Libanon: Ledakan Dahsyat di Tengah Krisis Ekonomi dan Ketegangan Politik

MuslimahNews.com, LIBANON — Ledakan dahsyat pada Selasa (4/8/2020) di Beirut, Libanon, menewaskan puluhan warga dan ribuan lainnya terluka. Otoritas setempat menduga ledakan terkait gudang alutsista Hizbullah (partainya Iran).

Di gudang tersebut, tersimpan sekitar 2.700 ton amonium nitrat, zat yang mudah meledak. Ketika meledak, amonium nitrat bisa melepaskan sejumlah gas beracun, termasuk nitrogen oksida dan gas amonia.

Kepala Keamanan Umum, Abbas Ibrahim, mengungkap “bahan berdaya ledak tinggi” hasil sitaan beberapa tahun sebelumnya disimpan dalam gudang tersebut.

Perdana Menteri Hassan Diab menyebut adanya 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang “tidak dapat diterima.”

Dalam Twitter resminya, Selasa (4/8/2020), Hassan Diab menyatakan dia tidak akan diam sampai menemukan orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Sehingga mereka dapat meminta pertanggungjawaban dan menerapkan hukuman paling berat.

“Tidak dapat diterima ada 2.750 amonium nitrat disimpan di gudang selama enam tahun, tanpa adanya langkah pengamanan sehingga membahayakan keselamatan warga,” tulisnya.

Seorang ulama kharismatik Indonesia, KH Hafidz Abdurrahman, menyatakan keprihatinannya sekaligus mengecam pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu.

Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah, Malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi melaknat otak dan pelakunya, serta kelalaian penguasa dalam melindungi nyawa rakyatnya,” ujarnya.

KH Hafidz mengatakan, melihat betapa dahsyatnya bom yang meledak, tampak bagai ledakan bom berkekuatan high explosive.

“Siapa yang mempunyai senjata seperti ini kalau bukan negara? Ada yang mengatakan, bahwa Israel di belakang aksi ini untuk peringatkan Hizbullah di Libanon,” duganya.

Baca juga:  Jejak Kelam Penghancuran Khilafah di Libanon

Kantor Penerangan HT Libanon -sebuah partai dakwah di Libanon-, menjelaskan beberapa poin soal ledakan tersebut, yang dikutip dari penjelasan KH Hafidz Abdurrahman.

Pertama, ledakan ini terjadi di wilayah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan alutsista partainya Iran (Hizbullah). Banyaknya senjata dan bahan kimia menyebabkan ledakannya begitu eksplosif.

Kedua, celakanya, bahan kimia dan persenjataan ini disimpan di gudang atau bangunan yang berada di tengah pemukiman penduduk. Akibatnya, begitu terjadi ledakan, maka mengenai rumah penduduk. Korban yang meninggal tercatat 73, dan luka lebih 4.000 orang. Ini merupakan kelalaian pemerinrah Libanon sejak dulu.

Ketiga, masih menurut Kantor Penerangan HT, Libanon memang tidak pernah aman, baik secara politik, keamanan, maupun ekonomi. Negeri ini terus diliputi berbagai konflik.

Dalam catatannya, KH Hafidz menjelaskan, Hizbullah adalah milisi Syiah, pimpinan Hasan Nashrullah. Bermarkas di Beirut, Libanon. Milisi ini dibentuk dan didukung Iran. Kekuatan alutsistanya mengalahkan militer Libanon sendiri.

Disebut, AS di belakang Iran, dan biasanya Hizbullah digunakan AS melalui tangan Iran.

“Di Libanon sendiri, konflik AS, Prancis, dan Inggris sering terjadi, dengan menggunakan tangan masing-masing. Di sisi lain, Iran dan Hizbullah juga bermusuhan dengan Israel. Inilah yang membuat konflik di kawasan ini terus memanas,” jelasnya.

Baca juga:  Puluhan Orang Tewas dalam Ledakan Besar di Beirut Libanon

Terjadi di Tengah Krisis

Ledakan yang mengerikan ini terjadi di tengah krisis ekonomi yang memicu ketegangan politik. Dilansir BBC.com, krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Libanon, mendorong puluhan ribu orang ke jurang kemiskinan dan memicu protes antipemerintah terbesar yang pernah terjadi di negara itu dalam lebih dari satu dekade.

Bahkan saatpandemi virus corona melanda awal tahun ini, Libanon tampak akan mengalami krisis.

Utang publik terhadap produk domestik bruto (apa yang dimiliki suatu negara dibandingkan dengan apa yang dihasilkannya) adalah yang tertinggi ketiga di dunia; pengangguran mencapai 25%; dan hampir sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Sehari-hari mereka harus berhadapan dengan pemadaman listrik, kurangnya air minum yang aman, terbatasnya layanan kesehatan masyarakat, dan koneksi internet terburuk di dunia.

Banyak orang menyalahkan elite penguasa yang mendominasi politik selama bertahun-tahun dan mengumpulkan kekayaan mereka sendiri. Di sisi lain gagal melakukan reformasi besar-besaran yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah negara.

Setelah wabah Covid-19 melanda dan terjadi lonjakan kasus, karantina wilayah diberlakukan pada pertengahan Maret untuk mengekang penyebaran penyakit.

Banyak bisnis terpaksa memberhentikan staf atau mengenakan cuti tanpa gaji; kesenjangan nilai tukar mata uang Libanon pada pasar resmi dan pasar gelap melebar; dan bank memperketat kontrol modal.

Baca juga:  Jejak Kelam Penghancuran Khilafah di Libanon

Ketika harga membubung tinggi, banyak keluarga bahkan tidak mampu membeli kebutuhan pokok. Kesulitan ekonomi yang meningkat memicu kerusuhan baru.

Pada bulan April seorang pemuda ditembak mati tentara dalam demonstrasi di Tripoli dan beberapa bank dibakar.

Analis Timur Tengah BBC, Sebastian Usher, mengatakan ledakan ini mengingatkan orang akan bom yang menewaskan anggota parlemen dan mantan perdana menteri Rafik Hariri pada 2005.

Dilansir dari WashingtonPost, pada Jumat (07/08/2020) mendatang, pengadilan akan menjatuhkan putusan atas peristiwa pembunuhan Hariri tersebut. Hariri adalah politisi Sunni kenamaan yang menyerukan agar Suriah mundur dari Lebanon.

Sejak awal perang saudara pada 1976, Suriah menempatkan tentara di negara ini. Pembunuhan membuat puluhan ribu warga turun ke jalan-jalan memprotes pemerintah Libanon yang pro-Suriah.

Sejak berakhirnya perang saudara, para pemimpin politik dari masing-masing sekte mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya melalui sistem jaringan patronasi -melindungi kepentingan komunitas agama yang mereka wakili, dan menawarkan baik insentif finansial secara legal maupun ilegal.

Libanon berada di peringkat 137 dari 180 negara (180 menjadi yang terburuk) pada Indeks Persepsi Korupsi 2019 Transparency International.

Hingga hari ini, pemerintah Libanon masih menelusuri pihak yang bertanggung jawab atas ledakan amonium nitrat tersebut.

“Ya Rabb… Selamatkan umat Nabi-Mu dari permainan kotor yang mengorbankan mereka. Amin ya Rabb,” demikian harapan KH Hafidz. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 thoughts on “Libanon: Ledakan Dahsyat di Tengah Krisis Ekonomi dan Ketegangan Politik

  • 6 Agustus 2020 pada 23:51
    Permalink

    Ya Rabb…..
    Selamatkan umat Nabi-Mu dari permainan kotor yang mengorbankan mereka. Aamiin ya Rabb

    Balas
  • 5 Agustus 2020 pada 19:47
    Permalink

    Lekas sembuh dunia
    Lekas tegak khilafah Islamiyyah

    Balas
  • 5 Agustus 2020 pada 18:01
    Permalink

    “Ya Rabb… Selamatkan umat Nabi-Mu dari permainan kotor yang mengorbankan mereka. Aamiin ya Rabb,”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *