Prostitusi Demi Belajar Daring, Menambah Stigma Pendidikan Kian “Keriting”

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Dunia pendidikan kembali tenggelam dalam kegelapan. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tindakan yang tak selayaknya dilakukan pelajar, membuat keberhasilan pendidikan dipertanyakan.

Sebuah kisah memilukan datang dari kepulauan seberang. Dua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Batam ketahuan menjalani bisnis esek-esek. Demi mendapatkan uang Rp500.000,- mereka merelakan keperawanannya.

Yang bikin miris, mereka beralasan uang itu digunakan agar bisa mengikuti sekolah online. Ya, karena berasal dari keluarga tak mampu, keduanya kesulitan mendapatkan internet gratis.

Akhirnya, demi kelancaran bersekolah, mereka rela menjajakan diri di hadapan om-om hidung belang. Malang, di usia 15 tahun mereka harus menempuh jalan hidup yang sulit. Hingga akhirnya keluguan mereka dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab.

Beruntungnya, aksi prostitusi daring ini tak berjalan lama. Polisi berhasil mengungkap dan menangkap para pelakunya. (Kompas.com, 29/7/20)

Pandemi telah memperlihatkan sampai di mana keberhasilan pendidikan negeri ini. Di tengah metode Belajar di Rumah (BDR), 1.001 masalah hadir mengevaluasi kebijakan sistem pendidikan saat ini.

Lalu bagaimana hasilnya?

Hati nurani setiap insan pasti teriris ketika mendengar sebuah kisah miris. Seperti kasus tadi. Di tengah proses pembelajaran daring, ternyata ribuan masalah justru hadir.

Dalam proses pembelajaran ini, tentu para siswa tak perlu ke luar rumah untuk belajar. Mungkin tak perlu keluar biaya untuk angkot atau uang jajan. Cukup duduk manis di rumah, para pelajar bisa mudah mengikuti pelajaran.

Sepintas beragam kemudahan hadir menghiasi kehidupan para pelajar. Namun, sadarkah kita tak semua pelajar bisa memanfaatkan fasilitas tanpa batas. Bagi mereka yang berasal dari keluarga pas-pasan alias hanya pas buat makan, belajar lewat daring justru menyusahkan.

Proses belajar daring membutuhkan beberapa komponen perlengkapan utama. Selain alat tulis dan buku pelajaran, para siswa harus menyiapkan kuota ekstra.

Baca juga:  Sekolah Zona Hijau Tetap Bikin Galau

Tentu kuota ini tak sedikit. Mereka harus menyiapkan kuota yang banyak agar proses belajar mengajar tidak terganggu. Sayangnya kuota itu tak gratis. Puluhan bahkan ratusan ribu uang dihabiskan. Sehingga hal ini perlu merogoh kocek yang lumayan.

Kalau orang tuanya serba cukup mungkin tak masalah. Lalu bagaimana jika mereka dilahirkan dari orang tua yang kesehariannya hanya pas pasan untuk makan?

Mana Hasil Pendidikan Berkarakter?

Selain berempati dan bersimpati atas peristiwa ini, kita tentu perlu merenungi di mana letak kesalahan pendidikan kita saat ini.

Sebuah pendidikan dinyatakan bagus manakala dapat melahirkan pribadi-pribadi berkarakter. Berbudi pekerti baik. Hingga memiliki kepribadian yang unggul. Sehingga mereka mampu menghadapi terjalnya kehidupan dan melalui segala ujian dengan benar.

Jangankan berbicara soal prostitusi anak belia, mendengar kata-kata itu saja kita sudah tahu bahwa istilah itu disematkan untuk perbuatan amoral.

Selain melanggar norma budaya, juga salah dalam norma agama. Di mata agama, perbuatan tersebut adalah dosa besar. Jadi, bagaimana mungkin pelajar yang diberikan pelajaran agama tiap minggunya bisa melakukan perbuatan semacam ini?

Bisa jadi, dalam prosesnya, pembelajaran agama dilakukan sekadar menyampaikan. Sehingga anak tak pernah memahami hakikat benar dan salah.

Bagi mereka belajar hanya untuk mendapatkan nilai angka. Sedang bagi guru mengajar hanya sebatas memenuhi kewajiban. Tak ada transfer keimanan, pemahaman, dan bagaimana memahami masalah serta cara menyelesaikannya sesuai Islam.

Hal ini terlihat dari bagaimana kedua pelajar di atas dalam menyikapi masalah. Dengan kebuntuan yang mereka hadapi, masalah yang datang bertubi-tubi. Bukan Allah yang menjadi tempat prioritas kembali, tapi jalan pintas dengan mendalami bisnis prostitusi.

Bisakah kita bayangkan, jika di usia SMP saja mereka berani mengambil jalan pintas, bagaimana jika nanti dewasa?

Tak ada jaminan mereka mudah keluar dari dunia itu. Nyatanya, saat ini bisnis prostitusi tak pernah kunjung henti.

Baca juga:  Menimbang Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Utang Luar Negeri

Bisa jadi juga, mereka bukan satu-satunya korban yang terpaksa jual diri. Ada 1.001 pelajar/mahasiswi yang nekat terjun dalam bisnis haram ini.

Selain karena tuntutan hidup glamor, juga alasan terpaksa untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan sehari-hari.

Banyaknya bisnis prostitusi yang dibuka di kalangan pelajar dan mahasiswa membuat kualitas pendidikan dipertanyakan.

Apakah dalam sistem pendidikan tak diajarkan moral? Ataukah tak pernah disentuh kualitas keimanannya, sehingga masih ada dari mereka yang terjerumus di jalan yang tandus?

Kegagalan Pendidikan di Sistem Sekuler

Sudah bukan rahasia umum lagi, sistem pendidikan yang dipakai di negeri ini menjadikan sistem pendidikan Barat sebagai acuan.

Kepandaian akal diunggulkan, keberhasilan dinilai dari seberapa tinggi jabatan seseorang dalam sebuah perusahaan, seberapa banyak harta yang dikumpulkan, dan keberhasilan duniawi lainnya.

Semua itu atas dasar nilai materi. Bahwa kebahagiaan tertinggi apabila duni dalam genggaman

Dalam sistem pendidikan Barat, agama hanya pelengkap. Kalaupun tak ada agama, tidak masalah. Pendidikan agama bukan menjadi skala prioritas. Apalagi Barat mengakui semua agama benar, sehingga semua bebas memilih agama.

Kebenaran bagi dunia Barat seperti teori relativitas Einstein. Kebenaran itu relatif, tergantung sudut pandangnya.

Jadi, selama orang tersebut menganggap benar tindakannya dan tidak mengganggu kebebasan orang lain, maka tak ada alasan untuk menolaknya.

Sebagaimana alasan kedua pelajar tadi: melakukan tindakan itu demi keberhasilannya di masa depan, agar tak putus sekolah, tetap bisa naik kelas. Apa pun dilakukan demi tercapainya tujuan. Tidak peduli apakah agama melarang atau membolehkan.

Inilah kegagalan Barat dalam menanamkan moral agama di dunia pendidikan. Para pelajar tak lagi bisa membedakan baik dan benar.

Islam Memiliki Sistem Pendidikan yang Komprehensif

Islam dengan seluruh ajarannya yang sempurna, menyajikan berbagai penyelesaian masalah. Termasuk dalam sistem pendidikan.

Baca juga:  Kampus dan Intelektual Tersandera Kooptasi Peradaban Sekuler

Dalam Islam, dasar sistem pendidikan adalah akidah Islam. Keimanan terhadap Allah SWT. Keimanan inilah yang menjadi dasar seseorang melakukan sesuatu.

Sebelum beraktivitas, seseorang akan memutuskan dulu apakah aktivitas itu bertentangan dengan keimanan atau sebaliknya.

Selain itu, keimanan dipakai sebagai tuntunan hidup yang akan menunjukkan mana yang benar dan salah.

Barulah setelah iman terbentuk dalam setiap diri pelajar, mereka diberikan ilmu pengetahuan, baik eksak maupun yang bersifat tsaqafah lainnya. Mereka diharap mampu mengembangkan pengetahuan tersebut demi kemajuan Islam dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Dalam pengembangan ilmu dan teknologi pun iman akan menjadi landasan. Agar para pelajar tak terjerumus ke jalan yang salah.

Di sinilah uniknya Islam, mampu membentuk pelajar untuk berkepribadian Islam. Pola pikir Islam menjadi benteng sehingga terbentuk pola sikap Islami.

Ketika mereka menghadapi masalah, mereka akan lari pada penyelesaian Islam. Tidak hanya memandang untung dan rugi, tapi benar atau salah.

Maka, masalah prostitusi daring seperti ini tentu akan bisa tertangani dengan mudah. Di samping si pelajar memiliki keimanan kuat dan bisa membedakan benar dan salah, negara bertanggung jawab membuat sistem pendidikan dan tak akan membiarkan anak-anak telantar.

Sebab dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan pokok masyarakat yang harus diberikan secara terjangkau bahkan gratis bagi mereka.

Negara juga akan menyiapkan segala fasilitas agar pelajar tak mengalami kesulitan. Jikalau ada pelajaran daring semisal saat ini, maka negara wajib menyiapkan fasilitas seperti kuota gratis atau murah, khusus untuk pendidikan. Mereka pun tetap bisa sekolah meski dalam keterbatasan.

Jadi, apakah kita masih mau memakai sistem pendidikan sekuler untuk kemajuan dan pendidikan anak-anak negeri ini? Jika ada sistem pendidikan alternatif yang sempurna, kenapa kita tak mau ambil? Wallahua’lam bishowab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

One thought on “Prostitusi Demi Belajar Daring, Menambah Stigma Pendidikan Kian “Keriting”

  • 4 Agustus 2020 pada 04:43
    Permalink

    Astagfirullahalaziim…

    Sistem kapitalis sistem kufur jauh dari ridho Allah..
    Kembali ke sistem Islam..!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *