Perubahan Kurikulum Bahasa Arab, Makin Menjauhkan Umat dari Karisma Islam

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Beberapa waktu lalu, Kemenag merubah Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di madrasah-madrasah. Mereka menyebutnya dengan menyempurnakan kurikulum PAI dan bahasa Arab untuk madrasah.

“Penyempurnaan kurikulum” ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.

Perubahan pada materi bahasa Arab terutama penyempurnaan dalam penyajian dan metode pendekatan yang digunakan sehingga lebih menekankan pada pendekatan fungsional daripada struktural. Kurikulum baru ini digunakan mulai tahun ajaran 2020/2021 (Republika.co.id)

Dalam rilis yang diterima NU Online, Direktur Kurikulum menyatakan, “Jadi beda KMA 183 dan 165 lebih pada adanya perbaikan substansi materi pelajaran karena disesuaikan dengan perkembangan kehidupan abad 21. Jadi, penyempurnaan ini juga pada aspek kedalaman materi. Harapannya, siswa semakin memahami ajaran agama dan BA. Keduanya diharapkan bisa menjadi bekal siswa menjadi warga bangsa yang bisa hidup dalam keberagamaan dan tetap kompetitif dalam kemajuan zaman.” (NU Online)

Sepertinya tidak ada yang mengkhawatirkan, apalagi ketika dikatakan dengan penyempurnaan kuruikulum. Tapi jika kita mencermatinya, sungguh ada hal penting yang seharusnya menjadi perhatian kita, apakah perubahan kurikulum ini memberikan dampak baik bagi penguasaan bahasa Arab atau malah sebaliknya?

Kemudian bagaimana seharusnya umat Islam memosisikan bahasa Arab, sehingga berpengaruh bagi kemajuan umat?

Pendekatan Struktural menjadi Pendekatan Fungsional, Apa Dampaknya?

Untuk menjawabnya, tentu kita harus memahami dua pendekatan, apa yang dimaksud dengan pendekatan struktural dan fungsional serta apa target-targetnya.

Pendekatan Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi anggapan bahwa bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa.

Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dengan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.

Pendekatan struktural menuntut para pelajarnya untuk memahami rumus-rumus, mengetahui fi’il, faa’il, maf’ul, dan istilah-istilah ilmu bahasa lainnya. Siswa dapat menghafalkan kaidah-kaidah bahasa dengan baik, siswa menjadi kuat pengetahuan bahasanya (Ejounal.iainpurwokerto.ac.id).

Baca juga:  Merdeka Belajar: Kebijakan Lompat-lompat ala Nadiem Makarim

Sedangkan Pendekatan Fungsional memandang bahasa dari segi fungsinya sebagai alat untuk mengomunikasikan ide. Pendekatan fungsional lebih menekankan fungsi daripada struktur bahasa.

Dengan demikian, kurikulum pembelajaran bahasa disusun secara tematik situasional. Pendekatan ini dinilai lebih humanis karena memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan bahasanya sendiri secara otentik melalui pembelajaran.

Peserta didik diperlakukan sebagai subjek belajar, bukan sekedar objek tempat guru menuangkan ilmunya sebagaimana dalam pendekatan struktural. (Ejounal.iainpurwokerto.ac.id)

Dari pemaparan ini, kita bisa pahami bahwa kurikulum baru akan lebih menekankan pada aspek muhadatsah-nya atau sisi percakapannya, mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sementara aspek mendasar dari bahasa Arab, yaitu sisi nahwu, sharaf, dan sebagainya, hanya akan dipelajari seperlunya saja.

Sepintas seolah baik-baik saja. Tapi jika kita cermati lebih jauh, sesungguhnya hal ini sangat berbahaya bagi umat. Mengapa?

Pendekatan struktural, mempelajari bahasa Arab dari aspek nahwu, sharaf lebih lanjut lagi balaghah, merupakan aspek yang sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Arab.

Dengan mempelajari nahwu sharaf, sesungguhnya seseorang akan mampu membaca kitab dan menerjemahkan sekaligus juga akan mampu pula berkomunikasi dalam bahasa Arab.

Lebih dari itu pada tahap selanjutnya ia akan mampu memahami dengan benar apa yang terkandung dalam Alquran dan hadis, atau dengan kata lain akan mampu memahami hukum-hukum syara’ yang terkandung di dalam Alquran dan hadis Rasulullah Saw..

Sangat berbeda, jika fokus hanya pada aspek fungsional saja, sedangkan aspek struktural hanya dipelajari sesuai kebutuhan saja. Maka yang diperoleh hanya kemampuan berbahasa semata, sedangkan aspek lainnya yang justru lebih penting -yaitu mampu memahami hukum-hukum syara’ dan seruan-seruan dalam Alquran dan hadis-, tidak terwujud.

Hal ini tidak lepas dari upaya musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat Islam dari bahasa Arab. Mereka paham bahasa Arab memiliki kekuatan besar yang turut mengembangkan karisma Islam.

Islam dan bahasa Arab merupakan satu kesatuan. Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan bahasa Arab.

Baca juga:  FI’L AL-AMR (KATA PERINTAH)

Meremehkan bahasa Arab akan menghilangkan ijtihad terhadap syariat, karena ijtihad terhadap syariat tidak akan mungkin dilaksanakan tanpa terpenuhinya syarat mendasar, yaitu bahasa Arab.

Kedudukan ijtihad itu sendiri teramat penting bagi umat Islam, sehingga umat tidak akan memperoleh kemajuan tanpa adanya ijtihad.

Di sinilah seharusnya umat Islam waspada, bahwa perubahan kurikulum bahasa Arab, yang dikemas dengan “penyempurnaan kurikulum Bahasa Arab” sesungguhnya mengandung bahaya bagi umat.

Sedikit demi sedikit umat Islam dijauhkan dari bahasa Arab, artinya umat Islam dijauhkan dari potensi atau karisma Islam itu sendiri. Bahasa Arab adalah bahasa istimewa, ia tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi merupakan wasilah untuk memahami dan mendalami tsaqafah Islam, khususnya Alquran dan Sunah yang memang diungkapkan dalam bahasa Arab.

Syekh Ahmad bin Umar al-Hazimi menuturkan, “Buah dan faedah mempelajari ilmu nahwu (bahasa Arab) adalah menjadi kunci untuk memahami syariat. Adapun memelihara lisan dari kesalahan ketika bertutur kata, maka ia adalah buah cabang.”

Sehingga, sudah seharusnya para penuntut ilmu menjadikan bahasa Arab sebagai kunci memahami syariat, dan para penuntut ilmu meniatkan hal tersebut agar meraih ganjaran pahala.

Alasan ini pun tergambar dalam penjelasan Al-’Allamah Ibrahim al-Baijuri al-Syafi’i, yang menguraikan faedah mempelajari bahasa Arab. Pertama, memelihara lisan dari kesalahan ketika berbicara. Kedua, menggunakannya sebagai alat bantu memahami Alquran dan Hadis.

Urgensi Bahasa Arab

Mengenai kedudukan bahasa Arab sebagai potensi yang tidak boleh dipisahkan dengan potensi Islam, atau dengan kata lain harus diintegrasikan menjadi satu kekuatan (mazj at-thaqah al-lughawiyyah ma’a at-taqah al-Islamiyah), ini ditegaskan Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab.

Abu Bakar bin Abi Syibah menyatakan, “Kami telah diberitahu oleh ‘Isa bin Yunus dari Tsaur dari ‘Umar bin Yazid berkata, Khalifah ‘Umar telah menulis surat Abu Musa al-Asy’ari RA. (Mafaahim Islamiyah):

“Amma ba’du, perdalamlah as-Sunnah, dan perdalamlah bahasa Arab, Kuasailah Bahasa Arab Alquran adalah kitab berbahasa Arab.” Dalam riawayat lain, “Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kalian. Pelajarilah berbagai kefarduan, karena ia pun bagian dari agama kalian.”

Baca juga:  Revolusi Pendidikan Berbasis Islam

Karena itu, di masa lalu, para sahabat menyebarkan Islam, dengan membawa Alquran di tangan kanannya, dan bahasa Arab di tangan kirinya. Imam as-Syafii menyatakan bahwa hukum mempelajari bahasa Arab adalah fardhu ’ain: “Wajib bagi tiap Muslim untuk mempelajari bahasa Arab hingga kemampuannya bisa mengantarkannya untuk menunaikan kefarduan (yang ditetapkan kepada)-nya.”

Syekh Islam, Ibn Taimiyah, mengatakan, “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama; dan mengetahuinya hukumnya fardu yang diwajibkan, Sebab, memahami Al-Kitab dan Sunah hukumnya fardu. Sementara semuanya itu tidak bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna, kecuali dengannya, maka ia wajib.”

Ulama kemudian memilah menjadi dua: Pertama, hukumnya fardhu ‘ain, bagi tiap Muslim agar bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. Kedua, hukumnya fardhu kifayah, jika lebih dari kewajiban yang pertama, misalnya untuk berijtihad. Mengingat hukum ijtihad itu sendiri adalah fardhu kifayah.

Begitulah keistimewaan bahasa Arab, sebagai potensi yang tidak bisa dipisahkan dari karisma/potensi Islam. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait.

Jika Islam dipisahkan dari bahasa Arab, maka terjadilah apa yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, jika Islam disatukan dengan potensi bahasa Arab, maka berbagai kemajuan intelektual umat Islam akan berhasil diraih kembali, sebagaimana zaman kejayaannya.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa Islam, Al-Lughah al-‘Arabiyyah lughat al-Islâm. Karena sesungguhnya sangat relevan dengan kedudukan bahasa Arab hubungannya dengan tsaqafah Islam.

Karena bahasa Arab adalah sebagai kunci memahami syariat, Alquran, dan Sunah. Bahkan, menurut Syekh Ibrahim al-Baijuri, para ulama sepakat bahwa ilmu nahwu dan sharaf adalah pengantar untuk seluruh disiplin ilmu (ilmu syar’i), terlebih ilmu tafsir dan ilmu hadis.

Karenanya, sudah seharusnya umat Islam senantiasa waspada terhadap upaya musuh-musuh Islam yang hendak menjauhkan potensi atau karisma bahasa Arab dari Islam, karena sama saja dengan upaya menjauhkan umat Islam dari hukum-hukum Islam yang bersumber dari Alquran dan hadis Rasulullah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

33 thoughts on “Perubahan Kurikulum Bahasa Arab, Makin Menjauhkan Umat dari Karisma Islam

  • 7 September 2020 pada 03:19
    Permalink

    Bahasa arab adalah kebutuhan mendasar utk memahami syariat islam, bila sudah mulai diutak atik strukturalnya, maka umat islam tidak akan mampu memahami bhs arab sebagai bhs yg wajib dipelajari. Sebab, utk memahami nash2 di al Qur’an, as Sunnah, dan proses ijtihad harus menggunakan bhs arab. Jika diubah dari struktural ke fungsional, maka ini mengakibatkan umat muslim mempelajari bhs hanya sebagai formalitas saja.

    Balas
  • 19 Agustus 2020 pada 10:58
    Permalink

    Salah satu kemunduran umat Islam krn lemahnya pemahaman bahasa Arab, penting belajar bahasa Arab utk memahami syariat

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 09:51
    Permalink

    Astaghfirullah,,,
    Padahal seharusnya Belajar bahasa arab penting

    Balas
  • 16 Agustus 2020 pada 05:13
    Permalink

    Mereka selalu menginginkan umat jauh dari Islam

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 21:20
    Permalink

    Astagfirullah, mereka tidak henti hentinya berusaha menjauhkan Islam dari generasi bangsa

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 19:08
    Permalink

    Bahasa Arab sangat penting terutama dalam memahami Al quran dan hadist

    Balas
  • 15 Agustus 2020 pada 12:55
    Permalink

    Islam sangat erat dgn bahasa arab

    Balas
  • 13 Agustus 2020 pada 00:12
    Permalink

    alhamdulillah diberi rejeki bisa belajar b.arab dan mudah memahaminya memeng bukan khusus nahwu dan shraf tapi dimandingkan belajar bahas lain kaya inggris otak ku ganyampe aja

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 09:32
    Permalink

    Hanya sistem islam yg akan menunjukkan kharisma islam bahkan cahayanya islam.

    Balas
  • 12 Agustus 2020 pada 07:18
    Permalink

    Bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam Islam. Menjauhkan/meninggalkan bahasa arab berarti menjauhkan/meninggalkan potensi Islam itu sendiri.

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 11:36
    Permalink

    Masya Allah, inilah pentingnya bahasa arab
    Perlu sekali utk dimunculkan semangat /ghirah dalam diri” kaum muslimin

    Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 09:01
    Permalink

    Bahasa Arab ingin di pisahkan dari Ummat

    Balas
    • 12 Agustus 2020 pada 22:12
      Permalink

      Potensi bhs arab yg luar biasa inilah yg sejatinya ditakuti oleh musuh² Islam…maka mereka akan menjauhkan kaum muslim dari mempelajari bhs arab utk kemudian menerapkan Al quran

      Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 07:00
    Permalink

    Moderasi pendidikan semakin menjauhkan generasi Islam

    Balas
    • 14 Agustus 2020 pada 21:12
      Permalink

      Sebegitu terlenanya umat muslim hingga penjajahan paling haluspun tidak membuatnya peka 🙁 semangat belajar bahasa Arab.

      Balas
  • 11 Agustus 2020 pada 04:20
    Permalink

    bahasa Arab adalah sebagai kunci memahami syariat, Alquran, dan Sunah.

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 16:17
    Permalink

    Salah satu upaya untuk menghilangkan jejak islam dari umat islam adalah dengan menjauhkan umat dari bahasa arab.

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 15:49
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
    • 14 Agustus 2020 pada 14:12
      Permalink

      Rindu sisstem Islam kaffah dalam bingkai khilafah

      Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 14:17
    Permalink

    Allahumma shalli’alaa Muhammad

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 13:12
    Permalink

    Bahasa Arab harus dipelajari sbgmn aslinya krn ini mrp bagian dr syariat Islam. Bahsa Arab dg Islam satu kesatuan, tidak bs dpisahkan, upaya memisahkan, akan berakibat kpd kemunduran Islam.

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 01:28
    Permalink

    Berasa sekali, sedikit demi sedikit Islam dijauhkan dari kehidupan kaum muslim

    Balas
  • 10 Agustus 2020 pada 01:01
    Permalink

    Bahasa Arab bahasa internasional, bahasa syurga, bahasa yg Allah pilih untuk menjadi bahasanya Al-Qur’an, MaasyaAllah

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 21:10
    Permalink

    Astaghfirullah. ini caranya orang kafir untuk menjajah Islam

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 19:40
    Permalink

    Upaya menjauhkan umat dari bahasa Arab sebagai bagian dari perkara yg melekat pada Islam

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 19:36
    Permalink

    Bingung bangat sih rasanya sm Mentri Agama saat ini. Gx ada kerjaan lain apa selain mengutak atik buku pelajaran sekolah. Bukan saja mengutak atik tp merubah2 makna yg sdh baku dr Al Quran. Akidah umat dan muamalah umat tuuu benerin. Spy umat paham halal dan haram

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 19:06
    Permalink

    Subhanallah.. Beruntung masih ada sekelompok orang yg sadar sehingga bs mencerahkan yg lain akan hal bathil spt ini

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 18:56
    Permalink

    Bahasa Arab adalah kunci memahami syariat, Alquran, dan Sunah. Bahkan, menurut Syekh Ibrahim al-Baijuri, para ulama sepakat bahwa ilmu nahwu dan sharaf adalah pengantar untuk seluruh disiplin ilmu (ilmu syar’i), terlebih ilmu tafsir dan ilmu hadis.

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 18:49
    Permalink

    Waktu mash sekolah madrasah dulu msih sempat belajar bahasa Arab. Klw di bandingkan Di era sekrg. justru mau di jauhkan dari kehidupan org Islam. kasian ya Mereka ini yg soelah olah, menjauhkan umat dengan Agamanya. dosa lo pak. Wallahu ala’m

    Balas
    • 13 Agustus 2020 pada 18:35
      Permalink

      Bahasa Arab adalah dasar dlm memahami hukum syara’, sehingga apabila tujuan perubahan trhdp kurikulum hanya mengurasi esensi dari bahasa Arab maka mengapa harus dilakukan perubahan itu? Meskipun dibalut dg kata2 penyempurnaan, tpi jika dikaji lebih dalam bukankah ini malah melemahkan penggunaan bahasa Arab dalam Islam sehibgga hanya sekedar digunakan sbg bahasa sehari2, generasi kita akan asing dg penggunaan bahasa Arab untuk memudahkan mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara mendalam. Beginilah jika bahasa Arab hanya dianggap bahasa yg dimiliki oleh suatu bangsa dan digunakan seperlunya untuk percakapan sehari2, tanpa mempertimbangkan aspek yg sesungguhnya.

      Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 17:41
    Permalink

    Begitulah musuh2 Islam berupaya keras menjauhkan Islam dr pemeluknya. Bhs Arab adalah bhs untuk memahami Islam, makanya sengaja diutak-atik dg berbagai dalih, spy umat Islam buta pada ajaran Islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *