemenag juga serius melakukan perombakan kurikulum pesantren dan madrasah, merevisi ratusan buku pelajaran agama Islam gegara muatan Khilafah. (Baca: https://www.muslimahnews.com/2020/07/21/editorial-moderasi-kurikulum-demi-siapa/)

Upaya ini membuktikan Pemerintah begitu serius menjadikan narasi Khilafah dan para pengembannya sebagai musuh yang harus ditumpas hingga ke akar.


Sejak era 50-an, ide Khilafah memang menjadi momok menakutkan bagi berbagai rezim sekuler di dunia. Awalnya, ide ini masif didakwahkan secara terbuka oleh gerakan yang didirikan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani di al-Quds Palestina, untuk menantang ideologi batil kapitalisme-sosialisme dengan segala dampak buruk penerapan hukum-hukumnya.

Lalu, pelan tapi pasti, ide dan gerakan ini berkembang ke berbagai negara di dunia, termasuk ke Indonesia. Di era 90-an, ide menegakkan kembali Khilafah ini seolah mendapat momentum terbaiknya.

Hal ini terkait kondisi konstelasi internasional yang mulai kehilangan perimbangannya setelah sistem yang tegak di bawah ideologi sosialisme -dan direpresentasi negara adidaya Uni Soviet- hancur lebur.

Di saat sama, kapitalisme mulai tampil sebagai satu-satunya ideologi yang menjadikan negara pengusungnya bebas menghegemoni dunia termasuk dunia Islam, hingga sekarang.

Maka saat itulah, kampanye menentang ide Khilafah -yang merepresentasikan geliat kebangkitan Islam-, menjadi agenda bersama negara-negara adidaya pengusung kapitalisme bersama antek-anteknya.

Islam dan Khilafah dinarasikan sebagai musuh bersama dengan sebutan “bahaya hijau baru” (a new green peril). Bush Junior menyebutnya sebagai “evil ideology” alias ideologi setan.

Rupa-rupanya, mereka sangat paham, Islam dengan Khilafah sebagai institusi penegaknya, memang satu-satunya ideologi atau sistem hidup yang bisa menjadi musuh potensial dan dipastikan mampu melawan hegemoni kapitalisme global.

Apalagi mereka melihat ide penegakan Khilafah ini makin lama makin mendapat dukungan dari berbagai kalangan umat Islam. Menyusul kian tampaknya borok-borok sistem kapitalisme dengan watak imperialismenya sebagai penyebab kesengsaraan umat manusia di seluruh dunia.

Gerakan War on Terrorism yang masif dilakukan pascaperistiwa 11 September 2001 dan disusul dengan Gerakan War on Radicalism, sesungguhnya menunjukkan hal demikian.

Demi suksesnya agenda ini, AS sebagai pemegang tongkat komando, melakukan strategi stick and carrot untuk mendapatkan dukungan secara global.

Baca juga:  Catat, Yusril Bakal Bikin HTI Eksis Lagi Lewat Upaya Banding, Ini Tiga Alasannya

Targetnya adalah memonsterisasi sekaligus mengalienasi perjuangan penegakan Khilafah dengan menampilkan sisi buruk pergerakan kaum jihadis, termasuk ISIS dengan berbagai drama terornya di berbagai negeri muslim.

Namun qadarullah, semua upaya makar tersebut nyatanya tak mampu menghalangi kerinduan umat untuk hidup dalam sistem yang sesuai dengan fitrah mereka.

Dakwah Khilafah justru makin menggema dan mendapat pembelaan dari umat, meski dengan kadar yang berbeda-beda.

Terlebih, sistem yang tegak hari ini, terbukti tak mampu memberi solusi atas berbagai problem yang dihadapi manusia. Bahkan tak bisa dipungkiri, sistem inilah yang justru menjadi sumber krisis di berbagai aspek kehidupan manusia. Mulai dari krisis politik, ekonomi, moral, lingkungan, kesehatan, energi, dan lain-lain.

Betapa tidak? Asas sekularisme-liberalisme yang melandasinya memang niscaya melahirkan berbagai laku rusak dan merusak.

Tolok ukur perbuatan yang lahir dari asas ini betul-betul rapuh dan penuh kebatilan akibat diserahkan pada akal manusia yang sangat terbatas dan penuh subjektivitas.

Begitu pun dengan standar kebahagiaan yang akan dikejar, semuanya jauh dari nilai-nilai ruhiyah dan serba profan. Maka tak perlu heran, dalam berpolitik, muncul perilaku hipokrit di kalangan para penguasa.

Kekuasaan alih-alih didedikasikan untuk mengurus dan menyejahterakan rakyat, malah digunakan untuk mencuri hak-hak mereka dan mengkhianatinya melalui penerapan sistem kehidupan yang juga rusak.

Sistem ekonomi kapitalisme neolib misalnya. Nyata-nyata hanya prokekuatan modal dan antirakyat. Perampokan aset rakyat dilegalkan, sementara kemiskinan menjadi potret bersama dan gap sosial pun makin menganga.

Dalam konteks makro, ekonomi dunia pun terus dibayang-bayangi ancaman krisis bahkan resesi dunia.

Begitu pun sistem hidup lainnya, seperti sistem pergaulan yang serba permisif dan hedonis, nyata-nyata telah melahirkan generasi tak jelas dan minus visi. Atau sistem hukum yang diskriminatif dan serba mandul, hingga kriminalitas begitu merajalela, yang tak jarang malah dilakukan pejabat negara.

Wajar jika corak kehidupan yang terbangun dari sistem ini adalah kehidupan yang serba bebas, niradab, penuh persaingan tanpa aturan, yang tentu menjauhkan umat manusia dari cita-cita mewujudkan kehidupan yang aman, tenteram, sejahtera, dan penuh kebahagiaan.

Alih-alih mengundang keberkahan. Semua potensi yang dimiliki umat Islam di berbagai negeri, seperti kekayaan alam dan potensi SDM yang melimpah ruah, potensi geopolitik dan geostrategis, ternyata tak bisa menjadi modal menyejahterakan dan memandirikan umat.

Penguasanya kadung mengadopsi sistem batil yang membuka jalan penjajahan politik, ekonomi, budaya, dan pemikiran oleh kekuatan kapitalisme global.

Namun, sunatullaah terus berjalan. Perang antara hak dan batil terus terjadi. Di tengah situasi kritis seperti ini, dakwah Islam ideologi terus menyeruak di tengah umat. Situasi ini seakan menjadi lonceng kematian bagi negara adidaya dan semua rezim antek yang menopangnya.

Baca juga:  Wujudkan Perubahan Hakiki, Jangan Abaikan Seruan Allah

Itulah kenapa, di tengah sisa-sisa kekuatan terakhirnya, mereka serius melakukan berbagai upaya menjauhkan umat dari potensi kebangkitannya. Yakni dari pemahaman Islam ideologi dengan cara melakukan penyesatan politik dan peracunan pemikiran agar Islam menjadi ajaran yang mandul dan kehilangan potensinya sebagai solusi kehidupan dan asas kebangkitan.

Adalah Rand Corporation, lembaga think tank Amerika yang intens melakukan kajian dan memberi rekomendasi untuk menghadapi bahaya kebangkitan Islam pasca peristiwa teror buatan, pemboman menara kembar, 11/9/2001.

Salah satu rekomendasinya adalah penerapan strategi pecah belah dengan mengklasifikasi umat Islam berdasar afiliasi mereka, yakni (1) kaum fundamentalis; (2) kaum tradisionalis; (3) kaum modernis/moderat; dan (4) kaum sekularis/liberalis.

Kaum modernis, tradisionalis, dan sekularis sengaja mereka dukung sesuai kadarnya untuk melawan kaum fundamentalis yang dinarasikan sebagai musuh bersama.

Lantas, siapa yang dimaksud Islam fundamentalis menurut definisi mereka?

Tak lain adalah kaum muslimin yang memiliki ciri mendukung penerapan syariat Islam, mendukung penegakan Khilafah, anti terhadap sistem demokrasi, dan sangat kritis terhadap pengaruh dan ide-ide Barat.

Sementara, kalangan tradisionalis dalam definisi mereka adalah kaum muslim yang mendukung penegakan syariat Islam, mendukung tegaknya Khilafah, kritis terhadap pengaruh Barat, tapi menerima demokrasi dan menganggapnya sebagai syuro (permusyawaratan).

Adapun kaum moderat dan sekuleris-liberalis, adalah mereka yang sama-sama anti terhadap penerapan syariat Islam dan penegakan Khilafah. Dan tentu saja sangat prodemokrasi.

Hanya saja, kaum moderat masih agak kritis terhadap pengaruh/ide-ide Barat, sementara kaum sekuleris, sangat welcome, bahkan ikut mengusung nilai-nilai Barat.

Lalu dalam perkembangannya, istilah fundamentalis yang distigma sebagai musuh bersama ini, diganti dengan nama radikalis. Karena istilah ini dipandang lebih tajam dan mengesankan situasi yang lebih berbahaya dari sebelumnya.

Adapun yang hari ini intens dimainkan untuk menghadapinya, adalah kelompok muslim moderat melalui agenda deradikalisasi (deideologisasi Islam) dan moderasi Islam yang juga disetir dan di-support secara global.

Barat sengaja membentuk jejaring muslim moderat yang direkrut dari kalangan intelektual atau cendikiawan, ulama, media, dan kalangan aktivis Islam.

Merekalah yang intens membela nilai-nilai Barat, seperti sekularisme, demokrasi, kebebasan, HAM, pluralisme, nasionalisme, feminisme, dan lain-lain.

Di saat sama, mereka gencar menyerang Islam, terutama gagasan Khilafah yang digambarkan sebagai ajaran kuno, berbahaya, memecah belah, antikeragaman, dan sebagainya.

Sumber: FP Fareastern Muslimah & Shariah

Mereka, baik sadar atau tidak sadar, telah menjalankan fungsi keagenan bagi kesuksesan agenda penjajahan. Dengan cara memberikan loyalitas pada kepentingan penjajah, dan di saat yang sama mengkhianati umat dan agamanya hanya demi dunia yang sedikit termasuk eksistensi diri dan pengakuan dari manusia.

Baca juga:  Khilafah

Mereka tudingkan segala keburukan pada Islam dan Khilafah. Sementara mereka sesungguhnya mampu melihat, segala kerusakan yang tampak di hadapan mata mereka hari ini berupa keterpurukan, keterjajahan, perampokan kekayaan milik umat, kerusakan moral, dan maupun konflik berkepanjangan, justru terjadi saat mereka bersikukuh hidup dalam sistem sekuler liberal, dan di saat yang sama, Islam serta ajaran Khilafahnya justru dipinggirkan.

Mereka lupa atau pura-pura amnesia, sejarah justru mencatat dengan tinta emas, ketinggian peradaban saat Islam dan Khilafah tegak.

Bukan hanya 1-2 abad, tapi peradaban cemerlang itu tegak hingga belasan abad. Menaungi kehidupan muslim dan nonmuslim dalam kesejahteraan yang tiada bandingan.


Inilah yang digambarkan Will Durant, sejarawan Barat yang jujur dalam bukunya The Story of Civilization:

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas.

Fenomena seperti ini belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat, dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”

Sesungguhnya, masih banyak sejarawan Barat lain selain Will Durant yang secara fair melihat keunggulan sistem Islam atau Khilafah. Namun Barat dan anteknya, sengaja menutupnya dari umat agar mereka bisa melanggengkan agenda penjajahan sebagaimana yang diinginkan.


‘Alaa kulli haalin, hari ini, nyaris 96 tahun umat hidup tanpa Khilafah. Banyak di antara mereka yang masih belum paham kewajiban dan urgensi menegakkan syariah kaffah dalam naungan Khilafah. Dan sebagiannya justru menolak dan berdiri di pihak penentang penegakan syariat dan Khilafah.

Padahal justru dengan syariat dan Khilafahlah mereka akan menemukan kemuliaannya. Sistem ini datang dari Zat Yang Maha Sempurna, Mahaadil, dan Mahabaik.

Yang diturunkan sebagai tuntunan dan problem solving bagi semua problem kehidupan. Termasuk semua masalah dan krisis yang hari ini diproduksi sistem kapitalisme global.

Adalah kewajiban kita untuk gigih menyadarkan umat tentang urgensi dan kewajiban hidup terikat dengan Islam di bawah naungan Khilafah. Apa pun risikonya.

Karena tanpanya, kita akan terus hidup dalam kehinaan, sekaligus dosa berkepanjangan. Na’uudzubillaah. Tsumma na’uudzubillaah. [MNews | SNA]


 

Bagaimana menurut Anda?

35 thoughts on “Editorial: Apa Dosa Khilafah?

  • 16 Agustus 2020 pada 22:14
    Permalink

    Adalah kewajiban kita untuk gigih menyadarkan umat tentang urgensi dan kewajiban hidup terikat dengan Islam di bawah naungan Khilafah. Apa pun risikonya.
    Karena tanpanya, kita akan terus hidup dalam kehinaan, sekaligus dosa berkepanjangan. Na’uudzubillaah. Tsumma na’uudzubillaah.
    BACK TO KHILAFAH…..

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 10:16
    Permalink

    Astaghfirullah,,,negeri ini mayoritas islam tapi malah menolak ajarannya (khilafah) sendiri

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 05:05
    Permalink

    Terus berdakwah pantang mundur, Allah yg menjaga Islam

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:54
    Permalink

    khilafah kewajiban bukan pangkal masalah. justru kapitalisme dan sosialisme itu yang pangkal masalah bukan solusi

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 17:18
    Permalink

    Pasti, khilafah tegak kembali

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 17:07
    Permalink

    Astaghfirullah… Ya Allah.. begitu masifnya mereka untuk menghancurkan Islam, menjauhkan para generasi dari ajaran syariat Islam. Laa Haula Walaa Quwwata illaa Billaah

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 12:23
    Permalink

    Menolak khilafah anti islam

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 15:16
    Permalink

    Simply internet bank things out … like the photos!
    I try to discover by looking at various other pictures,
    too. https://ruay.club/

    Balas
  • 14 Agustus 2020 pada 08:21
    Permalink

    Khilafah adl janji Allah dn bisyarohx jg disampaikan Rosulullah. Jd sll optimis akn kedatanganx dg smgt memperjuangkanx.

    Balas
    • 15 Agustus 2020 pada 13:16
      Permalink

      Ikhilafah janji Allah, khilafah pasti tegak!!

      Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 23:14
    Permalink

    Yaa Allaah..istiqomahkn kami dalam dkwah mulia ini, aamiin…
    Khilafah psti tegaj kembali!!!

    Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 19:29
    Permalink

    Astaghfirullah. Mereka buta akan kekuasaan padahal mereka tau keunggulan sistem khilafah. Semoga org” yang menolak khilafah diberikan hidayah aamiin

    Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 11:16
    Permalink

    Semoga umat bisa membedakan mana yang Haq dan yang bathil

    Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 05:55
    Permalink

    Semoga mereka yg benci khilafah menyaksikan khilafah tegak dimuka bumi ini. Khilafah walaupun bnyk yg benci tetap akan tegak krn merupakan janji Allah

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 18:38
    Permalink

    Khilafah janji Allah

    Balas
    • 24 Agustus 2020 pada 21:26
      Permalink

      Tanpa KHILAFAH kita tdk akan mendapat keadilan dan kemakmuran .
      Go back to KHILAFAH rosyidah’alaa minhajinubuwwah. Allahuakbar……….

      Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 14:44
    Permalink

    sudah jelaslah upaya bara dalam melawan islam dan mencegah kita untuk berasatu

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 07:27
    Permalink

    Khilafah adalah ajaran Islam. Mempersoalkan khilafah sama artinya dengan mempersoalkan ajaran Islam dan menggugat Allah sebagai Sang Pembuat Ajaran.

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 07:02
    Permalink

    Semoga umat semakin sadar akan wajibnya Islam kaffah & khilafah. Aamiin

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 00:11
    Permalink

    Hanya musuh Allah pembaca syariat islam, semoga Allah menuntun mereka pada jalan kebenaran islam.

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 23:23
    Permalink

    Sedih saya melihat poster itu…itu adalah ajaran rasulullah… Katanya mereka cinta rasulullah tapi Ajarannya pilih2

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 21:49
    Permalink

    kewajiban kita adalah harus gigih menyadarkan umat tentang urgensi dan kewajiban hidup terikat dengan Islam di bawah naungan Khilafah.

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 20:20
    Permalink

    Khilafah sebentar lagi insya Allah 🏴🏳️

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 20:14
    Permalink

    Ma sha Allah. Semoga kita makin sadar akan pentingnya syariat Islam untuk diterapkan secara kaaffah

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 19:57
    Permalink

    Khilafah pasti akan tegak biidznillah meski banyak ygenghadang kebangkitanmya

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 19:00
    Permalink

    Khilafah janji Allah

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 15:10
    Permalink

    Yang tidak suka khilafah, yg terganggu dg khilafah hanyalah orang orang yg menikmati sistem negara imperialis kapitalis sosialis dan komonis…..selebihnya adalah org org yg TDK paham dan termakan opini framing buruk dari pihak yg merasa terancam oleh Islam rahmatan Lil alamin

    Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 19:27
      Permalink

      Hmm banyaknya makar yang digemakan oleh barat membuat mereka berbuat apa saja demi melihat Islam ini tunduk pada sesuat yang tak benar . Ingatlah Allah tidak pernah membuat kalian berhasil ingatlah bahwa pertolongan Allah akan selalu ad bagi orang2 yang berusaha dan berdoa.

      Balas
    • 12 Agustus 2020 pada 07:32
      Permalink

      Belajar doeloe sebelum komentar tentang khilafah. Padahal rugi apa kalau ada khilafah? Itu kalau mau bahas duniawi. Sudah tertutupkah mata hati manusia yang benci khilafah? Astaghfirullaah T.T

      Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 14:49
    Permalink

    Semoga Alloh memberikan hidayah kepada penentang khilafah.

    Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 16:04
      Permalink

      Astagfirullah,semoga khilafah,semakin d fitnah semakin cepat terwujud

      Balas
      • 12 Agustus 2020 pada 08:33
        Permalink

        Sebenarnya Mereka mereka itu udh tw kalau Kebangkitan Islam, kejayaan islam akan bangkit kembali, hanya sj mereka tidak tidak menyetujui. itu sj

        Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *