Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, SIRAH – Kata Khilafah masih saja dinilai negatif di negeri ini. Bahkan  ada pihak tertentu yang berupaya keras menghilangkan kata tersebut dari benak kaum muslimin, dengan mengatakan Khilafah sesat atau radikal.

Siapa pun yang mengusung, ya dianggap radikal. Padahal Khilafah adalah ajaran Islam, ajaran yang dibawa Rasulullah Saw..

Kewajiban menegakkan Khilafah sudah sangat jelas, hanya dengan Khilafah sajalah seluruh hukum-hukum Islam akan bisa ditegakkan di muka bumi ini.

Lebih dari itu, jika umat Islam mau mencermati dan menelusuri sejarah Islam di Indonesia, maka sesungguhnya beberapa wilayah Indonesia pernah menjadi bagian dari Khilafah.

Para ahli sejarah mengakui, Kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik riil umat Islam.

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, di belahan Barat Asia muncul kekuatan politik yang mempersatukan umat Islam dari Spanyol sampai Sind di bawah Kekhilafahan Bani Umayah (660-749 M), dilanjutkan Kekhilafahan Abbasiyah, kurang lebih satu abad (750-870 M), serta Kekhilafahan Utsmaniyah sampai 1924 M.

Adanya kekuatan politik di Asia Barat yang berhadapan dengan Cina, telah mendorong tumbuh dan berkembangnya perdagangan di Laut Cina Selatan, Selat Malaka, dan Samudra Hindia. (Uka Tjandrasasmita, “Hubungan Perdagangan Indonesia-Persia (Iran) Pada Masa Lampau (Abad VII-XVII M) dan Dampaknya terhadap Beberapa Unsur Kebudayaan” Jauhar Vol. 1, No. 1).

Hal ini dengan sendirinya berdampak bagi penyebaran Islam dan tumbuhnya kekuatan ekonomi, karena banyaknya pendakwah Islam yang sekaligus berprofesi sebagai pedagang.

Jika kita bisa menelusuri lebih dalam literatur klasik dari sumber-sumber Islam, maka janganlah kaget bila menemukan banyak sekali kesultanan Islam di Nusantara sesungguhnya merupakan bagian Kekhalifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah.

Pengaruh keberadaan Khilafah Islam terhadap kehidupan politik Nusantara sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya Daulah Islam.

Keberhasilan umat Islam melakukan penaklukan (futuhat) terhadap Kerajaan Persia serta menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestina di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khaththab, telah menempatkan Khilafah Islam sebagai superpower dunia sejak abad ke-7 M.

Pengakuan dari Kesultanan Sriwijaya

Khalif Sulaiman merupakan khalifah yang memerintahkan Thariq bin Ziyad membebaskan Spanyol.

Pada masa kekuasaannya yang hanya selama dua tahun, Khalifah Sulaiman telah memberangkatkan satu armada persahabatan berkekuatan 35 kapal perang dari Teluk Persia menuju pelabuhan Muara Sabak (Jambi)-yang saat itu merupakan pelabuhan besar di dalam lingkungan Kerajaan Sriwijaya-.

Armada tersebut transit di Gujarat dan juga di Pereulak (Aceh), sebelum akhirnya memasuki pusat Kerajaan Zabag atau Sribuza (Sriwijaya).

Ketika Kekhilafahan berada di tangan Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara—yang masih beragama Hindu sekalipun—mengakui kebesaran Khilafah.

Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah.

Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayah oleh Abdul Malik bin Umair yang disampaikan kepada Abu Ya‘yub ats-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada Haitsam bin Adi.

Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Haitsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah…” (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi )

Dalam literatur yang lain dijelaskan, sejak Islam masuk, Raja Sriwijaya Jambi bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah pada 100 H (718 M).

Baca juga:  Geostrategi Dakwah Islam Melalui Jalur Perdagangan Nusantara

Salah satu isi suratnya berbunyi,

“Dari Raja di Raja (Malik al-Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang beristri juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu nan harum, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan.

Dengan setulus hati, saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”

Ini adalah surat dari Raja Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang baru saja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M).

Surat kedua didokumentasikan Abd Rabbih (246-329/860-940) dalam karyanya, Al-Iqd al-Farîd.

Potongan surat tersebut ialah sebagai berikut:

Dari Raja Diraja…, yang adalah keturunan seribu raja… Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Ibnu Tighribirdi, yang juga mengutip surat ini dalam karyanya An-Nujûm azh-Zhâhirah fî Mulûk Mishr wa al-Qâhirah, memberikan kalimat tambahan pada akhir surat ini, yakni:

“Saya mengirimkan hadiah kepada Anda berupa bahan wewangian, sawo, kemenyan, dan kapur barus. Terimalah hadiah itu, karena saya adalah saudara Anda dalam Islam.”

Namun demikian, sekalipun ada kalimat “Saudara Anda dalam Islam”, belum ada indikasi Maharaja Sriwijaya memeluk Islam.

Maharaja yang berkuasa pada masa itu ialah Sri Indravarman, yang disebut sumber-sumber Cina sebagai Shih-li-t’o-pa-mo. Nama ini mengisyaratkan bahwa ia belum menjadi pemeluk Islam. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Revisi (Jakarta: Prenada Media)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, seperti yang diminta olehnya.

Tatkala mengetahui segala hal tentang Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Pada tahun 718, Sri Indrawarman akhirnya mengucap dua kalimat syahadat.

Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Tidak lama setelah Sri Indrawarman bersyahadat, pada 726 M, Raja Jay Sima dari Kalingga (Jepara, Jawa Tengah), putra dari Ratu Sima juga memeluk agama Islam.

Data-data tentang Islamnya Raja Sriwijaya memang begitu minim. Namun besar kemungkinan, Sri Indrawarman mengalami penolakan yang sangat hebat dari lingkungan istana, sehingga raja-raja setelahnya kembali berasal dari kalangan Buddha.

H. Zainal Abidin Ahmad hanya mencatat:

“Perkembangan Islam yang begitu ramainya mendapat pukulan yang dahsyat semenjak kaisar-kaisar Cina dari Dinasti Tang, dan juga Raja-Raja Sriwijaya dari Dinasti Syailendra melakukan kezaliman dan pemaksaan keagamaan.

Memasuki abad ke-14 M, Sriwijaya memasuki masa muram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya menghancurkan kerajaan besar ini. Akibatnya, banyak bandar mulai melepaskan diri dan menjadi otonom.

Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam kemudian mendirikan kerajaan Islam kecil-kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatra pada akhirnya bergabung menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.”

Dokumen Kesultanan Aceh

Aceh Darussalam mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam.

Baca juga:  Nusantara Berutang kepada Khilafah

Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya.

Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).

Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat 1566 M, digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh.

Sekitar bulan September 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri.

Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan Sultan Aceh. Walau berangkat dalam jumlah amat besar, yang tiba di Aceh hanya sebagiannya saja karena di tengah perjalanan sebagian armada Turki dialihkan ke Yaman guna memadamkan pemberontakan yang berakhir pada 1571 M.

Di Aceh, kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reis sebagai gubernur (wali) Nanggroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan di wilayah itu.

Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577) berjumlah sekitar 500 orang, namun seluruhnya ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik. Dengan bantuan tentara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka.

Agar aman dari gangguan perompak, Turki Ustmani juga mengizinkan kapal-kapal Aceh mengibarkan bendera Turki Utsmani di kapalnya.

Laksamana Turki untuk wilayah Laut Merah, Selman Reis, dengan cermat terus memantau tiap pergerakan armada perang Portugis di Samudra Hindia. Hasil pantauannya itu dilaporkan Selman ke pusat pemerintahan Kekhalifahan di Istanbul, Turki.

Salah satu bunyi laporan yang dikutip Saleh Obazan:

“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau yang disebut Syamatirah (Sumatra). Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatra. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, Insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”

As-Singkeli dan Qanun Syariah di Aceh

Sebagai bagian Khilafah Islam, Aceh menerapkan syariat Islam sebagai patokan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya.

Syarif Makkah mengirimkan ke Aceh utusannya, seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan mubalig.

Sekitar 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab yakni Syekh Abdul Khair dan Syekh Muhammad Yamani.

Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin as-Sumatrani dan Abdur Rauf as-Singkeli.

Abdur Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyatuddin Shah untuk menduduki jabatan kadi/ hakim (qâdhi) dengan sebutan Qadhi al-Malik al-Adil yang sudah lowong beberapa lama karena Nuruddin ar-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat).

Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdur Rauf menerima tawaran tersebut. Karena itu, ia resmi menjadi kadi/hakim (qâdhi) dengan sebutan Qadhi al-Malik al- Adil.

Baca juga:  Respons Positif Tokoh Muslimah Nasional atas “Jejak Khilafah di Nusantara”

Selanjutnya, sebagai seorang kadi/hakim, Abdur Rauf diminta Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai patokan (qânûn) penerapan syariat Islam. Buku tersebut diberi judul Mir’ah al-Thullâb.

Menurut Abdur Rauf, naskah Mir’ah ath-Thullâb mengacu pada kitab Fath al-Wahhâb karya Abi Yahya Zakariyya al-Ansari (825-925 H).

Sumber lain yang digunakan untuk menulis buku ini ialah: Fath-al-Jawwâd, Tuhfah al-Muhtâj, Nihâyah al-Muhtâj, Tafsîr al-Baydawi, al-Irsyâd, dan Sharh Shahîh Muslim.

Mir’ah ath-Tullâb mengandung semua hukum fikih Imam asy-Syafi’i, kecuali masalah ibadah. Peunoh Daly dalam disertasinya hanya menguraikan sebagian kandungan Mir’ah ath-Thullâb, terdiri dari: Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah (Penyusuan), dan Nafkah.

Namun, terlepas dari itu, Aceh sebagai bagian dari Khilafah Islam memiliki qânûn (undang-undang) penerapan syariat Islam yang ditulis Abdur Rauf as-Singkeli. (Peunoh Daly, ‘Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah dan Nafkah dalam Naskah Mir’at al-Tullab Kaarya Abd Raauf Singkel,” Disertasi Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah (Jakarta, 1982), hlm. 15-36)

Bukti-bukti Lainnya

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cetakan keenam, LP3ES, 1991, hal. 34. Deliar Noer dalam catatan kakinya menyatakan, dalam perang dunia I, Khalifah di Turki menyatakan jihad kepada musuh-musuhnya dan berseru kepada semua orang Islam, termasuk orang Islam di Nusantara untuk memerangi musuh-musuhnya itu.

Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan.

Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi “Sultan” dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Makkah.

Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar “Sultan” ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan selain di Buton, di barat pulau Jawa yaitu Banten yang sejak awal memang menganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.

Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari syarif Makkah. Pada akhir abad ke-20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan Alquran atas nama Sultan Turki.

Di Istanbul, dicetak tafsir Alquran berbahasa Melayu karangan Abdur Rauf Sinkili dengan tertera: “Dicetak oleh Sultan Turki, Raja seluruh orang Islam.

Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki. Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah barat Sumatra dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia.

Kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904/1498 tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini.

Pada gilirannya, hal ini memberikan konstribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji.

Pada saat yang sama, Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tetapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan supremasinya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16


Demikianlah beberapa bukti yang menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara beberapa kesultanan di Nusantara dengan negara Khilafah.

Salah satunya adalah Aceh, tampak dianggap sebagai bagian dari wilayah Turki Utsmani. Persoalan yang menimpa umat Islam di Aceh dianggap sebagai persoalan umat Islam secara keseluruhan.

Khilafah Utsmani melindungi wilayah Aceh serta membantu Aceh melakukan futuhat dan dakwah. (dari berbagai sumber). Wallahu a’lam bishshawâb. [MNews]

Sumber artikel, https://suaramubalighah.com/2020/07/16/adakah-jejak-khilafah-di-nusantara/

Bagaimana menurut Anda?

35 thoughts on “Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

  • 16 Agustus 2020 pada 11:18
    Permalink

    Kan yang mengusung kholafah di indonesia ya tahu semdiri gimana orangnya,gimana sifatnya,dan di indonesia pun sudah ada pancasila yang disusun oleh para pejuang kemerdekaan,laaa kalau sudah merdeka kenapa harus di ubah lagi…..walaupun ideologi kita pancasila bukan khilafah kita bisa beribadah,bersilaturahmi,makan enak,gak ada perang….lalu apa yang dipermasalahkan….di indonesia bukan hanya islam saja ada berbagai umat yang bernaung dibawah NKRI ini,berbeda” tetap satu jua itulah indonesia…..indonesia jaya merdeka 16 agustus 2020

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 19:04
    Permalink

    Rinduuu khilafah.. 😘

    Balas
  • 9 Agustus 2020 pada 17:21
    Permalink

    Di nusantara jejak khilafah d kaburkan dan d kubur dlm” agar islam tdk bangkit lg seperti yg di inginkan org” kafir

    Balas
    • 25 Agustus 2020 pada 17:05
      Permalink

      Yg tdk percaya setelah ilmu sampai kepadanya, sama saja dg tidak mau masuk syurga..
      banyak dosa karena sangat cinta dunia, mereka takut mati..
      Karena kalau islam berkuasa, maka kiamat tdk akan lama lagi.. semoga para pejuang islam hidup dalam kemuliaan atau mati syahid dlm menegakkan islam..
      Krn oran mukmin tidak akan menyaksikan kiamat..
      Biarkanlah org2 yg mengingkari itu merasakan dahsyatnya hari kiamat.. !!!

      Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 21:08
    Permalink

    Sepertinya fakta sejarah akan jejak Khilafah di Nusantara sengaja ditutup tutupi agar banyak yang tdk tau dan malah menjadi pembenci khilafah

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 18:43
    Permalink

    MasyaaAllah trimksh infonya…

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 17:04
    Permalink

    Betapa diri sangat rindu khilafahh ya allah

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 13:40
    Permalink

    Khilafah ajaran islam, menegakkannya adalah suatu kewajiban

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 13:30
    Permalink

    Khilafah ajaran islam, semoga segera tegak

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 12:58
    Permalink

    Terbukti bahwa khilafah miliki hubungan yang dekat dengan beberapa kesultanan di Nusantara.

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 12:42
    Permalink

    Khilafah akan kembali lg

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 10:07
    Permalink

    Jejak khilafah di nusantara nyata adanya, knp hrs alergi dgn kata khilafah? Jazakillah khoir ats ilmunya mdh2n umat segera sadar bahwa khilafah prnh ada dn akan ada kembali krn merupakan janji Allah SWT dan bisyaroh Rasulullah SAW.

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 07:24
    Permalink

    Maa syaa Allah, Kekhilafahan Turki Ustmani sangat berjasa bagi Islamnya Nusantara yang sekarang menjadi penduduk terbesar yang mayoritasnya ummat islam. Allahu Akbar

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 06:31
    Permalink

    Aku sih yakin ada
    Ga tau kalo yang buta sejarah mah

    Balas
    • 11 Agustus 2020 pada 05:45
      Permalink

      Sebenarnya jk mau berfikir adanya wali sanga atau para wali di bumi nusantara adl bukti valid bahwa khilafah pernah mengutus para wali menyebarkan Islam dinusantara.

      Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 06:30
    Permalink

    Masyaallah sejarah membuktikan Khilafah pernah ada di bumi Nusantara

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 06:24
    Permalink

    Allahumma shalli’alaa Muhammad

    Balas
  • 8 Agustus 2020 pada 05:57
    Permalink

    MasyaAllah…Islam tidak akan pernah hilang skalipun banyak orang kafir yang menghalangi kebangkitan Islam

    Balas
    • 9 Agustus 2020 pada 19:56
      Permalink

      Sejarah panjang nusantara berhubungan erat dan kental dengan Khilafah. Masih ngeyel bilang Khilafah tidak cocok di Indonesia?

      Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 23:24
    Permalink

    Masyaa Allah. Menambah pengetahuan

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 23:21
    Permalink

    Masyaallah, sungguh sistem islam paling sempurnah

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 22:18
    Permalink

    MaasyaAllah, sudah jelas Nusantara bersahabat baik bahkan menjadi bagian dari kekhilafan Ottoman dahulu

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 22:16
    Permalink

    Masya Allah, ternyata nusantara ada hubungannya dengan khilafahan

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 21:48
    Permalink

    Smoga Allah SWT segera memenangkan umat Islam dgn berdirinya negara khilafah yg menaungi umat dislruh dunia…aamiin

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 21:28
    Permalink

    Bagaimanapun usaha mereka untuk menghilangkan jejak Khilafah dari kaum muslimin di negeri ini, tak kan bisa karena jejaknya tidak bisa dihapus dan karena Khilafah adalah ajaran Islam. Allahu Akbar

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 21:22
    Permalink

    MaasyaaAllah.. InsyaaAllah khilafah akan kembali tegak ^^

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 21:04
    Permalink

    Masyaallah, bukti dri sejarah bahwasannya khilafah pernah tegak dimuka bumi allah termasuk wilayah nusantara.

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 19:46
    Permalink

    Maa syaa Allah,, tak ada yg bisa menepis bukti jejak khilafah di Nusantara

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 19:23
    Permalink

    Urgensi Khilafah ditopang kuat oleh bukti historis..

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 19:16
    Permalink

    Ya Allah pertemukan kami dg sistem Islam dlm naungan Khilafah

    Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 18:53
    Permalink

    Masya Allah.Banyaksekali sejarah nusantara yg dihapuskan dari pembelajaran, terutama paa masa Islam. Alhamdulillah, semoga penggalian sejarah nusantara bisa membuat perubahan

    Balas
    • 9 Agustus 2020 pada 17:28
      Permalink

      Jejak khilafah di nusantara sengaja d kaburkan agar generasi islam tdk mngetahui bahwa islam pernah jaya d muka bumi

      Balas
  • 7 Agustus 2020 pada 17:47
    Permalink

    Semakin kagum dan bangga dengan islam. Banyak sejarah yang diceritakan tidak sesuai dengan kenyataan .

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *