Editorial: Moderasi Kurikulum, Demi Siapa?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama baru-baru ini mengumumkan rampungnya penyusunan modul Moderasi Beragama untuk siswa madrasah.

Modul bertajuk “Membangun Karakter Moderat: Modul Penguatan Nilai Moderasi Beragama pada RA-MI dan MTs-MA” ini dipandang sebagai solusi jitu mengerem potensi berkembangnya paham radikalisme di kalangan generasi muda.

Ditilik dari isinya, modul ini memang kental dengan gagasan moderasi Islam yang sering dihadapkan dengan narasi Islam radikal.

Di antaranya berbicara soal pembangunan karakter moderat, pengenalan kebangsaan, berlaku adil terhadap sesama, menjaga dan menjalin persaudaraan, dan lain-lain.

Dengan modul ini, diharapkan para guru memiliki panduan untuk menginternalisasi pemahaman Islam yang disebut lebih ramah, lebih toleran, dan terbuka atas perbedaan. Karenanya diharapkan para peserta didik akan terjauhkan dari sikap radikal.

Sejak kabinet kerja jilid dua dilantik, pemerintahan Jokowi memang sangat concern menjadikan agenda membendung radikalisme sebagai tagline bagi periode kedua pemerintahannya. Tentu dengan tetap concern juga menggenjot proyek-proyek investasi asing demi alasan mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebagaimana periode-periode sebelumnya.

Salah satu agenda yang sangat serius digarap adalah perubahan kurikulum pesantren dan madrasah yang digawangi Kementerian Agama. Momentumnya dipicu temuan 155 buku pelajaran yang dianggap mengandung paham “radikal” seperti ajaran soal Khilafah dan jihad di pertengahan tahun sebelumnya.

Memang bukan kebetulan, jika kedua isu tersebut –khususnya isu Khilafah– sedang ramai-ramainya dibicarakan. Gagasan ini, pelan tapi pasti mulai dikenal masyarakat di berbagai komunitas dan jenjang pemikiran. Bahkan nyaris diterima sebagai visi baru perubahan di tengah gagalnya sistem sekuler-kapitalis memberi kehidupan yang menenteramkan.

Rupa-rupanya, realitas inilah yang membuat para penjaga sistem sekuler-kapitalis meradang dan menganggap kesadaran umat akan Islam sebagai lonceng kematian.

Maka berbagai cara pun dilakukan agar arus itu bisa dihadang. Termasuk memisahkan umat dari pemahaman Islam kaffah, ide Khilafah, dan para pengusungnya.

Betapa tidak? Dakwah Islam kaffah dan Khilafah ini telah berhasil membuka mata umat akan hakikat persoalan yang mereka hadapi. Krisis multidimensi yang tiada henti tak lain berakar dari rusaknya sistem yang diterapkan. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme-neoliberal yang mengukuhkan hegemoni kapitalisme global.

Siapa pun tak bisa memungkiri kenyataan, sistem ini memang menjadi sumber segala kerusakan. Karena sistem ini begitu menuhankan kebebasan. Mulai dari kebebasan berperilaku, beragama, memiliki, dan berpendapat.

Dari paham kebebasan inilah lahir berbagai aturan hidup yang memicu krisis di berbagai bidang. Mulai dari krisis moral, politik, ekonomi, dan lain-lain. Krisis ini begitu telanjang. Hingga siapa pun yang waras bisa merasakan, bangsa ini sedang menghadapi begitu banyak persoalan.

Baca juga:  Ma'al Hadits Al-Syarif: Sistem Khilafah adalah Sistem Kesatuan

Tengoklah generasi kita. Materialisme, hedonisme, dan sifat permisif begitu lekat dengan kehidupan mereka. Tak tampak lagi jati diri muslim selain sekadar nama dan pakaian sebagian dari mereka akibat terpapar gaya hidup rusak. Mulai dari pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, hingga penyimpangan seksual yang menjijikkan.

Di bidang ekonomi pun tak kalah buruknya. Indonesia kian hari kian tenggelam dalam utang ribawi berkepanjangan. Di saat sama, penguasaan sumber daya dan sektor-sektor vital oleh asing justru dilegalisasi penguasa.

Tercatat, sejak amandemen pertama hingga ke-4 tahun 2002, lahir lebih dari 70 UU proasing: UU tentang migas dan minerba, kelistrikan, telekomunikasi, perbankan dan keuangan, pertanian, sumber daya air, dan lain-lain. Nyaris semua proyek strategis dilelang dengan skema Penanaman Modal Asing (PMA) yang berdampak ikutan berupa membanjirnya para TKA.

Walhasil, kemiskinan pun jadi potret bersama.

Di saat yang sama, kedaulatan negara pun kian tergadai. Padahal katanya Indonesia adalah negeri superkaya. Dan katanya, bangsa ini bangsa besar dan sudah lama merdeka.

Namun anehnya, selama ini rezim penguasa bertindak seolah tuli dan buta. Menganggap negeri dan bangsa ini sedang baik-baik saja. Tak sedikit di antara mereka bermain mata dengan para pengusaha. Berharap fee proyek dan sponsorship di periode kekuasaan selanjutnya.

Maka, di saat arus kesadaran Islam ideologis ini muncul, mereka berteriak lantang bahwa radikalisme adalah musuh bersama dan ajaran Islam tentang Khilafah dan jihad adalah ajaran yang berbahaya.

Pertanyaannya, berbahaya bagi siapa?

Faktanya, tak ada hubungan antara krisis multidimensi dan penjajahan oleh asing dan paham radikalisme, ide Khilafah, dan ajaran jihad yang selama ini dimusuhi negara.

Jika pun ada satu dua kasus teror, rakyat pun sudah tahu siapa yang bermain di belakangnya. Rata-rata mereka berpendapat, ketiganya hanya narasi yang didengung-dengungkan penguasa untuk menutupi kegagalan mengurusi negara.

Siapa pun bisa melihat, isu radikalisme adalah isu yang sengaja dilontarkan Barat sebagai pintu masuk menyerang Islam, menyusul agenda War on Terrorism yang tak laku di pasaran. Di saat yang sama, Barat merekomendasikan proyek pemandulan ajarannya dengan gagasan moderasi Islam.

Sebagaimana diketahui, sejak kekuatan ideologi sosialisme-komunisme hancur, Islam memang menjadi ancaman baru bagi hegemoni kapitalisme global.

Baca juga:  Khilafah Ajaran Islam: Istilah Khilafah, Makna Khilafah dan Khalifah (1)

Kezaliman kapitalisme disertai kian gencarnya dakwah Islam kaffah membuat kesadaran umat akan kewajiban dan urgensi hidup dalam tatanan Islam tak bisa lagi dihalangi.

Inilah yang dikhawatirkan Barat dan antek-anteknya. Hingga mereka serius mencari cara agar arus kesadaran akan Islam ini tak berubah menjadi bencana bagi eksistensi mereka.

Ternyata, solusi yang dipandang jitu adalah dengan menjauhkan umat dari kecemerlangan agamanya, sekaligus membenturkan umat Islam dengan sesamanya.

Adalah Rand Corporation, sebuah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah yang berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS), yang pada 2007 mengeluarkan sebuah laporan setebal 217 halaman berjudul Building Moderate Muslim Network.

Laporan ini berisi rekomendasi bagi pemerintahan AS tentang cara melemahkan dan memecah kekuatan Islam. Tak lain dengan membangun jaringan Muslim Moderat sebagai mitra Amerika dalam melawan apa yang mereka sebut kebangkitan fundamentalisme Islam di dunia.

Rand Corp lantas merinci kriteria kalangan moderat-liberal yang harus dijadikan mitra AS. Yakni mereka yang mendukung demokrasi, mengenal hak-hak manusia –termasuk di dalamnya kesetaraan gender dan kebebasan berkeyakinan–, menghargai keberagaman, menerima sumber hukum yang nonsektarian, serta menentang terorisme dan bentuk-bentuk kekerasan ilegal lainnya.

Selain itu, Rand Corp pun merekomendasikan agar pemerintah AS turut memfasilitasi eksistensi kelompok-kelompok yang dinilai paling cepat memberikan dampak dalam perang pemikiran yang digagasnya.

Yakni kelompok muslim moderat dari berbagai kalangan, seperti: 1) Akademisi dan intelektual Muslim yang liberal dan sekuler, 2) Mahasiswa muda religius yang moderat, 3) Komunitas aktivis, 4) Organisasi-organisasi yang mengampanyekan persamaan gender, dan 5) Wartawan dan penulis moderat.

Sejalan dengan itu, Pemerintah AS juga diminta terus memastikan kalangan-kalangan tersebut diikutsertakan dalam kunjungan kongres (dialog), serta berupaya membuat mereka dikenal oleh pembuat kebijakan.

Inilah yang sedang terjadi di negeri-negeri Islam termasuk di Indonesia. Kelompok moderat dan aktivisnya selalu mendapat panggung dan support dana di berbagai isu dan kesempatan. Media-media mainstream mengelu-elukan mereka sebagai pejuang demokrasi dan kemanusiaan.

Mereka selalu tampil bak pahlawan. Mempropagandakan narasi pesanan seperti soal hak asasi, demokrasi, toleransi, persamaan, kebebasan, dan kesetaraan.

Mereka tak peduli, di balik itu semua ada kepentingan hegemoni kapitalis global yang sedang dijaga. Dan pelan tapi pasti akan menghancurkan bangsa dan negaranya.

Baca juga:  Hukum Melecehkan Kewajiban Khilafah

Betapa tidak? Pemikiran-pemikiran Islam moderat hakikatnya adalah racun pembunuh bagi anak-anak Islam. Yang saat ditenggak, akan hilanglah imunitas dan ketahanan ideologis mereka sebagai umat mulia. Bahkan mereka akan terjauhkan dari modal kebangkitan yang justru hari ini sangat dibutuhkan.

Di saat sama, umat mudah diseret menjadi penggembira. Dipecah belah, bahkan diperalat untuk memperpanjang umur penjajahan kapitalisme global, tak peduli kapitalisme Timur maupun Barat.

Oleh karenanya, umat semestinya segera sadar, hanya dengan berpegang teguh pada Islam kaffah-lah mereka akan kembali mulia.

Yakni dengan terus berjuang agar bisa segera hidup di atas akidah dan syariat, dalam institusi negara bernama Khilafah Islamiyah. Sebuah institusi yang akan menyatukan semua potensi umat melawan hegemoni kapitalisme global.

Mereka pun tak boleh terjebak pada propaganda bahwa Islam kaffah dan semua ajarannya berbahaya. Karena sejatinya tegaknya Islam hanya berbahaya bagi kekuasaan mereka. Yang selama ini telah menghisap darah umat, menodai kehormatan umat, bahkan berkehendak menghapus eksistensi umat.

Sungguh, wajib pula bagi kita membongkar kedok mereka, yang tanpa malu memilih tunduk di ketiak penjajah serta rela mengorbankan agama dan saudaranya demi dunia yang tak seberapa.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS Al-Baqarah: 204)

Dan firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al An’am: 112)

Sungguh Allah hanya meminta kita berusaha, sementara Allah akan menyempurnakan urusan-Nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7). Wallahu a’lam bishawwab. [MNews | SNA]

39 thoughts on “Editorial: Moderasi Kurikulum, Demi Siapa?

  • Pingback: Editorial: Apa Dosa Khilafah? - Muslimah News

  • 25 Juli 2020 pada 11:25
    Permalink

    Mereka akan senantiasa memadamkan cahaya agama Allah tapi Allah akan menyempurnakan cahaya Nya.

    Balas
  • 25 Juli 2020 pada 10:15
    Permalink

    Arah pendidikan sekuler kapitalis, sesuai pesanan brt utk mbungkam islam

    Balas
  • 24 Juli 2020 pada 23:06
    Permalink

    Banyak oramg yang ditutup matanya seakan dunia baik-baik saja dengan membuat mereka takut dengan ajaran agama mereka sendiri. Namun ketika kita mau untuk membuka mata bahkan menggunakan akal kita untuk memahami ayat-ayat Allah, maka dunia ini sangat kacau balau karena hukum yang digunakan tidak sesuai dengan hukum Sang Pengatur Manusia

    Balas
  • 24 Juli 2020 pada 22:08
    Permalink

    Ketika malam semakin pekat, tandanya fajar segera menyingsing! Semangat!!
    In syaa Allah semuanya skenario Allah, karena Allah lah sebaik-baiknya pembalas tipu daya..

    Balas
  • 24 Juli 2020 pada 15:19
    Permalink

    Semoga umat sadar akan wajibnya Islam kaffah

    Balas
  • 24 Juli 2020 pada 14:37
    Permalink

    Umat Islam hanya butuh Islam Kaffah.
    Allahu Akbar!

    Balas
  • 24 Juli 2020 pada 09:47
    Permalink

    Pendidikan seharusnya menjadikan para peserta didik semakin taat kepada pencipta nya

    Balas
  • 23 Juli 2020 pada 13:58
    Permalink

    Saya tidak rela ajaran di dalam agama Islam di ubah-ubah

    Balas
  • 23 Juli 2020 pada 08:02
    Permalink

    Aneh bin ajaib, ketika pelajaran agama islam ada moderenisasi.
    utk apa??
    kalo cuma membuat umat semakin buta akan agama nya sndiri bukankah ini sebuah kemunduran. ayolah…..mari kita lbh jeli lagi

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 20:45
    Permalink

    Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 19:07
    Permalink

    Isu radikal trs dihembuskan utk mencegah kebangkitan Islam. Yg jls2 berbahaya adlh sekulerisme, pluralisme, liberalisme.

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 16:12
    Permalink

    Kearahmanapun pendidikan dia arahkan selama sistenya sisstem kufur, tidak akan mendapatkan kebaikan selainbkeburukan semata

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 16:11
    Permalink

    Islam selalu dijadikan kambing hitam semua persoalan. Karena Barat tau, jika ummat islam sadar dan bersatu maka dia akan terancam kedudukannya. Semoga Allah segera turunkan pertolongan untuk kaum muslimin. Aamiin Ya Allah

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 14:41
    Permalink

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

    “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 14:41
    Permalink

    Kebangkitan Islam segera datang..
    Smoga kita semakin semangat berdakwah

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 07:47
    Permalink

    Umat Islam tidak butuh moderasi beragama, umat Islam butuh penerapan syariah kaffah

    Balas
    • 22 Juli 2020 pada 14:04
      Permalink

      Membongkar makar antek penjajah adalah cara terbaik utk membangunkan ummat dr tidurnya…

      Balas
  • 22 Juli 2020 pada 06:27
    Permalink

    Perubahan kurikulum yang mengarah pada pendidikan sekuler..

    Balas
  • 22 Juli 2020 pada 04:17
    Permalink

    Pelajaran agama sekarang tidak.murni lagi dari Islam

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 23:18
    Permalink

    Astaghfirullah,sesungguhnya sistem sekuler hnya menciptakan kerusakan di muka bumi ini dgn sederet kerusakan yg bertambah parah ,ketakutan musuh”islam yg merasa terancam akan kepentingannya sehingga terus bekerja keras menyudutkan dan menhauhkan umat muslim dr islam

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 16:23
    Permalink

    Agenda global kapitalisme

    Balas
    • 22 Juli 2020 pada 11:39
      Permalink

      Subhanallah,

      Balas
      • 22 Juli 2020 pada 22:30
        Permalink

        Lagi, ketakutan mereka akan bangkitnya Islam secara hakiki..

        Balas
  • 21 Juli 2020 pada 16:08
    Permalink

    Islam solusi tuntas dari semua permasalahan saat ini!!!

    #BackToIslam

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 16:05
    Permalink

    Salah satu agenda yang sangat serius digarap adalah perubahan kurikulum pesantren dan madrasah yang digawangi Kementerian Agama. Momentumnya dipicu temuan 155 buku pelajaran yang dianggap mengandung paham “radikal” seperti ajaran soal Khilafah dan jihad di pertengahan tahun. Kedua isu tersebut khususnya isu Khilafah sedang ramai-ramainya dibicarakan. Gagasan ini, pelan tapi pasti mulai dikenal masyarakat di berbagai komunitas dan jenjang pemikiran. Bahkan nyaris diterima sebagai visi baru perubahan di tengah gagalnya sistem sekuler-kapitalis memberi kehidupan yang menenteramkan.

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 15:33
    Permalink

    Umat semestinya segera sadar, hanya dengan berpegang teguh pada Islam kaffah-lah mereka akan kembali mulia. Yakni dengan terus berjuang agar bisa segera hidup di atas akidah dan syariat, dalam institusi negara bernama Khilafah Islamiyah. Sebuah institusi yang akan menyatukan semua potensi umat melawan hegemoni kapitalisme global.

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 14:45
    Permalink

    Firman-Nya:

    وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

    “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al An’am: 112)

    Sungguh Allah hanya meminta kita berusaha, sementara Allah akan menyempurnakan urusan-Nya.

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

    “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).

    Balas
  • 21 Juli 2020 pada 14:15
    Permalink

    Ketakutan mereka akan kebangkitan Islam sangat terlihat jelas hari ini.

    Nah teman2 lebih semngat lg yah dakwahnya. 😊 Allah bersama dengan org2 yg bersabar. Smga it kita 😊. Aamiin

    Balas
    • 21 Juli 2020 pada 23:02
      Permalink

      MasyaaAllah, semakin rindu pada islam

      Balas
  • 21 Juli 2020 pada 14:04
    Permalink

    Ketakutan sangat takut akan kebangkitan Islam.

    Nah teman2 lebih semngat lg yah dakwahnya. 😊 Allah bersama dengan org2 yg bersabar. Smga it kita 😊. Aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *