OTG Milenial, Ancaman Ledakan Era New Normal

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Milenial adalah kaum muda berfisik kuat dan bermental baja. Jika dibandingkan dengan para orang tua, tentu ketahanan tubuhnya lebih besar. Apalagi, menurut Doni Monardo selaku Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 para milenial memiliki kerentanan lebih kecil tertular dan meninggal gegara Covid.

Sehingga pertengahan Mei yang lalu tim gugus tugas sebagai perwakilan pemerintah merencanakan agar milenial dengan usia 45 tahun ke bawah kembali bekerja. Dengan menggunakan protokol kesehatan akan diyakini menjaga diri dari sebaran virus.

Dua bulan telah berlalu, kaum milenial kembali beraktivitas di bawah kontrol protokol kesehatan. Apalagi sudah sejak awal Juli ini new normal life diberlakukan. Nyatanya ketakutan para pakar waktu itu, jika para milenial kembali beraktivitas menjadi nyata. Fenomena kasus orang tanpa gejala alias OTG mendominasi pasien Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut bahwa hampir 80 persen kasus positif Covid-19 yang ditemukan berasal dari orang yang tidak memiliki gejala sama sekali. (kompas, 8/6/20)

Sebagaimana kejadian di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) yang ribuan siswanya terpapar Covid-19. Ini adalah contoh kejadian jika OTG milenial itu lebih berbahaya. Karena yang sakit merasa sehat, dan tidak ada keluhan apa-apa. Apalagi merasa aman karena telah melakukan protokol kesehatan yang cukup ketat.

Baca juga:  Lingkaran Oligarki Rezim Jokowi Bertopeng Milenial

Diketahui selama Covid berlangsung, Secapa AD memang telah menerapkan protokol kesehatan ketat. Namun, karena ada satu atau dua siswa yang ternyata terpapar Covid dan mereka termasuk OTG, akhirnya tanpa disadari virus itu menyerang ke ribuan orang lainnya di wilayah itu. Kasus ini baru diketahui ketika ada dua orang siswa yang melakukan screening di RS. (idntimes, 12/7/20)

Tak hanya itu, lonjakan kasus dua kali lipat juga terjadi di ibu kota. Pada 12 Juli kemarin positif rate di Jakarta naik menjadi 10,5%. Setelah Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan terhadap puluhan ribu penduduknya.

Pada waktu itu tercatat 404 kasus baru. Yang merupakan kasus tertinggi selama masa PSBB transisi. Gubernur Anies Baswedan menambahkan jika 66% kasus Covid adalah OTG. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan kewaspadaan atas hal ini.

Di Balik Masifnya Penularan

Kasus penyebaran corona yang ekstra cepat ini menimbulkan kekhawatiran bagi kita semua. Alangkah lebih baik mencegah penularan dari pada mengobatinya. Dari hasil riset sebelumnya WHO memaparkan jika virus ini mampu menular melalui udara. Namun, belakangan pernyataan ini direvisi WHO sendiri.

Diberitakan detik.com (15/7) mengutip Daily Star, profesor Wendy Barclay dari Imperial College London menyampaikan bahwa mikrodroplet virus corona dapat bertahan di udara lebih dari satu jam.

Baca juga:  Stafsus Milenial, Upaya Memoles Wajah Bopeng Rezim Menjadi "Glowing"

Saat seseorang berbicara, bersin, batuk atau berteriak mereka mengeluarkan ludah. Ludah yang ukurannya sangat kecil (mikro) inilah yang akan melesat jauh di udara. Sehingga jika sirkulasi udara tidak bagus, bisa saja mikrodroplet ini menempel pada orang lain. Meskipun mereka tidak melakukan kontak erat.

Memperbaiki Sebelum Terlambat

Dengan semakin banyaknya pasien corona, harusnya ada evaluasi penanganan. Apalagi setiap hari seribu lebih kasus muncul dan sebagian besar diderita para milenial. Ini adalah catatan merah yang perlu segera diselesaikan.

Sebagai pelayan masyarakat, alangkah baiknya jika tidak sekadar menyampaikan OTG milenial tak membebani RS karena melakukan isolasi mandiri. Walau bagaimanapun mereka tetap bagian masyarakat. Yang perlu dilindungi. Sehingga kesehatan dan proses penyembuhan mereka perlu diperhatikan. Sebagaimana yang ada gejala.

Dengan kebijakan umur 45 tahun ke bawah boleh beraktivitas seperti biasa sepertinya perlu dievaluasi. Karena fakta berbicara, nyatanya kasus terbanyak terjadi di kalangan milenial. Maka, perlu ada antisipasi khusus bagi mereka yang memang harus bekerja di luar rumah. Baik bagi BUMN, PNS, atau pekerja lainnya seperti pabrik, dll.

Tidak hanya mengimbau, menyerahkan kehati-hatian pada masyarakat sendiri. Dan membiarkan mereka beradu nasib dengan virus di luar sana. Tapi juga perlu ada gebrakan antisipasi, seperti pemberhentian kerja sementara untuk dilakukan pengecekan rapid tes maupun swab.

Baca juga:  Stafsus Milenial, Upaya Memoles Wajah Bopeng Rezim Menjadi "Glowing"

Setelah hasilnya keluar barulah yang sehat bisa bekerja kembali. Dan yang sakit dikarantina dan diobati. Dengan begitu rantai penularan bisa terputus. Memang, untuk melakukan hal tersebut butuh dana yang banyak.

Bagi pemimpin yang bertugas mengurusi masyarakat tentunya itu bukan hal sepele. Dengan memaksimalkan pendapatan SDA harusnya akan menambah kas negara. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan jika para kapital masih “ungkang-ungkang” di atas tanah kita. Sebagai negara berkembang masalah keuangan memang menyita pikiran, karena sulit mendapatkan uang kecuali dengan dana pinjaman.

Tapi kesulitan ini tidak berlaku jika para kapital mental dari percaturan negara. Sehingga aset-aset yang harusnya milik rakyat dikembalikan pada pemiliknya. Negara yang berani melawan hegemoni kapital ini tentu bukan sekadar negara “ecek-ecek”.

Dia adalah negara yang memiliki visi dan misi besar. Berjalan dengan tuntunan wahyu Ilahi. Yaitu negara yang mengambil Islam sebagai petunjuknya. Sebagaimana zaman Nabi dahulu. Wallahu a’lam bishawab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

3 thoughts on “OTG Milenial, Ancaman Ledakan Era New Normal

  • 20 Juli 2020 pada 16:51
    Permalink

    Allah masih menguji para Hamba, dengan wabah ini, tp Allah jg menguji para penguasa negri ini.. apakah mampu, mrngatsi wabah ini? dengan bantuan pemerintah terhadap Rakyat?

    Balas
  • 19 Juli 2020 pada 21:02
    Permalink

    Makanya yuk kita terapkan sistem Islam..buang jauh2 sana sistem kapitalis yg bobrok dan usang..

    Balas
  • 19 Juli 2020 pada 17:08
    Permalink

    Kebijakan kapitalis

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *