Monster Oligarki Kapitalis Menggerayangi Ekspor Benih Lobster

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Lobster laut, merupakan salah satu sumber daya hasil laut yang juga dikenal dengan nama udang karang. Lobster diketahui sebagai sumber daya perikanan ekonomis penting di Indonesia.

Harganya yang cukup tinggi dibanding komoditas perikanan lainnya menyebabkan lobster banyak dicari dan ditangkap. Pasar tujuan utama ekspor lobster Indonesia di antaranya Asia dan Eropa.

Berdasar data statistik perikanan Indonesia 2012, lobster menempati urutan keempat komoditas ekspor tertinggi dari bangsa Krustasea setelah marga udang Penaeus, Metapenaeus, dan Macrobrachium.

Peningkatan pasar lobster di dunia ditunjukkan data statistik perikanan FAO dan GLOBEFISH, di mana sejak 1980-an permintaan lobster dari Jepang setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Tingginya nilai ekonomi lobster merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penangkapan lobster dilakukan secara terus menerus namun tidak memperhatikan kondisi sumber daya dan lingkungan.

Belum sadarnya sebagian masyarakat, pengusaha, dan nelayan akan pentingnya penangkapan ramah lingkungan yang bisa menjamin keberlanjutan stok lobster laut. Misalnya, cara destruktif terhadap lingkungan menggunakan bahan peledak dan potasium tentunya akan merusak ekosistem dan habitat dari lobster, hingga menyebabkan makin berkurangnya stok komoditas bergengsi ini.

Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2013 melaporkan, terdapat peningkatan pemanfaatan dari 2005 sampai 2012, di mana kenaikan tersebut mencapai hingga 19,23% total hasil tangkapan di seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia.

Peningkatan hasil tangkapan ini tentunya berpotensi mengancam kelestarian sumber daya lobster laut di Indonesia jika tidak dikelola dengan baik.

Adanya pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan diharapkan dapat menjadikan sumber daya lobster laut di alam tetap terjaga dan bisa terus dimanfaatkan. (Perikanan Lobster Laut WWF 2015)

Perlu dicatat, ini adalah data tangkapan lobster dewasa, tanpa mengotak-atik sumber daya lobster di tingkat benih. Namun, tampaknya mimpi besar pengelolaan lobster nasional ini akan terseok-seok.

Pasalnya, KKP selaku instansi pemerintahan pengelola sumber daya perikanan, sejak periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencanangkan kebijakan ekspor benih lobster.

Padahal, saat periode pertama yang lalu, Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan Perikanan saat itu, sangat ketat mengawasi ekspor lobster. Maksudnya, jikalau hendak ekspor, maka ekspor-lah induknya, jangan benihnya.

Tentu sangat gegabah jika suatu negara tidak menjaga hasil laut terutama yang terkategori plasma nutfah seperti benih bening lobster atau benur lobster.

Baca juga:  Lingkaran Oligarki Rezim Jokowi Bertopeng Milenial

Dikutip dari detik.com (24/07/2020), mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti menyatakan Indonesia bisa menjadi negara besar kalau sumber daya lautnya dijaga dan dikelola dengan benar.

Susi meyakini, sumber daya laut begitu bernilai melebihi sumber daya lain seperti tambang dan minyak. Sebab tidak akan pernah ada habisnya selama dijaga dengan baik.

Menurut Susi pula, nature resources renewable seperti ikan dan udang di laut Indonesia, sejatinya tidak memerlukan peran asing maupun kapal asing. Karena pada dasarnya negeri kita mampu untuk mengelolanya.

Karena itu, logikanya, jika pemerintah tetap melarang ekspor benur lobster, justru bisa membuat masyarakat luas sejahtera. Harga lobster dewasa bisa sangat mahal dibandingkan menjual benur lobster.

Berkebalikan dengan Susi, Menteri KKP saat ini, Edhy Prabowo justru membuka kembali keran ekspor benur lobster tersebut yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri KKP Nomor 12/Permen-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Merespons sikap penolakan Susi tersebut, KKP pun buka suara. Staf Khusus Menteri KKP, TB Ardi Januar, mengatakan alasan utama Edhy membuka kembali izin ekspor komoditas laut tersebut semata-mata untuk kesejahteraan nelayan.

Tapi entah maksudnya nelayan yang mana. Mungkin nelayan berdasi.

Toh sebagaimana dikutip dari detik.com (07/07/2020), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menjelaskan yang memberi izin impor bukan dirinya langsung, melainkan tim yang terdiri atas Direktorat Jenderal terkait, Inspektur Jenderal (Irjen), hingga Sekretaris Jenderal Kementerian.

Edhy mengakui memang ada yang daftar melalui dirinya untuk gabung menjadi eksportir benih lobster. Kementerian membuka kesempatan yang sama untuk seluruh perusahaan maupun koperasi yang berniat mengajukan izin.

Salah satu kriteria yang harus dimiliki yakni perusahaan atau koperasi tersebut harus memiliki sarana untuk budidaya lobster. Sampai hari ini, sudah ada 31 perusahaan yang sudah diverifikasi untuk ekspor benih lobster.

Sementara itu, belakangan diketahui Menteri KP Edhy dan Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan tengah menjalankan proyek bersama, yaitu pembangunan tambak udang 100 ha (detik.com, 24/07/2020). Tambak udang seluas 100 ha tentu bukan tambak berukuran kecil. Bisa dipastikan itu proyek besar.

Baca juga:  Pindah Ibu Kota, Megaproyek bagi Para Oligarki

Menko Luhut mengatakan saat ini pihaknya bersama Menteri Edhy sedang mencari lokasi yang tepat di beberapa wilayah tersebut untuk membangun tambak baru itu.

Daerah yang ditargetkan untuk pembangunannya diantaranya Sulawesi, pantai selatan Jawa sekitar Sukabumi, serta Lampung.

Luhut menuturkan, untuk tahun ini pemerintah akan fokus untuk merealisasikan pembangunan tambak seluas 30 ribu Ha. Realisasi di tahun ini pun akan dipercepat demi memanfaatkan momentum permintaan udang yang tinggi.

Untuk mewujudkan realisasi pembangunan dalam waktu cepat, pemerintah akan menyederhanakan administrasi perizinan yang dibutuhkan. Lebih lanjut, Luhut mengatakan tambak udang baru ini juga akan dibangun dengan memanfaatkan kawasan hutan bakau.

Harapannya, pembangunan tambak udang baru ini dapat menyerap ribuan tenaga kerja di Indonesia, dan mendongkrak ekspor udang.

Namun demikian, perlu untuk ditelusuri lagi. Tenaga kerja mana yang dimaksud? Tenaga kerja asing lagi, kah, seperti yang sempat berpolemik di Sulawesi Tenggara?

Pun nelayan lobster yang mana yang dimaksud? Nelayan berdasi alias nelayan bermodal besar yang menunggangi kapal tangkap modern, kah?

Yang pasti, udang (termasuk lobster di dalamnya) adalah sumber daya perikanan bernilai ekonomi tinggi. Yang tentu saja kesempatan mendulang profit di sektor ini tidak akan dilewatkan secelah pun oleh para pejuang kapital.

Menilik hal ini, sudah pasti celah ini kental dengan peran swasta. Jadi benarlah kiranya, mereka inilah para nelayan berdasi itu.

Jelas sudah, monster oligarki kapitalis sedang menggerayangi ekspor benih lobster. Akibatnya juga jelas, nelayan tradisional lagi-lagi hanya bisa gigit jari.

Ya memang, untuk mengabdi dan mengelola suatu negeri di bawah naungan kapitalisme, mulai aspek pemikiran hingga sumber daya, hanya membutuhkan satu kunci. Yang tak lain adalah niat baik.

Pasalnya, sejauh mana niat baik ini akan bertahan ketika godaan duniawi khas kapitalisme begitu bertubi-tubi? Yang muncul kemudian justru berbagai pembenaran.

Sebagai pejabat pemerintahan, pastilah mereka telah merasa menjadi personel-personel yang paling banyak berkorban untuk negara. Padahal, negaranya telah dikuasai oligarki kapitalis.

Sumber utama APBN Indonesia saja dari pajak dan pariwisata, alih-alih dari sumber daya isi laut dan bumi. Yang ada, sumber daya itu kian hari kian jadi bancakan para pengusaha swasta, level nasional hingga multinasional dan internasional (asing).

Baca juga:  Layakkah Berharap pada Kapitalisme?

Jadi, bisa ditebak para pejabat itu sebenarnya berjuang untuk siapa?

Wilayah yang kaya sumber daya alam hayati dan nonhayati seperti Indonesia memang kian tak tentu arah dan tidak berkah ketika pengelolaan kekayaannya ini semata-mata dilandaskan pada ketamakan penguasa.

Sumber daya hayati bernilai ekonomi tinggi seperti lobster, nyatanya tak jua mampu memperbaiki tingkat ekonomi nelayan yang selama ini selalu di bawah garis kemiskinan.

Mereka tiada dicerdaskan dengan keahlian terkini perihal dunia perikanan dan kelautan yang sebelumnya mereka geluti sekadar dalam konteks tradisional.

Pun secara mikro, untuk meningkatkan pendapatan, mereka malah digelontori pinjaman-pinjaman berkubang riba dengan dalih modal usaha.

Pemberdayaan ekonomi perempuan para istri nelayan pun hanya bermuara pada aktualisasi ide feminisme dengan slogan tipuan berupa pejuang ekonomi keluarga.

Padahal jauh di dalamnya, lepas tangannya pemerintah juga tak terhingga besarnya. Jadi, sisi mana dari kebijakan pemerintah memiliki fungsi menyejahterakan masyarakat pesisir kendati lobster adalah sumber daya bergengsi?

Terkait hal ini, mari kita renungkan sejenak firman Allah SWT berikut ini:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf [07]: 96)

Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir (Yang Maha Pencipta dan Maha Mengatur), aturan-Nya sematalah yang layak digunakan untuk mengelola bumi-Nya ini. Tiada yang lain.

Karena itu hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Kaum Saba’ yang telah Allah abadikan di dalam Alquran:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun’.” (TQS Saba’ [34]: 15). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Monster Oligarki Kapitalis Menggerayangi Ekspor Benih Lobster

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *