Ekonomi RI Nyungsep -5,32%, Masih Berharap pada Kapitalisme?

“Lebih parah dari prediksi Sri Mulyani dan Airlangga.”


Oleh: Hj. Nida Sa’adah, S.E., Ak., M.E.I.

MuslimahNews.com, EKONOMI – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2020 minus 5,32%. Realisasi ini lebih dalam dari angka prediksi Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya.

Menko Perekonomian pernah mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus 3,4%. Pertumbuhan negatif tersebut disebabkan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menghambat berbagai kegiatan ekonomi. (detik.com)

Resesi yang melanda sebuah negara, ditandai meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, turunnya daya beli masyarakat, dan melemahnya neraca perdagangan internasional.

Sistem ekonomi kapitalisme mengukur pergerakan berbagai variabel tersebut dalam skema angka pertumbuhan ekonomi. Jika dalam dua kuartal berturut-turut angka pertumbuhan ekonomi dalam posisi kontraksi atau negatif, maka sebuah negara mengalami situasi resesi.

Dampak tersulit yang dihadapi masyarakat dalam situasi resesi adalah meningkatnya angka pengangguran secara tajam. Dampak lanjutan dari hal ini adalah meningkatnya angka kemiskinan dan kelaparan.

Di Amerika Serikat, jumlah angka pengangguran mengalami lonjakan sebanyak enam juta pengangguran baru. Di Indonesia, data menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) terdapat peningkatan sebanyak 6,4 juta orang pengangguran baru.

Resesi yang terjadi di berbagai negara hari ini berawal dari kesalahan fatal yang dilakukan negara-negara besar saat menghadapi pandemi Covid-19.

Di awal terjadinya pandemi, beberapa negara maju mengambil langkah solusi dengan menutup berbagai aktivitas di sektor riil perekonomian. Langkah ini kemudian diikuti berbagai negara berkembang, yang berdampak cukup serius terhadap perekonomian.

Sebagai dampak lanjutan dari penutupan berbagai sektor riil ini, terjadi lonjakan tajam angka pengangguran di berbagai negara.

Baca juga:  Kemiskinan Menggurita, Kapitalisme Bukan Jalan Sejahtera

Di negara berkembang, bahkan bukan hanya terjadi lonjakan tajam dalam angka pengangguran. Dampak lainnya adalah terjadi peningkatan angka kemiskinan dan jumlah orang yang mengalami kelaparan.

Untuk mengatasi resesi ekonomi yang sudah terjadi secara global, sistem kapitalisme hari ini ternyata tidak bisa memainkan instrumen fiskal dan moneter sebagaimana selama ini dilakukan saat menghadapi krisis ekonomi secara siklik.

Menurunkan berbagai tarif pajak dan menurunkan tingkat suku bunga ternyata tidak berhasil menggerakkan roda ekonomi.

Kebijakan new normal tidak terlihat pengaruhnya dalam menggerakkan roda ekonomi. Daya beli tak kunjung meningkat, produksi juga tidak bisa digenjot karena ancaman wabah justru tidak bisa diprediksi akan diurai dari area mana.

Cita-cita zero hunger dalam Peradaban Kapitalisme hari ini benar-benar hanya menjadi mimpi, yang sama sekali tidak indah.


Sistem ekonomi kapitalisme yang fokus terhadap angka-angka dalam mendeteksi parameter capaiannya, memang pada akhirnya akan selalu terlambat dalam mengurai masalah.

Sementara, ekonomi Islam yang fokus pada capaian per individu, akan bisa mendeteksi masalah dengan cepat sebelum makin parah.

Jika satu orang saja laki-laki balig kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan, alarm deteksi masalah dalam sistem negara Khilafah sudah berbunyi.

Jika satu orang saja mengalami kelaparan tidak mendapatkan makanan sebelum berlalunya hari, maka ada masalah fatal dalam distribusi.

Dunia hari ini membutuhkan sistem ekonomi Islam kaffah untuk membangkitkan ekonomi yang sedang mengalami koma akut.

Sistem makro dan mikro ekonomi Islam terbukti berbuah produktivitas, stabilitas, serta distribusi yang adil dalam rentang waktu 13 abad lebih. Tanpa pernah mengalami defisit APBN akut, tidak pernah mengalami turunnya daya beli simultan, tidak pernah mengalami krisis ekonomi siklik, apalagi resesi dan depresi.

Baca juga:  Membebaskan Naluri Keibuan dari Cengkeraman Kapitalisme Neoliberal

Tawaran ekonomi syariah dalam tata ulang kebijakan makro dan mikro ekonomi yang diterapkan Negara Khilafah adalah sebagai berikut:

1) Menata ulang sistem keuangan negara.

Sistem keuangan kapitalis-demokrasi yang bertumpu pada pajak dan utang, terbukti tidak bisa memberikan pemasukan dan justru bergantung kepada negara lain. Membuat dunia Islam masuk dalam debt trap. Hal ini tidak akan pernah dipakai oleh peradaban Islam.

Sebab, sistem keuangan Islam terbukti selama 13 abad memiliki pemasukan besar sekaligus mandiri tanpa tergantung kepada negara atau organisasi lain. Pemasukan ini diperoleh dari pengelolaan berbagai kepemilikan umum (milkiyah aamah), termasuk di dalamnya pertambangan, laut, hutan, dan aset-aset rakyat lain dengan posisi negara hanya sebagai pengelola.

Pemasukan lain adalah dari pengelolaan milik negara berupa kharaj yaitu pungutan atas tanah produktif.

Juga pemasukan dari zakat dengan kekhususan pembelanjaannya untuk delapan ashnaf mustahik zakat. Abstraksi pemasukan yang besar ini bisa ditelusuri dari sejarah Kekhilafahan Abbasiyah di bawah kepemimpinan Harun Ar Rasyid, yang memiliki surplus pemasukan sebesar APBN Indonesia yaitu sekitar lebih dari 2.000 triliun. Hal ini berarti menunjukkan jumlah pemasukannya yang lebih besar lagi.

2) Menata ulang sistem moneter.

Dalam sistem ekonomi Islam, income atau pendapatan masyarakat dipastikan memiliki kecukupan yang tidak membuatnya jatuh pada jurang kemiskinan, yakni dengan menjaga daya beli uang.

Daya beli uang ini dipertahankan dengan moneter berbasis zat yang memiliki nilai hakiki yaitu emas dan perak. Mata uang kertas yang menyandarkan pada dolar yang dihegemoni Amerika Serikat akan ditinggalkan.

3) Menata ulang kebijakan fiskal.

Dilakukan dengan menghapus semua pungutan pajak. Pajak hanya pada situasi extraordinary dan hanya ditujukan pada kalangan mampu dari orang kaya (aghniya). Ketika kondisi extraordinary selesai, pajak pun dihentikan.

Baca juga:  Omnibus Law Langgengkan Oligarki
4) Menata ulang sistem kepemilikan asset di permukaan bumi.

Kepemilikan aset akan direvolusi, tidak diberikan kepada asing dan aseng. Hal yang terjadi hari ini dengan memberikan bagian kepemilikan kepada asing dan aseng adalah bentuk penentangan pada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan memerangi Allah dan Rasul-Nya.

5) Tata Ulang kebijakan mikro ekonomi.

Hal ini dilakukan dengan mengatur aktivitas ekonomi antarindividu dan pebisnis. Khilafah akan melarang praktik riba dan transaksi yang melanggar aturan syariat lainnya.

Kekurangan modal bisa diselesaikan dengan akad syirkah antarindividu pebisnis. Namun, dalam situasi khusus seperti pandemi, negara hadir dengan memberikan modal dalam bentuk hibah atau pinjaman tanpa beban bunga/riba. Bank sentral tidak diperlukan, yang akan berdiri adalah institusi baitulmal.


Sebagai penutup, bagi masing-masing keluarga hari ini, bisa melakukan beberapa hal berikut yang diajarkan Islam ketika menghadapi situasi ekonomi sulit.

Pertama, dalam mengatur pembelanjaan keuangan keluarga, berdasarkan prinsip gaya hidup mencontoh Rasulullah Saw.:

Bergaya hidup sederhana; Mengedepankan needs (kebutuhan), bukan wants (keinginan); Mengedepankan halal-haram, mengabaikan pandangan manusia adalah kunci keberhasilan untuk meraih itu; Bisa membedakan mana yang betul-betul kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana yang sekadar hasrat keinginan; Mengatur belanja makanan berdasarkan kebutuhan tubuh, bukan sekadar keinginan lidah adalah salah satu contoh di antaranya.

Kedua, mengatur pengeluaran berdasarkan pemasukan. Di saat wabah yang berakibat berkurangnya pendapatan suatu keluarga, tentu harus dilakukan pemangkasan beberapa pengeluaran sebelumnya. Yakni menyesuaikan dengan pendapatan yang ada. Dan ketiga, tetap menginfakkan harta, baik saat lapang ataupun sempit. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

35 thoughts on “Ekonomi RI Nyungsep -5,32%, Masih Berharap pada Kapitalisme?

  • 19 Agustus 2020 pada 11:16
    Permalink

    Sistem ekonomi kapitalisme hanya melahirkan kesengsaraan, saatnya beralih kpd sistem ekonomi Islam yg dpt mensejahterakan

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:44
    Permalink

    maasyaaAllah…sangat mustanir

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:23
    Permalink

    Islam penuh dengan solusi tetapi masih saja bertahan sengan siatem kapitalisme

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 19:30
    Permalink

    Saatnya kembali pada sistem Islam, sistem yang sesuai dengan fitrah manusia

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 19:16
    Permalink

    Jika masih berharap pada kapitalisme berarti kesadarannya belum terbuka

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 17:04
    Permalink

    Maa syaa Allah.. selalu ada solusi ketika Islam diterapkan dalam kehidupan. Semoga janji Allah segera terealisasikan aamiin

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 12:29
    Permalink

    Banyak utang dan impor maka ekonomi macet

    Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 11:02
    Permalink

    Terimakasih sarannya yang mencontoh Rasulullah dalam mengelola keuangan.I love Islam..

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 22:28
    Permalink

    Jika Allah berkendak pasti hanya sekejam mata terjadi.inilah kebesaran Allah,,
    sistem kapitalis ditengah kehancuran

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 10:17
    Permalink

    Masya Allah

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 07:32
    Permalink

    Berharap dengan kapitalis sama artinya dengan berharap menuju kehancuran. Jika ingin berharap mendapatkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akherat maka berharaplah kepada Islam

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 20:11
    Permalink

    Semoga khilafah segera tegak

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 09:54
    Permalink

    Sistem makro dan mikro ekonomi Islam terbukti berbuah produktivitas, stabilitas, serta distribusi yang adil dalam rentang waktu 13 abad lebih. Tanpa pernah mengalami defisit APBN akut, tidak pernah mengalami turunnya daya beli simultan, tidak pernah mengalami krisis ekonomi siklik, apalagi resesi dan depresi.

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 05:22
    Permalink

    Sudah saatnya kita beralih ke Sistem ekonomi Islam Kaffah untuk membangkitkan ekonomi yang sedang mengalami koma akut..

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 22:48
    Permalink

    Sungguh kapitalis mampunya membuat defisit negara dan tidak punya jaminan untuk kesejahteraan ummat.
    Solusi terbaik adalah islam dan aturannya.

    Balas
    • 10 Agustus 2020 pada 22:49
      Permalink

      Sungguh kapitalis mampunya membuat defisit negara dan tidak punya jaminan untuk kesejahteraan ummat.
      Solusi terbaik adalah islam dan aturannya.

      Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 18:08
      Permalink

      Tinggalkan sistem ekonomi kapitalisme yg mjd biang kerok krisis multi dimensi. Saatnya kbali ke sistem islam kaffah dlm naungan khilafah

      Balas
      • 12 Agustus 2020 pada 21:55
        Permalink

        Melaksanakan syariatNya dg landasan ketakwaan..

        Balas
        • 16 Agustus 2020 pada 10:03
          Permalink

          Sudah saatnya kembali kepada sistem islam

          Balas
    • 15 Agustus 2020 pada 20:05
      Permalink

      Resesi ekonomi pasti akan terjadi pada semua negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Serangan wabah virus Corona, mampu meluluhlantakkan perekonomian dunia. Tak tersisa harapan pada sistem ini. Sudah saatnya mengganti sistem ekonomi kapitalis (sistem Ribawi) menjadi sistem ekonomi Islam yang berbasis kebijakan moneter emas dan perak.

      Balas
    • 16 Agustus 2020 pada 05:12
      Permalink

      Mereka mencari solusi dengan dasar bukan dari Islam …Mereka hanya bisa berkata verbal bukan real

      Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 22:08
    Permalink

    Islam adalah Sistem yg terbaik bg umat manusia anti krisis dan selalu solutif dlm menyelesaikn permaslahn yg terjadi…tidak ada dlm sistem Selain Islam baik itu Kapitalsme/sosialis komunis.

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 21:34
    Permalink

    Masya Allah.. Sistem Islam sempurna dan mensejahterakan ✨

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 20:52
    Permalink

    Semoga Islam kaffah bisa segera diterapkan..aamiin..

    Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 14:50
      Permalink

      Resesi yang terjadi di berbagai negara hari ini berawal dari kesalahan fatal yang dilakukan negara-negara besar saat menghadapi pandemi Covid-19.

      Di awal terjadinya pandemi, beberapa negara maju mengambil langkah solusi dengan menutup berbagai aktivitas di sektor riil perekonomian. Langkah ini kemudian diikuti berbagai negara berkembang, yang berdampak cukup serius terhadap perekonomian.

      Sebagai dampak lanjutan dari penutupan berbagai sektor riil ini, terjadi lonjakan tajam angka pengangguran di berbagai negara.

      Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 19:38
    Permalink

    Campakkan kapitalisme sekularisme. Tegakkan sistem Islam kaffah

    Balas
    • 13 Agustus 2020 pada 09:10
      Permalink

      Islam is the best!

      Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 17:56
    Permalink

    Resesi dunia akibat covid menunjukkan rapuhnya ekonomi kapitalis yg tdk dibangun dari sektor riil. Saatnya sistem ini dbuang jauh2

    Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 19:25
      Permalink

      Kehancuran sistem ekonomi kapitalis sudah di depan mata. Sistem yg dibangun tidak berdasarkan aturan islam sudah pasti menyengsarakan. Saatnya kembali pada aturan islam.

      Balas
      • 15 Agustus 2020 pada 20:07
        Permalink

        Resesi ekonomi pasti akan terjadi pada semua negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Serangan wabah virus Corona, mampu meluluhlantakkan perekonomian dunia. Tak tersisa harapan pada sistem ini. Sudah saatnya mengganti sistem ekonomi kapitalis (sistem Ribawi) menjadi sistem ekonomi Islam yang berbasis kebijakan moneter emas dan perak.

        Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *