25 Tahun Srebrenica

“Kapankah kita akan berhenti mengatakan “tak akan lagi” atas genosida terhadap umat Islam?”


Oleh: Dr. Nazreen Nawaz

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Juli 2020 menandai peringatan 25 tahun genosida Srebrenica, ketika pasukan Serbia memaksa masuk ke daerah kantong Srebrenica yang ditandai sebagai “zona aman” oleh PBB selama perang Bosnia, dan kemudian dengan kejamnya mengeksekusi 8.000-an pria dan anak laki-laki Muslim di sekitar timur laut Bosnia.

Menyusul pembantaian, yang digambarkan sebagai insiden terburuk pembunuhan massal di Eropa setelah Perang Dunia II, dunia berjanji: Tak akan lagi!

Namun, kita hidup di dunia di mana pembunuhan massal Muslim di Srebrenica direplikasi di negeri-negeri seluruh dunia -dari Suriah ke Myanmar, Gaza ke Kashmir, Yaman ke Afrika Tengah; dan di mana operasi pembersihan etnis dan penganiayaan agama banyak dilakukan terhadap Muslim di Turkistan Timur, India, Rusia, Krimea, dan di tempat lain.

Jadi kapan kita benar-benar akan berkata “tak akan lagi” pada pembantaian dan penindasan massal umat Islam kita?

“Tak akan lagi” artinya… mengakhiri sesuatu yang menyebabkan terbunuhnya puluhan ribu pria, wanita, dan anak-anak Muslim di Bosnia, juga sesuatu yang memungkinkan terjadinya genosida terhadap kaum Muslimin, yaitu absennya sistem Allah (SWT), Khilafah, di dunia ini: perisai dan penjaga orang-orang beriman, yang berkewajiban mempertahankan darah kaum mukmin dan membela kepentingan Islam serta kebutuhan umat manusia.

Sistem Islam inilah yang membangun perdamaian, perkembangan, dan persatuan di antara orang-orang berbagai suku, etnis, dan kepercayaan agama di Balkan selama lebih dari 500 tahun karena keadilan hukum Islam.

Baca juga:  [Uighur] Penguasa Negeri Muslim Wajib Hentikan Kejahatan Cina

Inilah sebabnya mengapa sejarawan Inggris T. W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menulis tentang perlakuan terhadap non-Muslim yang hidup di bawah Khilafah Utsmaniyah (Kekhalifahan Utsmaniyah):

“… meskipun orang-orang Yunani secara jumlah lebih unggul daripada orang Turki di semua provinsi di kekuasaan Eropa, toleransi beragama yang diberikan kepada mereka dan perlindungan terhadap kehidupan dan harta yang mereka nikmati, segera merekonsiliasi mereka untuk lebih memilih dominasi Sultan daripada kekuasaan Kristen mana pun.”

Negara inilah yang tidak hanya bergerak membela Muslim yang tertindas sebagaimana diwajibkan Islam, seperti yang kita saksikan pada abad ke-12 ketika Khalifah Utsmani Sulaiman I mengirim 36 armada kapal untuk menyelamatkan 70.000 Muslim Andalusia yang dianiaya penguasa Kristennya, kemudian menempatkan mereka di tanah Khilafah.

Negara itu pula yang menanggapi tangisan non-Muslim yang tertindas, seperti yang kita lihat pada 1492, di bawah Khilafah Utsmani, Khalifah Bayezid II, yang mengirim seluruh armada angkatan lautnya untuk menyelamatkan 150.000 orang Yahudi Eropa yang dianiaya penguasa Kristen Spanyol, juga menempatkan mereka di Khilafah.

“Tak akan lagi” artinya… menolak segala konsep beracun nasionalisme dan model politik negara bangsa yang menyebabkan Balkan menjadi sumber ketegangan dan konflik etnis, yang mengilhami orang-orang Serbia menggenosida Muslim Bosnia, untuk mewujudkan visi mereka tentang Serbia Raya dengan wilayah non-Serbia yang murni secara etnis di sepanjang Sungai Drina.

Inilah konsep beracun nasionalisme dan penerapan batas-batas identitas nasional palsu yang dipaksakan Barat antara negeri-negeri Muslim, yang menyebabkan Arab Saudi membiarkan saudara-saudara Muslim mereka di Yaman mati kelaparan -atas kepentingan nasional mereka dan tuan Barat mereka.

Baca juga:  Khawatir Dipulangkan, Ribuan Pengungsi Rohingya Tinggalkan India

Dan yang mendorong negara-negara Muslim seperti Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia mengusir Muslim Rohingya dari negeri mereka, menyaksikan mereka tenggelam di laut karena dipandang membahayakan kepentingan dan ekonomi nasional mereka.

Dan yang menyebabkan pemerintah Muslim seperti Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, dan lainnya menyaksikan saudara-saudari mereka dibantai di Syam, juga satu juta Muslim Uyghur yang dipenjara di kamp-kamp interniran di Cina di Turkistan Timur, kemudian tidak melakukan apa pun untuk membela karena itu bukan urusan dalam negeri mereka!

Sungguh konsep yang begitu tercela dan menjijikkan!

Nabi (Saw.) bersabda,

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»

“Tidaklah termasuk golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ‘ashabiyah (kesukuan dan nasionalisme), berperang karena ‘ashabiyah, atau mati karena ‘ashabiyah.” (HR Dawud)

Dan “Tak akan lagi” artinya… menolak ketergantungan pemerintah asing dalam menyelesaikan problem kita sebagai umat -apakah itu melalui PBB atau pemerintah Barat lainnya.

Skala keterlibatan kekuasaan semacam itu dalam kejahatan atas kaum Muslim tampak jelas dalam perang Bosnia, seperti yang terjadi pada konflik dulu dan sekarang.

Kita melihat, misalnya, bagaimana PBB mendemiliterisasi para pejuang Bosnia di Srebrenica, sementara membiarkan orang-orang Serbia bersenjata dan mampu memperoleh amunisi militer dari sekutu mereka, dan bagaimana PBB meninggalkan Muslim Srebrenica ke para penjagal Serbia, meskipun berjanji untuk melindungi mereka.

Mantan Presiden Dewan Kepresidenan di Bosnia dan Herzegovina, Dr. Harith Siladic berbicara tentang peran kotor yang dimainkan kekuatan utama dalam perang dan penyelarasan PBB dengan Serbia, dan bagaimana orang-orang Serbia menerima dukungan dari negara-negara besar seperti Prancis dan Britania.

Baca juga:  Dari Uyghur Kita Belajar tentang Kebatilan Nasionalisme dan Urgensi Khilafah Islam

Sylvie Matton, penulis sebuah buku tentang pengkhianatan Srebrenica, Srebrenica: An Announced Genocide, menulis tentang bagaimana kekuatan utama itu berkolusi memberi pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic, apa yang diinginkannya: tiga daerah kantong Bosnia yakni Srebrenica, Zepa, dan Gorazde.

Allah (SWT) berfirman,

(وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ)

“Dan orang-orang kafir, sebagian mereka melindungi yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (TQS Al-Anfal [8]: 73)

Dan sungguh, lagi dan lagi kita menyaksikan persekutuan pemerintah kafir ini terhadap kaum Muslim dan Islam –dari persekongkolan mereka terhadap revolusi Islam di Suriah, atas dukungan dan perlindungan mereka pada entitas “Zionis”, upaya mencegah kemenangan tentara Pakistan melawan India di Kashmir sebagaimana kita lihat selama konflik Kargil Heights.

Warisan genosida yang memilukan ini, yang menimpa umat kita, tak akan pernah berakhir kecuali kita mengambil pelajaran dari sejarah dan agama kita, bahwa keamanan dan perlindungan bagi umat Islam tak akan pernah terwujud hingga kita menolak semua sumber non-Islami untuk solusi masalah dan pengaturan negeri kita.

Dan alih-alih menaruh seluruh perhatian dan upaya kita dalam urgensi membangun negara dan sistem pemersatu yang ditentukan Allah (SWT), untuk menjadi perisai, pelindung, dan wali kita: Khilafah! [MNews] Sumber: https://s.id/nkjJj

Bagaimana menurut Anda?

4 tanggapan untuk “25 Tahun Srebrenica

  • 24 Juli 2020 pada 10:09
    Permalink

    Mereka Semua Dzolim

    Balas
  • 23 Juli 2020 pada 21:27
    Permalink

    Barat tidak akan tinggal diam melihat kaum Muslim dan Islam banyak, apalagi gaung kebangkitan Islam mulai nampak. Tapi kita harus yakin, bahwa pertolongan Allah tegaknya Khilafah ats tsaniyah itu pasti. Allahu Akbar.

    Balas
    • 24 Juli 2020 pada 13:54
      Permalink

      Barat tak kan ada henti-hentinya mengobarkan semangat memusuhi Islam Ideologis. Untuk itu hanya pada Allah kita mohon pertolongan kepada Allah, dan tetap Istiqomah dalam perjuangan ini.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *