Antara Hagia Sophia dan Srebrenica, Realisasi Visi Jihad Sang Penakluk

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Tanggal 11 Juli lalu bertepatan dengan tragedi berdarah Srebrenica pada tanggal yang sama 25 tahun lampau. Dan qodarullah, sehari sebelumnya yakni 10 Juli 2020, adalah tanggal ditetapkannya kembali Hagia Sophia menjadi masjid (dieja Aya Sofya dalam bahasa Turki), setelah 86 tahun lamanya menjadi museum.

Peristiwa pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid ini sungguh langkah bersejarah. Tak ayal, ini membuat benak kaum muslimin di seluruh dunia mendadak terinstal penuh dengan ghirah kebangkitan.

Di masa pandemi Covid-19, di mana masjid-masjid milik umat Islam di seluruh dunia ditutup, tak terkecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, membuka Hagia Sophia menjadi masjid tentu sebuah langkah yang berbeda.

Di samping itu, tentunya juga menjadi bekal yang lebih dari cukup untuk turut mengingatkan dunia akan tragedi Srebrenica yang dampak politis dan psikisnya masih berlanjut hingga saat ini.

Diketahui saat itu, yakni selama Perang Bosnia, Srebrenica dikepung pasukan Serbia antara 1992 dan 1995. Saat itu, milisi Serbia mencoba merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri.

Meski pada 1993 Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai “daerah aman”, namun pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic menyerbu zona PBB.

Sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu. Akibatnya, peristiwa ini menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki.

Kemudian, sekitar 15 ribu pria Srebrenica melarikan diri ke pegunungan di sekitarnya tetapi pasukan Serbia memburu dan membantai 6.000 dari mereka di hutan. Sejauh ini, hampir 6.900 korban ditemukan dan diidentifikasi dari lebih dari 80 kuburan massal.

Mencermati secara jauh lebih mendalam, di sana ada jejak sejarah berupa visi jihad Islam yang tak bisa diabaikan. Hagia Sophia (di Konstantinopel) dan Srebrenica (yang berlokasi di Bosnia) sama-sama buah tangan perjalanan jihad Sang Penakluk, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II). Ma syaa Allah.

Tercatat, Konstantinopel jatuh ke pangkuan Islam pada 1453 M. Berjarak 10 tahun kemudian, yakni pada 1463 M, Sang Sultan menaklukkan Bosnia.

Baca juga:  Ayasofia, Pragmatisme Erdogan dan Narasi Kebencian akan Kebangkitan Islam

Sungguhlah keduanya, Hagia Sophia dan Srebrenica ini, tak bisa dilepaskan dari jejak keberkahan persatuan kaum muslimin di bawah naungan sistem Kekhilafahan Islam. Hingga akhirnya semua tercerai berai kala Mustafa Kemal meruntuhkan Khilafah pada 1924.

Yang setelahnya, tangan-tangan keji kaum kafir dengan begitu serakah menjarah keberkahan itu dan menggantinya dengan mimpi buruk sekularisme dan nasionalisme. Na’udzu billaahi.

Tak ayal, polemik Hagia Sophia pun tragedi Srebrenica begitu lantang menegaskan urgensi tegaknya kembali Khilafah untuk menaunginya dengan sistem Ilahiyah secara kaffah.

Ini benar-benar pelajaran penting bagi generasi umat Rasulullah ﷺ yang hidup di masa saat ini, bahwa tanpa Khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.

Jikalau pun tak dibuat berkonflik fisik yang berwujud pembantaian massal, realitasnya tetap akan mengondisikan umat dalam kondisi tidak kaffah. Karena memang bagi kaum kafir, mimpi buruk terbesar mereka adalah tegaknya kembali Khilafah.

Itu pula yang terjadi ketika Sultan Mehmed II wafat, betapa dunia Barat menyambutnya dengan suka cita. Ini menunjukkan bagaimana kebencian kaum kafir kepada kaum muslimin adalah abadi.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: “… Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (TQS Ali Imran [03] : 118).

Baca juga:  Apa di Balik Operasi "Cabang Zaitun" Turki di Utara Suriah?

Ini pula argumentasi kuat mengapa Khilafah yang perkara terbesar bagi kaum muslimin. Karena toh lihat saja, mana lembaga internasional yang bersuara? PBB? Terkhusus tragedi Srebrenica, adalah bukti yang sangat kuat ketiadaan perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim.

Faktanya, PBB tak ubahnya alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat peradaban untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim. Menurut sejarah kelahirannya pun, PBB hanyalah adaptasi dari ikatan persaudaraan kaum kafir untuk menghancurkan persatuan umat Islam.

Sekali lagi, jejak sejarah terlalu pekat untuk dihapus. Keberkahan bagi Hagia Sophia di Konstantinopel dan Srebrenica di Bosnia, bisa disaksikan ketika memang keduanya berada dalam naungan sistem Islam.

Sebelum 1453, yakni pada masa Perang Salib IV, pasukan Salib menduduki Konstantinopel dan mendirikan Kekaisaran Latin (Romawi Timur Katolik) pada 1204. Pasukan Salib menghancurkan berbagai hal di kota yang sebelumnya menjadi pusat agama Ortodoks ini.

Hagia Sophia menjadi tempat mabuk-mabukan, berbagai bangunan sekuler dan keagamaan (gereja dan biara) tidak luput dari perusakan, para biarawati diperkosa di biara mereka, dan orang-orang yang sekarat terbaring sampai mati di jalan-jalan.

Sangat bertolak belakang dengan yang dilakukan Sultan Mehmed II. Setelah mengambil alih kepemimpinan Konstantinopel, Mehmed mengubah Hagia Sophia yang semula adalah Basilika Ortodoks menjadi masjid.

Mehmed juga segera memerintahkan pembangunan ulang kota, termasuk memperbaiki dinding, serta membangun benteng dan istana. Untuk mendorong kembali orang-orang Yunani dan Genova yang sempat pergi dari Galata, Mehmed memerintahkan pengembalian rumah-rumah mereka dan memberikan jaminan keamanan.

Sementara, setelah penaklukan Bosnia, Mehmed mengeluarkan “Ahdname Milodraž”, piagam perjanjian kepada Ordo Fransiskan Bosnia yang berisikan pemberian kebebasan pada mereka untuk bergerak bebas dalam Khilafah, kebebasan menjalankan ibadah di gereja dan biara-biara mereka, serta dilindungi dari penganiayaan, penghinaan, dan penyiksaan.

Baca juga:  Apa di Balik Operasi "Cabang Zaitun" Turki di Utara Suriah?

Inilah wujud visi jihad penaklukan suatu wilayah dalam Islam (futuhat) yang konsep dan praktiknya jauh sekali perbedaannya dengan penjajahan.

Jihad adalah puncak keagungan Islam. Jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah demi menghancurkan penghalang-penghalang fisik yang menzalimi manusia hingga dapat melepaskan manusia dari kezaliman itu.

Jihad merupakan metode mendasar yang telah ditetapkan Islam untuk mengemban dakwah Islam ke luar negeri. Mengemban dakwah Islam adalah aktivitas pokok Khilafah Islam setelah penerapan hukum-hukum Islam di dalam negeri.

Rekam jejak keberkahan pelaksanaan sistem Islam di Konstantinopel dan Bosnia ini bukan kaleng-kaleng. Yang mengabadikan dalam tinta emas sejarah bukan hanya sejarawan muslim, tapi juga sejarawan nonmuslim. Semua tak bisa mengelak akan bukti keberkahan ini, meski segala polemik turut mewarnai demi mengingkarinya.

Saksikanlah bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (٨) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٩)

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya (8). Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membencinya (9).” (TQS Ash-Shaaf [61] : 8-9).

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf [07] : 96). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “Antara Hagia Sophia dan Srebrenica, Realisasi Visi Jihad Sang Penakluk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *