Ayasofia, Pragmatisme Erdogan dan Narasi Kebencian akan Kebangkitan Islam

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, ANALISIS – Leopold Weiss dalam Islam at the Crossroads (1934) menuturkan, “Kemurkaan (Eropa) telah tersebar luas seiring kemajuan zaman, kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian itu akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim.”

Publik memang tak suka “narasi kebencian”. Tapi apa boleh buat, kutipan kalimat Weiss di atas menggambarkan kebencian Barat atas dunia Islam dari masa ke masa.

Fobia akan kebangkitan Islam nyatanya telah menjadi gerakan untuk selalu curiga dan melemparkan stigma terhadap Islam dan kaum muslimin.

Demikian pula reaksi dunia saat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (10/7/2020) menandatangani dekrit yang menjadi dasar hukum perubahan status Ayasofia sebagai masjid setelah pengadilan tinggi Turki mencabut statusnya sebagai museum.

Beragam kecaman bermunculan. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memperingatkan perubahan status Hagia Sophia akan mengurangi kemampuan inklusivitasnya.[1]

Dewan Gereja Dunia yang mewakili 350 gereja Kristen (11/7/2020) menyesalkan perubahan status itu dan secara berlebihan menganggap keputusan Erdogan akan menimbulkan kecurigaan dan perpecahan antarmasyarakat beragama[2].

Pragmatisme Erdogan

Fobia akan Islam memang ditonjolkan secara berlebihan. Apalagi fobia terhadap Khilafah Islamiah yang sukses dipersepsikan Barat sebagai kekuasaan yang haus darah.

Lebih-lebih lagi, Erdogan disebut sebagai NeoOttoman. Supremasi Khilafah Utsmaniyyah yang melumpuhkan Eropa sejak abad 16, telah meninggalkan trauma akut pada Barat. Sehingga sedikit saja sinyal kebangkitan Islam, pasti membuat mereka waspada dan siap mengokang senjata.

Padahal sinyal kebangkitan Islam bukan berasal dari Erdogan, sekalipun pendukung Erdogan terkesan dengan citranya sebagai seorang pria taat beragama yang bangkit melawan elite politik sekuler yang ditanam Kemal Pasha sejak keruntuhan Khilafah Islamiah 1924. Namun, realitas tidak mampu menunjukkan Erdogan tulus membela kepentingan umat Islam.

Meskipun saat mengumumkan perubahan Ayasofia, Erdogan mengatakan, “Kebangkitan Hagia Sophia adalah pertanda satu langkah pembebasan Masjid al-Aqsa,”[3] tapi pengamat Timur Tengah berkebangsaan Turki, Fehim Tastekin, melihat hubungan Erdogan dengan Israel lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.

Diam-diam perdagangan Turki dan Israel berjalan baik, tersembunyi dari pandangan orang awam Arab dan Turki yang mengira Erdogan adalah pemimpin yang berani melawan Israel.

Negara Arab masih mengaguminya,” kata Tastekin, “Karena mereka tak bisa melihat pemimpin Muslim lain yang bisa menjadi inspirasi bagi demokrasi dan masa depan lebih baik.”[4]

Ya, karena Erdogan turut memperjuangkan “ekspor Barat yang paling mematikan”, yakni demokrasi[5]. The New York Times Februari 2011, menyebut Turki sebagai “negara demokrasi yang kuat” sebagai harapan berseminya demokrasi seiring Arab Springs.

Karena itulah, Erdogan mati-matian mempertahankan kekuasaannya sebagai Presiden Turki sejak 2014. Kalau memenangkan masa jabatan presiden ketiga pada 2023, dia akan meninggalkan jabatannya pada tahun 2028— dan bakal tercatat dalam sejarah sebagai presiden terlama kedua di Turki, kurang satu tahun dari kepemimpinan Kemal Ataturk.[6]

Baca juga:  Pelajaran dari Era Ertuğrul Ghazi

Erdogan seorang yang pragmatis. Sikap itulah yang mengantarkannya pada perubahan politik Turki selama tahun 1990-an. “Kami tidak perlu pria berjanggut yang baik dalam membaca Alquran; kami membutuhkan orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan baik,” katanya[7].

Karena pragmatismenya itu, The Economist (11/7/2020) menayangkan artikel Turkey’s president is playing religious politics[8] pada kasus Ayasofia.

Banyak analis mengatakan langkah Erdogan dimaksudkan untuk mengonsolidasikan pemilihnya ketika resesi ekonomi dan meningkatnya pengangguran.[9] Sejak resesi 2018, popularitasnya merosot. Para kandidat pilihannya kalah dalam pemilihan walikota Istanbul dan kota-kota utama lainnya pada 2019.

Setelah pandemi corona virus, krisis ekonomi menyebabkan nilai tukar lira terhadap dolar AS mencapai 6,87 lira Turki (per 11 Juli 2020)[10]. Karena itu peneliti The Washington Institute, Soner Cagaptay berpendapat keputusan Erdogan itu sulit meningkatkan popularitasnya[11].

Sekularisme telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Turki. Ozer Sencar, pendiri lembaga pemungutan suara yang bermarkas di Ankara, Metropoll, menyebutkan langkah Erdogan tidak banyak membantu menyelamatkan popularitasnya.

Survei menunjukkan bahwa kaum muda tidak terkesan oleh Hagia Sophia. Sekitar 74% dari 18-24 tahun mengatakan itu adalah bagian dari upaya mengalihkan perhatian dari krisis ekonomi.[12]

Erdogan juga bakal mengambil untung dalam posisi internasionalnya. Jocelyn Cesari, profesor politik di Birmingham University berpendapat Turki sedang bernegosiasi dengan Rusia dan kekuatan lain untuk mengambil peran penting atas masa depan Suriah dan Libya.

Turki yang bersekutu dengan Qatar juga terlibat dalam perselisihan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Sembari bersaing dengan Arab Saudi demi kepemimpinan dunia Muslim.

Dengan melakukan ini sekarang, dia mengirim pesan bahwa Turki cukup kuat untuk melakukan apa yang diinginkannya,” tambah Cesari[13].

Mengubah Narasi Kebencian atas Kebangkitan Islam

“Hanya menghidupkan” Ayasofia saja, dunia meradang. Kecaman hingga kutukan yang dilontarkan AS, Uni Eropa, Yunani, para pemimpin Kristen Ortodoks, Paus Fransiskus, dan lain-lain adalah sikap kuno yang melekat pada keluarga Kristen Eropa yang tak pernah ridha pada Islam –termasuk hanya pada simbolnya-. Artinya, semua makar kafir dan munafik untuk mendiskreditkan Islam tak pernah hendak surut.

Baca juga:  Antara Hagia Sophia dan Srebrenica, Realisasi Visi Jihad Sang Penakluk

Di tanah air, upaya mendiskreditkan Khilafah yang tampak lewat ujaran kebencian petinggi partai penguasa, klarifikasi pembacaan sumpah setia NKRI di DPRD Cirebon, ataupun ulangan kalimat Wapres Ma’ruf Amin yang menyatakan paham Khilafah melanggar kesepakatan masyarakat Indonesia,[14] bakal terus dideraskan.

Ancaman terhadap siapa pun yang memperjuangkan Khilafah, termasuk pemecatan aparatur sipil negara (ASN)[15] akan menjadi tupoksi yang terus dimainkan para penguasa demagog, para penghasut rakyat yang siap menjual agama demi mempertahankan kekuasaan yang direstui tuan-tuannya: para penjajah dunia Islam.

Tentu tak bisa mengubah narasi kebencian atas Islam dari dalam sistem demokrasi yang terlahir dari rahim sekularisme. Sistem ini pasti melahirkan penguasa hipokrit yang hanya melahirkan kebijakan pro-Islam jika momentumnya tepat.

Dalam kasus Turki, akan sulit mengubah sekularitasnya melalui kawalan kelompok oposisi Partai Rakyat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi, CHP) yang tak lain adalah kaum Kemalis.

Demikian pula di Indonesia. Sepak terjang partai-partai (berbasis) Islam dalam pembelaannya atas umat, antara ada dan tiada. Kerap terjadi, partai-partai Islam baru bereaksi setelah umat berteriak menuntut keadilan.

Hal itu terulang kembali dalam kontroversi legalisasi RUU HIP. Partai Islam baru bersuara setelah ribuan umat Islam memenuhi jalan berbagai kota di Indonesia. Sebelumnya, pada rapat Paripurna 12 Mei 2020, saat pengesahan HIP sebagai RUU usulan DPR, tidak ada satu pun fraksi –termasuk fraksi parpol Islam- yang menyampaikan penolakan secara terbuka dan tegas[16].

Jalan satu-satunya untuk menghilangkan narasi kebencian atas ajaran Islam dan umatnya adalah melalui perlawanan. Perlawanan tanpa senjata, hanya dengan dakwah via lisan dan tulisan dengan menggunakan segala platform media.

Mungkin banyak umat yang tak sabar dan terus mempertanyakan efektivitas dakwah seperti ini. Namun hendaknya mereka mengerti, dakwah seperti inilah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Kendati lama menuju garis finish, namun itulah kesejatian ittiba’, meneladani semua yang dituntun Muhammad ﷺ dalam perkara yang kita diwajibkan mengikutinya tanpa reserve.

Apa yang dialami umat hari ini, yang menjadi sasaran narasi kebencian, tak jauh beda dengan yang dialami Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka melalui kehidupan dakwahnya dengan menghadapi kebencian kaum kafir Jahiliyah.

Kafir Quraisy menggunakan berbagai propaganda seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai isu dan tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan dan menghina esensi ajaran Islam. Persis kondisi hari ini.

Baca juga:  Desain Terakhir Seputar Suriah

Lalu apakah yang dilakukan Nabi yang mulia tersebut? Beliau ﷺ menuntun para Sahabat yang telah tergabung dalam kutlah –kelompok dakwah politik- untuk konsisten menyampaikan wahyu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى apa adanya.

Kutlah dakwah Rasulullah ﷺ terus menerus menggencarkan seruannya kepada manusia agar kembali ke jalan Allah, disertai kalimat tegas yang merendahkan dan mencela sistem yang digunakan kafir Quraisy.

Tentu saja dakwah Rasulullah ﷺ di masa at tafa’ul wa al kifah (interaksi dan perjuangan) itu penuh risiko. Rasulullah ﷺ dan tempat yang sering disinggahi beliau dilempari najis oleh para pembencinya. Kaum muslim dinista dengan hinaan yang menyakitkan, diteror, bahkan dianiaya.

Menghadapi semua itu, mereka tetap sabar menjalaninya dan tak berhenti mendakwahkan ajaran Islam kaffah, tanpa menyembunyikan satu pun atau menyesuaikan ajaran itu demi mendapatkan ridha musuh Allah.

Keimanan, kepatuhan atas jalan dakwah yang dituntun Rasulullah ﷺ, kesabaran dan istikamah menetapi jalan dakwah itu adalah kunci keberhasilan. Yang bakal mampu mengantarkan perjuangan pada nashrullah, pertolongan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Meskipun saat ini Allah belum berkenan memberikan pertolongan-Nya secara paripurna, namun perkembangan dakwah telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Allah memberikan kegembiraan itu melalui kesadaran umat untuk tak ragu menyuarakan Khilafah sebagai ajaran Islam, bangga mengibarkan Ar Royah dan Al Liwa sebagai simbol kemenangan Islam, ataupun berani “melawan” narasi busuk rezim dan kroni-kroninya yang mendiskreditkan Islam dan pejuangnya.

Sunnatullah dakwah adalah kesediaan menanggung risiko perjuangan. Karena hanya dengan cara seperti itu, musuh-musuh Islam makin gentar dan kian kacau dalam menyusun langkahnya.

Percayalah, kebangkitan, kemenangan Islam, dan kejayaan Khilafah adalah keniscayaan. Bila masanya tiba, hanya penyesalan saja yang dirasakan para pembenci Allah, Rasulullah ﷺ, dan kaum muslimin.

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali..” (TQS An-Nisa’ Ayat 115). [MNews]


Referensi:

[1] https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53259317

[2] https://www.voaindonesia.com/a/dewan-gereja-dunia-sedih-dan-kecewa-akan-keputusan-terkait-hagia-sophia-/5499145.html

[3] https://republika.co.id/berita/qdb3ry386990854/erdogan-kebangkitan-hagia-sophia-satu-langkah-awal-bebaskan-masjid-alaqsa

[4] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-48776159

[5] Merujuk buku William Blum, America’s Deadliest Export: Democracy, the Truth About US Foreign Policy, and Everything Else –February 5, 2013

[6] https://www.matamatapolitik.com/tokoh-otoriter-dunia-erdogan-sang-islamis-penakluk-turki-in-depth/

[7] Ibidem 6

[8] https://www.economist.com/europe/2020/07/11/turkeys-president-is-playing-religious-politics

[9] https://edition.cnn.com/2020/07/10/europe/hagia-sophia-mosque-turkey-intl/index.html

[10] https://rmol.id/read/2020/07/12/443167/makna-politik-di-balik-keputusan-hagia-sophia-sebagai-masjid.

[11] https://www.washingtoninstitute.org/policy-analysis/view/erdogan-to-make-hagia-sophia-a-mosque-again-but-will-it-help-him

[12] https://www.al-monitor.com/pulse/originals/2020/07/turkey-hagia-sophia-church-mosque-erdogan-divide-pompeo.html

[13] https://www.matamatapolitik.com/erdogan-tetapkan-hagia-sophia-jadi-masjid-lagi-news/#

[14] https://www.beritasatu.com/nasional/653805/soal-larangan-paham-khilafah-di-indonesia-ini-penjelasan-maruf-amin

[15] https://www.beritasatu.com/nasional/655069/asn-terlibat-ideologi-khilafah-akan-diberhentikan-tidak-hormat

[16] https://republika.co.id/berita/qc7m0w318/dradjad-faktanya-semua-partai-dpr-loloskan-ekasila-ruu-hip

43 thoughts on “Ayasofia, Pragmatisme Erdogan dan Narasi Kebencian akan Kebangkitan Islam

  • 21 Juli 2020 pada 11:12
    Permalink

    Allahu Akbar Islam kembali memimpin. Ya Allah begitu rindu hati ini pada sistem-Mu yang agung itu.

    Balas
  • 19 Juli 2020 pada 17:05
    Permalink

    allahu akbar tidak ada kebangkitan hakiki jika masih dalam sistem demokrasi

    Balas
  • 19 Juli 2020 pada 13:48
    Permalink

    Subhanallah, analisis yg tajam..

    Balas
  • 19 Juli 2020 pada 06:13
    Permalink

    Masya Allah baru baca.. Makin yakin dgn perjuangan yg ditempuh, insya Allah ❤️

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 23:32
    Permalink

    Aya sofia….tunggu sbntr lagi tak.ada pragmatisme…

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 22:20
    Permalink

    Tanda-tanda kebangkitan Islam itu sudah di depan mata

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 20:52
    Permalink

    Semoga Daulah Islamiyyah segera bangkit kembali

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 20:23
    Permalink

    Harus membaca situasi politik.dunia pada saat dngan cermat. Jangan terkecoh

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 18:51
    Permalink

    Sedikit saja geliat kebangkitan Islam, maka negara2 kafir pasti lebih reaktif

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 16:57
    Permalink

    Fajar kemenangan dg tegaknya khilafah semakin dekat

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 11:04
    Permalink

    Percayalah, kebangkitan, kemenangan Islam, dan kejayaan Khilafah adalah keniscayaan. Bila masanya tiba, hanya penyesalan saja yang dirasakan para pembenci Allah, Rasulullah ﷺ, dan kaum muslimin.

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 07:28
    Permalink

    Padahal aksi Erdogan mengembalikan fungsi Ayasofia menjadi masjid mendapat pujian dari sebagian umat Islam di tanah air. Termasuk di sekitar kami. Jazakillah khairan, tulisan ini bisa sy share kpd teman2 dan kontakan untuk memahami apa yang ada di balik fakta yang terlihat. Wallahu ‘alam.

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 05:09
    Permalink

    Kaum muslim bersatu

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 05:07
    Permalink

    Kaum muslim bangkit

    Balas
  • 18 Juli 2020 pada 04:07
    Permalink

    Subhanallah. Ternyata demi kekuasaan saja

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 22:28
    Permalink

    Bismillah semoga senantiasa diistiqomahkan dalam jalan dakwah

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 21:24
    Permalink

    Hanya menghidupkan” Ayasofia saja, dunia meradang. Kecaman hingga kutukan yang dilontarkan AS, Uni Eropa, Yunani, para pemimpin Kristen Ortodoks, Paus Fransiskus, dan lain-lain adalah sikap kuno yang melekat pada keluarga Kristen Eropa yang tak pernah ridha pada Islam –termasuk hanya pada simbolnya-. Artinya, semua makar kafir dan munafik untuk mendiskreditkan Islam tak pernah hendak surut.

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 21:13
    Permalink

    Lanjutkan perjuangan, jemput kebangkitan Islam

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 19:30
    Permalink

    Sekecil apapun yang kita niatkan untuk perjuangan dakwah In syaa Allah ada efeknya dalam masyarakat
    Wallahua’lam

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 19:28
    Permalink

    Begitulah sunatullahnya dakwah pasti akan menghadapi rintangan dr mrk yg benci akan kebangkitan Islam. Dakwah trs sampai Allah SWT berkata wktnya pulang

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 18:38
    Permalink

    MasyaAllah…
    AllahuAkbar

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 12:25
    Permalink

    Supremasi Khilafah Utsmaniyyah yang melumpuhkan Eropa sejak abad 16, telah meninggalkan trauma akut pada Barat. Sedikit saja sinyal kebangkitan Islam, pasti membuat mereka waspada dan siap mengokang senjata. Padahal, sinyal kebangkitan Islam bukan berasal dari Erdogan.

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 12:04
    Permalink

    Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali..”

    Balas
  • 17 Juli 2020 pada 07:19
    Permalink

    Kembalinya ayasofya tanpa peran sang Khalifah seakan dijadikan legitimasi bahwa tanpa khilafah pun kekuasaan bisa diraih. Dan moment ini seakan dijadikan tombak penusuk perjuangan mengembalikan sistem Islam.

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 23:52
    Permalink

    Sangat nampak kebencian mereka terhadap Islam..

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 23:23
    Permalink

    Ummat semakin butuh khilafah

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 23:12
    Permalink

    1. Kebangkitan Islam adalah keniscayaan, dan inilah yg ditakuti Barat
    2. Pada dasarnya, Erdogan sendiri belumlah bisa dikatakan sbg pemimpin yg benar² ingin menerapkan Islam scra menyeluruh
    3. Urgennya seorang pemimpin yg amanah dan ikhlas utk menerapkannIslam scra Kaffah

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 22:12
    Permalink

    Zaman Pencitraan

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 22:12
    Permalink

    Solusi pragmatis tidak akan menyelesaikan masalah..cr lah dulu sumber akar permasalhan baru akan ketemu solusi tuntasnya.

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 21:57
    Permalink

    Semoga umat Islam senantiasa cemerlang memandang suatu peristiwa menurut kacamata Islam..

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 21:27
    Permalink

    YaAllah… Motif apa dibalik semua ini…

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 21:07
    Permalink

    Ya Allah segerakanlah tumbangkan orang2 kapitalis,komunis yg telah membenci Islam,krn semua orang tahu bahwa Islam agama pemersatu umat org kafirpun tahu masa kegemilangan Islam tp mereka munafik akan itu tapi saya yakin saat yg tepat akan engkau tegakkan khilafah

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 21:00
    Permalink

    Apa yang dialami umat hari ini, yang menjadi sasaran narasi kebencian, tak jauh beda dengan yang dialami Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka melalui kehidupan dakwahnya dengan menghadapi kebencian kaum kafir Jahiliyah.

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 20:35
    Permalink

    Saatnya kita bangkit kembali utk menenerapkan islam secara kaffah dalam negara Islam….Allahu Akbar

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 20:32
    Permalink

    MaasyaaAllah, hanya dengan mengikuti metode dakwah Rasululullah yg bisa membangkitkan umat dari tidur panjangnya

    Balas
  • 16 Juli 2020 pada 20:25
    Permalink

    Tetap konsisten dengan metode dakwah yg dicontohkan Rasulullah Saw agar bisa mewujudkan pemimpin yang benar-benar hadir untuk izzah Islam dan umatnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *